Dinikahi Berondong Saleh

Dinikahi Berondong Saleh
Bab 119


__ADS_3

"Mas Fer, aku nggak ganggu kan?" lontar Safira, tersenyum nyeringis.


"Hmmm," dengung Fernando sebagai jawaban.


"Kenapa itu orang, mukanya masam begitu? Harusnya, dia seneng aku datang bawa hadiah!" gumam Safira, "Ya kan Mbak Yasmin," lontar Safira berpindah pada Yasmin meminta pembelaan.


Yasmin tersenyum menimpalinya.


Safira terlambat datang dalam acara pernikahan Fernando dan Yasmin. Akhirnya dia berinisiatif untuk datang menjelang sore.


"Coba kamu tidak datang, pasti aku sudah belajar bersama istriku," gerutu Fernando, walau samar tapi Safira sedikit mendengar. Berbeda dengan Yasmin yang malah menyubit pinggang Fernando takut suaminya bicara keblabasan.


"Belajar apa Mas Fer?" lontar Safira dengan polos.


Fernando mengempaskan napasnya kasar. Yasmin menahan senyum.


"Belajar membaca sandi Morse!" jawab Fernando asal.


Senyum Yasmin melebar hingga tangannya membekam mulutnya.


"Ngapain belajar sandi Morse? Kayak anak pramuka mau naik tingkat," selidik Safira, otaknya berpikir keras.


"Polos begini tapi pengennya buru-buru nikah!" ejek Fernando.


"Issst emang kenapa?! Lagian Safira sudah punya KTP, sudah baligh, bisa dong nikah," protes Safira, "bener kan Mbak Yasmin?" sekali lagi Safira meminta pembelaan.


"Bener banget!" seru Yasmin.


Safira tersenyum merekah merasa mendapat pembelaan.


"Terserah kamu Sap! Sudahlah sana pulang, terima kasih hadiahnya," dorong Fernando.


"Astaghfirullah haladhim, dosa tahu Mas Fer. Ada tamu berkunjung malah diusir," sanggah Safira.


"Tamunya yang dosa karena _"


"Safira, kamu mau minum apa?" lontar Yasmin sengaja memotong kalimat Fernando.


"Alhamdulillah, baik sekali Mbak Yasmin. Kebetulan Safira juga haus banget. Naik motor dari kampus ke rumah Mbak Yasmin."


"Sudah mau minum apa? Panjang bener!" sela Fernando dengan kesal.


"Sensitif banget suami Mbak Yasmin ini!"


Yasmin kembali tersenyum.


"Eh, maaf Mbak, tadi kan Safira belum selesai bicara. Safira minta es kopi ya Mbak."


"Ok," jawab Yasmin, "Mbok... Mbok," panggil Yasmin pada asisten rumah tangga.


"Ya Mbak."


"Tolong buatin es kopi ya," ucap Yasmin.


"Ya Mbak. Berapa es kopinya?"


"Kamu mau Fer?"


"Tidak Sayang. Tanpa es, cukup lihat kamu saja sudah sejuk," jawab Fernando.


"Sok manis!" celetuk Safira, mendengar gombalan Fernando untuk Yasmin.


Yasmin tersenyum mendengar gombalan suaminya yang secara sengaja untuk menyindir tamunya.


"Satu saja ya Mbok," lanjut Yasmin.


"Baik Mbak," jawab asisten rumah tangga Yasmin kemudian berlalu dari ruang tamu.


Tidak lama kemudian, minuman es kopi pesanan Safira datang.


"Terima kasih Mbok," ucap Safira.


"Ya dek sama-sama," jawab Simbok.

__ADS_1


Safira mengerucutkan bibirnya, "Dek, dikira aku ini anak SD apa! Aku sudah duduk di bangku kuliah!" gerutu Safira setelah ART itu pergi.


Yasmin sekali lagi tersenyum mendengar ocehan Safira, "Itu karena kamu masih terlihat imut-imut Saf," ujar Yasmin.


"Tapi Safira mau diakui kalau Safira sudah besar Mbak," protes Safira.


"Bagus dong masih dikatakan imut-imut, artinya kamu awet muda."


