
"Hai Manis," sapa seseorang dan sontak membuat Zaidan dan Delmira menoleh ke sumber suara. Bahkan mata Delmira terbelalak dengan kedatangan secara tiba-tiba pria yang ada di depannya.
'Mengapa dia datang? Mau apa dia? Apa Meilin yang mendatangkan dia ke sini?' batin Delmira penuh tanya.
"Ayok kita pulang," ajak Verel tangannya mengulur berharap Delmira menerima uluran itu tapi nyatanya Delmira malah jalan terlebih dahulu tanpa membalas uluran tangan Verel.
Entah kenapa, dirinya tidak bisa sekedar menerima uluran tangan itu untuk akting meyakinkan Zaidan, kalau Verel adalah nyata kekasihnya.
Verel tersenyum kecil mendapatkan perlakuan Delmira, 'Benar apa kata Meilin, dia wanita yang malu-malu kucing. Terlihat judes tapi dalamnya, wow menarik luar biasa dan bikin aku nagih sampai nekat pulang sebelum jadwal yang dibuat Raka,' ucap batin Verel lalu melangkah pergi menyusul Delmira tanpa menghiraukan Zaidan yang menatapnya penuh dengan tanya.
"Dia kekasihnya?" tanya Zaidan.
"Mungkin Den," sahut Fernando yang berdiri mematung di samping Zaidan.
"Delmira menepati janjinya," gumam Zaidan, hati kecilnya benar-benar merasa sakit, "kita kembali ke kantor Fer," titah Zaidan walaupun matanya masih fokus menatap Delmira masuk ke dalam mobil mewah yang dipakai lelaki yang menjemputnya.
'Dia lelaki yang bernama Verel! Mau apa dia membawa non Delmira? Apa yang dia mau dari non Delmira? Apa jangan-jangan Meilin mau menjebak non Delmira lagi? Ah sudahlah itu bukan urusanku lagi. Untuk sekarang, yang terpenting den Zaidan segera cerai dengan non Delmira. Tidak mungkinkan den Zaidan tetap menjadi suami dari bekas orang? Kalau dulu bekas dari suami orang itu tidak masalah, lah sekarang? Bekas pria asing macam dia. Ditambah non Delmira tengah hamil dengan lelaki brengsek itu! Apapun yang terjadi, aku harus melindungi den Zaidan. Itu amanah Abah Fatah yang tidak boleh aku lupa,' monolog batin Fernando panjang lebar.
"Cepat Fer, apa kamu ingin tetap mematung di sini?" sindir Zaidan.
"Oh, ma... maaf Den." Fernando gegas jalan ke arah mobil milik Zaidan.
Mobil itu bergulir membelah jalanan hingga berhenti di dealer motor AZM.
Zaidan terlihat masih mematung menatap luar jendela, sedikitpun tidak ada tanda-tanda kalau dia akan turun padahal Fernando sudah menunggu Zaidan beranjak.
'Pasti den Zaidan sedang melamunkan non Delmira. Maafkan aku den, terpaksa aku berbohong soal penyelidikan itu. Nyatanya aku tahu semua. Namun, tidak mungkinkan aku katakan sejujurnya pada den Zaidan? Aku tidak rela den Zaidan beristrikan bekas orang dan hamil dari orang itu pula,' monolog batin Fernando. Tangannya kemudian menepuk halus pundak Zaidan agar terbangun dari lamunan.
"Sudah sampai Den," ucap Fernando ketika Zaidan tersentak menoleh ke arahnya.
Zaidan mengempaskan napas kasar, "Astaghfirullah haladhim," sebuah senyum kecil yang jelas hanya untuk menguatkan diri dia tampilkan, "kita turun," ajaknya kemudian.
Sementara itu, mobil Verel terus bergulir menuju rumahnya.
"Arah tempat tinggalku bukan ke sini," ucap Delmira dengan nada ketus.
"Aku tahu manis, kamu sekarang kan tidak tinggal di rumah laki-laki itu tapi tinggal di sebuah kos kecil. Hanya saja, ada yang perlu kita selesaikan dulu di rumahku."
