Dinikahi Berondong Saleh

Dinikahi Berondong Saleh
Bab 32


__ADS_3

"Aku pernah melihat Raffat dan Meilin ada di salah satu mall," ucap Yasmin dadanya terasa sedikit plong membagi beban yang selama ini dia pendam.


"Bersama di mall?" Sedang apa mereka?" cecar Fernando.


"Raffat atasan Meilin tapi saat itu mereka sedang jalan dan tangan Meilin melingkar di lengan Raffat. Cuma, mungkin aku saja yang salah tafsir."


"Kamu sempat menyapa mereka atau hanya melihat sekilas?"


"Menyapa sih, kebetulan kita berpapasan. Mereka sepertinya baru belanja, ada beberapa paper bag di tangan."


Yasmin terdiam mengingat kembali dengan jelas memori itu.


"Yang aku herankan. Bukannya Meilin melepas tangan dari lengan Raffat dia malah bergelayut mesra di depanku walaupun sangat terlihat kalau Raffat begitu risih mendapat perlakuan seperti itu dari Meilin."


Yasmin menjeda kalimatnya.


"Lalu?" penasaran Fernando.


"Kami hanya tegur sapa say hello dan basa-basi Meilin menanyakan aku datang dengan siapa. Setelah itu aku lebih memilih melanjutkan beli keperluan di mall itu."


"Non Delmira tahu semua ini?"


Yasmin menggeleng.


"Kenapa tidak menceritakan padanya?"


"Kejadian itu dua hari sebelum meninggalnya Raffat, aku tidak mungkin mengatakan semuanya pada Delmira. Membuka aib seorang yang sudah meninggal,"


"Benar-benar calon istri yang tepat," sahut Fernando.


Yasmin mengangkat dua alisnya, "Maksud kamu?"


"Bukan apa-apa," jawab Fernando mengalihkan pandangan dan menyeruput kopinya kembali.


"Aku hanya lihat mereka bersama sekali jadi jangan langsung disimpulkan dengan arti yang berbeda," ucap Yasmin.


"Siapapun akan menyimpulkan hal yang sama, ada sesuatu di antara mereka. Bukankah isi kepala kamu juga sama berkesimpulan?"


"Yang aku pikirkan hanya perasaan Delmira. Aku tidak ingin dia kecewa dan semakin sedih."


Fernando tersenyum, "Aku tidak salah lagi, kamu yang selama ini kucari."


"Maksud kamu?"


"Kamu memberi informasi tentang suami non Delmira, bukankah itu yang sedang kucari," dalih Fernando.


"Oh...," Yasmin mengiyakan jawaban Fernando dengan sebuah senyum, merutuki diri karena otaknya mengartikan lain dari ucapan Fernando.


Sementara Fernando juga tersenyum melihat reaksi Yasmin. 'Aku tidak akan melepaskan kamu Yas,' batin Fernando.


Fernando semakin yakin dengan perasaannya. Ya sejak pertama jumpa dengan Yasmin dia merasakan ada getar aneh dan berusaha menepis setiap kali bertemu dengan Yasmin. Namun, kali ini Fernando semakin yakin mengartikan getaran aneh itu dengan cinta.


'Inikah yang dinamakan cinta?' batin Fernando bergumam kembali, sorot netranya tidak lepas menatap wanita yang duduk di depannya dan meja sebagi pembatas di antara keduanya.

__ADS_1


"Kalau kamu sendiri, bagaimana dengan kehidupan asmara kamu?"


"Aku tidak ada selera untuk membicarakannya. Apalagi membicarakan itu dengan orang lain," sahut Yasmin, mimik wajahnya langsung berubah, jelas ada rasa tidak suka dengan lontar tanya yang Fernando layangkan.


"Wajah kamu serius sekali," ledek Fernando sambil terkekeh.


Yasmin merasa bingung, 'Kenapa dia malah tertawa? Apa yang lucu?' batin Yasmin.


Fernando menghentikan tawanya, menatap tanpa kedip ke arah Yasmin, 'Harus dengan strategi yang tepat, wanita ini tidak suka masalah pribadinya terusik, dia wanita tertutup,' batin Fernando. Matanya kini beralih tatap ke layar ponselnya, ada satu pesan masuk dari Zaidan.


Sudah jam 15.30, aku salat dulu. Kalau ada tamu, Tolong layani.


"Pesan yang sama!" gumam Fernando, selalu mendapat pesan otomatis setiap sore dan Zuhur dari Zaidan.


Yasmin menelisik wajah Fernando karena mimik wajahnya berubah.


"Ada apa?" penasaran Yasmin sampai melempar tanya pada Fernando.


"Ada urusan lain," sahut Fernando dengan sebuah senyum.


