Dinikahi Berondong Saleh

Dinikahi Berondong Saleh
Bab 97


__ADS_3

"Nasib bener deh! Kenapa harus melihat kemesraan mereka seperti itu? Ini nih yang bikin aku cepat dewasa. Tapi sayang sekali, sampai sekarang belum ada yang minat melamar," gumam Safira menatap Zaidan menggendong Delmira dan berjalan melewati dirinya.


"Jomlo, jomlo," ledek Fernando pada Safira kemudian berjalan meninggalkan Safira yang masih mematung menatap kepergian dua insan yang sedang di mabuk asmara.


"Issst! Ngledekin jomblo. Dia sendiri juga masih jomblo!" gerutu Safira.


"Hei! Apa kamu mau tetap di situ?!" teriak Fernando, menghentikan langkah dan membalikkan tubuhnya.


Tanpa menyahuti teriakannya, Safira berjalan malas ke Fernando berdiri.


"Coba saja ada om ganteng di sini! Pasti lebih asyik! Bukan manusia model kek dia!" umpat Safira dan jelas terdengar oleh Fernando.


"Aku sudah punya kekasih, kamu jangan mengharap apapun padaku," ujar Fernando.


Safira yang tadi sudah jalan melewati Fernando langsung menghentikan langkahnya dan membalikkan tubuhnya.


"Siapa juga yang mengharapkan kamu?! Cinta aku tetap pada om ganteng ku!" ketus Safira, memilih berjalan cepat. Bahkan karena langkah cepatnya, dia sampai melewati Zaidan dan Delmira.


"Tuh bocah kenapa?" heran Delmira, "apa mungkin tamu bulanannya mau datang?" sambungnya.


Zaidan hanya tersenyum menimpali, marahnya Safira kurang lebih seperti marahnya Delmira.


"Kenapa malah tersenyum?" sungut Delmira.


"Sikapnya dia copy paste dari kamu," ujar Zaidan lalu menurunkan Delmira tepat samping pintu mobilnya.


Fernando yang juga sudah sampai langsung membuka mobil itu dengan kunci yang dia pegang.


Mobil itu berjalan, seusai semua duduk di kursi. Kemudian mobil itu berhenti di salah satu hotel yang ada di Wonosobo.


"Mau aku gendong lagi?" tawar Zaidan.


"Tidak usah, aku bisa jalan sendiri kok," tolak Delmira dengan nada halus.


"Jalan yuk," ajak Delmira pada Safira.


Gadis itu mengangguk, sebagai tanda mengiyakan permintaan Delmira.


Mata Safira memutar melihat takjub pada hotel yang didesain dengan indah dan lebih mengedepankan aspek menyatu dengan alam.


"Hotelnya bagus sekali Mbak," ucap Safira.


"Kita langsung ke restonya," seru Delmira sedikit menarik Safira agar tidak berhenti jalan.


"Sekalian makan di sini Mbak?" lontar Safira.


"Iya, mau makan dimana lagi?"


Tanpa panjang lebar, mereka segera makan siang dan menghabiskan menu yang mereka ambil.


"Kamu mau kemana Sap?" selidik Delmira ketika Safira ikut masuk ke kamar Delmira.


"Masuk kamarlah," sahut Safira.


Safira nyeringis saat Zaidan menyusul ikut masuk ke kamar yang sama.


"Maaf, aku lupa Mbak Del sudah nikah," lirih Safira, langsung ambil langkah seribu.

__ADS_1


Zaidan dan Delmira hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah Safira.


"Zaid, turunin aku!" seru Delmira saat tubuhnya tiba-tiba diangkat Zaidan.


Tanpa mengiyakan permintaan Delmira, Zaidan malah melangkah ke arah pintu untuk menguncinya.


"Zaid...," mohon Delmira.


"Balas dulu ciumanku," sahut Zaidan setelah mendapatkan kecupan di pipi kanan Delmira.


"Issst! Genit!" ujar Delmira walau sebenarnya dia suka diperlakukan manja oleh suaminya. Tangannya bergerak menarik gemas pipi Zaidan. Lalu gerakannya berubah lembut, mengelus dan mulai mendekatkan bibirnya ke pipi Zaidan.


Namun, saat kaki Zaidan mendekat ke arah pintu, mendadak pintu itu terbuka.


"Kamar aku_"


Ucapan Safira tercekat hanya sampai di situ karena sontak terkejut melihat adegan mesra yang terlihat dari sepasang suami istri yang ada di depannya.


"A... aku cari asisten Mas Zaidan saja," sambung Safira gegas menutup pintu itu.


"Nasib jomblo, gini amat," keluh Safira, bibirnya dibuat mewek. Kakinya memutar mencari keberadaan Fernando.


Sementara itu yang ada di kamar, tetap saja belum mau menurunkan gendongan atau pun mau turun dari gendongan.


"Lanjut Sayang," ucap Zaidan tepat di telinga Delmira.


"Geli Zaid," sungut Delmira.


Zaidan terkekeh, kali ini malah menggigit lemah daun telinga sang istri.


"Dasar otak mesum!" sungut Delmira.


"Terima kasih Sayang, kamu luar biasa," puji Zaidan setelah mereka melewati masa indah dengan status halal mereka.


