Dinikahi Berondong Saleh

Dinikahi Berondong Saleh
Bab 118


__ADS_3

"Kita salat dulu," balas Zaidan yang diangguki Delmira.


Mereka menunaikan salat Zuhur terlebih dahulu. Baru mereka siap-siap menuju ke rumah Putri.


"Pamit dulu sama Kaffah dan Kahfi Papyang," ajak Delmira, kakinya menyiku menuju kamar si kembar.


Delmira membuka pintu kamar dengan hati-hati, barangkali mereka sudah terlelap tidur dan tentunya Delmira tidak ingin suara yang ditimbulkan dari gecitan pintu membuat mereka terbangun.


"Astaghfirullah haladhim, kalian tidak tidur?" retoris Delmira melihat anaknya malah bermain bedak dengan suster Dila.


"Ya Nya, padahal sudah digendong, dikasih susu tapi tetap saja tidak mau merem, malah mainan bedak," jawab suster Dila.


Delmira mengempaskan napas, matanya mengedar ke seluruh ruangan yang lantainya dipenuhi bedak bubuk. Delmira makin menggelengkan kepala, wajahnya berubah masam tatkala melihat bocah sulungnya sudah tidak berbentuk manusia tapi seperti adonan, sekujur tubuhnya dipenuhi bedak, dari rambut hingga kaki.


"Astaghfirullah haladhim, Kaffah. Bedaknya jangan buat mandi," keluh Delmira mencoba mengambil bedak yang dipegang Kaffah tapi bocah itu memegang bedaknya dengan erat.


"Maaf Nya, aku..., aku kuwalahan ngurus Kaffah, lirih suster Dila.


"Suster Fina kemana?"


"Dia tadi salat Zuhur, habis itu ke toilet. Perutnya mules dan sudah tiga kali dia bolak balik ke toilet, " terang Dila.


"Masya Allah, ada-ada saja kendalanya. Ambilkan dia obat, suruh minum itu obat, biar diarenya cepat sembuh, lalu suruh dia istirahat. Kita yang urus si kembar," titah Delmira.


"Ya Nya," jawab Dila kemudian keluar kamar.


Delmira mengambil alih mengurus Kaffah dan Zaidan urus si Kahfi.


"Kahfi tidur yuk," ajak Zaidan meregangkan tangan menawari Kahfi agar mau dia gendong.


Kahfi diam tidak menyahuti tawaran Zaidan, dia tetap saja memasukkan bedak ke dalam wadah mainan.


"Ayo Sayang," rayu Zaidan, menurunkan tangannya dan bergerak membersihkan bedak yang menempel di sebagian tubuh anaknya.


Anak itu tetap saja tidak terusik dengan bujukan Zaidan.


Mata Kahfi menengadah, memandang ke arah Zaidan tatkala mainan utamanya hilang dari tangannya. Jelas yang mengambil dan yang menyembunyikan Zaidan.


"Ayo, bedaknya hilang kemana? Apa terbang ke angkasa?" lontar Zaidan, sebelum Kahfi menangis, gegas tangan Zaidan meraih bocah itu untuk dia gendong.


Dia ajak bicara si Kahfi lalu ditimang-timang bocah itu hingga akhirnya menguap dan menggeliat minta ditidurkan di ranjang.


Sedangkan Kaffah, semua mobil miniatur maupun mainan yang ada dijangkauannya, dilumuri bedak. Tidak ada satu pun yang terlewatkan.


"Sayang, mainannya kotor semua dong. Sini bedaknya biar Momyang simpan," ujar Delmira, tangannya menengadah berharap Kaffah menyerahkan bedak itu ke tangannya.


Kaffah menggelengkan kepala cepat. Menyembunyikan bedak itu di belakang tubuhnya.


"Jangan," ujar Kaffah dengan bahasanya.


Delmira tersenyum mendengar jawaban anaknya.

__ADS_1


"Kalau mainannya kotor semua, nanti Kaffah mau main apa?" rayu Delmira.


Kaffah masih pada pendiriannya tanpa menyerahkan bedak yang dia pegang.


Delmira mengempaskan napasnya, dia merasa frustasi kalau sudah berurusan dengan Kaffah yang keras kepala.


Mata Delmira melirik ke arah Kahfi dan suaminya yang sudah tidak bersuara lagi.


Zaidan telah membawa Kahfi ke ranjang tidur. Dia sebelumnya bersalawat sambil menepuk-nepuk bokong anaknya tapi sekarang mereka sepertinya telah tertidur.


"Itu Kahfi sudah bobok sama Papyang. Ayok Kaffah ikut bobok," ajak Delmira.


"Tidak mau! Kaffah mau mandiin mobil Kaffah," tolak Kaffah dengan bahasanya, dia malah berlari ke arah mobil-mobilan yang biasa dia naiki dan seperti apa yang tadi dia katakan. Memandikan mobil, tentunya dengan bedak yang masih dia pegang.


"Astaghfirullah haladhim Kaffah," keluh Delmira, bibirnya mengerucut, kesabarannya mulai menipis, tangannya bergerak merebut bedak yang dipegang Kaffah.


"Mom dahat!" teriak bocah itu, maksud perkataaanya mengatakan, Delmira jahat.


Mulut Kaffah melebar dan suara tangis pun pecah, menggema keseluruh ruangan.


"Cup cup cup, jangan kencang-kencang, nanti Kahfi bangun," pinta Delmira matanya melirik ke arah anak satunya yang menggeliat karena kaget.


