
"Astaghfirullah haladhim, ya Allah... aku sampai lupa tidak pamit dengan Kaffah dan Kahfi," sesal Delmira tapi kalaupun akan berputar arah tentu akan memakan waktu padahal dia sudah memasuki sepertiga jalan.
"Maafkan momyang Kaffah Kahfi," imbuhnya.
Mobil yang Delmira kendarai melaju semakin cepat, melewati beberapa traffic light yang memasang warna hijau sehingga Delmira tetap melajukan mobilnya.
Tinggal satu traffic light untuk sampai di dealer AZM, Delmira menginjak rem dalam-dalam seketika melihat warna lampu yang kuning berubah hijau.
Ciiitttt.
"Astaghfirullah haladhim, untung saja tidak nabrak motor yang ada di depan," gumam Delmira mengelus dadanya.
Matanya kini berpindah tatap pada benda pipih yang dia taruh di sela dasboard. "Setengah dua," lirih Delmira melihat layar ponselnya.
Pip pip pip... .
Bunyi klakson saling bersautan tatkala Delmira tidak melajukan mobilnya padahal warna rambu lambu lalu lintas sudah berubah menjadi hijau.
"Iya iya!" sungut Delmira, berteriak sendiri di dalam mobil, dirinya merasa jengah ketika suara klakson bersautan selang lampu lalu lintas berwarna hijau.
"Aku paling benci dengan keadaan ini! Mereka tidak tahu apa, aku juga menunggu beberapa motor depanku yang belum jalan hah?! Tidak mungkin kan aku telindas mereka?!" geram Delmira masih berbicara sendiri.
Delmira mengempaskan napasnya kasar lalu menarik napas dalam-dalam. Setelah itu berganti mengeluarkan perlahan dari mulutnya.
"Harus tenang, tenang Delmira, kamu mau bertemu dengan papyang," monolog Delmira setelah mobilnya dia parkir di dealer AZM.
"Bismillahirrahmanirrahim," lirih Delmira, membuka pintu lalu turun dari mobil.
"Siang Bu," sapa salah satu pegawai yang mengenal Delmira.
"Siang, Bapak ada?" lontar Delmira menghentikan langkahnya.
Pegawai itu terdiam, tangannya menunjuk keluar, " Sepuluh menit yang lalu Pak Zaidan keluar," jawabnya.
Delmira mengempaskan napasnya kasar, kakinya kemudian melangkah masuk menuju ke ruang kerja suaminya.
"Ibu tidak memberitahu Pak Zaidan, kalau ibu mau datang ke sini?" tanya pegawai itu mengejar langkah cepat Delmira.
"Tidak!" sahut Delmira dengan kesal. Kakinya kini berhenti melangkah ketika sudah ada di depan ruang kerja Zaidan. Tubuhnya berbalik dan menatap pegawai itu.
"Oh maaf," ujar sang pegawai merasa istri pemilik dealer dalam suasana hati yang kurang baik.
"Anda mau masuk?" retorisnya.
"Tidak! Mau menyusup ke ruang kerja bos kamu?!" ketus Delmira.
Pegawai itu nyeringis mendengar jawaban Delmira, "Silahkan kalau mau masuk Bu, sa..saya tinggal sebentar. Kalau ada perlu sesuatu panggil saja saya," pesannya.
"Hmmm," dengung Delmira sebagai jawaban.
Dia segera masuk setelah pintu itu terbuka dengan beberapa angka password yang Delmira tekan sebelumnya.
"Sudah lama aku tidak masuk ruangan ini," ujar Delmira matanya memutar ke seluruh penjuru ruangan.
Matanya berhenti tatap pada salah satu foto yang terpajang di dinding, tepatnya di atas kursi kebesaran pemilik AZM.
Dua sudut bibir Delmira ditarik, tercetak sebuah senyum cantik di wajahnya, "Semoga keluarga kita sakinah mawadah pap," lirih Delmira, kakinya jalan mendekat bingkai foto tersebut, foto yang bergambar dirinya, Zaidan DNA juga dua anaknya.
Kemudian tubuh Delmira berputar, matanya kini berpindah tatap pada bingkai foto kecil yang ditaruh di atas meja kerja pemilik AZM. Tangan Delmira bergerak mengambil foto itu, lalu mengelus foto tersebut.
"Lihat Papyang, setiap hari aku mengawasi kamu," ucap Delmira, "jadi jangan macam-macam," imbuh Delmira diiringi sebuah tawa, foto yang dipegangnya diputar ke setiap sudut seperti sedang mengintai gerak orang.
__ADS_1
Bingkai itu menampilkan foto Delmira, ya hanya foto Delmira tanpa Zaidan maupun dua anaknya.
Ceklek.
Delmira terkejut saat pintu ruangan terbuka.
"Papyang...," seru Delmira, mulutnya melongo.
Sebuah senyum ditunjukkan Zaidan, kakinya kini melangkah mendekat ke arah istrinya.
"Momyang cantik sekali," ucap Zaidan.
Sebuah senyum terlihat mengembang dari bibir Delmira.
"Papyang juga sangat tampan," balas Delmira.
Tubuh Zaidan mendekat pada Delmira, semakin mendekat, dan mendekat hingga tidak ada jarak diantara keduanya.
Delmira merasa tubuhnya didorong ke belakang hingga tiba-tiba tersentak, kaget dan tidak dapat mengeseimbangkan tubuhnya ketika menyandar di kepala kursi.
"Astaghfirullah haladhim!" seru Delmira.
Matanya seketika mengerjap dan betapa terkejut karena tidak ada sang suami di depannya.
"Cuma khayalan," lirih Delmira, bibirnya mengerucut merasa kecewa.
