
Rasa rindu yang begitu berat membuat Zaidan melangkahkan kaki ke butik milik Yasmin, salah satu teman Delmira. Dia sengaja akan menanyakan kabar Delmira.
"Assalamualaikum Zaid." sapa Yasmin selesai tegur sapa dengan Fernando kini beralih ke Zaidan.
"Waalaikum salam," jawab Zaidan
"Mau cari baju apa?"
"Oh, aku...," Zaidan terdiam, matanya kini melirik ke arah baju yang terpajang di lemari pakaian ataupun di pasang di maniken.
"Baju... kantor," sambung Zaidan asal.
Intinya, apapun alasannya yang penting, sedikit kabar Delmira mampu mengobati rasa rindunya yang semakin memuncak.
"Mau lihat yang sudah jadi, atau pesan dulu dengan model sesuai selera?" tawar Yasmin.
"Pesan," jawab Zaidan, berharap jika pesan, maka waktu untuk ngobrol dengan Yasmin bisa lebih lama.
"Silahkan masuk ke ruang kerja saya."
Zaidan dan Fernando mengekor langkah Yasmin.
"Mama tidak ke sini Yas?" lontar Fernando saat Yasmin menulis beberapa catatan dalam buku kerjanya.
"Badan mama kurang fit. Aku suruh mama istirahat dulu," sahut Yasmin.
Zaidan melihat interaksi keduanya. Fernando pernah bilang, mamanya Yasmin menjodohkan Fernando dengan Yasmin. Dari interaksi keduanya memang ada hubungan yang tidak biasa..
"Apa kalian pacaran?" sela Zaidan, membuat keduanya bungkam.
"Kita hanya berteman, tapi mama menyuruhku menjalin hubungan serius dengan Fernando," jujur Yasmin. Dia memang tipe orang yang apa adanya dan blak-blakan.
"Fernando orang baik, kenapa tidak jadikan dia suami kamu?"
"Aku pernah gagal dalam berumah tangga. Jadi tidak semudah itu membuka hati untuk orang."
"Walaupun orang itu Fernando?"
"Sepertinya begitu," sahut Yasmin.
"Apa kamu datang ke sini hanya untuk ini? Atau ada hal lain?" selidik Yasmin, dia tahu Zaidan tidak mungkin datang ke butik hanya pesan baju kantor karena urusan baju biasanya Fernando yang mengurus.
Zaidan tersenyum kecil.
"Kalian tidak pernah saling bertemu?"
"Maksud kamu, aku dengan Delmira?" tebak Yasmin.
Zaidan kembali tersenyum kecil.
"Kami biasa kumpul bersama, tapi Delmira memang sama sekali sudah tidak ada kabar. Dulu dia sempat pamit pada kita akan pergi dari Jakarta, aku tanya kemana perginya, dia tidak menjawab. Dia hanya membalas suatu saat akan memberi kabar."
Zaidan diam mendengar dengan seksama.
"Kenapa tanya dia? Kamu kangen?" ledek Yasmin.
"Aku juga sebenarnya bingung, mengapa dia menggugat cerai ke kamu? Padahal aku lihat, dia cinta kamu. Hanya saja saat aku tanyakan hal itu pada Delmira, dia diam saja. Ya sudah aku tidak berhak juga untuk memaksanya bercerita padaku," terang Yasmin.
__ADS_1
'Jadi, Delmira tidak menceritakan kehamilannya pada Yasmin,' monolog batin Zaidan.
"Sekarang aku tanya pada kamu, apa penyebab kalian bercerai?" lontar Yasmin.
Deg.
Zaidan langsung menolehkan pandangannya ke Fernando.
"Kami sudah tidak cocok," lirih Zaidan, menutupi tentang kehamilan Delmira.
"Begitu. Tapi kenapa sekarang tanya dia? Apa sekarang mulai timbul kecocokan?"
Zaidan menarik dua sudut bibirnya membentuk senyum kecil.
"Aku hanya... tanya kabar dia, ada..., ada hal akan aku bicarakan," jawab Zaidan sedikit gagu.
"Tinggal kamu hubungi saja," ucap Yasmin, "tunggu! Jangan-jangan kamu tidak menyimpan nomor ponselnya?" cekat Yasmin.
"Dia ganti nomor," sahut Zaidan.
"Benar sih, nomor yang terakhir sewaktu dia hubungi aku sudah tidak aktif lagi. Silvia, Marsya, Meilin juga tidak punya. Intinya dia menghilang begitu saja dari kami. Ya... walaupun begitu, kita selalu berdoa untuk kebahagiaannya, dimana pun Delmira berada."
"Tapi coba kamu tanyakan ke Meilin, Delmira lebih dekat dengan Meilin dibandingkan dengan kita bertiga," sambung Yasmin.
'Yasmin sama sekali tidak tahu soal Meilin yang selingkuh dengan suaminya yang dulu? Apakah begitu tertutupnya kamu dengan sahabat-sahabat kamu Mrs. Delmira? Ataukah ini cara kamu untuk menutup aib sahabat kamu?' batin Zaidan kembali bermonolog.
"Oya, aku dengar kamu kecelakaan?"
"Alhamdulillah sudah sembuh," jawab Zaidan.
"Selesai, ukurannya masih sama dengan yang sebelumnya. Mode nanti aku carikan yang pas buat kamu," ucap Yasmin setelah mengukur tubuh Zaidan, tangannya bergerak meletakkan alat ukur jahit dan menutup buku pemesanan.
"Assalamualaikum."
"Waalaikum salam," jawab Yasmin.
