Dinikahi Berondong Saleh

Dinikahi Berondong Saleh
Bab 45


__ADS_3

"Miss ...Mrs. Delmira...," teriak Zaidan menggoyangkan tubuh Delmira yang ambruk dalam dekapan karena botol itu mengenai kepalanya dan Jambret itu segera lari tunggang langgang.


Seisi rumah keluar. Pak Imran dan mbok Muna gegas menghampiri keduanya.


"Pak Imran, siapkan mobil," titah Zaidan.


"Baik Den," jawab Imran.


"Mbok, segera hubungi Ummi, kita ke rumah sakitnya Ummi."


"Ya Den," jawab Mbok Muna gegas mengambil ponsel yang ada di saku bajunya.


Zaidan membopong Delmira masuk ke dalam mobil.


"Bertahan Sayang, kita pergi ke rumah sakit," ucap Zaidan. Tubuh Delmira semakin dibawa masuk dalam pelukan.


Delmira hanya bisa bisa tersenyum menahan sakit yang luar biasa. Tangannya bergerak mengelus pipi Zaidan agar lelaki itu tidak panik.


Zaidan memejamkan matanya menikmati elusan itu dan sesekali mencium hangat tangan yang merambah pipinya.


"Bertahan Sayang," ulang Zaidan penuh permohonan.


Tangan Delmira diturunkan menelusup masuk ke punggung Zaidan, membalas pelukan erat darinya.


'Pelukan kamu hangat sekali Zaid. Mengapa rasanya begitu tenang dan nyaman dalam pelukan kamu seperti ini?' batin Delmira. Namun, lamat-lamat tubuhnya terasa sangat ringan, matanya sulit dibuka dan hanya ada gelap yang menyertainya.


...****************...


"Makan dulu Nak," tawar Aisyah melihat Zaidan masih duduk di kursi samping ranjang pasien, dimana sang istri terbaring di sana.


"Ummi dulu yang makan, nanti Zaidan menyusul," sahut Zaidan.


"Kalau perut kamu tidak diisi makanan bagaimana bisa kamu menjaga istri kamu?" ujar Aisyah, "jaga orang sakit itu perlu kondisi tubuh yang sehat. Dulu Ummi ketika jaga almarhum abah juga selalu makan tepat waktu karena Ummi sadar, saat itu aku harus sehat agar bisa jaga abah kamu."


"Sudah biarkan Delmira istirakhat. Kata dokter juga tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Lukanya tidak sampai dalam," sambungnya panjang lebar.


Zaidan mengangguk dan ikut memakan nasi bungkus yang dibeli umminya.


Drt


drt


drt.


"Assalamualaikum, bagaimana Fer?"


"Waalaikum salam, penjambret sudah diringkus kepolisian Den. Mereka dalam ruang interogasi. Aku baru saja kembali datang ke kantor kepolisian. Semua bukti sudah diamankan kepolisian. Kemungkinan besar, tindakan mereka murni kejahatan tidak ada sangkut paut dengan masalah pribadi pada Den Zaidan maupun non Delmira.


"Kamu pantau terus. Pelaku harus mendapat ganjaran setimpal," titah Zaidan.


"Baik Den. Oya kondisi non Delmira sudah mending kan?"


"Alhamdulillah sudah membaik, dia sedang tidur. Mungkin faktor obat dia tidur begitu nyenyak."


"Syukur Alhamdulillah... semoga non Delmira cepat sembuh. Sudah dulu Den. Kalau ada hal penting nanti segera aku hubungi. Assalamualaikum."


"Waalaikum salam," jawab Zaidan lalu melanjutkan makannya yang masih tersisa setengah porsi.

__ADS_1


"Dari Fernando Zaid?" tanya Aisyah.


"Ya Ummi."


"Ada kabar apa?"


Zaidan menceritakan apa yang dikabarkan Fernando.


"Semoga pelaku mendapatkan ganjaran setimpal. Namun, yang terpenting semoga keadaan Delmira makin membaik."


"Amin ya Allah."


"Ummi tinggal pulang ya Sayang," pamit Aisyah tangannya mengelus pucuk kepala Delmira, "kalau ada apa-apa dengan Delmira kabari Ummi," pesan Aisyah pada Zaidan.


"Baik Ummi," jawab Zaidan mengantar Aisyah hingga pintu kamar perawatan. Kemudian Zaidan mencium takdhim tangan umminya.


Zaidan berjalan pelan mendekat ke arah ranjang. Pantatnya di dudukkan kembali di kursi dekat ranjang.


"Kenapa bangun?" tanya Zaidan melihat Delmira mencoba bangkit dari tidur dan gegas tangannya membantu Delmira bangkit.


"Pegel badannya," jawab Delmira tangannya bergerak memijit tengkuk.


"Biar aku pijit," sahut Zaidan tanpa peduli Delmira telah menolaknya.


"Zaid, aku geli," ucap Delmira sambil terkekeh menjauhkan tubuhnya dari jangkauan Zaidan.


"Baru aku sentuh tengkuk kamu, sudah geli seperti ini," jawab Zaidan juga ikut tertawa.


"Emang kamu mau menyentuh yang mana?! Tidak takut aku ambil parang kalau kamu benar-benar menyentuhku!" ancam Delmira.


Zaidan terkekeh mendengar jawaban Delmira. Lalu Zaidan menatap lekat mata Delmira hingga dua netra itu saling beradu pandang.


