
"Ayah Verel," sambung Verel.
"Ayah Verel," ucap Delmira mengulang pinta dari Verel dengan nada suara yang berubah lirih dan tangannya tetap mengelus perut.
Verel tersenyum kecil, "Aku antar kamu pulang," tawar Verel, "kalau lama di sini bisa-bisa mbok Sa'diyah ngomeli aku.
Delmira mengangguk dan melangkah terlebih dahulu.
Selama ini, Delmira dan Verel pergi tidak pernah hanya berdua, kalau tidak dengan Raka pasti berempat, satunya dengan Safira.
Delmira tidak ingin ada kabar miring mengenai kedekatannya dengan Verel. Dia juga tidak ingin membuat kesalahan yang sama di masa lalu. Dia selalu berusaha membatasi pergaulan antara laki-laki dan perempuan. Kalau tidak ada benih dalam rahimnya sudah pasti Delmira memblokir diri dari Verel. Delmira berniat hijrah sedikit demi sedikit.
"Nanti turunkan aku di warung mbok Sa'diyah Ka," pinta Delmira.
"Jangan terlalu capek Del, kamu juga harus jaga kondisi tubuh. Ingat, ada bayi dalam kandungan kamu," ucap Verel memperingatkan, kepalanya dimiringkan ke samping agar suaranya jelas karena Delmira duduk di kursi penumpang sedangkan Verel duduk di kursi samping pengemudi.
"Ya, aku selalu ingat. Lagian kerjaku tidak berat kok."
"Harusnya dari awal kamu terima tawaranku untuk berhenti membantu mbok Sa'diyah untuk kerja di warung," ucap Verel.
"Kita sudah pernah bahas ini, aku tidak ingin kamu bahas kembali," protes Delmira.
Verel pernah menawarkan uang bulanan dalam jumlah fantastis tapi Delmira menolaknya dengan berbagai alasan. Salah satunya karena dia ingin terbiasa hidup mandiri, tidak bergantung pada orang lain. Hanya kalau untuk kebutuhan bayi dalam kandungan Delmira, mau tidak mau Delmira harus terima apa yang diberikan Verel. Misal saja susu, kebutuhan pemenuhan vitamin, periksa dokter spesialis kandungan, atau pun kebutuhan yang bersangkutan dengan calon bayinya.
"Ya, aku tidak akan memaksa kamu" ucap Verel.
Mobil itu berhenti tepat di depan warung milik Sa'diyah.
Mereka pun turun dari mobil.
"Aku sekalian pamit, mau langsung ke Jakarta."
Delmira mengangguk pelan, "Tumben langsung ke Jakarta?" lontar Delmira kemudian.
Verel tersenyum senang, "Kenapa? Tidak suka aku langsung ke Jakarta?"
"Bukan itu, tumben saja. Biasanya kamu sampai satu minggu di sini?"
Verel lagi tersenyum, "Kalau kamu tidak rela aku ke Jakarta lebih cepat, aku akan tetap tinggal di sini."
"Astaghfirullah haladhim... Verel aku_"
"Ya, aku bercanda," cekat Verel, "Jaga diri baik-baik," sambungnya.
"Mbok Sa'diyah, aku langsung ke Jakarta. Titip Delmira dan anaknya," pamit Verel.
"Hmmm," dengung Sa'diyah sebagai jawaban.
"Salam dulu Rel," cegah Delmira ketika Verel nylonong pergi.
"Ya, iya, assalamualaikum ustazah Delmira," ujar Verel diiringi sebuah canda membuat Delmira terkekeh.
Sejenak Verel terdiam melihat Delmira tertawa. Sungguh verel bahagia melihat itu. Dua sudut bibirnya ditarik membentuk sebuah senyum, 'Kalau sudah seperti ini, bagaimana bisa aku menjauh dari kamu Del? Bagaimana bisa aku bersikap pura-pura aku tidak ada punya rasa padamu' gejolak batin Verel penuh tanya.