'Rupanya ini alasannya, den Zaidan meminta baju kantor baru, dan minta ukuran baru dengan alasan merasa sedikit kurusan. Ya Allah..., aku semakin bersalah pada den Zaidan. Mau sampai kapan aku menyimpan rahasia besar tentang kehamilan non Delmira. Tapi di sisi lain aku juga tidak rela den Zaidan membina rumah tangga, sedangkan istrinya hamil dengan pria lain. Sungguh aku tidak rela,' batin Fernando beradu argumen.
'Aneh sekali mantan suami Delmira? Aku jadi penasaran, sebenarnya apa yang terjadi pada mereka?' batin Yasmin penuh tanya mengiring kepergian Fernando dan Zaidan.
...****************...
Kaki Meilin melangkah masuk ke dalam hotel XX. Dia sudah memantapkan diri untuk menemui sang atasan walaupun pertemuan itu di luar jam kantor.
Kakinya gegas masuk lift menuju kamar yang dimaksud Putra. Langkah demi langkah kaki itu terus menyelusuri lorong-lorong dalam hotel.
Dia baru berhenti tatkala melihat nomor kamar yang tertera di pintu kamar.
Tangan Meilin merogoh card lock yang ada di dalam tas kecilnya.
Setelah menempel card lock itu, pintu kamar terbuka, cukup satu langkah kaki, mata Meilin sudah dapat menatap lelaki yang mengundangnya ke kamar hotel XX.
Lelaki paruh baya berumur 45 tahun itu tersenyum lebar menyambut kedatangan Meilin.
Sebelum memberanikan diri ke hotel, Meilin sudah mengecek biodata Putra.
Dia lelaki beristri tapi hingga pernikahannya yang sudah 18 tahun belum juga dikaruniai momongan. Istrinya diketahui memiliki penyakit kronis. Gaya hidup Putra sangat bebas. Diduga, dia mempertahankan pernikahannya yang sudah tidak harmonis itu demi warisan harta yang dimiliki sang istri.
__ADS_1
"Kamu datang juga. Tepat pukul 19.30. Sesuai waktu yang aku minta," selorohnya, "silahkan duduk Nona Meilin," tawar Putra dengan gaya lelaki mata keranjang.
Pantat Meilin dia dudukkan di sofa single yang ada disamping sofa panjang, "Aku sudah datang. Langsung saja ke inti masalah." ketus Meilin.
"Hei hei hei... ini keputusan penting. Jadi aku tidak bisa asal beri putusan."
"Kemarilah!" titah Putra menepuk sofa di samping agar Meilin duduk di dekatnya.
Meilin mendengus, "Apa perlu sedekat itu!" sanggahnya.
"Hei, kita sudah sama-sama dewasa, jadi aku rasa kamu sudah tahu kenapa aku memanggil kami secara khusus untuk datang ke kamar hotel ini," tegasnya.
"Maksud Anda apa?!" desak Meilin.
"Wau wau wau!" Terdengar tepukan dari Putra.
"Jangan sok polos!" ejek Putra.
Meilin terdiam. Tidak dipungkiri, kedatangannya ke hotel, memang sudah sangat diwaspadai oleh Meilin. Tidak mungkin seorang mata keranjang model putra hanya mendiamkannya saja. Hanya mengandalkan insting yang Meilin miliki, dia akan berusaha melawan apa yang akan Putra lakukan padanya. Intinya, yang terutama dirinya tetap harus bekerja di perusahaan.
Putra bangkit dari duduk, berjalan dan berhenti tepat di depan Meilin.
"Aku mau kamu!" tekan Putra mengangkat dagu Meilin.
Meilin diam tidak bereaksi. Tangan putra mengempaskan dagu Meilin, dia berjalan ke nakas, mengambil sebuah amplop coklat.
"Aku sudah menulis surat pernyataan. Pengangkatan kamu sebagai pegawai tetap. Disitu juga tertera, kalau aku memecat kamu tanpa alasan pasti, maka perusahaan siap mengeluarkan biaya kompensasi," terang Putra.
Meilin mengeja butir demi butir pasal yang tertuang dalam perjanjian itu.
"Apa kamu berminat?" lontar Putra.
"Apa yang kamu mau!?" tanya Meilin, merasa tergiur dengan perjanjian yang telah dibuat Putra.
"Layani aku satu malam ini," bisik Putra di telinga Meilin.
Putra tersenyum mengembang tatkala Meilin menatap tajam dan penuh kebencian ke arahnya.
Tatapan Putra sudah penuh dengan naf*su. Tanpa Meilin menyetujui permintaannya dia langsung menyerang Meilin.
Meilin pun merasa harus menjalankan semuanya karena tiada pilihan lain. Dalam otaknya hanya uang, uang, dan uang yang dibutuhkannya sekarang.
Pergulatan itu pun tak terelakkan. Sama-sama berpengalaman dan sama-sama berperan aktif dalam pengaktifan peluncuran rudal.
Mereka pun berakhir di ra*njang yang sama.
"Sungguh luar biasa Sayang," ucap Putra setelah menikmati semuanya.
Meilin memungut bajunya yang berserakan di lantai. Setelah terpakai rapi, dia berjalan menuju toilet.
"Aku temani Sayang," goda Putra.
Tanpa menjawab basa-basi dari Putra, dia masuk toilet dan bebersih diri.
"Brengsek kau Verel! Brengsek kau Delmira! Aku tidak akan melupakan ini! Gara-gara kalian aku harus melakukan perbuatan hina ini!" geramnya, mengepal tangan.
"Aku pasti akan membalas kalian!"
__ADS_1
siang menyapa 🤗 like komen hadiah vote rate 🙏