Jantung Delmira terpompa tidak beraturan, seketika tubuhnya beku karena sentuhan jari lelaki yang sah di mata hukum dan agama sebagai suaminya. Mereka terdiam terbius dalam irama jantung yang mereka rasa masing-masing.


"Hai Del...," sapa suara cempreng yang tidak asing untuk Delmira.


Seketika hilanglah suasana romantis yang hampir tercipta dari adegan yang ditunjukkan Zaidan.


"Eh, kalian datang!" seru Delmira menyambut kedatangan sahabat-sahabatnya secara mendadak.


Saling memeluk dan mencium.


"Hai Zaid," sapa Marsya, Silvia, dan Yasmin. Zaidan pun membalas sapa itu dan mempersilahkan mereka duduk di sofa dekat ranjang.


"Kalian tahu dari mana, kalau aku masuk rumah sakit?"


"Tuh," jawab Marsya menunjuk Yasmin.


"Fernando yang mengabarkan," ucap Yasmin sebagai jawaban dari tatapan Delmira.


"Kamu punya hubungan istimewa dengan Fernando ya?" goda Delmira.


"Dia hanya teman," jawab datar Yasmin.


"Kalaupun iya juga tidak apa-apa, Fernando orangnya baik loh," sahut Delmira.


"Ehem ehem."

__ADS_1


Mendengar deheman Zaidan semuanya memandang ke arah Zaidan dengan tatapan penuh tanya.


"Tenggorokan ku kering aku mau minum," seloroh Zaidan menjawab intimidasi tanpa suara dari 4 orang.


"Dia cemburu kamu muji lelaki lain di depannya," ledek Marsya diikuti tawa dari Silvia. Sedangkan Yasmin hanya melempar senyum dan Delmira, reaksi dia mengerucutkan bibirnya.


Yasmin, Silvia, dan marsya memang tahu saat Delmira menikah dengan Zaidan belum ada rasa saling cinta hanya sebatas itu tahu mereka.


"Kalian pasti haus, minumlah," ucap Delmira mencoba berbicara hal lain dari pada sahabat-sahabat meledeknya.


"Tahu aja kita haus," sahut Marsya mengambil minuman yang Zaidan ambilkan dari kulkas.


"Kenapa bisa sih Del kamu kena pukulan jambret, kamu kan jago beladiri," selidik Yasmin.


"Namanya juga apes. Bisa saja menimpa orang, mau dia jago beladiri atau tidak," jawab Delmira.


Zaidan merasa bersalah mendengar jawaban Delmira, 'Padahal karena kamu menjadi tameng aku ketika jambret itu hendak menyerang ku Del,' batin Zaidan berucap.


"Oh ya, aku sampai lupa, Meilin gag bisa datang bareng kita. Katanya malam ini ada keperluan, mungkin bisa dia telat untuk menyusul ke sini atau mungkin juga besok dia baru bisa jenguk kamu," ujar Silvia.


"Oh... tidak apa-apa," jawab Delmira dengan raut wajah yang berbeda.


Jelas mereka belum tahu apa yang sebenarnya menimpa dirinya dengan Meilin dan tragedi malam itu dengan teman Meilin. Delmira belum bisa menceritakan semuanya dengan sahabat-sahabatnya.


"Ngomong-ngomong Meilin, bagaimana kabar cowok ganteng yang_"


"Sya, kamu gag mau coba kue ini?" cekat Delmira yang tahu arah pembicaraan Marsya akan membicarakan Verel.


"Sepertinya enak Del?" sahut Marsya mata dan otaknya tidak dapat berpindah alih kalau sudah menyangkut makanan.


"Kue dari mertuaku, jelas enak loh," ujar Delmira merasa lega karena Marsya tidak jadi membahas Verel.


Lama mereka saling ngobrol, bercanda dan terkadang meledek Delmira dan Zaidan.


Jam setengah sepuluh malam mereka baru pulang dari kamar rawat Delmira.


"Sekarang tidurlah," ucap Zaidan merapikan selimut yang menutup tubuh Delmira.


"Kamu tidur di kursi?" tanya Delmira melihat Zaidan bukannya tidur di sofa samping ranjang malah memilih duduk di kursi dekat ranjang.


"Nunggu kamu tidur dulu Sayang," jawab Zaidan, tersenyum menatap lekat wajah Delmira.


"Apaan sih Zaid, aku itu gag bakal mempan dengan gombalan kamu!" sangkal Delmira dan membuat barisan gigi putih Zaidan semakin terlihat.


"Del, boleh aku tanya sesuatu?" ucap Zaidan dengan nada serius.


"Tanya apa?" sahut Delmira sedikit gugup dengan keseriusan yang ditunjukkan Zaidan.


"Kenapa menolongku dari pukulan jambret itu?"


Deg.


Sontak Delmira terdiam. Jujur saja kemarin dia reflek menjadi tameng karena tidak ingin melihat Zaidan terluka. Entah kenapa dia tidak rela, seharusnya membiarkan Zaidan terluka bukankah itu lebih baik, dan kurang lebih jambret sudah membalas luka Delmira dengan luka fisik pada Zaidan. Bukankah seperti itu? Tapi sekali lagi, Delmira tidak rela Zaidan terluka dan dirinya sendiri belum menemukan alasannya mengapa.


"Mrs. Delmira, bisa jelaskan kenapa mengorbankan diri untuk menolongku?" ulang Zaidan.


malam menyapa 🤗 jangan lupa like komen hadiah vote rate.

__ADS_1


aku punya rekomendasi novel dari teman nih kak Santi Suki, ketik judul novel dan masukkan dalam rak favorit ya...🙏



__ADS_2