
Delmira tidak seperti biasanya, hanya diam duduk memandang keluar jendela. Sesekali Zaidan melirik ke arah wanitanya.
"Kesehatan abah akhir-akhir ini mulai membaik," ucap Zaidan membuka kebisuan.
Delmira hanya mengangguk pelan menanggapi ucapan Zaidan.
"Persidangan dijadwalkan dua hari ke depan," lanjut Zaidan, berharap Delmira menyahuti ucapnya.
"Apa kamu berharap aku mencabut tuntutan?" tanya Delmira menolehkan pandangannya ke arah Zaidan.
Lelaki itu diam.
"Pak tua sudah bilang bukan, dia tidak memintaku untuk mencabut tuntutan?" lanjut Delmira menyampaikan apa yang pernah disampaikan Fatah.
"Dia hanya berharap kamu bahagia," sahut Zaidan.
"Tidak ada kebahagiaan lagi untuk aku," balas Delmira dengan datar.
Zaidan melihat sekilas raut Delmira terpancar keputusasaan.
'Raihlah kebahagiaan itu bersamaku,' batin Zaidan berucap dan entah kenapa batinnya bisa mengucapkan kalimat seperti itu.
"Apa luka itu terlalu dalam?" tanya Zaidan setelah menghentikan mobilnya di pelataran rumah.
"Maksud kamu?"
"Berbagilah rasa denganku kalau sekiranya dapat mengurangi rasa luka di hatimu," sahut Zaidan tanpa menjelaskan apa yang ditanya Delmira.
"Sekarang aku hidup sebatang kara. Jadi apapun yang kulakukan ya harus kulakukan sendiri! Tanpa berbagi dengan siapapun! Baik suka maupun duka!" seloroh Delmira dengan ketus.
"Itu juga yang kurasakan setelah kedua orang tuaku meninggal karena melawan perampok. Aku merasa hidup sebatang kara. Sering melamun, mengurung diri, menjauhi dari pergaulan, tidak pernah tersenyum, bermuka masam. Sampai akhirnya aku menyadari, abah Fatah dan ummi Aisyah tulus menyayangiku walau aku hanya anak angkat."
Seketika Delmira menoleh kearah Zaidan, "Jadi, kamu anak angkat?"
Zaidan tersenyum mengangguk, mengiyakan tanya Delmira.
"Tapi kenapa kamu sampai rela mengorbankan masa depan kamu untuk menikah denganku, demi memenuhi permintaan dari pak tua?" heran Delmira.
"Menikah dengan kamu bukan akhir dari perjalanan hidupku, justru itu gerbang awal hidupku yang sesungguhnya," sahut Zaidan.
Delmira tersenyum mengejek, "Benar apa kata kamu. Pernikahan ini gerbang awal kesengsaraan buat kamu Mr.Z!" ancam Delmira kemudian keluar mobil.
Zaidan menggelengkan kepala mendengar balasan dari Delmira.
"Wanita itu..." gumam Zaidan dua sudut bibirnya dia tarik membentuk sebuah senyum.
__ADS_1
Namun, senyum itu hanya sekilas manakala Zaidan tiba-tiba teringat kembali tangis Delmira dan kesedihan tergambar di wajah cantiknya.
'Sebenarnya apa yang terjadi dengan kehidupan kamu sebelumnya Mrs. Delmira? Apa kamu terluka karena suamimu?' batin Zaidan penuh tanya mengingat apa yang Delmira ucapkan tadi sore.
...****************...
"Aku antar," ajak Zaidan di sela-sela sarapan dengan Delmira.
"Aku bisa pergi sendiri."
"Mobilku dibawa Fernando ke bengkel," ucap Zaidan sebagai alasan. Sebenarnya jadwal perawatan mobil ke bengkel 2 hari lagi tapi sengaja dirinya meminta Fernando membawa mobil miliknya ke bengkel.
"Itu artinya kamu nebeng aku, bukan kamu yang antar aku!" sahut Delmira.
Zaidan hanya tersenyum melihat wanitanya berwajah ketus. Dapat disimpulkan, dia baik-baik saja.
"Cepetan! Aku banyak kerjaan! Hari ini ada jadwal rancangan pemasaran."
Gegas Zaidan menghabiskan makannya, setelah tertelan, segelas air putih pun masuk ke lambung. Doa sesudah makan telah dilantunkan Zaidan. Kakinya segera mendorong kursi yang dia duduki lalu berjalan dengan langkah panjang mengejar Delmira yang sudah jalan hingga ambang pintu depan.
"Biar aku yang nyetir," pinta Zaidan menyodorkan telapak tangannya.
"Aku yang nyetir. Kamu kan hanya nebeng!"
"Apa?!" tanya Delmira hanya mendengar samar karena keduanya bersebrangan, Zaidan sudah di pintu penumpang dan Delmira di pintu kemudi.
