
"Innalilahi wa innailaihi rojiun," ucap Zaidan.
Delmira sontak terperanjat dari duduknya, dia melangkah cepat ke ranjang pasien.
"Simbok," lirih Delmira mengguncang bahu Sa'diyah, tangannya langsung menyeka air mata yang tertampung dipeluk mata agar tidak jatuh di tubuh Sa'diyah.
Ekspresi Safira juga tidak kalah terkejut. Dia berdiri mematung seperti orang linglung. Matanya mengeluarkan deras air mata. Kakinya terasa berat melangkah ke ranjang pasien untuk mendekat ke arah simbahnya.
"Simbah," lirih Safira dan tiba-tiba tubuhnya terasa ringan, matanya berkunang, semuanya terlihat gelap dan akhirnya tubuh itu luruh ke lantai.
Delmira gegas lari ke Safira mendengar tubuh itu jatuh ke lantai.
"Astaghfirullah haladhim, Safira," seru Delmira membopong bocah itu agar naik ke sofa.
Zaidan gegas memangil perawat untuk menangani semuanya.
Dua jam berlalu. Safira sudah rebahan di ranjang rumah.
Banyak tetangga silih berganti datang, untuk menyampaikan bela sungkawa. Sahutan orang yang memberikan hadiah fatikha maupun surah Yasin juga terdengar tidak henti-hentinya.
Sebagian orang juga sibuk merangkai bunga untuk dipasangkan pada keranda jenazah. Sebagian lagi sibuk untuk memandikan jenazah maupun hal lainnya untuk prosesi pemakaman.
"Mau kemana Sap?" lontar Delmira melihat Safira turun dari ranjang.
"Mau menemui Simbah," jawab Safira, matanya langsung berembun.
"Biar aku temani," tawar Delmira langsung menggandeng Safira.
Walaupun jalan tiada bertenaga tapi dia harus melihat simbahnya untuk yang terakhir kali. Safira berhenti pada tubuh yang sudah kaku dan ditutup kain tapih.
"Jangan sampai air mata kami jatuh di almarhum Simbok," ucap Delmira mengingatkan.
Safira membuka kain yang menutup wajah simbahnya. Sebuah senyum Safira perlihatkan pada simbah yang selama ini mengasuhnya. Kemudian, dia mengecup kening wanita tua yang terlihat memancarkan wajah putih berseri itu.
"Simbah, semoga amal baik Simbah diterima di sisi Allah dan Allah juga memaafkan segala khilaf yang pernah Simbah lakukan," gumam Safira, lalu tangannya bergerak menutup kembali wajah simbah Sa'diyah dengan kain penutup.
"Mbak, aku mau ambil wudu."
Delmira mengangguk dan kembali menggandeng Safira.
Setelah ambil wudu, mereka duduk di depan jenazah sambil melantunkan ayat Al Qur'an.
Waktu terus saja berjalan tiada sedetikpun terhenti.
Rumah Sa'diyah mulai terlihat sepi. akan tetapi, sesekali ada yang datang untuk melayat sekalipun jenazah sudah dikebumikan.
"Nanti malam kita bermalam di sini," ucap Delmira pada Zaidan.
"Sebaiknya seperti itu, tidak mungkin Safira ditinggal sendirian," sahut Zaidan.
Saudara-saudara Sa'diyah kebetulan tidak ada yang merantau jauh dan mereka tinggal berdekatan sehingga pemakaman dapat dilakukan secara cepat. Bahkan jam setengah lima sore, prosesi pemakaman sudah selesai dilakukan.
Malam hari pun tiba. Sebagian orang yang mengikuti acara tahlil sudah pulang ke rumah, ada beberapa orang yang sengaja pulang akhir. Yaitu mereka saudara-saudara dari Mbok Sa'diyah. Acara tahlil sengaja diadakan setelah Isya.
Sebuah mobil terparkir di pelataran rumah Sa'diyah. Dua orang turun dari mobil mewah itu.
Mereka gegas menaiki anakan tangga menuju teras rumah Sa'diyah.
"Assalamualaikum," sapanya.
"Waalaikum salam," jawab yang masih duduk lesehan di teras rumah.
Verel dan Raka menyalami 4 orang yang masih duduk lesehan di situ.