"Hmmm," sahut Delmira tanpa mengurangi eratan tangan yang melingkar di pinggang suami, matanya juga tetap dibiarkan terpejam.


...****************...


Safira duduk di teras rumah, matanya menerawang memandang pepohonan yang rindang di pelataran.


"Sedang mikir apa?" tanya Delmira, duduk di samping kursi Safira.


"Aku mau sekolah Mbak," lirih Safira.


Delmira sontak terkejut mendengar penuturan Safira. Pasalnya, sudah lama Delmira membujuk Safira agar mau melanjutkan sekolah tetap saja dia menolak.


"Serius?"


Safira mengangguk.


"Alhamdulillah," seru Delmira, "kamu mau sekolah dimana?" imbuhnya.


Safira menggeleng karena otaknya memang buntu untuk memikirkan tempat lanjutan studi nya.


Dia hanya ingat amanah dari neneknya, dirinya harus melanjutkan ke perguruan tinggi, agar menjadi wanita yang pintar, berguna untuk keluarga ataupun bangsa, juga agama tentunya.


"Mau di Pekalongan? Atau Jakarta?"

__ADS_1


Lagi Safira menggeleng.


"Ada apa?" tanya Zaidan, kakinya melangkah mendekat melihat keseriusan pada wajah kedua wanita yang duduk di teras.


"Akhirnya, Safira mau untuk lanjut studi Zaid," lapor Delmira.


"Alhamdulillah, mau melanjutkan kemana Saf?"


"Sapi bingung, coba kasih referensi," sela Delmira.


Zaidan terdiam, sejenak memikirkan perguruan tinggi yang tepat untuk Safira.


"Kalau di Jakarta saja bagaimana?" tawar Zaidan, "Safira sepertinya suka di dunia kuliner, ada salah satu universitas yang bagus untuk Safira," sambungnya.


Delmira menatap ke arah Safira, mencoba mencari jawaban pada anak gadis tersebut.


"Terserah Mas ganteng," sahut Safira dengan lemas.


"Aku masuk kamar dulu," pamit Safira kemudian.


Delmira dan Zaidan hanya bisa membuang napas melihat reaksi Safira.


"Dia yang minta sekolah, tapi kenapa kita yang sangat antusias?" gerutu Delmira.


"Sepertinya, Safira hanya terpaksa mengingat amanah dari simbahnya," sahut Zaidan yang tahu mengenai cerita itu sewaktu diceritakan Delmira.


Delmira mengangguk pelan, mengiyakan ucapan Zaidan.


Dua Minggu kemudian.


Delmira dikejutkan dengan laporan Safira. Wajahnya terlihat bahagia dan langsung memeluk Safira.


"Mbak, akan selalu dukung cita-cita kamu, selama itu baik untukmu," ujar Delmira lalu melepas pelukan itu.


"Safira sudah kemas baju-baju. Nanti malam kita bisa langsung ke Jakarta."


Delmira mengangguk.


Untuk urusan pindah, memang Delmira tidak mempersoalkan itu. Mau dia tinggal di Jakarta atau Pekalongan, asal tempat itu nyaman, maka Delmira mau saja.


Sedangkan bisnis katering, jauh-jauh hari, Delmira sudah menyerahkan pada Mbak Wulan, anak dari adik mbok Sa'diyah. Delmira mempercayakan usahanya pada Mbak Wulan, karena Mbak Wulan dirasa orang yang lebih kompeten di bidang itu.


"Mbak masuk kamar dulu ya," izin Delmira yang sudah tidak sabar ingin memberi kabar gembira itu pada sang suami.


...****************...


Sekujur tubuh Delmira terasa lemas setelah melihat sebuah benda yang dia pegang.


"Ini serius?" lirih Delmira tubuhnya sekarang luruh ke lantai.


"Kenapa Sayang?" lontar Zaidan dengan cemas ketika masuk kamar dan melihat sang istri dengan wajah pucat.


Zaidan langsung meraih benda yang dipegang Delmira, "Garis dua? Kamu hamil Sayang?" tanya Zaidan, satu bulan yang lalu Delmira beli alat itu jadi Zaidan sedikit tahu mengenainya.


Delmira mengangguk pelan, tanpa terasa air matanya jatuh membasahi dua pipi.


Zaidan gegas meraih tubuh sang istri, "Alhamdulillah ya Allah... terima kasih, akhirnya apa yang kami impikan engkau wujudkan," ujar Zaidan, melepas pelukannya, "terima kasih Sayang," imbuhnya, tangannya bergerak mengusap air mata Delmira.

__ADS_1


'Aku kira aku akan sulit untuk punya anak lagi karena satu minggu setelah aku menikah dengan Zaidan, Verel memberitahuku soal diagnosa dokter terkait kandunganku. Subhanallah, ternyata begitu indah rencana Allah. Tidak ada yang tahu apa yang akan Allah berikan pada kita. Dokter boleh mendiagnosa seperti itu tapi Allah lah yang berkehendak atas semuanya. Allahhu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar, Alhamdulillah ya Allah, Syukron kasiran,' monolog batin Delmira, terus saja air matanya mengalir tanpa bisa terbendung.


siang menyapa 🤗, jangan lupa like komen hadiah vote rate 🙏 maaf ya baru bisa up🙏


__ADS_2