
Raka melirik Verel yang terlihat senang, sesekali bersiul dan bersenandung ria mengikuti alunan musik yang diputar dalam mobil.
"Apakah nikmatnya melebihi milik Delmira?" lontar Raka.
Plak.
Satu tampokan ringan mendarat di lengan Raka.
"Aduh," rintih Raka.
"Buat apa dua bandit itu aku datangkan ke sana!" sanggah Verel dengan geram.
Raka hanya terkekeh, berhasil menjahili bosnya. "Apa itu tidak terlalu kejam?" lontarnya.
"Dia yang lebih kejam. Lagi pula dia hanya gadis berlebel bukan perawan, dia biasa melakukan dengan suami Delmira. Munafik sekali wanita itu! Pertama aku sentuh histeris. Namun, setelah itu malah membalas perlakuanku," umpat Verel tangannya bergerak mengambil tisu dan langsung mengelap bibirnya, merasa jijik karena teringat apa yang dilakukan pada Meilin.
Raka menggelengkan kepala sambil tersenyum melihat ekspresi tuanya.
"Delmira wanita baik, dia tega menjebaknya," sambung Verel disertai sebuah dengusan.
"Jadi karena Delmira Tuan membalas semua."
"Bukan juga sih. Dia juga berani membodohiku," sanggah Verel padahal hal yang paling mendasar mengapa dia membuat perhitungan yang terbilang kejam karena Delmira diperlakukan Meilin seperti itu hingga hatinya entah mengapa merasa mendidih dan ingin membalas perlakuan Meilin.
"Tuan tidak takut dia akan lapor polisi?"
Plak.
Satu tampokan mendarat kembali di lengan Raka.
"Aku sedang nyetir Tuan," keluh Raka nyeringis sakit.
"Coba saja kalau dia berani," sahut Verel.
"Kalau dia sampai hamil?"
"Aku pastikan dua om genit itu memakai pengamanan!"
Raka mendengus, "Matang sekali rencananya?"
"Itu belum seberapa, aku bisa melakukan hal lebih kalau dia berani macam-macam lagi!"
Mobil mewah milik Verel berhenti di pelataran rumah, mereka segera turun dan memasuki dalam rumah.
"Cepat pesan penerbangan ke Bali!" titah Verel begitu masuk ke kamar.
"Bali? Ada perlu apa ke sana?"
"Mencari kesenangan," sahut Verel tubuhnya lalu masuk ke dalam kamar mandi.
"Tapi_"
Ucapan Raka terhenti karena Verel sudah tidak terlihat. Baru sepuluh menit kemudian tuan mudanya keluar dari kamar mandi.
"Tuan mandi lagi?" lontar Raka melihat Verel hanya melilitkan handuk di pinggulnya.
"Cebok!" gerutu Verel mendengar retoris Raka.
"Sebelum pergi, Tuan sudah mandi loh, kenapa mandi lagi? Jangan-jangan_"
"Tidak usah berpikir jauh! Tidak sudi aku menikmati dia! Wanita licik dan munafik! Cih!"
Raka terkekeh mendengar jawaban Verel.
"Oh ya, Tuan tidak langsung terbang ke Maurice? Di sana bukankah jauh lebih menyenangkan?"
"Kenapa memaksa terbang ke Maurice? Aku inginnya ke Bali!" sentak Verel.
Melihat ekspresi Verel yang sudah begitu, artinya mau tidak mau harus cepat memesan penerbangan ke Bali.
...****************...
"Ummi, biarkan aku keluar dari rumah sakit ini," rengek Zaidan.
"Ya Allah Nak, mau kemana? Kamu masih sakit," keluh Aisyah, punggung tangannya menempel di dahi Zaidan, "masih panas, kamu belum sembuh benar."
Zaidan menghela napas panjang mendengar penolakan umminya.
Dua hari ini dia sudah menginap di rumah sakit. Tiba-tiba saja sewaktu di dealer motor AZM dia terjatuh pingsan. Tubuhnya panas dan muntah-muntah sekaligus diare. Kurang asupan minum, makan tidak teratur, dan terlalu stres membuat tubuhnya jatuh sakit.
"Kamu sarapan dulu, hampir jam 9 pagi, bagaimana kamu cepat sembuh kalau makan saja susah sekali," omel Aisyah.
__ADS_1
Zaidan terdiam.
Aisyah mengambil satu suap bubur dan disodorkan ke mulut Zaidan. Setelah melantunkan doa, Zaidan menerima suapan umminya.
"Kamu harus ikhlaskan Delmira Nak," ucap Aisyah dengan lembut, netranya tidak berani menatap langsung ke arah Zaidan. Tangannya bergerak mengisi sendok dengan bubur dan kuahnya.