"Aku pergi dulu, terima kasih informasinya dan juga kopinya," ucap Fernando menunjuk pada cup kopi. Meminumnya hingga habis, terlebih dahulu mengucap salam sebelum dirinya pergi dari hadapan Yasmin.


Fernando melajukan mobilnya menuju dealer AZM. Sesampai di tempat, segera dia ke ruang kerja atasannya.


Matanya mengedar pandang ke seluruh ruangan tapi orang yang dicari tidak ada di di tempat, kakinya kini melangkah kembali ke balik rak buku. Sebelum Tangannya mengetuk pintu ruang pribadi muncullah sosok lelaki yang dicarinya.


"Baru tiba?" tanya Zaidan.


Fernando mengangguk. Kemudian mengekor langkah Zaidan. Pantatnya dia dudukkan di kursi depan meja kerja Zaidan.


"Tentunya ada," jawab Fernando mantap. Fernando mulai menceritakan semua informasi yang dia dapat dapat dari Yasmin. Zaidan menyimak dengan seksama.


"Segera selidiki temannya istriku!" titah Zaidan selesai Fernando memberikan informasi.


"Sendiri Den?"


"Ya sendiri, mau dengan siapa?" greget Zaidan mendapat pertanyaan konyol dari Fernando.


"Barangkali teman non Delmira satunya."


"Itu maunya kamu," sergah Zaidan tahu orang yang dimaksud Fernando


"Aku jatuh cinta Den."


"Jatuh cinta?!" terkejut Zaidan, pasalnya dia tidak pernah melihat Fernando menggandeng pasangan. Sekali jatuh cinta kenapa langsung bar-bar seperti ini?


"Dengan siapa kamu jatuh cinta?" lontar Zaidan.


"Temannya non Delmira," jujur Fernando.


"Dia mau sama kamu?"


"Belum tahu."

__ADS_1


"Tidak ingin segera tahu?"


"Aku ada strategi sendiri Den biar cintaku ini diterima."


"Strategi apa?" cecar Zaidan berasa seorang detektif.


"Mau tahu Den?"


"Ya," jawab polos Zaidan.


"Mau tahu, apa mau tahu banget?" canda Fernando.


"Ya Allah, belagunya, baru jatuh cinta saja seperti ini."


"Mending belagu karena jatuh cinta dari pada yang sudah beristri tapi tidak tahu apakah benar-benar cinta dengan istri atau tidak," sindir Fernando.


"Kalau aku tidak cinta, tidak mungkin aku melangkah sejauh ini," ucap Zaidan dan sontak kalimat yang secara spontan keluar dari mulut Zaidan membuat Fernando terkekeh menang. Menang karena berhasil memancing Zaidan untuk mengatakan apa yang ada dalam hatinya.


"Apa kamu akan tetap di sini?!" gerutu Zaidan.


"Belum puas aku korek semua."


"Sudah jelas bukan apa yang tadi aku katakan," sahut Zaidan.


"Sejak kapan kamu menyadarinya?"


"Menyadari apa?"


"Berlagak bodoh, huh. Ok, aku pergi saja. Mari bersama merasakan indahnya jatuh cinta." ujar Fernando lantas pergi dari hadapan Zaidan untuk melanjutkan misi berikutnya.


"Gara-gara kamu aku telat jemput Delmira," gumam Zaidan.


Sudah dua hari ini, dengan alasan Fernando banyak urusan hingga tidak bisa antar jemput, Zaidan memakai mobil Delmira. Bukan dengan terpaksa tapi dengan sengaja agar dirinya dan Delmira bisa satu mobil.


"Ummi, assalamualaikum," sapa Zaidan begitu sampai di parkir mobil.


"Waalaikum salam," jawab Aisyah.


"Kok di sini?"


"Sedang memata-matai menantu kesayangan Ummi," sahut Aisyah tangannya melipat di depan dada.


"Maksud Ummi?"


"Kamu kalah cepat! Gara-gara kelamaan nunggu jemputan, istrimu digondol demit!" jawab Aisyah.


"Maksud Ummi?" bingung Zaidan yang memang hanya sedikit menguasai kosa kata bahasa Jawa.


"Tidak ada kata lain selain kamu ucapkan maksud Ummi, maksud Ummi?!" kesal Aisyah.


"Dari tadi itu saja yang kamu ucapkan!" gerutu Aisyah.


"Gondol demit itu maksudnya," ujar Aisyah menunjuk ke arah menantunya yang sedang berjalan beriringan dengan lelaki tampan, tegap, bersih, memakai jas putih.

__ADS_1


Lelaki yang sempat marah dengan Delmira karena tidak mengatakan statusnya yang sudah menikah. Namun, satu minggu ini sudah baikan dan minta maaf pada Delmira.


malam menyapa 🤗 jangan lupa like komen hadiah vote rate 🙏 lope lope buat kalian 🥰😍😘


__ADS_2