"Lupakanlah," ujar Zaidan lalu masuk dan mendudukkan pantatnya.
"Tidak kreatif! Selalu saja meniru kata yang aku ucapkan!" gerutu Delmira, memasang seat belt. Mesin mulai dinyalakan, Delmira melirik ke arah Zaidan yang belum juga mengenakan sabuk pengaman.
"Aku buru-buru, kamu yang nebeng bisa tidak bekerja sama denganku?!" kesal Delmira melihat Zaidan belum mengenakan seat belt.
"Bekerja sama dalam hal?" bingung Zaidan.
Delmira menarik seat belt yang sudah terpasang, sebagai isyarat maksud kerja sama, Zaidan agar cepat memakai seat belt punyanya.
"Oh, astaghfirullah haladhim, maaf aku sampai lupa," sahut Zaidan langsung menarik sabuk pengaman dan memasangnya.
Bukan tanpa sebab Zaidan sampai lupa, dirinya begitu gugup berada di kursi penumpang sedangkan yang mengendarai mobil Delmira.
Mobil mulai melaju meninggalkan rumah mewah milik keluarga Fatah. Dengan kecepatan rata-rata 70 km per jam, dalam waktu 20 menit sampailah mereka di rumah sakit.
'Mahir juga dia bawa mobil,' batin Zaidan karena saat pindah gigi, nyalip, injakan gas maupun rem, tepat semua.
"Mobilnya kamu bawa, nanti jemput aku tepat pukul 04.30."
__ADS_1
"Siap!" sahut Zaidan dengan cepat dan antusias.
"Semangat sekali!" sindir Delmira mencibirkan bibirnya.
Zaidan tersenyum mendengar sindiran wanitanya yang sudah menurunkan kaki keluar mobil.
Zaidan juga ikut keluar.
"Kenapa ikut turun?! Tinggal geser posisi turun!" gerutu Delmira merasa sungkan saja, kalau ada teman-teman kantor lihat Zaidan, nanti mereka pasti melempar beribu pertanyaan pada dirinya terkait Zaidan. Bahkan pertanyaan konyol tanya berapa ketinggian hidung Zaidan juga mereka lemparkan.
"Aku mau jenguk abah dulu," jawab Zaidan.
"Mau bareng?" tawar Zaidan dan dalam hatinya berharap Delmira menerima tawarannya.
"Bukankah kemarin aku sudah jenguk!" dumel Delmira, berjalan terlebih dahulu memasuki gedung.
Baru Delmira akan masuk ke lift tiba-tiba Zaidan sudah ada di sampingnya dengan wajah yang cemas dan napas tersengal-sengal karena lari cepat.
Delmira menatap heran Zaidan, "Kenapa?" penasaran Delmira.
Zaidan menghela napasnya perlahan.
"Tekanan darah abah turun drastis dan detak jantungnya juga tidak normal, abah baru saja dimasukkan ruang ICU," jawab Zaidan masih dengan wajah yang cemas.
"Kemarin kamu bilang kondisi pak tua mulai membaik?"
"Aku juga kurang tahu kenapa kondisi abah tiba-tiba memburuk."
Zaidan melangkah cepat setelah pintu lift terbuka, mereka berada di lantai 5.
Zaidan masuk ke ruang yang dimaksud umminya saat telepon. Langkahnya terhenti saat netranya menangkap ummi Aisyah berdiri di dekat ranjang. Ada abah Fatah tapi kali ini tubuh itu diam tanpa gerak, tubuhnya dipenuhi alat medis. Bahkan suara dari bedside monitor di ruang ICU menambah rasa pilu bagi penunggu pasien.
"Ummi," sapa Zaidan mengelus bahu Aisyah.
"Zaidan," lirih Aisyah langsung memeluk anak semata wayangnya, menangis sesenggukan.
"Ummi, Ummi yang tenang, abah sedang ditangani dokter. Berdoa semoga Allah memberikan hal yang terbaik buat abah," ujar Zaidan masih mengelus halus punggung Aisyah.
"Ummi takut terjadi apa-apa dengan abah," ucap Aisyah masih sesenggukan.
Zaidan melepas pelukannya lalu mengusap air mata yang menggenang di pipi Aisyah.
Bunyi alarm di layar monitor semakin tidak berjeda, dokter sigap melakukan penanganan. Diraba denyut nadi dan jantung milik lelaki tua yang masih terbujur tanpa gerak. Kedua tangan dokter melakukan penekanan pada dada Fatah, dirasa tidak ada reaksi, para dokter mengambil alat kejut jantung beberapa kali alat yang bentuknya mirip setrika itu di letakkan di dada, sang pasien tersentak mengangkat dadanya. Namun, takdir berkata lain alarm semakin nyaring tanpa jeda, terus meraung-raung.
malam menyapa 🥺 jangan lupa like komen hadiah vote rate 🙏
__ADS_1