
Delmira dan Zaidan berjalan menuju pelaminan. Mereka melakukan sesi Poto dengan keluarga tamu, undangan, dan teman, dan rekan kerja.
Setelah lama mereka berdiri di atas pelaminan, Delmira dan Zaidan lebih memilih turun membaur dengan tamu yang sedang menikmati hidangan yang tersedia di pesta pernikahan.
"Kamu tidak ambil makan siang Sayang?" bisik Zaidan pada Delmira.
Delmira sempat tersentak mendengar sapaan yang terlontar dari mulut Zaidan. Sapaan sayang yang sekian lama tidak dia dengar.
"Apa?" retoris Delmira pura-pura tidak mendengar apa yang dibisikkan Zaidan.
"Tidak ambil makan siang Sayang?" ulang Zaidan dan sontak berhasil membuat deretan gigi Delmira terlihat.
"Subhanallah, kenapa kelewatan cantiknya kalau tersenyum seperti ini," puji Zaidan dengan suara samar.
Namun, Delmira dapat mendengar dengan jelas apa yang diucapkan Zaidan.
"Kalian akan perlihatkan kemesraan kalian seperti ini terus?" ledek Yasmin."
Delmira dan Zaidan senyum bersamaan.
"Pakai janjian senyum lagi!" sambung Yasmin masih dengan gerutunya.
"Jangan iri! Makanya nikah gih!" canda Delmira.
"Ya, ya, aku bakal nikah deh," sahut Yasmin, yang entah kenapa melihat Delmira menikah kembali, dalam lubuk hatinya terdalam ingin juga menikah.
"Tuh, Fernando siap loh kapanpun kamu minta untuk dinikahi," sela Zaidan.
"Baru beberapa jam jadi istrinya Delmira, sudah kena virus julidnya Delmira."
"Ayo makan," ajak Delmira mengurai pembicaraan sebelumnya.
Delmira gegas mengambil beberapa lauk makan. Dia memilih memakan nasi karena sedari pagi dia hanya memakan beberapa suap saja. Entah kenapa perutnya sudah terasa penuh. Pasti karena hinggapnya rasa nervous sebelum pernikahan berlangsung.
Dia menyendokkan sayur acar ke piring Zaidan, "Sayurnya yang banyak Sayang," lirih Delmira.
Zaidan melempar sebuah senyum sebagai balasan.
"Kamu juga dibanyakin porsi makannya Sayang," balas Zaidan meletakkan tumis bunga kol di atas nasi Delmira.
"Terima kasih," sahut Delmira dengan sebuah senyum manis.
Zaidan menelan salivanya dengan susah ketika Delmira melempar sebuah senyum yang menurut Zaidan senyum termanis yang selama ini tidak dia lihat.
"Jangan menatapku seperti itu, di belakang kamu sudah banyak yang ngantri," sindir Delmira melihat sang suami terdiam mematung tanpa kedip menatap dirinya.
"Oh, maaf," ucap Zaidan menoleh ke arah belakangnya.
"Aku maklumi karena den Zaidan sedang jatuh cinta cinta cintanya," sahut Fernando.
Mereka pun menikmati makan siang di salah satu meja. Marsya dan Silvia juga ikut bergabung.
"Maaf ya Del, suami aku tidak bisa ikut. Dia masih di luar kota," ucap Silvia.
"Ya, tidak apa-apa, yang penting dia dari kalian," sahut Delmira.
Delmira menatap satu persatu sahabat-sahabatnya. Sungguh dari lubuk hati terdalam menyayangkan sikap Meilin selama ini, sehingga Delmira tidak mengundang hadir dalam pernikahannya.
Bukan karena rasa dendam yang menguasai dirinya. Melainkan, Delmira sudah sangat muak dengan sikap Meilin. Dirinya sudah memaafkan segala kesalahan Meilin. Dia tidak ingin terlibat hal apapun lagi dengan Meilin. Dan mungkin, itulah yang terbaik untuk jaga hatinya agar tidak terlalu dipenuhi amarah. Delmira sengaja membatasi pergaulan dengan sosok Meilin.
"Mengapa Del?" lontar Silvia yang tahu tatapan Delmira tiba-tiba memancarkan rona yang berbeda.
Delmira tersenyum dan menggelengkan kepala sebagai jawaban.
"Aku ambil es dulu," pamit Delmira.
"Biar aku ambilkan," tawar Zaidan yang langsung berdiri.
"Aku bisa ambil sendiri," balas Delmira.
