
Flashback on
Plak
plak.
Dua tamparan mendarat di pipi Delmira. Tidak mau kalah, tangan Delmira dengan segera membalas perlakuan Meilin.
Plak
plak.
"Kamu gila Del!" teriak Meilin memegang dua pipinya karena Delmira menjatuhkan tangannya dengan begitu keras.
"Kamu yang gila!" balas Delmira.
"Dasar wanita licik! Kamu ngomong apa pada Verel sampai dia melakukan hal yang tidak manusiawi hah! Apa yang kamu katakan!" Kembali Meilin berteriak dan menjambak rambut Delmira.
Delmira menarik tangan Meilin, memelintir dan menjatuhkan tubuh Meilin ke lantai.
"Kamu bilang aku wanita licik hah?! Kamu tidak ngaca! Kamu yang licik! Kamu yang tidak manusiawi! Apa lagi yang ingin kamu tuntut dari aku hah?!" balas Delmira mendorong tubuh Meilin yang mencoba bangkit hingga Meilin tersungkur kembali.
"Aku sudah sangat muak dengan kamu Mei! Jangan pernah muncul di depanku lagi, kalau kamu tidak ingin aku melakukan pembalasan yang lebih menyakitkan dari apa yang sudah kamu lakukan!" sambung Delmira penuh dengan ancaman dan tangan menarik kemeja yang dikenakan Meilin.
Entah apa yang dilakukan Delmira, jiwanya seakan ingin meluapkan kekesalan yang terpendam pada sosok Meilin, wanita berkedok sahabat tapi telah menikung dan melakukan hal biadab padanya.
"Gara-gara kamu! Tubuhku kotor! Semua gara-gara kamu Delmira! Kamu pasti memfitnahku sampai Verel melakukan hal kejam padaku!"
Delmira terdiam, air matanya terjun bebas membasahi dua pipinya.
"Kamu yang sangat kejam padaku Mei! Kamu tahu, tidak hanya aku yang terluka karena perbuatan kamu. Aku akhirnya harus melukai orang sebaik Zaidan," lirih Delmira berucap, dadanya bergemuruh dan terasa teramat sesak.
"Tapi aku bersyukur, pasti Tuhan membalas apa yang telah kamu perbuat. Mungkin saja aku yang lemah ini tidak dapat membalas kamu. Mungkin saja, Zaidan yang suci itu tidak pantas berbuat hina untuk membalas apa yang sudah kamu lakukan. Tapi Tuhan membalas lewat tangan orang lain, dia orang yang kamu pasang untuk menjebakku. Dia sendiri yang membuat kamu semarah ini," sambung Delmira matanya menerawang menatap langit-langit kamar kosan.
"Apa kamu bangga? Hah? Kamu bangga? Kenyataannya kamu tetaplah wanita lemah yang kekuatannya selalu di bawahku!" geram Meilin giginya gemeretak.
"Terserah kamu Mei!" pasrah Delmira karena terlalu jenuh.
"Pergi!" titah Delmira, "pergi!" ulang Delmira dengan suara yang lebih meninggi.
__ADS_1
Meilin tersenyum kecut, merasa tersentak mendengar titah Delmira.
"Aku pastikan! Tidak akan ada senyum di sisa hidupmu!" ancam Meilin lalu pergi.
Delmira luruh ke lantai. Tubuhnya lemas lunglai, menangis pun tidak ada air mata yang keluar dari pelupuk mata. Kering karena terlalu sesak tersekat di dada.
Merasa sudah membaik, kini Delmira bangkit beranjak ke toilet kamar untuk membasuh muka. Kakinya kini berpindah ke lemari pakaian, menarik koper yang ada di rak paling bawah di dalam lemari, lalu memasukkan pakaiannya ke dalam koper itu.
"Lebih baik aku pergi dari sini," gumam Delmira tangannya bergerak merogoh ponsel dan segera memesan taksi on line.
Sebelum Delmira masuk ke mobil yang dia pesan, dia sempatkan diri untuk pamit dengan ibu kos.
Siang itu, untuk terakhir kalinya Delmira ingin melihat Zaidan. Namun, apa yang terjadi, hal buruk menimpa Zaidan. Dia pingsan dan harus dilarikan ke rumah sakit.
Akan tetapi, tekad kuatnya untuk meninggalkan Zaidan sudah sangat bulat, Delmira pun pergi tanpa pamit pada Zaidan. Walaupun saat itu, secara hukum Zaidan masih menjadi suaminya, hanya hitungan hari dimungkinkan hakim akan mengetuk palu untuk perceraiannya.