Zaidan tersenyum menyambut uluran tangan Verel dan Raka.
"Katanya tidak bisa datang?" seloroh Zaidan.
__ADS_1
"Aku putuskan lebih baik datang," sahut Verel.
"Alhamdulillah kalian bisa datang. Silahkan duduk. Aku panggil Delmira dan Safira dulu," ucap Zaidan.
Keduanya pun, Raka dan Verel ikut bergabung duduk di antara mereka yang sudah duduk terlebih dahulu.
Safira dan Delmira berjalan dari arah dalam. Mereka kemudian duduk di antara yang lainnya
"Maaf, baru bisa datang, waktu dapat kabar dari Zaidan, posisi kami sedang ada hal yang sangat mendesak dan tidak dapat kami tinggal begitu saja," ucap Verel memberikan sebuah alasan.
"Kami yang minta maaf sudah merepotkan kalian. Walau bagaimanapun kalian kenal dengan almarhum mbok Sa'diyah. Jadi kami tidak mungkin untuk tidak memberitahukan kabar duka ini. Aku, khususnya Safira sangat berterima kasih, kalian sudah mau datang. Mohon doanya, semoga Simbok diampuni segala dosanya," ucap Delmira panjang lebar.
"Tentunya, aku juga doakan hal yang sama. Sebenarnya, aku juga sangat terkejut mendengar kabar duka ini. Padahal belum satu minggu kita jumpa di resepsi pernikahan kalian," ucap Verel.
"Terlebih kami, karena Simbok tidak mau kami khawatir. Beliau tidak memberitahu keadaannya yang sebenarnya," sahut Delmira.
"Safira, yang tabah," sambung Verel berpindah tatap pada Safira.
Safira mengangguk, pandangannya tertunduk ke bawah.
Raka terus menatap ke arah bocah itu, sungguh dia begitu iba melihat bocah yang biasanya banyak bicara hanya berdiam diri.
"Raka," panggil Verel agar asistennya bicara pada Safira.
"Raka," ulang Verel namun Raka tetap tidak bergeming hanya menatap tanpa kedip Safira.
Verel pun hanya bisa mendengus.
Flashback on.
Verel dan Raka sudah tiba di bandara Soekarno Hatta. Mereka baru saja turun dari mobil. Kaki mereka melangkah ke arah penukaran tiket pesawat.
Rencananya mereka akan terbang ke negara Maurice, tentunya akan ke berkunjung ke perusahaan.
"Delmira," gumam Verel begitu ponselnya bergetar dan melihat layar ponsel tertera nama pemanggil.
"Waalaikum salam," jawab Verel sedikit kecewa karena ternyata suara dari seberang sana suara lelaki dan itu bisa dipastikan Zaidan, suami Delmira.
Verel diam, mendengar seksama apa yang disampaikan oleh Zaidan.
"Apa?!" terkejut Verel setelah mendengar semuanya, "akan dikebumikan jam berapa?"
"Oh." Verel menyahuti dengan satu kata, matanya berpindah tatap pada pergelangan tangan.
"Oke. Maaf, mungkin kami tidak bisa datang karena ada hal yang sangat penting dan mendesak. Kami hanya bisa berdoa, semoga Mbok Sa'diyah mendapat tempat terbaik dari Tuhan," imbuh Verel lalu menutup ponselnya.
Mata Raka seketika berpindah tatap ke arah sang bos tatkala mendengar nama Simbok Sa'diyah dan mengenai kematian.
"Ada apa Tuan?" telisik Raka penuh rasa penasaran.
"Mbok Sa'diyah meninggal dunia," jawab Verel.
"Innalilahi wa innailaihi rojiun," sahut Raka dengan suara lirih, "kapan itu? Kemarin baru saja kita bertemu dengan simbok," cecar Raka, wajahnya terlihat khawatir.
"Baru saja," sahut Verel, matanya kini menatap telisik pada Raka yang masih diam mematung.
Verel tahu, antara Raka dan Safira ada hubungan dekat. Walaupun hubungan itu belum bisa dijabarkan lewat kejelasan. Jadi, kemungkinan besar dia mengkhawatirkannya.
"Kamu akan melayat?" lontar Verel menatap ke arah asistennya dengan tatapan penuh telisik.
