Dinikahi Berondong Saleh

Dinikahi Berondong Saleh
Bab 33


__ADS_3

"Kenapa telat jemput?" kesal Delmira dengan menyodorkan kopi pada Zaidan.


Tangan Zaidan menerima kopi cup yang disodorkan Delmira tapi matanya tak berpindah dari lelaki yang ada di samping Delmira.


"Dia dokter Riki, dokter spesialis anak," ucap Delmira memperkenalkan pada Zaidan, karena paham akan tatapan Zaidan yang sedari awal menatap ke arah samping dirinya.


"Senang berkenalan dengan anda. Saya Zaidan suami Delmira," ucap Zaidan menyodorkan tangan.


"Senang juga bisa kenal anda, suami Delmira," sahut dr. Riki membalas uluran tangan dan menekan dua kata akhir.


"Maaf, saya permisi dulu," pamit dr. Riki.


"Thanks ya traktirannya," seru Delmira mengiringi kepergian dr. Riki.


Sebagai balasan, dokter Riki melambaikan tangan tapi tanpa menolehkan tubuhnya.


"Sepertinya kamu terlalu semangat mengiri kepergian dia," ujar Zaidan.


"Ada yang terbakar cemburu," ledek Aisyah.


"Mungkin saja," lirih Zaidan membuat Aisyah tersenyum kecil berbeda dengan Delmira yang terlihat bingung dengan interaksi Zaidan dan mertuanya.


"Ummi pulang malam, ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Kalian baik-baik di rumah ya," pesan Aisyah. "Assalamualaikum," pamitnya lalu berjalan menjauh dari Delmira dan Zaidan.


"Waalaikum salam," lirih Zaidan.


"Masih betah di sini?" sungut Zaidan berjalan ke tempat dimana mobilnya di parkir.


"Tidaklah," sahut Delmira dengan lirih mengekor langkah Zaidan.


Delmira melirik ke arah Zaidan yang hanya diam setelah masuk ke dalam mobil hingga melewati setengah lebih perjalanan.


"Kopinya enak, kenapa tidak diminum?"


"Kalau enak sekalian kamu minum," jawab Zaidan.


"Beneran? Asik nih aku minum lagi," seru Delmira tanpa merasa bersalah atau memang sinyal Delmira yang kurang kuat hingga tidak paham kalau ada nyala api cemburu.


Namun wajar bagi Delmira, setelah pernyataan Zaidan yang akan membuat Delmira jatuh cinta terlebih dahulu sebelum Zaidan yang akan dicampakkan, semua kebaikan dan perhatian Zaidan pada dirinya dianggap Delmira hanya kamuflase untuk menjerat Delmira dalam kubangan cinta. Delmira benar-benar tidak tahu, kalau Zaidan benar-benar telah jatuh cinta padanya .


Searah dengan pikiran Delmira, Zaidan juga dengan sengaja menutupi rasa cintanya agar Delmira tidak langsung meninggalkan dirinya. Bukankah Delmira pernah berkata jujur akan meninggalkan Zaidan setelah lelaki itu cinta padanya, sebagai bentuk balas dendam pada kecelakaan yang menimpa keluarganya.


Zaidan menelan salivanya susah, 'Dia! Dia! Issst! Dasar tidak peka!' gerutu batin Zaidan, merasa kesal dengan sikap Delmira.


Namun, tiba-tiba seutas senyum tercetak di wajah Zaidan, 'Bukankah ini yang aku mau, Delmira tidak tahu kalau aku cinta dengannya.


"Jangan kebanyakan minum kopi, tidak bagus di mata," ucap Zaidan pada akhirnya.


"Mana ada kopi tidak bagus untuk mata? Walaupun dulunya sewaktu di bangku putih abu-abu aku bukan anak IPA tapi ya aku tahu itu tidak ada secara teorinya," jawab Delmira panjang lebar.


"Kopinya masih ada?"


"Ada," jawab Delmira, mengarahkan cup kopi ke Zaidan.

__ADS_1


"Coba taruh di mata!" titah Zaidan.


Delmira baru paham apa yang dibicarakan Zaidan setelah dijabarkan secara gamblang.


Barisan gigi Delmira terlihat dengan candaan Zaidan.


"Ternyata kamu bisa ngelucu juga," ujar Delmira dan refleks menabok paha Zaidan.


Plek.


"Eh... Zaidan...," teriak Delmira memegang pegangan yang ada di atas pintu dengan erat.


Ciiiit.


Satu tabokan membuat setir oleng, Alhasil Zaidan menginjak rem secara mendadak. Tabokan Delmira tidaklah terlalu kuat. Namun, tabokan itu juga mengandung tegangan listrik yang menjalar ke seluruh tubuh Zaidan, hingga gugup menerpa. Bagaimana tidak tegang, Delmira menabok di salah satu bagian sensitif bagi Zaidan.


Delmira menutup matanya, Zaidan mengempaskan napas panjang, matanya menatap tajam ke arah Delmira.


"Kamu tidak apa-apa Miss?" khawatir Zaidan.


Delima mengangguk masih dengan mata terpejam.


Tet tet teeeeeeeet.


Bunyi klakson saling bersahutan karena Zaidan menghentikan mobilnya di salah satu lajur jalan sehingga akses jalan terganggu.


Beruntung sewaktu Zaidan rem mendadak tidak ada kendaraan di belakang mobilnya.


Kakinya turun dari mobil lalu beralih tempat, membuka pintu mobil untuk Delmira.