Deg.
'Apa maksud perkataannya? Apa dia ...dia mau melakukan perbuatan keji itu lagi?! Lalu kenapa dia tahu aku tinggal di kos? Ah, pasti Meilin yang memberi tahu, siapa lagi kalau bukan dia?!' batin Delmira penuh tanya dan perlu kewaspadaan.
"Turunkan saja aku di sini," ujar Delmira dengan ketus.
Verel tersenyum melihat raut Delmira, entah kenapa semakin Delmira jutek, ketus dirinya semakin gemas dengan Delmira.
"Aku bilang turunkan di sini!" sentak Delmira. Matanya nyala api.
__ADS_1
"Jangan terlalu galak nanti manisnya hilang," sahut Verel.
Mobil itu masuk ke dalam pelataran sebuah rumah. Ya, rumah yang menjadi saksi malam kelam bagi Delmira.
"Mau apa kesini hah?!" lontar Delmira dengan suara berat menahan amarah.
"Ada hal istimewa yang akan aku berikan padamu manis," ucap Verel membukakan pintu mobil untuk Delmira.
Raka melihat semuanya hanya tersenyum tipis. 'Belum pernah aku melihat tuan Verel se-ngebet ini dengan seorang wanita. Benar-benar tuan sudah kerasukan yang namanya cinta,' ucap batin Raka.
'Memang wajah wanita ini ok juga sih, walaupun tubuhnya kecil tapi mungkin ini selera dari tuan muda Verel,' sambung batin Raka masih menatap Delmira lewat spion dalam mobil.
"Ayo turun," ajak Verel sekali lagi.
Delmira diam tetap kekeh tidak ingin turun dan berdebat dengan lelaki macam Verel.
"Atau aku paksa?" lirih Verel dengan tatapan tajam.
"Coba saja kamu berani."
Verel mendengus, tertawa kecil mendengar jawaban Delmira.
"Apa yang tidak aku bisa hanya membawa kamu masuk ke dalam rumahku," ujar Verel dengan mantap akan menggendong tubuh Delmira.
Namun, apa yang dia terima? Sebuah Bogeman keras mendarat tepat di perut Verel hingga membuatnya nyeringis kesakitan.
"Untung bukan tauge kamu yang aku sentil!" sahut Delmira dengan geram dan penuh ancaman lalu pandangan dan dagunya menunjuk ke arah pusaka milik Verel.
"Apa... ka... kamu bilang tauge!" lontar Verel merasa tidak terima pusaka kebanggaannya disamakan dengan barang kecil itu.
Raka yang sedari tadi hanya bisa menahan tawa akhirnya tertawa kekeh melihat mereka.
"Tidak ada yang lucu!" ucap Delmira dan Verel bersamaan dengan tatapan tajam terarah pada Raka.
"Wow, singa dan harimau sepertinya marah, lebih baik aku pergi," ujar Raka langsung ambil langkah seribu alias kabur.
"Awas kamu Raka! Mata kamu juga perlu aku congkel!" teriak Verel karena sedari tadi sebenarnya melihat Raka yang sempat melirik ke arah Delmira lewat spion dalam mobil.
Delmira dan Verel sama-sama mengempaskan napas.
"Turun!" titah Verel sekali lagi.
"Aku bilang tidak mau!" kekeh Delmira.
Verel menatap tajam pada manik mata Delmira. Di situ ada keseriusan soal penolakannya.
'Apa Meilin tidak memberikan uang itu pada Delmira?' batin Verel.
__ADS_1
Verel mendekat ke arah Delmira bahkan wajahnya semakin mendekat ke wajah Delmira.
"Apa yang akan kamu lakukan!" teriak Delmira memundurkan wajahnya.
Verel tersenyum kecil, "Apa perlu aku sebar video mesra kita sewaktu di ranjang?" bisik Verel.
"Kamu jangan macam-macam!"
"Aku tidak macam-macam, aku hanya minta satu macam dari kamu."
"Apa itu?!"
"Turun dulu dari mobil."