Terlihat Zaidan menepuk-nepuk bokong Kahfi sambil bersalawat agar Kahfi tenang dan kembali tidur.


Kaffah tidak peduli apa yang Delmira pinta, dia tetap saja menangis dan dengan terpaksa, Delmira menyerahkan kembali bedak yang sudah dia ambil.


"Jangan menangis, sudah main lagi," pasrah Delmira merasa sudah frustasi menghadapi bocah satunya itu.


Kaffah diam tidak menanggapi permintaan Delmira.


Delmira mengambil beberapa mobil miniatur lalu dia taruh di ranjang.


Kemudian, bocah itu pun diangkut ke ranjang.


Mata Delmira menatap ke arah suaminya, ada sebuah senyum di wajah Delmira, tangannya menyusup, mengelus pipi Zaidan dengan lembut dan hati-hati.


"Papyang pasti capek, sampai tertidur seperti ini," gumam Delmira.


"Bangunkannya nanti saja kalau Kaffah sudah tertidur," sambungnya.


'Maaf Putri, kita datang ke rumah kamu nanti setelah dia tertidur. Tidak mungkin aku tinggalkan Kaffah yang sedang rewel seperti ini,' monolog batin Delmira yang kepalanya dipenuhi bayang Putri.


Delmira kembali berinteraksi dengan anaknya, sesekali Kaffah bertanya ini itu, itu ini. Dengan telaten Delmira pun membalas tanya dari Kaffah.


Lamat Lamat Delmira merasa punggungnya terasa pegal, "Rebahan sebentar ah, sambil nunggu bocah ini tidur," ujar Delmira langsung merebahkan tubuhnya.


Namun, karena badan yang terlalu capek, Delmira pun terlelap tidur.


Hanya Kaffah seorang yang masih terjaga.


Merasa dicueki Delmira, Kaffah pun bertingkah. Tidak lagi mobil yang dilumuri bedak. Kali ini objek empuk Kaffah adalah wajah yang terlelap tidur di depannya.

__ADS_1


Entah berapa lama mereka sudah dalam keadaan tertidur semua, termasuk Kaffah si bocah yang lincah dan bertingkah itu.


Dila terkejut saat masuk kamar. "Masya Allah...mereka lucu sekali tertidur seperti ini. Terutama nonya," gumam Dila menahan tawa.


Dila memang sengaja mengecek keadaan si kembar karena dia sendiri juga tertidur saat menemani Fina istirahat.


Kaki Dila melangkah keluar kamar, membiarkan semuanya menikmati tidur bersama.


Delmira menggeliatkan tubuhnya, memindahkan kepala Kaffah yang menyandar di perut.


"Astaghfirullah haladhim, berapa lama aku tertidur," ujar Delmira, dengan suara khas orang bangun tidur.


"Papyang... Papyang bangun," panggil Delmira menepuk bahu Zaidan tentunya dengan suara yang dikecilkan agar tidak menggangu tidurnya si kembar.


"Hmmm," sahut Zaidan matanya lamat terbuka, mulutnya menguap, dan dengan tanggap tangannya bergerak menutup mulutnya yang terbuka lebar.


"Ayo katanya mau ke rumah Putri, kita sudah tertidur lama sepertinya," ujar Delmira lalu matanya memutar mencari keberadaan tas miliknya.


"Tunggu sebentar Momyang," cekat Zaidan meraih tangan Delmira membuatnya mengurungkan diri turun dari ranjang untuk mengambil tas yang ada di atas lemari mainan milik Kaffah.


"Ada apa Papyang?" Delmira menoleh ke arah Zaidan.


"Sebentar saja," ucap Zaidan, melepas tangan Delmira, tangannya berpindah merogeoh ponsel yang ada di saku celana untuk memotret si kembar lalu beralih memotret ke Delmira.


"Momyang rebahan sebentar, biar Papyang ambil beberapa jepretan foto," pinta Zaidan.


"Apa-apaan sih Papyang! Kita harus segera ke rumah Putri! Kenapa pakai foto-foto segala!" tolak Delmira.


"Momyang, apa salahnya bikin suami seneng?" retoris Zaidan.


"Ya! Ya! Ya!" pasrah Delmira akhirnya menuruti kemauan Zaidan.


Beberapa jepretan diambil Zaidan dengan berbagai pose.


"Fotonya aku kirim ke ponsel kamu," ucap Zaidan.


"Hmmm," jawab Delmira, kakinya segera turun dari ranjang untuk mengambil tas. Tangannya langsung merogoh ponsel di dalam tasnya.


"Papyang!" teriak Delmira membalikkan tubuh, matanya menyala siap menerkam suaminya.


Zaidan dengan mode pura-pura tidak terjadi apa-apa hanya ngeloyor jalan melewati Delmira.


"Jangan main kabur!" teriak Delmira.


"Kamu cuci muka dulu," balas teriak Zaidan langsung menutup pintu kamar agar Delmira tidak mengejar dirinya.


"Si bocil sungguh meresahkan! Lihat, muka Momyang penuh bedak!" sungut Delmira menatap wajah Kaffah yang tertidur tanpa dosa.


Sementara, Zaidan yang menunggu di luar kamar terlihat gelisah. Pasalnya, baru saja dia membaca pesan yang dikirim Hidayat kalau anaknya, Putri dibawa ke rumah sakit dan langsung masuk ruang ICU.


Siang menyapa 🤗 jangan lupa like komen hadiah vote rate

__ADS_1


__ADS_2