Verel melangkahkan kaki karena Raka sudah duduk di kursi pengemudi.
Tangannya melambai saat dirinya sudah duduk di kursi penumpang dan mobil mulai jalan, Delmira membalas lambaian itu.
Sore hari.
__ADS_1
"Issst! Kenapa Om ganteng pergi tanpa pamit?!" gerutu Safira ujung jilbabnya dia tarik dana pilin-pilin.
"Dia apanya kamu sampai dia harus pamit?" lontar Delmira.
"Issst! Om Verel juga apanya Mbak Del?"
Delmira langsung bungkam, membenarkan apa kata Safira, "Dia... dia_"
"Non, tolong rapikan rak perabotnya dulu," cekat Sa'diyah takut Delmira tiba-tiba keceplosan bicara yang sebenarnya pada Safira. Kehamilan dan siapa ayah biologis dari bayi yang dikandungnya. Saat itu Delmira memang hanya bercerita pada Sa'diyah.
"Oh, ya Mbok," jawab Delmira, gegas membersihkan rak, padahal rak itu sudah terlihat bersih. Delmira tahu itu hanya alibi mbok Sa'diyah agar dirinya tidak keceplosan bicara.
"Jangan kebanyakan makan angan. Makan kenyataan saja sudah kenyang. Sekolahlah yang rajin jangan mikir pacar," sela Sa'diyah
"Ya ampun Mbah, aku juga rajin loh belajar," sanggah Safira.
"Ini bocah, kalau diomongi nyaut aja," greget Sa'diyah, mencubit siku Safira.
"Auw auw... sakit Mbah," keluhnya.
Safira berdiam diri, bibirnya masih mengerucut. Tangannya merogoh ponsel lalu mengirim sebuah pesan pada Raka.
Sementara itu, Raka dan Verel sampai di rumah setelah hari hampir gelap. Perjalanan mereka sedikit tersendat karena terjebak macet, ada kecelakaan di ruas jalan masuk ke kota Jakarta.
Raka tersenyum tatkala melihat pesan yang masuk di aplikasi hijaunya.
Pesan pertama,
*Kenapa pulang ke Jakarta tidak pamit dulu?! Om ganteng jahat.
Pesan kedua,
😡😡😡😡😡😡😡😡😡😡😡😡😡😡😡😡😡😡😤😤😤😤😤😤😤😤😤😤😤😤*
Namun, senyum Raka langsung dia tarik. melihat tuannya juga tersenyum terus.
'Apa kita sama-sama gila? Dari tadi ternyata sama-sama senyam-senyum sendiri,' batin Raka menyadari dirinya yang tiba-tiba tersenyum.
"Tuan, baik-baik sajakan?" lontar Raka karena setelah Verel senyam-senyum dia bersiul sesekali mendendangkan lagu.
"Aku sedang gila," sahut Verel dengan senyum makin lebar, kakinya bergerak masuk ke kamar mandi.
"Ckck... bilang saja sedang jatuh cinta. Tapi ya begitu, jatuh cinta bikin orang tidak waras. Maka stop Ka, kamu jangan mengikuti jejaknya," gumam Raka sendiri.
Raka mendudukkan pantatnya di sofa kamar sambil nunggu Verel keluar kamar mandi.
"Tapi, kasihan juga tuan Verel, sekali jatuh cinta, dia harus menahan perasaannya karena dia tidak ingin Delmira tidak nyaman kalau cintanya terang-terangan dia nyatakan. Setidaknya begitu apa yang aku pahami dari sikap kamu tuan." Raka bergumam kembali, menerka-nerka sikap dari Verel.
Kenapa hanya dua centang biru? Dibaca tapi tidak dibalas!😡
Raka menelan salivanya dengan susah membaca pesan masuk dari Safira.
"Galaknya, ini bocah." ucap Verel tapi sudut bibirnya mengembang sebuah senyuman.
