
"Zaid," seru Delmira suaranya terdengar tidak jelas terbungkam tubuh Zaidan.
"Zaid!" Bukan lagi suara biasa tapi sebuah teriakan dan mau tidak mau Zaidan melepas pelukannya.
"Kamu mau membunuhku lalu menikahi wanita itu?!" sungut Delmira, mendorong tubuh Zaidan agar melepas pelukannya.
Zaidan terkekeh mendengar ocehan Delmira.
"Jangan tertawa terus! Aku neg lihatnya!" sambung Delmira masih dengan suara tak kalah keras, bibirnya tetap saja manyun.
Tadi Zaidan memang sengaja memeluk Delmira dengan erat karena begitu gemasnya pada sang istri.
Zaidan menghentikan tawanya, netranya kini mengunci netra Delmira. Netra Delmira pun berhenti tatap di netra suaminya.
"Apa Momyang berpikiran Papyang akan sekejam itu pada Momyang?" lontar Zaidan.
"Kenapa tadi tanya bagaimana pendapatku mengenai tawaran dari pak Hidayat?!" gerutu Delmira, "bukankah itu tanda-tanda kamu ragu menolak permintaan Putri dan orang tuanya?!" sambungnya.
"Papyang hanya menguji Momyang, Papyang ingin melihat reaksi Momyang akan seperti apa," jawab Zaidan dengan lembut, matanya tak sedetikpun mengerjap, menatap penuh keyakinan ke arah sang istri.
Delmira bungkam, sungguh mata Zaidan telah menguasai dirinya hingga amarah yang memuncak hingga ubun-ubun seakan luruh seketika.
Delmira mengangguk pelan, pandangannya kemudian ditundukkan. Zaidan membalas dengan sebuah senyum.
"Alhamdulillah kalau Momyang percaya Papyang tidak akan melakukan itu," ucap Zaidan, lalu mendaratkan ciuman di pucuk kepala Delmira.
"Papyang harap, Momyang juga tidak mendesakku untuk menikahi nona Putri. Walaupun keadaannya sekarang sungguh memprihatinkan," sambung Zaidan.
"Siapa juga yang mendesak Papyang untuk menikahi Putri?!" kesal Delmira, langsung menengadahkan Pandangan, matanya membulat.
"Ya siapa tahu," canda Zaidan.
"Issst!" greget Delmira mencubit perut Zaidan.
"Auw! Sakit Momyang," keluh Zaidan.
"Rasain!" seru Delmira diiringi tawa, tangannya bergerak menarik selimut untuk menutupi tubuhnya dan memposisikan diri tidur membelakangi sang suami.
Dua sudut bibir Zaidan ditarik membentuk sebuah senyum lebar hingga terlihat barisan gigi putih dan rapi. Tubuhnya kemudian beringsut, mencari posisi nyaman lalu memeluk Delmira dengan erat dari belakang.
"Berdoa dulu Sayang," bisik Zaidan.
"Hmmm," dengung Delmira sebagai jawaban.
Zaidan membaca doa akan tidur dengan suara lirih dan Delmira mengikutinya.
__ADS_1
"Bismillah, Allahumma jannibnaassyyaithana wa jannibi syaithoona maarazaqtanaa," ucap Zaidan.
Delmira berpikir keras, mengapa setelah amin, doanya masih berlanjut.
Deg.
Otaknya baru mengingat, itu bukan bagian dari doa akan tidur.
"Papyang bukankah_"
"Tidak apa-apa kan baca doanya dulu? Nanti kalau Momyang sepemikiran Papyang langsung kita lakukan bersama."
"Issst! Papyang! Itu maunya kamu!" sungut Delmira.
Terdengar Zaidan menahan tawa, tangannya semakin mengerat di tubuh Delmira. Sebuah kecupan mendarat di pucuk kepalanya.
"Tidurlah," pinta Zaidan.
"Katanya Papyang ingin sesuatu?" lontar Delmira.
Zaidan tersenyum, "Momyang hari ini pasti capek, tidur saja."
"Nanti aku dosa karena tidak melayani suami dengan baik, tidak cekatan bahkan tidak menawarinya dengan suka ceria," sanggah Delmira.
Zaidan tersenyum, "Tubuh Momyang juga butuh istirahat. Jadi istirahatlah," sahut Zaidan dengan mata dibiarkan terpejam, "mari tidur, doa kedua Papyang ralat diganti dengan Sadaqallahul adhim," sambung Zaidan mengeratkan pelukan yang sempat dia longgarkan.
Bibir Delmira mencetak sebuah senyum, 'Beruntung sekali aku punya suami seperti kamu papyang, sangat pengertian, Aku memang sangat capek, kalaupun aku paksa meladeni permainan, malah takutnya hasilnya tidak maksimal. Semoga Allah selalu menjaga kamu, amin,' monolog batin Delmira matanya ikut dipejamkan.
