Dinikahi Berondong Saleh

Dinikahi Berondong Saleh
Bab 134


__ADS_3

"Katakan saja Nabila apa yang ingin kamu katakan."


Akhirnya Nabila bersuara, memberanikan diri untuk berbicara, "Maaf Bu, sudah buat keributan dan membuat tidak nyaman suasana sekolah." ujarnya tapi kepala langsung dia tundukkan.


"Apa yang kamu perbuat?" tanya Irma.


Nabila kembali melirik ke arah Ariyana.


'Kenapa hanya aku yang diinterogasi? Lalu dia? Gadis kemayu ini yang pertama kali bikin ulah!' keluh batin Nabila.


"Nabila, apa yang kamu lakukan?" ulang Irma.


"Berkelahi dengan dia," jawab Nabila menunjuk ke arah Ariyana.


"Dia yang mulai dulu Bu!" sela Ariyana, membela diri.


"Apa yang membuat dia menyerang kamu?" cecar Irma beralih tanya pada Ariyana.


Sontak pertanyaan itu membuat mulut Ariyana terdiam.


"Nabila yang mulai duluan, lalu apa yang membuat Nabila menyerang kamu?" ulang Irma, masih dia lontarkan pada Ariyana.


"Dia... dia_"


"Tanyakan saja pada Nabila Bu, mengapa dia menyerang Ariyana!" sela Sheilla.


"Nah, kamu sebagai sahabat Ariyana dan secara jelas menyaksikan semua di depan mata, Coba ceritakan pada Ibu dengan runtut, tepat, dan tentunya kejujuran yang paling utama," ucap Irma, berpindah tanya pada Sheilla.


Pandangan Sheilla dia tundukkan. Mulutnya diam membisu.


"Tidak ada yang mau bicara? Hanya diam-diaman seperti ini?"


"Sekali lagi ibu tanya_"


"Dia menjambak aku Bu, lalu aku balas memilintir tangannya," cekat Nabila.


Terlihat Bu Irma mengempaskan napasnya, "Apa yang menyebabkan kamu dijambak oleh kak Ariyana?"


Nabila diam sejenak, terlihat ragu untuk bersuara, bagaimana tidak ragu, dia harus mengatakan karena Ariyana melarang dirinya untuk dekat dengan Kaffah, bukankah secara tidak langsung bisa diartikan perkelahian itu dikarenakan memperebutkan seorang lelaki? Issst! Tidak banget bagi Nabila, berkelahi hanya karena seperti itu.


"Benar Ariyana kamu menjambak Nabila?"


Sontak Ariyana menggeleng.


"Kata Nabila kamu menjambaknya lalu dia membalas memilintir tangan kamu?"


Terdiam, ya Ariyana terdiam. Bahkan semuanya menjadi diam.


"Kalau kalian hanya diam seperti ini, ok, satu-satunya jalan Ibu harus panggil orang tua kalian!"


"Jangan Bu!" jawab semuanya serentak.


Irma menatap semuanya, "Ya sudah katakanlah.


Pikiran Nabila langsung terbayang kedua orang tuanya yang hanya kerja serabutan dipanggil oleh pihak sekolah gara-gara perkara semacam itu. Sungguh dari lubuk hatinya yang terdalam tidak rela. Mereka bekerja keras untuk dirinya dan adiknya tapi hasilnya malah mengecewakan. Dipanggil guru BK karena berkelahi. Pasti buat mereka sakit hati, itu yang tidak diinginkan oleh Nabila.


"Dia mengancamku untuk tidak dekat-dekat dengan Kaffah Bu, aku tidak menghiraukan ucapannya, dan sewaktu mau pergi kuncirku malah ditarik oleh dia! Ya sudah aku balas plintir tangannya," terang Nabila.


Bu Irma terlihat kembali mengempaskan napasnya, "Benar seperti itu Ariyana?"


Ariyana terdiam.


"Kalau hanya diam tak akan menyelesaikan masalah. Cukup satu kata ya atau tidak," sambung Irma, tatapannya masih menoleh ke arah Ariyana, berharap anak didiknya itu mau mengatakan satu ucap kata.


"Ya Bu," lirih Ariyana.


"Tapi dia yang mulai dulu mendorong tubuh saya Bu hingga membentur tembok. Katanya dia tidak akan menjauhi Kaffah," ucap Ariyana.


Nabila terpantik mendengar ucapan Ariyana yang jelas fitnah untuk dirinya.


"Itu fitnah Bu! Mulut kamu ini ya perlu diberi pelajaran!" protes Nabila, karena terlalu emosi, jiwa berontaknya langsung bereaksi, tangan kanan menarik kerah baju Ariyana, tangan kirinya sudah mengepal dan hampir saja dilayangkan ke wajah Ariyana kalau tidak dicegah Bu Irma.