Delmira masih menutup mata dengan rapat, ada raut ketakutan. Tangan Zaidan membuka seat belt yang masih menempel di tubuh Delmira, setelah lepas segera membopong tubuh Delmira masuk ke dalam kamar atas.


"Minumlah," tawar Zaidan menyodorkan segelas air putih.


"Kita tidak matikan?" seloroh Delmira membuat kecemasan yang terlihat di wajah Zaidan sontak luntur.


Satu senyum mengembang dari wajah Zaidan.


"Kita sudah di surga," jawab Zaidan, masih dengan senyum mengembang.


Mata Delmira perlahan dibuka.


"Benar kita sudah di surga, ada bidadara surga di sini," lirih Delmira sewaktu matanya terbuka penuh yang terpampang di depannya adalah wajah tampan Zaidan dengan senyum yang menawan.


Zaidan semakin mengembangkan senyum manakala wanita yang dia cintai tanpa kedip menatap dirinya. Tangan Zaidan menggerakkan gelas di depan mata Delmira, "Minumlah," titah Zaidan.


Delmira mengambil minum itu, meneguknya hingga tandas. Seketika Delmira merasa tersadar penuh.


"Kenapa jongkok di depanku?!" protes Delmira mendorong dada Zaidan dan Delmira segera bangkit.


Bukan marah malah Zaidan tersenyum semakin lebar.


"Alhamdulillah, kamu sudah sadar penuh," ujar Zaidan bangkit dari jongkoknya.

__ADS_1


"Tadi yang di depan kamu bukan bidadara surga ya," ledek Zaidan masih dengan senyum menawan, lalu kakinya melangkahkan ke toilet dalam kamar, bebersih diri untuk salat Maghrib.


"Bodoh sekali aku!" umpat Delmira, dengan lugunya mengira dirinya benar-benar sudah ada di surga dan lelaki menawan, tampan, dan rupawan yang ternyata Zaidan dikira penghuni surga.


Zaidan keluar dari toilet kamar. Perut yang terlihat seperti roti sobek, lengan berisi otot besar, dan dada bidang,sungguh membuat wanita normal semacam Delmira menelan salivanya dengan susah.


"Maaf tadi terburu-buru masuk kamar mandi sampai lupa tidak membawa baju ganti," ujar Zaidan sebelum mendapat protes dari Delmira karena mempertontonkan separuh tubuhnya.


"Hmmmm," sahut Delmira. Beringsut menuju lemari pakaian, mencari baju ganti dan gegas menuju kamar mandi.


Zaidan menggelar sajadah, menunaikan rakaat demi rakaat untuk memenuhi panggilan illahi Robbi, setelah ditutup salam kemudian mengambil mushaf Alquran. Membacanya ayat demi ayat.


Delmira tertegun ketika keluar dari kamar mandi. Kakinya berhenti di ambang pintu, menatap sembarang tapi telinganya mendengar dengan seksama ayat suci Alquran yang sedang dilantunkan oleh Zaidan.


"Kamu begitu taat Zaid. Itukah definisi orang saleh?' batin Delmira.


'Benarkah surga itu ada? Kamu sedang meraih jalan untuk masuk ke sana?' lanjut batin Delmira.


...****************...


"Dia mempunyai dua saudara perempuan. Ibunya sudah tiada, ayahnya sepertinya juga sudah tiada karena dia hanya tinggal sendiri di salah satu perumahan yang ada di wilayah XX" lapor Fernando.


"Rumah yang dia tempati tidak terlalu mewah tapi rumah itu atas nama Meilin," lanjut Fernando.


"Apa orang tuanya kaya?" lontar Zaidan.


"Sepertinya begitu."


"Aku tidak butuh kata sepertinya tapi butuh kepastian. Sudah 5 hari kamu menyelidiki kasus ini tapi hasilnya mengapa hanya ini?" keluh Zaidan.


"Dia sangat tertutup."


"Lalu kenapa kamu tidak bilang dari awal? Seharusnya kamu katakan dari awal nanti tidak hanya orang kamu yang bekerja, kita tambah personel untuk penyelidikan!" nada suara Zaidan meninggi.


"Maaf Den," ucap Fernando tertunduk.


Zaidan mengempaskan napas dengan kasar, mengusap wajahnya berkali-kali dengan telapak tangan, segera dirinya duduk agar lebih menguasai diri dari emosi dan beberapa kali kalimat istighfar dia gumamkan.


"Kita perlu menyelidiki sumber keuangan dia terlebih dahulu, apakah ada kaitan dengan bangkrutnya perusahaan Raffat atau tidak," lanjut Zaidan nada suaranya sudah mulai tenang.


"Baik Den," jawab Fernando.


"Dalam dua hari informasi itu sudah kamu laporkan. Benar atau tidaknya almarhum Raffat selingkuh pokoknya harus kita bongkar semua."


Deg.


Kaki seseorang yang berada tepat di ambang pintu masuk ruang kerja Zaidan berhenti seketika mendengar percakapan mereka. Dengan wajah penuh amarah, pintu yang sudah setengah buka didorong dengan keras.


Brak!!!


Zaidan dan Fernando menatap terkejut melihat kedatangan orang yang ada di ambang pintu.


pagi menyapa πŸ€— jangan lupa like komen hadiah vote rate πŸ™ lope lope buat kalian yang masih dukung novel ini😍πŸ₯°πŸ˜˜

__ADS_1


__ADS_2