Delmira terlihat ragu. Namun, ancaman yang terlontar dari Verel sungguh membuat Delmira resah. Dia tidak ingin karena kecerobohannya membuat Zaidan dan ummi Aisyah malu.
Kakinya akhirnya menurut untuk turun dari mobil. Delmira melangkah mengekor Verel. Tubuhnya bergetar hebat tatkala akan ikut masuk ke dalam kamar yang dimasuki Verel.
Begitu Delmira masuk tubuhnya langsung ditarik Verel. Pintu kamar dia tutup. Lalu dengan kuat Delmira dihempaskan ke dinding. Tangan Verel mengunci gerak Delmira dan bib*irnya sontak menyambar bib*ir milik Delmira.
Delmira terus melakukan perlawan tapi tenaganya kalah kuat dengan Verel. Walaupun dia jago bela diri nyatanya Verel juga sama kalau dilihat dari cara dia melawan Delmira.
Setelah puas merenggut paksa ranum bi*bir Delmira, tubuh kecil itu dia dorong hingga ambruk di kasur.
Delmira mencoba melawan kembali tapi percuma tenaganya kalah kuat dengan Verel. Kini Delmira pasrah, tenaganya terasa hilang seketika. Sedangkan Verel tetap menerobos hingga menjelajah ke leher. Memberi sesapan dan jejak yang memang secara alami menggetarkan bira*hinya.
Merasa Delmira tidak melakukan perlawan segera Verel menegakkan tubuhnya, melepas atasan yang dia kenakan dan saat akan melepas apa yang melekat di tubuh Delmira, Verel melihat hal yang tidak lazim dari berbagai wanita yang biasanya dia tiduri.
Ada bulir air mata yang mengalir membasahi dua pipi Delmira.
Verel terpaku. Tangannya yang sudah bergerak tinggal membuka kancing akhir dari kemeja yang Delmira kenakan, dia urungkan. Kakinya yang sedari tadi mengunci pergerakan Delmira kini dia kendorkan. Lalu bangkit dari tubuh Delmira.
"Kancing kembali baju kamu!" titah Verel lalu melangkah ke arah kamar mandi.
Membasuh wajah dan memilih bersolo karir. Setelah cairan kental yang tertahan hampir satu bulan itu keluar, dia membersihkannya.
"Brengsek! Baru kali ini aku melakukan hal konyol! Kalau saja wajah kamu yang selalu tiba-tiba hadir di saat aku sedang bercinta dengan wanita bayaran, aku tidak mungkin mencari kamu! Aku pasti sudah puas bermain-main dengan mereka!" umpat Verel dengan roman yang begitu kesal.
"Tapi mengapa dia menangis? Dan kenapa aku jadi tidak tega melihat air matanya?" sambung Verel mengingat dirinya memilih menyerah tidak menikm*ati tubuh Delmira yang selama hampir satu bulan ini dia idam-idamkan.
"Brengsek! Benar-benar aku harus ke dukun!" gumam Verel menggetok kepalanya.
Verel melangkah keluar kamar mandi dan berniat akan melanjutkan hal yang merasa belum dia tuntaskan, tentunya dengan trik yang berbeda. Verel ingat pesan Meilin, kalau Delmira harus diperlakukan lembut agar suka rela memberikan apa yang harus dia berikan.
"Aku tidak memperhitungkan uang yang sudah aku keluarkan untuk mendapatkan pelayanan dari kamu, yang terpenting_"
Gumaman Verel tercekat begitu saja tatkala melihat Delmira hanya duduk dengan tatapan kosong dan kemeja yang dia kenakan masih dalam keadaan terbuka.
__ADS_1
siang menyapa 🤗 jangan lupa like komen hadiah vote rate 🙏 Kak Mel pastikan ada jalan terbaik untuk Zaidan dan Delmira. Mereka orang baik tidak mungkin Kak Mel tidak balas kebaikan mereka. Begitu juga Meilin, dia orang jahat tidak mungkin luput balasan dari kak Mel. Ikuti saja alurnya ya...🙏😍🥰😘