Dinikahi Berondong Saleh

Dinikahi Berondong Saleh
Bab 31


__ADS_3

Zaidan meletakkan tubuh Delmira, kakinya kini turun dari ranjang menuju toilet kamar untuk buang air kecil.


Begitu selesai keluar dari toilet kamar, Zaidan kembali ke ranjang. Matanya memindai tubuh yang meringkuk dengan nyenyak. Ada senyum di wajah Zaidan ketika matanya jatuh menatap mulut Delmira yang menganga. "Tidur mengangapun kenapa masih terlihat cantik?" gumam Zaidan, mengecup kepala Delmira. Kemudian kepala Delmira disandarkan pada lengan kokohnya.


"Mas Raffat," lantur Delmira.


Sontak lanturan Delmira membuat sesak dada Zaidan. Baru saja dia menyadari akan cintanya pada sang istri tapi sekarang harus menelan pil pahit kenyataan kalau sang istri masih menyebut nama almarhum suami dalam tidur.


"Begitu besar cinta kamu dengan dia Mrs. Delmira?" lirih Zaidan, elu hatinya semakin terasa nyeri.


Lengan yang sudah menjadi penyangga kepala Delmira, kini Zaidan lepas pelan. Bukan karena kecewa mendapat kenyataan Delmira masih cinta dengan sang suami, melainkan Zaidan lebih menghormati perasaan Delmira. Bagaimana perasaan Delmira kalau bangun dalam keadaan tubuh didekap lelaki yang tidak dia cintai? Itu yang tidak ingin Zaidan lakukan.


Zaidan merebahkan tubuhnya dengan posisi wajahnya menghadap wajah Delmira. Tanpa terlewatkan dirinya memindai setiap jengkal yang terpatri di muka wanitanya.


"Aku harus lebih sabar," gumam Zaidan dan sebuah senyum mengembang dari dua sudut bibir.


Tangannya meraba tangan milik Delmira lalu menggenggam dengan kuat. Namun, gumaman sabar ternyata tidak dapat mengalahkan kata hati yang ingin mengecup tangan itu. Bahkan setelah puas mengecup tangan kini berpindah ke dahi.


cup.


Satu kecupan lama mendarat di dahi Delmira. Lantas wajah Zaidan tidak langsung dia tarik, dia menggesekkan ujung hidung miliknya dengan ujung hidung Delmira dan berbisik kata, "I love_"


Belum sempat Zaidan melanjutkan ucapannya mata Delmira terbuka lebar.


"Zaid!" teriak Delmira sontak mendorong tubuh Zaidan hingga Zaidan nyeringis menahan sakit memegang dadanya.


"E... ma maaf Zaid," panik Delmira dengan muka penuh penyesalan, tangannya langsung mengelus-elus dada Zaidan.


"Aku minta maaf, aku tadi mendorong kamu karena_" Delmira menghentikan ucapannya, otaknya berpikir sejenak, dan kata hatinya sentak berpikir meralat maaf yang sudah terucap dengan menimpa kesalahan pada Zaidan yang berani menggesek hidung ke hidung miliknya.


"Tidak! Kamu yang seharusnya minta maaf! Salah siapa tadi main-main dengan hidungku!" sewot Delmira mengikuti kata hati.


Zaidan tersenyum, melihat kekonyolan wanitanya, "aku minta maaf," ucap Zaidan masih dengan senyum mengembang, lalu tanpa mendengar jawaban Delmira, tubuhnya dibaringkan kembali dengan posisi membelakangi wanitanya.


"Minta maaf yang tulus! Dengan perasaan berdosa! Jangan malah senyam-senyum begitu!" kesal Delmira, napasnya naik turun menahan amarah.


Zaidan tetap diam, matanya sudah dia pejamkan tapi telinganya jelas mendengar ucapan Delmira yang penuh amarah.


"Pakai acara pura-pura tidur!" sambung Delmira. Dirinya juga merebahkan diri ke tempat tidur.


Pagi hari menyapa.


"Loh, kamu kok pakai baju kantor?"