Zaidan langsung mengunyah pelan makanan yang sudah ada di mulutnya.
"Aku hanya... hanya ingin melihat dia sebelum hakim memberi putusan," sahut Zaidan setelah makanan dia telan.
"Dia akan bahagia dengan kekasihnya, kamu juga harus bahagia dengan jalan hidup kamu selanjutnya," ujar Aisyah mencoba menguatkan hati anaknya, walaupun hatinya sendiri juga ikut sakit karena dirinya sudah begitu sayang dengan sang menantu.
Aisyah saat itu tidak langsung percaya kalau Zaidan dan Delmira berpisah karena visi dan misi mereka sudah tidak sejalan. Akhirnya, Aisyah mengorek informasi dari Fernando. Bagi Fernando ini suatu kebetulan agar proses perceraian berjalan lancar. Fernando mengatakan kalau Delmira memiliki lelaki idaman lain bahkan Fernando menunjukkan beberapa bukti foto kedekatan Delmira dengan lelaki itu.
Fernando menutupi kehamilan Delmira dan kejadian nyata kehamilan Delmira karena dijebak Meilin juga tidak Fernando ceritakan. Saat itu juga Aisyah menjadi mantap untuk menyuruh Zaidan menerima gugatan cerai dari Delmira.
"Izinkan aku keluar Ummi," mohon Zaidan.
"Nanti nunggu hasil pemeriksaan, apakah dokter mengizinkan kamu keluar," sahut Aisyah akhirnya mengalah menuruti kemauan sang anak.
Tidak lama setelah itu dokter langsung memeriksa keadaan Zaidan.
"Tapi jangan lama-lama di luar, setelah itu langsung masuk kembali ke rumah sakit," ucap dokter setelah memeriksa keadaan Zaidan.
"Terima kasih Dok," jawab Zaidan dengan semangat.
"Kalau bukan karena desakan dari Ibu Aisyah, aku tidak mengizinkan anda keluar," ujar sang dokter membuat barisan gigi Zaidan terlihat.
"Infusnya tidak dilepas Dok?"
"Tidak usah, kata ibu Aisyah kamu hanya pergi setengah jam dan langsung kembali ke rumah sakit."
"Ya Allah... cepat sekali?" keluh Zaidan.
"Kalau tidak mau ya tidak apa-apa, batalkan saja untuk keluar dari rumah sakit."
"Eh, jangan dong Dok," mohon Zaidan.
"Aku bantu jalan Den," tawar Fernando dan diiyakan Zaidan.
Mobil segera melesat, menerobos padatnya jalanan kota.
"Aku harap masih ada waktu untuk melihat kamu Del," batin Zaidan melihat waktu di ponsel.
Tangannya kemudian bergerak menyentuh kontak atas nama Mrs. Delmira. Hanya berdering tanpa diangkat oleh Delmira.
"Itu pak Sultan, aku coba samperin," ucap Fernando kakinya hampir keluar. Namun pengacara itu malah mendekat ke arah mobil Zaidan yang kaca mobilnya memang dibuka hingga ke bawah.
"Assalamualaikum Mas Zaidan," sapa Sultan mengulurkan tangan.
"Waalaikum salam Pak," jawab Zaidan dan tangannya membalas uluran Sultan.
"Mas Zaidan datang ke sini?"
Zaidan mengangguk, tangannya yang diinfus segera disembunyikan tapi botol yang di taruh pada pegangan tangan dasboard atas jelas terlihat oleh Sultan.
"Oh, Mas Zaidan sedang sakitkah?"
Zaidan sontak menggeleng, "Ini hanya kurang cairan," elak Zaidan.
"Mrs. Delmira datang Pak?"
"Oh... mbak Delmira tidak datang, diwakilkan saya."
Zaidan terdiam, jelas wajahnya memancarkan rasa kecewa.
"Pengadilan sudah ketuk palu, Mas Zaidan dan mbak Delmira resmi bercerai.
Berita yang seharusnya tidak membuat Zaidan terkejut. Namun, tetap sajs hati Zaidan seakan tersentak kaget dan masih ada rasa tidak percaya dengan apa yang telah menimpanya.
"Dia sekarang dimana?" tanya Zaidan dengan suara bergetar.
"Maaf, saya kurang tahu, saya hanya dihubungi mbak Delmira untuk datang ke persidangan tanpa beliau," jawab Sultan.
"Ok, terima kasih infonya. Saya pergi dulu Pak. Assalamualaikum."
"Waalaikum salam.
Mobil itu bergulir meninggalkan parkiran pengadilan agama.
"Ke kosan Mrs. Delmira," titah Zaidan.
