
Pagi menjelang siang, sekitar pukul 09.00. Yasmin berkunjung ke rumah Delmira.
Di antara teman yang lain, Yasmin memang yang paling rajin menjenguk keponakannya.
"Tidak ingin punya Yas?" lontar Delmira, mendapati Yasmin bermain riang dengan Kaffah dan Kahfi.
Yasmin tetap bermain dengan si kembar, mode ura-pura tidak mendengar ucapan sahabatnya yang tidak lain sebuah sindiran.
"Fernando serius ingin menjalin hubungan dengan kamu Yas," imbuh Delmira.
"Mau sampai kapan kamu sendiri, tidak membuka hati," sambung Delmira tapi tetap saja mulut Yasmin tidak menyahutnya.
"Kahfi kok terlihat murung Del?"
"Bukan murung tapi dia memang cenderung pendiam tidak seaktif Kaffah," jawab Delmira.
"Jangan mengalihkan pertanyaanku. Jawab tanya ku tadi," cecar Delmira.
"Apa dia kurang baik? Kalau mencari yang sempurna, tidak pernah kamu temukan, kesempurnaan hanya milik Allah."
Yasmin masih diam.
"Mama Wulan sudah memberi sinyal hijau, tunggu apalagi?" oceh Delmira tanpa henti sebelum sahabatnya menjawab berondongan tanya yang dilontarkannya.
"Perselingkuhan mantan suamiku belum juga bisa kulupakan hingga saat ini," sahut Yasmin akhirnya membuka suara.
"Kenyataannya hidup terus berjalan Yas. Kalau kamu masih memandang ke masa lalu, itu tidak akan membuat hidupmu maju. Jadikan masa lalu yang memang sudah berlalu itu menjadi pelajaran hidup."
"Aku sudah menjadikan itu pelajaran hidup, tapi kalau lelaki yang nantinya akan menjadi suamiku, apakah sama? Dia akan mengerti untuk tidak menghianati sumpah janji pernikahan yang kita jalani?"
"Apa berarti kamu meragukan kesetiaan seorang Fernando?"
Yasmin terdiam, tidak lama menggelengkan kepala pelan, "Bukan berarti aku meragukan kesetiaan dari Fernando. Hanya... hanya saja, aku belum siap membuka hati untuk orang lain," ujarnya kemudian.
"Apa hati mu masih terkunci oleh mantan suami kamu?" cecar Delmira.
Yasmin kembali menggeleng.
"Lalu?"
"Lalu apa maksud kamu?" retoris Yasmin.
"Lalu menunggu apalagi, dia baik dan sudah punya niatan untuk menikah dengan kamu."
Yasmin kembali diam.
"Atau aku suruh dia memilih yang lain saja dari pada menunggu yang tidak pasti?!" ancam Delmira matanya melirik ke arah Yasmin, yang belum juga ada tanda-tanda akan menjawab ancamannya.
"Kenapa kita harus dipertemukan dengan berondong sih!" ujar Yasmin dan jawabannya sungguh di luar prediksi.
__ADS_1
Mata Delmira membulat mendengar jawaban Yasmin.
"Ja... jadi, kamu tidak juga kunjung terima cintanya Fernando karena usianya lebih muda dari kamu?"
"Yang tua saja tidak bisa dewasa apalagi dia yang lebih muda!" sambung Yasmin.
Delmira terkekeh karena pernyataan Yasmin.
"Jangan samakan Fernando dengan Zaidan, jelas dia berbeda. Mungkin Zaidan menurut kamu bisa dewasa, tapi belum tentu Fernando!"
"Ya Allah Yas, kamu itu lucu sekali. Aku setuju dengan pendapat kamu, Zaidan dan Fernando jelas berbeda. Walaupun sama-sama berondong. Menurut aku sendiri, pikiran Fernando cukup dewasa kok. Dia apa adanya, soal kurang lebih itu hal wajar. Asal dia bertanggung jawab pada kamu," terang Delmira.
"Apa kamu mau tanggung jawab kalau seandainya dia berbuat sesuatu yang menyakitkan aku? Misalnya saja, dia melakukan hal seperti yang dilakukan mantan suamiku?!" sungut Yasmin.
Delmira terdiam.
"Ini soal hidup kamu. Aku hanya memberi saran yang menurutku baik. Selebihnya keputusan ada di tangan kamu. Kalau soal tanggung jawab itu... itu tidak mungkin aku lakukan. Aku hanya akan memberi dia pelajaran yang sepadan kalau dia benar-benar melakukan perbuatan bejat itu!"
Yasmin tersenyum mendengar ujaran Delmira.
"Hei, kenapa malah tersenyum?" bingung Delmira, "ada yang salah dengan perkataan ku?"
Yasmin menggeleng.
"Lalu kenapa malah tertawa?" kepala Delmira merasa dipermainkan Yasmin.
"Aku teringat mantan suamiku yang babak belur karena bogeman kamu," jawab Yasmin.