"Aku sudah sehat Ummi, jadi harus ke kantor."


"Tidak! Kamu tetap di rumah karena Delmira juga ummi kasih cuti kerja."


"Apa maksud Ummi?" tanya Delmira heran mendengar samar apa yang diucapkan mertuanya.


"Kamu hari ini tidak usah ke kantor Nak Del. Ibu sudah kasih kamu cuti kerja. Kamu harus temani Zaidan. Dia masih kurang sehat," ucap Aisyah melihat Delmira datang ke meja makan.


"Tapi aku_"

__ADS_1


"Sudah jangan tapi-tapian. Rumah sakit itu milik Ummi, apapun boleh Ummi lakukan termasuk membantu sang menantu agar bisa menjaga suaminya yang sedang sakit," cekat Aisyah.


"Ummi, aku sudah sembuh," tolak Zaidan kembali.


"Tidak ada penolakan dari kalian berdua. Keputusan Ummi tidak dapat diganggu gugat! Ummi mau ke kantor segera, Assalamualaikum," pamit Aisyah.


"Waalaikum salam," jawab keduanya dengan lirih.


Zaidan mengangkat pantatnya akan mengantar Aisyah ke tempat parkir. Namun dengan cepat umminya menolak.


"Tidak usah diantar. Habiskan makanannya dan temani istri kamu sarapan," ucap Aisyah "Kalau kamu sakit, bagaimana bisa cepet kasih Ummi cucu," lanjut Aisyah yang sontak membuat Delmira tersedak air minum yang masih di mulut.


Aisyah tersenyum melihat Delmira tersedak artinya ada sinyal yang Delmira terima, dia tetap melangkah pergi.


'Semoga apa yang Ummi inginkan cepat terkabul,' batin Aisyah menoleh ke tempat makan, tentunya memastikan anak dan menantunya yang akan ditinggal berduan. Senyum melebar tercetak di wajah Aisyah manakala melihat pemandangan Zaidan yang membersihkan mulut Delmira.


"Hati-hati, jangan pikirkan lanturan Ummi," ucap Zaidan, kembali duduk dan meneruskan makannya.


'Lama-lama aku gila karena ini!' kesal batin Delmira.


"Makanlah," pinta Zaidan sambil mengisi piring milik Delmira, "segini cukup?" tanya Zaidan mengambil porsi seperti yang biasa Delmira makan ketika sarapan.


"Cukup!" ketus Delmira.


Matanya menatap kesal ke arah Zaidan, "Kamu kira aku akan luluh dengan akting kamu? Hah! Sangat terbaca kalau kamu sengaja perhatian denganku agar aku jatuh cinta dengan kamu!" oceh Delmira.


Zaidan tersenyum mendengar ucapan wanitanya, dia lebih suka dengan prasangka Delmira. Itu artinya, kedepannya kalau dia menunjukkan rasa cintanya takkan menjadi masalah karena dia ingat betul kalimat yang pernah Delmira katakan.


Aku menikah dengan kamu karena balas dendam dan aku akan meninggalkan kamu ketika kamu sudah jatuh cinta padaku.


"Terima kasih tadi malam merawatku," sahut Zaidan tanpa menanggapi protes Delmira.


Delmira mendengus kesal merasa ucapannya diabaikan.


"Itu tidak gratis! Ada timbal baliknya!" ucap Delmira, kepalanya terbesit ide konyol untuk mengerjai Zaidan.


"Timbal balik?"


Delmira mengangguk penuh semangat. "Nanti aku bicarakan apa timbal baliknya," ucap Delmira mengerlingkan dua alis.


Langit sore terlihat semakin syahdu ketika cahaya senja menyinari kota sejuta kesibukan. Delmira duduk di samping jendela melihat galeri ponselnya, senyum mengembang di wajah cantiknya.


"Dia lucu sekali," gumam Delmira menahan tawa.