"Apa aku hubungi papyang saja?"
Otak Delmira terus berpikir, "Tapi aku kan mau kasih kejutan," imbuhnya.
Mulut Delmira menguap, kantuk menderanya karena dia terbiasa tidur siang. Dia pun melangkah masuk ke dalam ruang yang ada di belakang lemari buku. Tempat itu masih sama seperti dulu, sebuah ruangan tersembunyi yang ada ranjang tidur, kamar mandi, dan sebuah lemari. Ruangan yang terbilang nyaman dengan luas kisaran 6x8 meter.
Kaki Delmira mendekat ke ranjang yang ada di ruangan itu, pantatnya dia jatuhkan pada ranjang yang terbilang empuk.
Detik, menit, jam berlalu, beriringan matahari yang kian condong ke Barat.
Delmira masih terlelap, sedikitpun tidak bergerak. Bahkan saat sebuah kecupan mendarat di pucuk kepalanya, dia pun tidak bergeming.
"Lelap sekali Momyang," lirih lelaki yang duduk di tepi ranjang, sedari tadi menelisik wajah Delmira tanpa sedikitpun yang terlewat.
Tangan lelaki itu tidak berhenti mengusap pucuk kepala sang istri.
"Hmmm," dengung Delmira menggeliat tubuhnya.
"Tidak usah datang kalau hanya mimpi," racau Delmira, tangannya menampik tangan Zaidan hingga lelaki itu terkejut.
Zaidan kembali mengusap pucuk kepala sang istri tapi lagi-lagi ditampik.
"Pergi saja, aku tahu kamu hanya datang dimimpi!" seru Delmira bangun dari tidur dengan posisi terduduk.
"Pap... papyang?" gumam Delmira.
"Bukan mimpi?" lontar Delmira masih setengah sadar.
"Auw!" jerit Delmira ketika Zaidan mencubit pelan pipinya, agar istrinya benar-benar tersadar.
"Sakit tahu!" sungut Delmira, bibirnya mengerucut.
"Sudah sore, makanya Papyang bangunkan Momyang," ucap Zaidan.
Cup.
__ADS_1
Sekilas Zaidan mengecup bibir istrinya yang masih mengerucut.
"Papyang! Momyang bau air liur tahu!" protes Delmira menepuk bahu Zaidan, merasa tidak percaya diri walaupun ciuman itu hanya sekilas.
Zaidan tersenyum mendapati sikap Delmira.
"Salat jamaah yuk," ajak Zaidan.
"Papyang lupa ya, Momyang kan dapat tamu bulanan," jawab Delmira.
"Astaghfirullah haladhim, maaf Papyang lupa."
Delmira tersenyum, sudah sana Papyang salat dulu," titah Delmira dan diiyakan Zaidan.
Mata Delmira menatap tanpa kedip pada lelaki yang khusuk menjalankan salat asar. Dua salam mengakhiri salat fardhunya.
Sebuah doa dia panjatkan untuk mengakhiri kegiatan temu rutin dengan Sang Pencipta.
"Biar Momyang bantu," ucap Delmira melipat sajadah yang baru dipakai suaminya.
"Terima kasih," ucap Zaidan seusai sajadah itu dimasukkan dalam nakas, "kita pulang," ajaknya kemudian, pada Delmira.
"Tunggu Papyang," cegat Delmira menahan tangan Zaidan.
"Ada apa?" lontar Zaidan membalikkan tubuhnya.
"Momyang minta maaf," lirih Delmira, menundukkan kepalanya.
"Minta maaf dalam hal?"
"Papyang jangan pura-pura tidak tahu, dari kemarin Momyang kan marah-marah gara-gara Papyang keluar kota tanpa kabar," sahut Delmira.
Zaidan terlihat menahan senyum mendengar ucapan Delmira, "Apa yang membuat kamu percaya kalau Papyang benar-benar ke luar kota? Bukan main seenaknya tanpa ada urusan penting dan mendesak?"
Delmira memasang sebuah senyum, "Fernando mengirim beberapa foto kegiatan Papyang di luar kota. Fernando dapat dari salah satu pegawai yang ada di luar kota," terang Delmira.
"Alhamdulillah, sekarang tidak ada kesalahpahaman," ucap Zaidan, mengusap kepala Delmira.
"Tapi ada satu syarat kalau mau Papyang maafin," bisik Zaidan tepat di telinga Delmira.
"Satu syarat?" lontar Delmira membulatkan mata.
Zaidan mengangguk, wajahnya memasang tepat di depan wajah Delmira.
"Kasih sun di tempat ini," ujar Zaidan menunjuk pipi kanan dengan mata terpejam.
Cup.
Dengan cepat Delmira mengecupnya.
"Seterusnya kita lanjutkan kalau tamu bulanannya sudah berlalu," ujar Zaidan kemudian melangkahkan kakinya keluar ruangan.
"Curang! Katanya hanya satu syarat!" protes Delmira, berteriak mengejar langkah Zaidan.
Zaidan hanya menahan senyum tanpa mengehentikan langkah, walaupun istrinya terus berteriak memprotes keputusannya.
Salah satu ujian pernikahan berlalu, tapi tidak menutup kemungkinan masalah yang sama akan masuk dalam list ujian pernikahan. Bahkan ujian-ujian yang lain siap mengantrinya.
Maaf Nya Kaffah dan Kahfi sejak bangun tidur masih saja menangis.
Delmira terlihat panik membaca pesan yang dikirim suster Fina.
__ADS_1
"Papyang, cepat kita pulang," titah Delmira menunjukkan isi pesan dalam ponselnya.
malam menyapa 🤗 jangan lupa like komen hadiah vote rate 🙏