Dinikahi Berondong Saleh

Dinikahi Berondong Saleh
Bab 105


__ADS_3

Sepertiga malam telah menyapa.


Zaidan menggeliatkan tubuh, bibirnya tersenyum tatkala matanya terbuka dan yang pertama kali terlihat adalah istrinya.


"Cantiknya istriku," gumam Zaidan mencubit pelan pipi kanan Delmira.


Satu kecupan mendarat di dahi Delmira, lalu Zaidan mengucapkan doa bangun tidur.


Tubuhnya kini bangkit dan berjalan ke kamar mandi untuk wudhu dan tentunya mandi juga.


Selesai itu, beberapa salat sunah ditunaikan Zaidan. Lalu membaca Al Qur'an sambil menunggu subuh datang.


"Sadaqallahul adhim," ucap Zaidan menutup mushaf yang dipegangnya setelah mendengar suara azan yang ada di masjid sekitar komplek rumah.


"Momyang, Mom...," panggil Zaidan dengan lembut sambil mengelus rambut istrinya.


"Hmmm," dengung Delmira sebagai jawaban.


"Salat subuh berjamaah," ajaknya.


"Aku tidak salat!" sahut Delmira tanpa membuka matanya.


Zaidan terlihat bingung, "Maksudnya, kamu sedang halangan?"


Bingung karena pasca melahirkan, baru kali ini Delmira kedatangan tamu bulanan.


"Hmmm," sahut Delmira sekali lagi dengan dengungan dan sama, tanpa membuka matanya.


"Oh... kalau begitu, aku ke masjid sendiri," pamit Zaidan.


"Ingat! Jangan lirik-lirik jamah perempuan!" ujar Delmira tapi matanya masih terpejam.


Zaidan tersenyum mendengar peringatan istrinya.


"Ada-ada saja momyang," lirih Zaidan menggelengkan kepalanya. Kakinya memutar lalu berjalan keluar dari kamar.


Waktu terus berjalan, matahari semakin menampakkan cahayanya dari arah Timur.


Zaidan menarik dua sudut bibirnya membentuk sebuah senyum, matanya lekat menatap sang istri yang masih tertidur pulas.


"Tidurnya lelap sekali Momyang," lirih Zaidan mengelus pucuk kepala istrinya.


Delmira tersentak. Bangun dari tidurnya. Matanya langsung membuka penuh.


"Astaghfirullah haladhim, sampai siang begini kenapa tidak bangunkan aku Papyang," protes Delmira, kakinya beringsut turun dari ranjang.


Dia gegas berlari ke kamar mandi.


Bugh.


"Issst! Dasar pintu! Kenapa tidak minggir dulu!" sungut Delmira mengelus dahinya yang menjadi korban akibat kecerobohannya sendiri.


Zaidan nyeringis menahan sakit melihat istrinya tercedot pintu, "Hati-hati Momyang," ujar Zaidan.


"Telat ngingetinnya!" greget Delmira sebelum akhirnya masuk ke dalam kamar mandi.


Zaidan mendengus mendengar omelan istrinya, kepalanya menggeleng pelan.

__ADS_1


"Ingat Zaidan, sabar sabar," gumam Zaidan mengelus dada.


"Kenapa belum berangkat?" lontar Delmira setelah dirinya keluar dari kamar mandi dan masih mendapatkan sang suami masih duduk di sofa kamar.


"Aku bos, jadi terserah mau berangkat jam berapa," sahut Delmira.


Delmira mencibirkan bibirnya mendengar jawaban Zaidan.


Segera Delmira memakai baju dan berias.


"Sudah menemui Kaffah Kahfi Papyang?"


"Sudah, dia masih makan dengan suster."


Kaki Delmira memutar melangkah keluar kamar dan Zaidan mengekor di belakangnya.


"Aku temui mereka sebentar sebelum sarapan," pamit Delmira membelokkan arah ke taman rumah.


"Pagi anak-anak Momyang," sapa Delmira lalu mencium dua pipi anak kembarnya.


"Pagi juga Momyang," sahut suster menirukan suara ala anak.


"Menunya apa Sus?" tanya Delmira matanya menatap piring yang dipegang suster Fina.


"Telur goreng diberi kecap Nya," jawab suster.


Delmira mengangguk-anggukan kepala. Kaffah memang suka dengan telur goreng.


"Kalau Kahfi apa Sus?"


Delmira tersenyum mendengar jawaban keduanya.


Mereka kembar tapi tidak semuanya sama, buktinya dari segi makanan saja mereka punya selera masing-masing. Bagus Kahfi Kusuma Mukhtar kalau makan harus ada sayur, sebaliknya, Bagas Kaffah Kusuma Mukhtar tidak akan berselera makan kalau dikasih sayur.


Delmira mengelus pucuk kepala si kembar, "Momyang sarapan dulu ya," pamit Delmira tapi bukan anggukan yang ditunjukkan. Kaffah langsung menangis tatkala Delmira akan melangkah pergi. Sikap berbeda ditunjukkan Kahfi yang lebih memilih bermain dan melanjutkan makan, dia menurut apa yang diucapkan Suster Dila.


"Kaffah, nanti Momyang kesini kalau sudah selesai makan, kasihan Papyang mau ke kantor belum sarapan," terang Delmira.