__ADS_1


"Eh eh eh, Nabila! Lepaskan tangan kamu!" cegahnya merangkul tubuh Nabila.


"Nabila! Istighfar, sekali pukul maka hukumannya tidak main-main," bujuk Irma tangannya bergerak menurunkan tangan Nabila.


Pelan Nabila lepas cengkramannya, sambil sedikit mendorong tubuh Ariyana.


"Itu kan Bu, di depan Ibu saja dia berani akan memukulku. Apalagi di luar," ucap Ariyana dengan air mata kadal.


Irma mendudukkan Nabila agar emosinya tenang.


Setelah mulai tenang, kembali Irma menginterogasi keduanya.


"Katakan, benarkah yang diucapkan Ariyana, kamu yang memulai duluan, mendorong tubuh dia?"


"Fitnah Bu, demi Allah aku tidak melakukan itu," jawab Nabila dengan cepat.


"Kalau itu tidak benar, kenapa kamu harus semarah ini sampai mau memukul Ariyana?"


Nabila menunduk kepala. Jiwa mudanya memang tipe seperti itu, sekali disenggol langsung memasang dada.


"Ingat anak-anakku, masa depan kalian masih panjang. Jangan hanya karena masalah cowok kalian sampai berantem. Itu sangat tidak enak didengar. Kalian ke sekolah itu bukan untuk memperebutkan cowok tapi memperebutkan ilmu. Niatkan dengan lurus agar ilmu yang kalian dapat bermanfaat," terang Irma.


"Nabila, Ariyana ibu minta kalian saling maaf memaafkan," sambung Irma menarik tangan kanan dua anak tersebut.


"Dia fitnah aku Bu! Oke masalah yang pertama aku maafkan, tapi untuk fitnah! Dia harus jujur mengatakan yang sebenarnya!"


"Ariyana, benarkah itu fitnah?"


"Ti... tidak Bu! Aku tidak memfitnahnya! Ibu lihat sendiri bukan, betapa arogannya dia!"


"Kamu sudah tahu dia arogan, mengapa pakai mengancam dia segala untuk jangan dekat-dekat dengan Kaffah?" cecar Irma.


Wajah Ariyana terlihat bingung, celingukan apalagi telah membantah masalah fitnah malah diimbuhi pertanyaan semacam itu.


Sebenarnya Irma sengaja memancing keduanya agar bersuara. Dari cara bicara, nada bicara, dan mimik siswinya Irma dapat menilai siapa yang jujur dan tidak. Hanya saja Irma ingin kejujuran itu keluar sendiri dari mulut siswi-siswinya.


"Kalau kamu bersikeras untuk tetap bohong, Ibu bisa panggil orang tua kamu," ancam Irma.


"Ingat, ini masih tingkat sekolah, hakimnya masih Ibu Irma. Apapun jawaban kalian masih Ibu toleransi. Tapi akan berbeda kalau di pengadilan, sekali kalian bohong, tidak jujur, apalagi mengarah pada fitnah hukumnya tidak akan main-main," terang Irma tatapannya bergantian ke Ariyana dan Nabila.


"Ariyana," panggil Irma agar siswinya tersebut bersuara.


"Ya Bu," jawabnya dengan mimik takut.


"Ya apa?"


"Ya tidak akan mengulangi untuk tidak berkelahi lagi," lanjut Ariyana.


"Terus?"


"Terus apa Bu?"


"Selain itu."


"Tidak... tidak berbohong," jawab Ariyana dengan lirih.


"Tidak berbohong soal?"


Ariyana terdiam, mengatakan yang sejujurnya bukankah nantinya akan menambah hukuman untuk dirinya, wajah papanya yang super galak tiba-tiba melintas dalam benaknya, walaupun pasti dia akan dibela ibunya yang sangat memanjakan dirinya.


"Tapi Ibu janji tidak akan memanggil orang tua?"


"Ngapain Ibu panggil mereka kalau masalah ini sudah selesai," sahut Irma.


"Ya, aku menjambak dia karena kesal," ucap Ariyana.


"Hanya itu?"


Ariyana mengangguk.


Irma mengempaskan napasnya kembali, mengulik terlalu dalam akan menguras waktu yang lebih lama tapi permasalahan ini memang harus diselesaikan.

__ADS_1


"Ibu simpulkan, kamu memperingati Nabila untuk menjauhi Kaffah. Nabila tidak mengindahkan ucapan kamu, dia malah akan pergi begitu saja, karena kamu kesal akhirnya menarik kuncir Nabila. Merasa tidak terima, Nabila langsung membalas, membela diri dengan memilintir tangan kamu yang sempat menjambak rambutnya. Begitu kah?"