"Kita akan terbang ke Maurice," sahut Raka tapi jelas wajahnya menampakkan sebuah kesedihan.
Verel terdengar mendecih, "Kamu tidak ingin tahu keadaan bocah itu?" ledek Verel.
"Maksud Tuan?" lontar balik Raka, padahal dia jelas tahu maksud perkataan Verel.
"Kita cancel penerbangan ke Maurice. Cepat hubungi Raymond untuk mengantarkan mobil ke bandara!" titah Verel, memutar langkah untuk keluar bandara.
__ADS_1
Flashback off.
"Hei, apa kamu hanya akan diam saja?" ledek Verel menyiku asistennya.
Raka langsung terbangun dari lamunan.
"Dia sangat khawatir dengan keadaan kamu bocah," ucap Verel.
"Yang tabah," sela Raka tertuju pada Safira. Entah kenapa rasanya sangat tidak tega melihat gadis itu membisu dan raut wajahnya penuh kesedihan yang mendalam.
Safira pun mengangguk sebagai balasan. Mulutnya keluh untuk bicara.
Mereka lalu berbincang-bincang selain membicarakan berbagai kebaikan mbok Sa'diyah selama masa hidupnya.
"Aku ke dalam dulu Mbak," pamit Safira, dirinya merasa sudah sangat lelah, dia juga akan melaksanakan salat isya terlebih dulu sebelum merebahkan diri di kasur.
"Ya, sebaiknya kamu istirahat," sahut Delmira.
Raka hanya dapat menatap bocah itu masuk ke dalam rumah hingga tubuh Safira hilang di balik tembok.
Selesai membicarakan kesana kesini, akhirnya Verel dan Raka memilih untuk pamit.
Zaidan mengantar Verel hingga mobil.
"Jaga Delmira," ucap Verel.
"Tanpa kamu suruh pun akan aku lakukan," seloroh Zaidan.
Verel terkekeh, "Awas saja kalau kamu tidak jaga dia! Aku bisa ambil dia kapan pun."
Zaidan menarik satu sudut bibir, kepalanya menggeleng pelan.
"Aku tidak akan biarkan itu!" sungut Zaidan, " Kamu sudah punya istri, jaga saja dia!"
Verel menarik dua sudah bibirnya, "Istriku urusan aku. Namun, istri kamu juga akan menjadi urusan aku kalau sampai ada yang menyakitinya."
"Sudahlah pulang saja, hati-hati di jalan," seru Zaidan.
"Oke oke," sahut Verel masih dengan senyum karena dia tahu Zaidan tidak beneran mengusirnya.
Verel segera masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi pengemudi. Matanya layang ke arah Delmira yang memilih berdiri di teras rumah.
Verel melambaikan tangan ke Delmira. Sedangkan Delmira membalas dengan sebuah anggukan.
Zaidan menatap bergantian ke arah Delmira dan Verel. Jujur dalam lubuk hati terdalam, walau sang istri jelas ingin menjaga jarak tapi entah kenapa rasa cemburu itu muncul.
"Dia sempurna bagiku. Aku pun berharap kamu memberikan nilai sempurna padanya. Jika suatu saat ada ketidaksempurnaan yang terlihat pada diri Delmira, kamu harus tetap menerima dia dengan kurang dan lebihnya," ucap Verel pada Zaidan tapi matanya tetap mengarah pada Delmira.
"Akan selalu kuingat nasehat bijak darimu ini," balas Zaidan.
Verel berpindah tatap ke arah Zaidan.
"Biasanya, Delmira akan mengingatkan aku untuk memberi salam sebelum aku pergi. Kali ini dia tidak melakukan itu, tapi aku sendiri yang mengingatnya."
Verel mengempaskan napas panjang.
"Assalamualaikum," imbuh Verel.
"Waalaikum salam," sahut Zaidan.
Mobil itu pun melaju pergi.
Zaidan berdiri mematung hingga mobil itu tak terlihat oleh sejauh matanya memandang.
'Apa boleh aku kategorikan kamu sebagai sainganku?' monolog batin Zaidan, bibirnya membentuk sebuah senyum.
malam menyapa 🤗 hai siapa yang kangen Zaidan Delmira, kasih like komen hadiah vote rate 🙏
__ADS_1