__ADS_1
"Tapi Den, nanti kita terlambat ke rumah sakit."
"Aku tidak peduli," sahut Zaidan, matanya menatap keluar jendela mobil dan tangannya bergerak menyeka air mata yang sedari tadi dia tahan agar tidak jatuh.
'Mengapa rasanya sakit sekali, aku masih tidak percaya apa yang sudah menimpa kita Sayang,' monolog batin Zaidan.
Tangannya kini bergerak menepuk dadanya yang terasa sangat sakit. Elu hatinya terasa pecah berkeping-keping.
Fernando menurut, mengalihkan laju mobil menuju kosan yang ditempati Delmira.
Setelah menempuh 20 menit perjalanan. Zaidan gegas turun.
"Biar aku yang masuk Den," tawar Fernando.
Kaki Zaidan tetap turun dengan membawa infus, berjalan masuk ke kamar kos Delmira.
"Assalamualaikum... assalamualaikum..."
Dua salam dan beberapa kali ketukan di daun pintu tapi tidak juga ada sahutan.
"Mrs. Delmira...," panggil Zaidan dengan suara parau.
"Miss..."
Tetap saja tidak ada sahutan hingga seorang wanita paruh baya menghampirinya.
"Mau bertemu dengan Delmira?" tanyanya.
"Ya Bu, dia_"
"Oh... Delmira sudah pergi dari kos ini dua hari yang lalu."
"Kira-kira kemana Bu?" tanya Zaidan, suaranya semakin parau dan kakinya serasa bergetar hebat.
"Saya kurang paham. Dia pamit setelah bayar lunas uang kos, katanya tidak balik ke sini lagi."
'Jelas dia pergi dengan kekasihnya. Apa yang ada dalam otak kamu Zaidan sampai sebodoh ini! Relakan Mrs. Delmira!' monolog batin Zaidan. Kakinya berjalan keluar dimana mobilnya terparkir.
"Kita ke rumah sakit Fer," pinta Zaidan.
"Siap Den."
Dua hari yang lalu.
Kaki Delmira berhenti melangkah, matanya tetap layangkan pada sosok orang yang di bopong masuk ke dalam mobil. Wajahnya terlihat cemas tapi apalah daya, dia hanya dapat memandang dari celah kaca mobil on line yang dia pesan.
"Ikuti mobil depan Pak!" titah Delmira. Mobil itu pun jalan mengikuti mobil yang ditunjuk Delmira.
'Kamu kenapa Zaid?' batin Delmira, matanya sudah mengembun membayangkan hal yang menakutkan terjadi pada lelaki yang tadi terlihat tidak sadarkan diri.
Mobil berhenti tepat di sebuah rumah sakit. Lagi, Delmira hanya dapat memandang dari balik kaca, Zaidan dibawa masuk ke ruang UGD.
'Semoga tidak terjadi apa-apa pada kamu,' batin Delmira.
Sebenarnya ingin sekali Delmira turun dan menghampiri lelaki yang secara hukum masih sah menjadi suaminya itu, tapi satu sisi hatinya juga tidak ingin goyah untuk tetap pergi meninggalkan semuanya.
Namun, keingintahuan dan rasa khawatir yang sangat mendominasi membuat Delmira melangkahkan kaki ke depan ruang UGD. Dengan memakai masker dan kaca mata hitam dia berharap tidak ada yang mengenalinya.
Delmira kemudian berjalan masuk melewati pintu besuk dan memilih duduk di salah satu kursi. Tempat dimana Delmira duduk adalah lorong yang biasa di lewati pasien baru yang akan masuk ke ruang inap.
Benar saja, 15 menit tidak lama setelah itu sebuah ranjang pasien didorong oleh beberapa perawat membawa Zaidan masuk ke ruang inap.
Deg.
Saat ranjang dorong itu melewati dirinya, rasanya ingin segera memeluk pasien yang terbaring lemas di atas ranjang pasien itu.
'Semoga Tuhan melindungi kamu Zaid, ada apa dengan kamu sampai begitu,' batin Delmira pandangan tetap mengarah pada Zaidan hingga ranjang dorong itu hilang setelah berbelok masuk ke sebuah lorong.
"Non Delmira."
Deg.
Delmira yang kakinya akan melanjutkan langkah tiba-tiba terpaku mendengar seseorang menyapanya dan suara itu sangat tidak asing.
Delmira menegakkan dagunya menatap sesosok yang kini tepat di depannya.
"Fernando," lirih Delmira.
yang belum Mampir ke karya kak Mel yang lain, mampir yuk sambil nunggu update π
__ADS_1
malam menyapa π€ jangan lupa like komen hadiah vote rate π
lope lope yang masih dukung karya remahanku iniπ₯°ππ