Kaffah malah menggelayut pada tubuh Delmira yang sengaja jongkok agar sejajar dengan tubuh anaknya.


"Ok Kaffah!" sambung Delmira mengacungkan jempol.


Wajah Kaffah memperlihatkan ekspresi tidak setuju apa yang diminta Delmira.


"Kaffah katanya mau main prosotan, ayok suster temani," rayu suster Fina tangannya menunjuk pada prosotan yang tersedia di taman rumah.


Wajah Kaffah terlihat berbinar menatap prosotan yang ditunjuk oleh suster Fina, "Yuk," sahut Kaffah dengan bahasanya yang sedikit bisa menirukan apa yang diucapkan orang.


Karena terlalu bersemangat dan senang, Kaffah sampai lupa Momyangnya berjinjit untuk melangkah pergi.


Zaidan hanya tersenyum menyaksikan interaksi mereka, dia mengekor langkah Delmira hingga ruang makan.


Mereka berdoa setelah mengambil nasi dan lauk kemudian memakan suap demi suap ke mulut.


"Jangan lupa loh Papyang, Momyang mu ini masih marah. Jangan dikira kita sudah berinteraksi berarti sudah hilang marahnya!" ketus Delmira.


Zaidan mengunyah pelan makanan yang ada di mulut begitu mendengar ucapan Delmira.

__ADS_1


"Ada yang perlu dijelaskan lagi?" lontar Zaidan dengan hati-hati.


"Ya jelas ada!" sungut Delmira dengan cepat menjawab tanya Zaidan.


Zaidan menelan salivanya dengan susah, "Ini masih masalah keluar kota tidak menghubungi kamu?" selidik Zaidan tentunya dengan nada yang lebih hati-hati.


"Ya iyalah! Mau masalah lain?! Atau ... jangan-jangan memang ada masalah lain yang disembunyikan Papyang?!" ujar Delmira penuh telisik.


"Astaghfirullah haladhim, masalah apa lagi? Cukup satu masalah saja Papyang pusing," gumam Zaidan.


Delmira mencibirkan bibirnya mendengar gumaman sang suami walau terdengar samar namun jelas dia tahu, gumaman suaminya sebagai bentuk protes pada pernyataan dirinya.


Mereka selesai makan.


Zaidan menunggu Delmira yang menaruh perabot kotor ke dapur.


"Kenapa masih di sini?"


"Momyang tidak mengantar Papyang ke parkir mobil?" lontar Zaidan karena biasanya itu yang dilakukan Delmira.


"Papyang itu pura-pura tidak tahu atau bagaimana? Momyang kan sedang marahan dengan Papyang, masa iya harus nganter sampai ke parkir mobil!" jawab Delmira dengan greget.


Namun, justru kakinya melangkah keluar menuju parkir mobil berbanding terbalik dengan pernyataan yang diucapkan mulutnya.


Zaidan menggelengkan kepalanya dan menahan sebuah sebuah senyum dengan sikap istrinya.


"Ingat Zaid, sabar sabar sabar," gumam Zaidan mengingatkan diri.


"Oya, power bank nya ada di Fernando," ujar Delmira ketika sampai di mobil yang terparkir di halaman depan.


Zaidan terlihat bingung, "Power bank?" ucap Zaidan mengulang kata yang menjadi poin perkataan sang istri, sebagai bentuk permintaan penjelasan pada istrinya tersebut.


"Tadi malam Momyang minta Fernando untuk langsung membeli power bank yang kuat, awet, dan tahan lama. Jadi, untuk kedepannya tidak ada istilah baterai ponsel habis atau jawaban mengada-ada lainnya, lupa membawa changer!" ujar Delmira mengeratkan gigi atas bawahnya, dan menunjukkan senyum yang dibuat-buat.


Bukan marah, melainkan Zaidan tersenyum mendengar ucapan Delmira.


"Aku serius Papyang! Kenapa malah tersenyum mengejek seperti itu!" seru Delmira.


Zaidan langsung menarik senyumnya, "Maaf," ucapnya kemudian.


"Ok, Papyang minta maaf, sudah salah tidak memberi kabar kamu waktu keluar kota."


"Nah, itu Papyang mengakui kan kesalahan Papyang. Tapi ingat Papyang, pengakuan salah dan minta maaf saja tidak cukup untuk mendapatkan maaf! Papyang harus buktikan kalau Papyang benar-benar menyesal!" seru Delmira.


Zaidan diam, nampak berpikir keras mencerna ucapan Delmira.


"Insyaallah, Papyang akan tunjukkan rasa sesal Papyang," sahut Zaidan tangannya disodorkan pada Delmira.


"Ini untuk apa?" lontar Delmira meminta penjelasan dari tangan yang disodorkan Zaidan sebagai bentuk janji atau hal lain.


"Papyang sudah mau berangkat. Atau Momyang minta agar Papyang tetap di rumah?" goda Zaidan.


Delmira langsung menerima sodoran tangan itu dan mencium punggung tangan Zaidan.


"Momyang tunggu bukti dari Papyang!" sungut Delmira tanpa mendengar jawaban Zaidan dan tanpa melihat mobil Zaidan keluar dari rumah, kaki Delmira terlebih dulu masuk ke dalam rumah.


pagu menyapa 🤗 jangan lupa like komen hadiah vote rate 🙏

__ADS_1


__ADS_2