"Maafkan aku Zaid," gumam Delmira menahan isak tangis, tangannya memegang dada yang terasa sesak.
Mobil itu pun melaju membelah jalan kota.
Delmira turun di sebuah taman, karena memang rute pemesanan yang sebenarnya di sebuah taman dekat dealer motor AZM.
"Pekalongan Jawa Tengah Mbak?"
Delmira mengangguk.
"Duh jauh sekali Mbak?"
"Aku bisa bayar dua kali lipat, yang penting Bapak antar saya sampai tujuan," tawar Delmira.
Sopir paruh baya itu terdiam, berpikir sejenak. Memang jarak tempuh ke Pekalongan tidaklah dekat. Harus menempuh hingga 5 jam lebih.
"Baiklah," jawabnya membuat Delmira melebarkan senyum.
Delmira masuk kembali ke mobil.
Siang, sore, hingga petang datang, Delmira tak sedikit pun dapat memejamkan mata. Matanya hanya layang menatap luar jendela mobil.
"Coba Mbak cek kembali, ini sudah melewati alun-alun kabupaten Pekalongan Mbak?" ucap bapak sopir memastikan.
__ADS_1
"Oh, sebelum alun-alun Pak, kita putar balik, aku lumayan lupa tempatnya, cuma yang aku ingat sebelum sampai alun-alun ada sekolah dasar."
"Siap Mbak," jawab bapak sopir dan dengan sabar dia putar balik.
"Sudah di depan SD Mbak," ucap bapak sopir.
Delmira terdiam, walaupun dirinya agak ragu tapi kakinya harus turun dari mobil yang telah mengantarnya hingga sejauh ini.
Seperti janji Delmira, dia membayar dua kali lipat.
"Benar di sini Mbak?" tanya bapak sopir memastikan.
Delmira mengangguk pelan, "sudah bapak jalan saja," pinta Delmira dan diiyakan bapak sopir.
Mobil itu pergi meninggalkan Delmira. Dirinya yang sedari awal mematung di gang masuk samping sebuah sekolah dasar, kini melangkah masuk gang itu dan berhenti di depan rumah sederhana yang dulu pernah dia injak 15 tahun lalu.
Petang yang belum lama menyapa membuat suasana sepi. Namun, tidak lama setelah itu, ada beberapa orang lalu lalang. Menyampairkan sajadah ataupun yang menyincing mukena panjangnya agar tidak menjuntai ke tanah, mereka pulang dari mushala.
"Maaf Bu, ini benar rumahnya mbok Sa'diyah?" tanya Delmira ketika seorang ibu-ibu melewatinya.
"Ya bener rumah Bu Sa'diyah" jawabnya.
"Terima kasih Bu," balas Delmira lalu melangkah mantap hingga depan pintu rumah itu.
Deg.
Hati Delmira tiba-tiba bergetar mendengar samar lantunan Al Qur'an dari dalam rumah. Lantunan yang dulu dia dengar tiap magrib ketika mbok Sa'diyah bekerja di rumah orang tuanya.
Tangan Delmira dia urungkan untuk mengetuk pintu. Delmira memilih duduk di kursi yang ada di teras rumah, sembari mendengar lantunan Al Qur'an itu disuarakan mbok Sa'diyah.
"Ya Tuhan, aku rindu masa kecilku. Masa dimana aku dekat dengan mbok Sa'diyah. Ngaji bersamanya, belajar salat. Mengapa dulu aku lebih memilih sekolah lalu mengikuti les tambahan atau mengikuti ekstrakurikuler hingga pulang malam dan aku sampai tidak melanjutkan untuk belajar agama dengan simbok?"
Delmira menyentuh dadanya, hatinya terasa sejuk. Di rumah Zaidan, memang dia sering mendengar mantan suaminya melantunkan ayat suci Al-Quran, tapi mengapa baru kali ini dia merasa terenyuh mendengar lantunan ayat suci Alquran yang dilantunkan mbok Sa'diyah. Wanita yang dulu mengasuhnya sejak dirinya lahir ke dunia.
Mata Delmira tiba-tiba mengeluarkan air mata.
"Mbok, aku kangen," lirih Delmira.
malam menyapa 🤗 jangan lupa like komen hadiah vote rate 🙏
__ADS_1