"Aku jadi penasaran. Jika_"
"Jika apa?!" penasaran Delmira dengan lontar kalimat yang sengaja Yasmin potong.
"Jika Zaidan selingkuh, apa yang akan kamu lakukan," balas Yasmin dengan raut wajah tanpa bersalah.
Padahal mendengar pertanyaan sahabatnya itu, darah Delmira langsung mendidih. Terlebih-lebih, masalah keluar kota yang tidak izin masih belum terselesaikan.
"Kenapa wajah kamu berubah merah padam Del?" lontar Yasmin dengan nada yang begitu hati-hati. Mata Yasmin berpindah tatap pada tangan Delmira yang mengepal dan napas terdengar tidak terkontrol.
"Kamu ada masalah dengan Zaidan?" cecar Yasmin.
"Maaf aku salah bicara, lupakan saja. Tadi aku hanya bercanda. Lagian mana mungkin Zaidan melakukan itu," sambung Yasmin.
Delmira menganggukkan kepala mendengar pernyataan sahabatnya.
"Seharusnya seperti itu! Awas saja kalau... kalau...," Delmira menggelengkan kepala dengan cepat dengan posisi mata yang terpejam, "tidak! Tidak! Itu tidak mungkin!" monolog Delmira karena pikirannya tiba-tiba layang pada khayal, kalau Zaidan menggandeng seorang wanita dengan menampilkan senyum bahagia berjalan di lorong hotel.
"Hei! Hei! Ada apa dengan kamu Del?" panik Yasmin menghentikan gelengan Delmira dengan memegang dua rahang sahabatnya.
Delmira membuka matanya, gelengan kepalanya terhenti. Napasnya terdengar tersengal-sengal.
__ADS_1
"Aku harus minum," izin Delmira memutar kakinya akan melangkah masuk ke dalam rumah.
Namun, baru satu langkah, terdengar rengekan dari Kaffah yang minta ikut dirinya.
Delmira membalikkan tubuh. Pikirannya langsung jernih tatkala menatap wajah polos anaknya.
Tangan Kaffah direntangkan, isyarat dia minta digendong.
Delmira melangkah ke arah suster Fina untuk menggendong Kaffah.
"Itut," ucap bocah kecil itu dengan suara yang tidak jelas tapi Delmira dapat mengartikan ucapan Kaffah, dia minta ikut.
Delmira tersenyum, "Ikut Momyang?"
Tanpa jawaban Kaffah menarik lengan Delmira dan tubuhnya berontak akan berpindah posisi gendong. Delmira pun meraih tubuh kecil itu.
"Mom," ucap Kahfi merasa iri ingin digendong Delmira.
Delmira mengelus pucuk kepala Kahfi, "Kahfi juga mau ikut?" retoris Delmira, jongkok lalu menggendong tubuh anaknya yang satu itu.
Yasmin tersenyum melihat Delmira menggendong dua anak kembarnya.
"Kahfi sama aunty yuk," tawar Yasmin.
Kahfi menggelengkan kepala, mengeratkan tangannya di tubuh Delmira.
"Ya Kahfi tidak mau, Kaffah aja yuk," tawar Yasmin berpindah pada bocah satunya sambil tangannya direntangkan.
Namun, sikap yang sama juga ditunjukkan Kaffah. Yasmin tertawa karena kelucuan Kahfi juga Kaffah. Delmira juga ikut terkekeh karena kelucuan keduanya.
Tidak lama setelah itu, Yasmin izin pulang karena mendapat telepon dari mama Wulan.
Waktu semakin siang. Setelah makan siang si kembar tidur pulas di kamar mereka.
Tentunya melalui drama terlebih dahulu sebelum akhirnya mereka terlelap di box masing-masing.
"Alhamdulillah, kalian sudah tidur, Momyang mau salat dulu ya," pamit Delmira pada dua bocah yang tertidur pulas.
Sebuah kecupan mendarat di pucuk kepala Kaffah dan Kahfi.
"Tolong jaga mereka Sus, aku mau salat dulu," pamit Delmira yang dijawab ya oleh dua suster Kaffah dan Kahfi.
Delmira menaiki anak tangga untuk mencapai kamarnya. Kamar Kaffah dan Kahfi memang sudah dipindah sejak usia mereka memasuki 7 bulan. Dipilih kamar yang ada di lantai dasar demi keamanan si kembar.
Delmira gegas wudhu lalu menunaikan salat Zuhur. Selesai salat, seuntai doa dia gumamkan sebelum akhirnya Delmira melipat mukena yang telah dipakainya.
Kaki Delmira kini menaiki ranjang kemudian merebahkan tubuhnya yang terasa lelah. Tangannya bergerak meraih ponsel yang sedari tadi pagi belum dia sentuh.
Delmira terdiam tatkala membuka pesan yang dikirim Fernando. Tanpa terasa air matanya mengalir.
__ADS_1
"Zaidan," sebut Delmira dengan suara parau.
Sore menyapa 🤗 jangan lupa like komen hadiah vote rate 🙏