Beberapa foto dan video kegiatan pagi hingga sore Zaidan dengan mengenakan daster milik Delmira. Maksud timbal balik yang Delmira ucapkan adalah mengabulkan semua permintaan Delmira, termasuk permintaan konyol memakai daster dan kepala dikuncir.


Selain itu, Delmira juga tidak menyia-nyiakan untuk berbelanja begitu banyak barang on line yang sifatnya hanya menguji seberapa sabar Zaidan menghadapinya.


"Kamu terlihat bahagia sekali," seloroh Zaidan setelah keluar kamar mandi dan baju koko dengan bawahan sarung sudah melekat di tubuhnya pasalnya daster yang dia kenakan diberlakukan Delmira hingga sore saja.


"Ya lah, coba lihat foto kamu dan video kamu yang cantik jelita bak princess dari timur tengah," ledek Delmira memperlihatkan beberapa slide foto Zaidan.


"Kalau kamu sebahagia itu, jangan pernah hapus foto itu."

__ADS_1


"Tentulah tidak akan pernah aku hapus. Foto ini akan aku gunakan untuk memanfaatkan kamu," sahut Delmira diiringi tawa.


Zaidan menatap lekat wajah wanitanya yang terlihat semakin cantik ketika tertawa. Ada perasaan haru ketika Delmira mengatakan tidak akan pernah hapus foto dirinya. Namun, hatinya tiba-tiba sedih. Terlintas perpisahan dengan Delmira.


'Aku harap tidak hanya foto yang tidak akan pernah kamu hapus Del, tapi orang yang ada dalam foto itu juga tidak akan kamu hapus dalam memori kamu,' batin Zaidan dan matanya tetap menatap tanpa kedip Delmira.


"Hei, berkediplah, kasihan mata kamu nanti lepas," ledek Delmira dan dengan kaki jinjit meraup muka Zaidan.


"Aku sudah wudu Mrs. Delmira," keluh Zaidan karena wudunya batal akibat sentuhan Delmira.


"Air masih banyak, wudu lagi gih," sahut Delmira diiringi senyum kemenangan.


...****************...


Satu minggu berlalu.


Fernando masih duduk di ruang kerja butik milik orang tua Yasmin.


Yasmin masuk ke dalam ruangan membawa dua cup berisi kopi.


"Apa kamu tidak jemu tiap hari datang ke sini?" sindir Yasmin pada Fernando karena 7 hari berturut-turut menanyakan kehidupan pribadi Delmira bahkan masalah rumah tangga Delmira dengan almarhum suaminya.


"Aku belum mendapatkan informasi yang aku mau jadi aku tetap tak ke sini sampai informasi itu aku dapat. Lagian apa salahnya aku datang? Tiap hari aku kan beli koleksi butik ini,"


"Mau informasi apalagi?" jengah Yasmin.


"Aku dan Delmira memang sahabat tapi tidak semua masalah keluarga kami ceritakan," ujar Yasmin.


"Kalau kamu tidak mau beri informasi apapun lebih baik aku tanya teman satunya non Delmira, siapa itu yang seksi dan cantik,"


"Meilin maksud kamu?"


"Betul."


"Jangan tanya dengan dia," sahut Yasmin dengan mimik berbeda.


"Kenapa?"


"Pokoknya jangan!"


"Sebutkan satu alasan."


"Aku sebenarnya juga sanksi untuk mengatakan ini, takutnya aku salah sangka, karena ini juga ad kaitannya dengan almarhum suami Delmira."


Fernando diam mendengar dengan seksama.


"Apa dia berselingkuh dengan almarhum suami non Delmira?" tembak Fernando.


Yasmin menggeleng pelan.


"Lalu?"


Yasmin terlihat ragu untuk mengatakan sesuatu yang dia pendam selama berbulan-bulan bahkan dengan Delmira pun dia tidak pernah mengatakan ini.

__ADS_1


"Aku pernah melihat Raffat dan Meilin ada di salah satu mall," ucap Yasmin dadanya terasa sedikit plong membagi beban yang selama ini dia pendam.


siang menyapa 🤗 jangan lupa like komen hadiah vote rate 🙏


__ADS_2