Ponselnya lalu dia letakkan di samping sofa dan sengaja tetap tidak membalas pesan dari Safira.
...****************...
Zaidan hanya pasrah ketika ummi Aisyah mengajak dirinya makan di luar dan ternyata di situ sudah ada Khanza, wanita yang dulu hampir saja dia nikahi.
__ADS_1
"Maaf Za, Ummi paksa kamu untuk datang ke sini," ucap Aisyah di tengah makan malam yang terasa canggung itu.
"Tidak apa-apa Ummi, hitung-hitung menjalin silaturahmi," jawab Khanza.
"Benar sekali Nak, jaga silaturahmi itu perlu," sahut Aisyah, matanya melirik ke arah Zaidan yang hanya diam dan memakan makan yang ada di piring.
"Bukan begitu Zaid?" Aisyah melempar tanya pada anaknya.
Namun, Zaidan hanya tersenyum dan mengangguk pelan.
Wajah Aisyah terlihat kecewa mendapat balasan dari Zaidan.
Fernando yang juga ikut makan malam, duduk di salah satu kursi juga ikut diam. Matanya sesekali melirik ke arah Zaidan.
'Sudah setengah tahun lebih den Zaidan, kenapa kamu belum juga move on? Kamu bertambah pendiam, dingin. Bicara pun hanya seperlunya. Bahkan senyum bahagia nyaris tidak terlihat di wajahmu lagi,' batin Fernando berucap.
'Begitu besarkah cinta den Zaidan dengan non Delmira? Apa reaksi aden kalau tahu kejadian sebenarnya yang menimpa non Delmira?' lanjut batin Fernando.
"Oya Zaid, tahu tidak, Ummi itu bertemu dengan Khanza sewaktu kita ambil barang yang sama di sebuah supermarket," ujar Aisyah dengan antusias.
Lagi, Zaidan hanya membalas dengan senyum kecil.
"Ya sudah, akhirnya Ummi ajak sekalian makan malam dan Ummi pinta kamu untuk gabung makan malam," sambung Aisyah. Matanya menelisik reaksi anaknya.
"Bagaimana kabar kamu Mas?" tanya Khanza.
"Alhamdulillah baik," jawab Zaidan.
Khanza melempar senyum, "dealernya ramai?"
"Alhamdulillah," sahut Zaidan.
Aisyah mengempaskan napasnya, 'Tidak ada jawaban lain apa Zaid?' batin Aisyah merasa greget.
"Khanza melihat Zaidan sudah memakan habis makanannya begitu juga yang lainnya.
"Ummi, sudah makin malam ini, aku pulang dulu ya," izin Khanza.
"Oh... ya sudah biar di antar Zaidan," sahut Aisyah menyubit lengan Zaidan agar sigap menawarkan tumpangan.
"Terima kasih Ummi, aku bawa mobil."
"Oh... kamu sudah bisa naik mobil?"
"Ya, Alhamdulillah sudah Ummi. Assalamualaikum..., Khanza jalan dulu."
"Waalaikum salam," jawab serentak.
"Eh, Zaidan, antar Khanza ke parkir mobil, bawakan barang belanjanya," titah Aisyah, "belanjaan Ummi biar Fernando yang bantu," sambungnya.
Zaidan tanpa menjawab titah Aisyah, langsung mengambil barang belanja milik Khanza dan jalan mengekornya.
Deg.
Ritme jantung Zaidan berdetak tidak normal melihat Khanza membuka pintu mobil yang sangat tidak asing bagi Zaidan.
"Biar aku yang memasukkan." Khanza mengambil barang belanjaannya.
Netra Khanza menatap ke arah Zaidan yang terbengong melihat mobil miliknya.
__ADS_1
"Apa mobil ini mengingatkan Mas pada seseorang?"
malam menyapa 🤗 yuk ah...kasih dukungan kak Mel, karena dukungan kalian sangat berarti 🙏🥰😘😍