...****************...
'Astaghfirullah haladhim, apakah keadaannya benar-benar separah itu? Di satu sisi aku harus menemani Fernando untuk ijab kabul, di sisi lain ada orang yang sangat membutuhkan motivasi aku agar dia tetap semangat hidup,' monolog batin Zaidan, ponsel yang ada di tangannya kini dimasukkan dalam saku jas.
Barusan dia mendapat telepon dari orang tuanya Putri yang mengabarkan keadaan Putri sedang tidak baik-baik.
Mereka meminta Zaidan untuk datang ke rumahnya. Namun, secara halus Zaidan menolak permintaan itu.
"Ada apa Papyang?" lontar Delmira melihat wajah suaminya begitu gelisah.
Zaidan tersenyum, "Tidak apa-apa," jawab Zaidan yang tidak ingin Delmira memikirkan hal lain karena hari ini adalah hari bahagia untuk dia juga sahabatnya yang akan melangsungkan pernikahan.
"Kamu mau ke toilet?" lontar Zaidan kemudian.
Delmira mengangguk, "Aku ke toilet dulu," pamitnya.
Lima menit kemudian Delmira keluar setelah tuntas membuang air kecil, "Kok masih di sini?" tanya Delmira melihat Zaidan berdiri di luar toilet.
__ADS_1
"Kita jalan bareng ke tempat ijab kabul," ajak Zaidan.
Delmira tersenyum, lalu tangannya melingkar di lengan suaminya.
Semilir angin pagi telah hilang berganti dengan semilir AC yang terpajang di sudut ruangan.
Waktu tepat menunjukkan pukul 09.00 WIB, ketika kata sah bergema di acara ijab kabul tersebut.
Delmira tersenyum sumringah begitu juga dengan mempelai pengantin pria maupun wanita.
Semua mengucap selamat lalu mereka menikmati hidangan yang disediakan tuan rumah.
Baik Fernando maupun Yasmin memang menginginkan pernikahan yang sederhana. Hanya keluarga, teman dekat, saudara dekat, dan beberapa tetangga rumah yang menghadiri pernikahan.
"Alhamdulillah, akhirnya sahabat yang satu ini sold out," seru Delmira memeluk Yasmin.
"Enak saja, emang aku barang dagangan apa dibilang sold out!" celetuk Yasmin, diiringi sebuah senyum kecil.
Delmira terkekeh sebagai balasan.
Mata Delmira berpindah tatap pada Zaidan dan Fernando yang bercakap-cakap dengan teman mereka.
Acara ditutup dengan makan siang dan walimatul Arsy.
Zaidan beserta keluarga pun pulang.
"Momyang, ada hal yang ingin Papyang sampaikan," ucap Zaidan setelah mereka masuk kamar untuk ganti pakaian.
"Apa Papyang?"
"Papyang dapat telepon dari pak Hidayat, katanya kondisi Putri sedang menurun," ucap Zaidan.
Zaidan sudah komitmen sekecil apapun hal yang ada kaitannya dengan Putri, akan dibicarakan dengan Delmira agar tidak ada kecurigaan maupun fitnah yang ditimbulkan dari hal tersebut.
Delmira pun menyepakatinya. Sebenarnya bisa saja Zaidan dan Delmira bersikap masa bodoh mengenai apa yang menimpa Putri. Namun, karena rasa kemanusiaan, Delmira meminta Zaidan datang menjenguk Putri tentunya dengan membawa dirinya ikut bersama.
Faktanya, Zaidan sesungguhnya sangat menolak permintaan Delmira, bukan karena tidak ingin membantu, tapi karena takutnya malah menjadi masalah dikemudian hari.
Akan tetapi berbanding terbalik dengan pemikiran Delmira. Dia malah berpikir, takutnya karena tidak dapat membantu, Zaidan akan menyesal jika hal fatal menyebabkan kematian Putri. Delmira sendiri tahu, Zaidan tipe orang yang anti menolak untuk menolong kalau dia sanggup menolong. Walaupun kali ini Zaidan sudah mengatakan tidak sanggup menolong, tapi Delmira mendesak agar Zaidan ikhlas menolong orang yang masih dalam keadaan susah.
"Momyang sangat menentang poligami Papyang. Hanya saja, Momyang merasa tidak tega dengan keadaan Putri. Jadi, Momyang mohon, tolong dia," pinta Delmira waktu itu.
Kalau hanya memberi motivasi untuk sembuh bukanlah perkara yang susah, menurut Delmira. "Lagian aku juga selalu ikut bersama Zaidan jika dipanggil orang tua Putri untuk bertandang," ujaran Delmira saat berargumen dengan Zaidan.
"Papyang, cepat! Kita harus menemui Putri," seru Delmira.
__ADS_1
malam menyapa 🤗 like komen hadiah vote rate 🙏