"Terserah! Intinya Safira sudah dewasa dan...," Safira berhenti melanjutkan kalimatnya, matanya menatap ke arah Fernando.


"Dan kami siap untuk menikah! Bukankah seperti itu?!" ucap Fernando, meras atau kalimat yang belum sempat terucap dari mulut Safira.


Tangan Safira bergerak menggaruk tengkuknya, mulutnya tersenyum nyeringis.


"Sudahlah cepat kamu minum, keburu es kopinya berubah jadi panas," celetuk Fernando membuat Safira terkekeh karenanya.


"Mas Fer kalau bercanda itu kelewat lucunya," ujar Safira masih diiringi tawa, "sudah ah, Safira minum es nya," lanjutnya.


Tidak tanggung-tanggung, Safira langsung teguk habis es kopi itu.


Mata Fernando membulat melihat Safira menurunkan gelas ke meja.


"Kamu bener-bener haus?"


"Ya lah Mas, emangnya Safira bercanda apa!" sungut Safira.


"Udah ah, karena Safira sudah kenyang nih minum es. Safira pamit pulang," ujar Safira pantatnya dia angkat dari sofa yang diduduki.


"Buru-buru sekali Saf," balas Yasmin.


"Biar saja Sayang, jangan larang dia pulang. Dia pasti capek dari kampus dan dia juga banyak tugas," seloroh Fernando.


"Fer," protes Yasmin mengarahkan pandangan pada Fernando.


"Bener kan Sap?" lontar Fernando, berharap Safira membenarkan apa yang dia ucapkan sebelumnya.


"Ya bener Mbak, Safira pulang dulu ya. Assalamualaikum," pamit Safira gegas keluar.


"Ya, waalaikum salam. Terima kasih kadonya Saf," sahut Yasmin.


Yasmin mengangguk, mengehentikan langkahnya ketika Safira sudah naik dia tas motor.


"Assalamualaikum Mbak Yasmin," seru Safira, mulai melajukan motornya.


"Waalaikum salam," sahut Yasmin membalas lambaian tangan Safira.


"Alhamdulillah," lirih Fernando mengiringi kepergian Safira.


"Issst kamu Fer, usil sekali sama Safira," ujar Yasmin.


Fernando tersenyum sebagai balasan, tangannya merangkul Yasmin untuk jalan beriringan.


"Kita lanjutkan yang sempat tertunda," bisik Fernando tepat di telinga sang istri.


"Maunya kamu!" jawab Yasmin tapi dengan sebuah senyum yang melebar.


Fernando pun tersenyum senang.


...****************...


"Innalilahi, benarkah seperti itu Papyang?" lontar Delmira ketika Zaidan memberikan informasi apa yang sudah disampaikan oleh Hidayat.


Zaidan mengangguk.


"Delmira berjalan lebih cepat untuk sampai ke parkir mobil.


Zaidan mengekor langkah Delmira.


Mobil itu segera bergulir ke jalanan kota.


"Ya Allah Papyang, ini mobil apa siput sih, lelet sekali jalannya," protes Delmira.


"Momyang, Papyang tidak mungkin melajukan mobil dengan kecepatan tinggi, sementara di dalam mobil ada wanita yang harus Papyang jamin keselamatannya," jawab Zaidan.

__ADS_1


Delmira memanyunkan bibirnya, "Tapi tambah kecepatan kan bisa Papyang," sanggah Delmira.


"Tidak!" balas Zaidan singkat, padat.


"Issst!" sungut Delmira.


Tiga puluh lima menit mereka baru sampai di rumah sakit. Gegas Zaidan dan Delmira menuju ruang perawatan yang ditunjukkan resepsionis, tentunya setelah Delmira menanyakan informasi tentang si pasien di pusat informasi.


"Assalamualaikum," sapa Delmira dan Zaidan dengan suara lirih.


"Waalaikum salam," sahut Hidayat dan mama Putri.


"Bagiamana keadaan Putri Bu?" lontar Delmira.


Mama Putri hanya bisa membalas dengan sebuah senyum kecut.


"Doakan semoga membaik," jawab mama Putri dengan suara lirih.


"Amin, semoga Allah memberi kesembuhan pada Putri," balas Delmira, "ibu yang sabar ya," sambungnya.


