
"Brengsek! Aku memang tidak sekuat kamu yang punya kekuasaan dan uang! Tapi ingat! Sekuat-kuatnya kamu, kamu juga punya kelemahan! Dan itu celah aku melawanmu!" geram Meilin, beberapa perusahaan tempat dia melamar kerja setelah menerima dia lalu atasannya buat keputusan tiba-tiba, memecatnya dengan alasan yang tidak rasional.
"Kalau bukan perbuatan kamu, siapa lagi yang mampu melakukan ini!" lanjut Meilin melempar kopi cup-nya ke jalan.
Hari terakhir pemecatannya, secara tidak langsung dia mendengar atasannya sedang berbicara melalui sambungan telepon. Dia menyebut beberapa kali nama Verel dalam percakapan. Lalu, dalam hitungan menit, tiba-tiba sang atasan memutus kontrak kerja dengan Meilin.
Tangan Meilin bergerak menyeka air matanya. Sakit hati yang tiada tara membuatnya begitu muak dengan nama seseorang dari puncak semua masalah menurut Meilin. Ya, siapa lagi bukan Delmira.
Pesan yang dikirim oleh mata-matanya dua hari lalu membuat dirinya tersenyum, mengingat itu.
"Hamil besar, dan hidup sederhana tapi dilindungi oleh orang berkuasa," gumam Meilin menatap beberapa foto yang dikirim anak buahnya siang ini.
"Hebat sekali kamu Del!" sambung Meilin mengempaskan napasnya dengan kasar.
"Aku harus bergerak dengan hati-hati, karena tidak mungkin di sekeliling kamu tidak ada orang-orangnya Verel!"
Mata Meilin berpindah tatap pada jam tangan. Sudah pukul 1 siang. Dia harus kembali ke tempat kerjanya. Sudah dua minggu ini dia berkerja di sebuah perusahaan yang terbilang lumayan besar.
Dalam hati Meilin sudah bertekad, harus mempertahankan pekerjaannya. Kebutuhan bulanan cukup tinggi. Uang simpanan sudah menenpis untuk berbagai keperluan. Bahkan dia juga rela menjual mobilnya untuk membiayai mata-mata yang dipakai untuk menyelidiki keberadaan Delmira. Hampir satu bulan berakhir, mereka baru menemukan keberadaan Delmira.
Mendapat jabatan sebagai wakil marketing sungguh membuatnya bekerja keras untuk mempertahankan itu. Apalagi melihat ketua marketing yang sudah hamil tua. Dipastikan dengan rasa percaya diri yang tinggi dan memang otak cerdas dan kreatif yang dimiliki Meilin dimungkinkan dia akan menggantikan sang ketua.
Meilin jalan menuju mobilnya. Mobil barunya hasil dari sisa penjualan mobil lamanya. Walaupun bukan mobil mewah, tapi dia bersyukur masih punya kendaraan yang dipakai untuk bekerja.
"Eh, Mei sudah lama di sini?" sapa Mbak Pipit sang ketua tim marketing, melihat Meilin duduk di kursi kerja.
"Baru saja Mbak," jawab Meilin dengan sopan dan senyum yang dia perlihatkan.
Meilin memang bermuka ular. Dia bisa memasang wajah sendu, wajah memelas, wajah penuh kasih, bahkan menampakkan wajah aslinya, berwajah monster pada lawan bicaranya.
"Oh, aku tadi nyari kamu di kantin kok tidak ada."
"Tadi aku makan di luar dan selesai makan, aku mencari udara segar di taman depan."
"Pantesan, tapi kamu memang butuh refreshing, lihat mata kamu sampai ada lingkaran hitamnya," ucap Pipit dengan melempar sebuah senyum.
Meilin meraba matanya lalu tersenyum, "Yang penting sehat Mbak," selorohnya.
"Itu yang terutama Mei," sahut Pipit.
"Tolong kamu kerjakan materi ini. Minggu depan ada rapat penting dengan salah satu mitra kerja. Aku minta kamu mewakiliku karena minggu depan aku ada acara 7 bulanan."
__ADS_1
"Kenapa aku Mbak?"
"Ya ampun Mei. Pertama, karena kamu wakil tim marketing. Kedua, karena kamu yang Mbak pandang bisa melakukan ini," ujar Pipit.
Meilin tersenyum menang, dia sengaja merendahkan diri agar mendapat pujian lebih dari lawan bicaranya.
"Pak Putra menyetujui hal ini?"
"Aku pastikan iya."
"Oh ya, kamu dipanggil tuh sama beliau, aku sampai lupa."
Deg.