Baik Nabila maupun Ariyana mengangguk pelan.


"Salaman!" titah Irma.


Dua pasang mata itu saling berpandangan, satu merasa tidak ikhlas dan Nabila merasa pasrah, intinya tidak menginginkan orang tuanya sampai dipanggil sekolah gara-gara perkara semacam ini.


Nabila mengulurkan tangan, "Maaf," ujarnya, harus merelakan untuk meminta maaf walaupun tidak salah.


"Hmmm," sahut Ariyana membalas uluran tangan Nabila.


"Alhamdulillah, kalian sudah baikkan. Jangan lagi diulang ya," seru Irma terlihat senyum merekah tercetak di wajah.


"Ariyana bersihkan taman depan perpustakaan selesai itu pel terasnya , dan kamu Nabila bersihkan taman depan laboratorium IPA seusai itu pel terasnya juga," sambung Irma.


"Tapi Bu, kita kan sudah saling maaf memaafkan. Kenapa masih diberi hukuman?" protes Ariyana.


"Mau yang lebih berat hukumannya?" tawar Irma tanpa menjawab ucapan Ariyana.


"Tidak Bu." Ariyana menyahut dengan cepat.


"Bagus, kalau begitu cepat kalian lakukan. Dan kalian, Sheilla, Novia boleh ke kelas."


"Ya Bu, terima kasih," balas keduanya tapi mata mereka memandang ke arah Ariyana seolah meminta izin untuk kembali ke kelas.


Ariyana terlihat membalas dengan mengerucutkan bibirnya.


"Kalian tunggu apalagi? Sekarang kerjakan," ucap Irma mengingatkan.


"Ya Bu, permisi," jawab Nabila kemudian keluar disusul Ariyana.


"Jangan sampai istirakhat kedua aku belum selesai, bisa malu. Reputasiku sebagai wanita tercantik di SMA Merdeka Berbudi bisa hilang deh karena ini!" gumam Ariyana dengan cepat membersihkan taman, walaupun jelas tangannya terlalu jijik untuk menyentuh sampah atau mencabut rumput liar yang mengitari taman itu.


Sedangkan Nabila, tidak peduli apapun. Tangan kakinya bergerak membersihkan semuanya. Selesai itu dia mengambil alat pel untuk membersihkan teras laboratorium IPA.


"Hei! Sudah aku pel! Jangan injak!" protes Nabila tanpa melihat wajah orang yang baru menginjakkan dua sepatu di teras laboratorium.


Nabila terlihat nyeringis, melihat wajah orang yang menginjak lantai yang sudah dipel.


Siswa itu menatap tajam dan menaikkan dua alisnya, lalu tangannya melambai agar Nabila mendekat ke arahnya.


Dengan sungkan, Nabila akhirnya menurut mendekat ke arah siswa itu.


Pletok.


"Auw! Sakit tahu!" protes Nabila mengelus dahinya yang baru saja mendapat ketokan siswa itu.


"Kamu bilang sakit! Bukankah kamu ini jagoan hah!" ujar siswa itu diakhiri sebuah decisan.


"Ekskul bela diri kita tercemar gara-gara kasus ini!" sambungnya.


Memang dalam ekskul bela diri, disebutkan pasal. Tidak boleh menggunakan ilmu bela diri secara semena-mena, apalagi digunakan saat emosi tidak terkontrol. Harus jelas karena membela suatu kebenaran.


"Kalau dia tidak mulai duluan mana mungkin aku membalasnya!" protes Nabila.


Pletok.


"Auw sakit!" seru Nabila karena satu ketokan mendarat kembali di dahinya.


"Hanya orang tidak waras yang meladeni orang tidak waras model mereka!" ucapnya menyindir sikap Nabila sambil menggelengkan kepala.


"Dia yang tidak waras! Aku_"


"Ya, kamu juga ikut tidak waras!" kekeh siswa itu memotong ucap Nabila.


"Ah, susah ngomong sama kamu! Bukan ikut prihatin malah menambah beban aku! Mending pergi saja cepat," pinta Nabila mendorong tubuh siswa itu.


"Ngapain juga aku lama-lama di sini!" jawabnya.


"Berkelahi memperebutkan aku! Bikin reputasiku jadi turun!" gumamnya beranjak pergi tapi lewat area yang sudah dipel Nabila.

__ADS_1


"Hei! Jangan sengaja ngotori lantai yang sudah aku pel!" teriak Nabila dengan geram. Namun, siswa itu tetap saja tidak menghiraukan teriakan Nabila.


"Lagian siapa juga yang rebutin kamu!" protes Nabila dengan gumaman.


__ADS_2