Mama Putri mengangguk pelan. Delmira merangkul, memeluk tubuh wanita paruh baya itu, lalu menepuk pelan punggungnya, "Ibu yang kuat," ucap Delmira.


"Terima kasih Nak Del," sahut mama Putri.


"Maaf Pak, aku baru bisa datang, anak kami rewel dan susternya sedang sakit. Jadi kami menenangkan mereka terlebih dulu," ujar Zaidan.


Hidayat diam tidak menyahuti ucapan Zaidan.


Delmira memegang lengan Zaidan berusaha membuat suaminya lebih lapang mendapat perlakuan dari Hidayat.


"Kamu lihat! Karena terlalu lama menunggu kedatangan kamu, keadaan Putri semakin terpuruk!" ujar Hidayat dengan penuh emosi.


"Astaghfirullah haladhim, Daddy tidak boleh bicara seperti itu. Zaidan dan Delmira sudah banyak membantu kita. Mereka walaupun sedang sibuk, selalu siap kalau Daddy minta datang," sela mama Putri.


Hidayat tidak menyangkal pembelaan istrinya pada Zaidan walaupun lubuk hati terdalam, darahnya mendidih menahan emosi.


Tut tut tut.


Suara monitor pemantau keadaan pasien meraung memekik telinga. Semua yang bada di dalam ruang perawatan terlihat tegang.


Pintu terbuka, datanglah dokter dan perawat memeriksa keadaan Putri.


"Ada apa dengan anak kami Dok?" lontar Hidayat, suaranya terdengar berat.


"Maaf, kami periksa dulu Pak," jawab sang dokter.


Mama Putri luruh, tubuhnya terasa lemas. Jika Delmira tidak meraih tubuh wanita paruh baya itu, sudah dipastikan dia akan jatuh ke lantai.


"Ibu, dokter masih memeriksa keadaan Putri, berdoalah semoga Putri baik-baik saja," ujar Delmira menenangkan orang tua Putri.


Dokter mengarahkan alat kejut jantung ke dada Putri, beberapa kali pertolongan medis itu dilakukan, tubuh Putri merespon, bergerak spontan mental ke atas.


Tapi... selang beberapa menit kemudian, tubuh itu tetap diam walaupun kejut jantung itu ditempelkan ke dadanya.


Wajah sang dokter terlihat lemas, dia memberi kode pada perawatan agar melepas alat medis yang terpasang di tubuh Putri.


Dokter itu kemudian melangkah mendekat ke Hidayat dan mama Putri.


"Maaf Pak, Bu. Pasien tidak, dapat bertahan. Dia kembali pada Tuhan," ucap dokter, menepuk pelan lengan Hidayat sebagai bentuk bela sungkawa, "kami permisi dulu," imbuhnya.


Hidayat merasa langit seakan runtuh menindih tubuhnya. Tulang belulang serasa lepas, lemas seketika.


"Putri," panggil Hidayat luruh memeluk anaknya yang sudah tidak bernyawa.


Hal yang sama juga dilakukan mama Putri.


Putri memang hanya angkat keluarga Hidayat tapi kasih sayang mereka melebihi pada anak kandung. Sejak kecil putri diasuh mereka. Apapun yang Putri pinta pasti akan diberikan oleh orang tuanya. Dia tumbuh menjadi anak yang cerdas, tapi sayang, dia begitu manja dan memiliki kepribadian yang tidak baik.


Putri sendiri tidak memiliki banyak teman, ada beberapa teman. Mereka pun terpaksa berteman pada Putri agar dapat minum, makan gratisan.


"Innalilahi wa innailaihi rojiun," ucap Zaidan, mendekat ke arah Hidayat, mencoba menjauhkan tubuh lelaki paruh baya itu dari jenazah karena Hidayat dalam posisi menangis, takutnya air mata itu jatuh mengenai jenazah.


Hidayat menurut, menjauh dari jenazah.

__ADS_1


'Aku pasti akan buat perhitungan padamu Zaid!' monolog batin Hidayat penuh ancaman, tangannya mengepal dan tatapannya tidak lepas dari Zaidan.


__ADS_2