Pikiran Meilin sudah was-was, takutnya seperti sebelum-sebelumnya. Kerja beberapa hari, dipanggil atasan, lalu dipecat.
"Kira-kira ada apa Mbak?"
Pipit mengangkat dua bahunya, "Sudah temui saja," ucapnya kemudian.
Meilin berjalan masuk ke ruang yang bertuliskan Ceo Bintang Jaya, sebuah perusahaan, supplier gawai terbesar di berbagai kota, Jawa, Bali, dan Sumatra.
"Masuk"
"Bapak meminta saya untuk menemui Bapak?" lontar Meilin setelah mendekat ke arah meja kerja sang atasan.
Lelaki paruh baya itu menatap Meilin dari ujung rambut hingga ujung kaki.
Meilin terlihat gusar dengan tatapan telisik atasannya.
"Kamu yang bernama Meilin kan?" lontar Putra karena dirinya memang baru pertama kali melihat Meilin kemarin siang setelah rapat dengan anchor ternama barang elektronik. Begitu juga dengan Meilin, saat itulah untuk pertama kalinya dia bertemu dengan sang atasan.
"Ya Pak," jawab Meilin cepat.
Terlihat putra membuka sebuah berkas, sesekali mengalihkan pandangan ke arah Meilin.
"Status masih single. Umur 30 tahun." Putra mengeja tulisan dalam berkas yang dia pegang.
Meilin mengangguk ramah.
Mata Putra kembali dilayangkan pada tubuh Meilin. Tubuh yang boleh dibilang masuk kategori seksi, sintal, nan ideal. Ditambah dengan penampilan Meilin yang terlihat modis dan serba terbuka atas bawah.
__ADS_1
"Wanita secantik kamu kenapa belum menikah?"
Meilin tersenyum, "Belum menemukan yang pas Pak," jawab Meilin.
"Pas menurut kamu yang bagaimana?"
"Simpel saja Pak. Dia mau ngerti aku," sahut Meilin dengan sopan dan lembut. Walaupun dalam hatinya mengumpat lelaki yang ada di depannya.
Mata hati Meilin sudah dapat menebak bagaimana karakter bos nya itu. Apalagi desas-desus yang terdengar dari beberapa pegawai kalau bosnya mata keranjang, doyan bawa wanita ke tempat kerja ataupun hotel. Kini Meilin dapat membuktikan dengan hanya melihat gerak-gerik tubuh dan tatapan mata sang atasan.
"Sebelum jam istirahat, aku mendapat telepon dari seorang pengusaha muda yang sukses," ucapnya, matanya masih lekat menatap Meilin dengan intens, menunggu perubahan ekspresi pada wajah bawahannya itu.
"Kamu tidak penasaran dengan si penelpon?" lontarnya kemudian karena Meilin hanya diam tanpa menyahuti ucapan Putra.
"Siapapun dia, apa mungkin penting untuk saya?" lontar Meilin menyahuti tanya Putra.
Lelaki itu tertawa kekeh mendengar lontaran dari Meilin.
"Dari cara kamu bicara, sudah jelas terbaca, kamu wanita yang kuat."
Meilin tersenyum kecil, mendengar pujian atau entah ejekan dari Putra.
"Kamu sangat menarik," ucapnya, bangkit dari duduk dan mendekat ke Meilin.
Sejenak lelaki itu menghirup aroma rambut Meilin.
"Wangi sekali, aku suka," lirihnya di telinga Meilin.
Meilin mulai merasakan hawa tidak normal dari tindakan seorang atasan.
"Kamu tahu pengusaha itu minta apa?" ucapannya masih dengan suara lirih dekat telinga Meilin.
"Dia meminta anda memecat saya?" cekat Meilin
Putra langsung terkekeh sambil bertepuk tangan.
"CK ck ck, aku tidak tahu, betapa istimewanya kamu sampai orang sesukses dia meneleponku secara langsung hanya untuk menanyakan kamu," sindirnya.
"Apa aku boleh tahu, masalah apa yang kamu perbuat padanya?" sambung Putra.
"Apakah pertanyaan anda berhubungan dengan pekerjaan?" balas Meilin dengan tatapan sengit karena ujung dari perdebatannya hanya akan berakhir sama. Ya, dua kata yang meilin dengar, kamu dipecat. Begitu yang beberapa kali didapat Meilin.
__ADS_1
"Nanti malam datanglah ke hotel XX, aku akan beri keputusan untuk kamu," ucap lelaki itu menaruh card lock salah satu kamar hotel.
malam menyapa π€ adakah yang kangen dengan Meilin?ππ€Έπ