"Kita ambil bareng Sayang," saran Zaidan meraih tangan Delmira.
Delmira hanya pasrah. Hatinya merasa berbunga-bunga mendapat perlakuan manis dari Zaidan.
"Ehem,"
"Safira," sapa Delmira.
Mata Safira menatap tangan Delmira yang masih dipegang Zaidan.
Delmira yang merasa tatapan tajam itu terarah pada tangannya langsung saja melepas genggaman Zaidan.
"Nasib jomlo gini amat," keluh Safira lalu melongos dari hadapan Zaidan dan Delmira.
"Jomblonya ngebet pengen nikah lagi," sahut Delmira sebelum Safira benar-benar pergi dari hadapannya.
Huft.
Terdengar hempasan napas kasar dari mulut Safira.
__ADS_1
Delmira terkekeh dengan tingkah konyol Safira.
"Oya Mbak, Mbak Del undang om Verel kan?" lontar Safira dengan antusias, memotong langkah Delmira.
"Astaghfirullah haladhim, nih bocah ngageti saja!" geram Delmira.
Safira nyeringis.
"Kasih undangan tidak?" ulang Safira karena Delmira lebih memilih melanjutkan jalannya dari pada menjawab pertanyaan Safira.
"Mbak, apa susahnya jawab ya atau tidak!"
"Ya aku undang!" jawab Delmira lalu mendudukkan pantatnya di kursi yang tadi dia tempati.
"Yes!" seru Safira pergi dari hadapan Delmira.
"Dia sangat akrab dengan Verel?" tanya Zaidan duduk di samping Delmira.
"Bagaimana dia tidak akrab. Selama ini kan Verel selalu ada untuk kita," sahut Delmira secara spontan.
Deg.
"Astaghfirullah haladhim, maaf Sayang," ucap Delmira merasa keceplosan tangannya bergerak cepat memegang tangan Zaidan.
Zaidan melempar sebuah senyum, "Tidak ada yang perlu dimaafkan," balas Zaidan menepuk-nepuk punggung tangan Delmira yang masih memegang tangan kirinya.
Mereka kembali menikmati makan siang.
Mata Safira langsung memutar mencari sosok Raka.
"Dia datang tidak ya?" gumam Safira.
"Mencari siapa?"
"Mau tahu aja!" sahut Safira tanpa menolehkan pandangannya.
"Boleh kenalan?"
Safira terpaksa memutar kepalanya, matanya kini menatap telisik pada lelaki yang menyodorkan tangan di hadapannya.
Sebuah senyum Safira tunjukkan tapi dengan cepat senyum itu dia tarik, "Tidak!" ketus Safira kemudian melangkah pergi.
Lelaki itu berdecih, "Unik juga tuh cewek," gumamnya. Matanya menatap tangan kosong yang ditolak seorang gadis.
"Baru kali ini dalam kamus hidupku, Gio Hilman Andara ditolak seorang cewek. Apalagi cewek semacam dia!" geram Gio giginya gemeretak menahan amarah.
Waktu sudah semakin siang.
Pernikahan Delmira dan Zaidan memang sengaja digelar sedikit lebih pagi dari pada umumnya. Hal itu agar sampai jam 2 siang acara sudah berakhir. Bahkan Delmira menyebutkan secara jelas dalam undangan, waktu pukul 09.00 - 14.00. Dengan tujuan, ada tamu atau tidak ada tamu, jam 2 siang sudah berakhir pesta pernikahan itu.
Delmira sudah berkomitmen, dia tidak ingin hanya karena sayang dengan rias pengantin sampai meninggalkan salat Zuhur. Justru karena hari pernikahannya adalah awal menjalin hidup dengan sang suami, dia ingin mengawali hari itu dengan hal yang baik agar ke depannya lebih baik lagi dan lebih baik lagi.
Tamu undangan satu persatu sudah memulai pulang.
Terlihat Mbok Sa'diyah dan Aisyah sedang menikmati makan siang di meja makan yang sama. Mereka terlibat obrolan yang seru. Sesekali tawa terlihat dari keduanya.
Delmira dan Zaidan juga sibuk berfoto juga sekaligus menyalami tamu yang sudah mulai mengurai.
"Hai."
Delmira dan Zaidan menghentikan kegiatan fotonya saat mendengar sapa dari seseorang yang sangat akrab bagi Delmira.
Delmira tersenyum membalas sapa Verel.
"Selamat," ucap Verel pada Zaidan.
"Terima kasih Tuan Verel," jawab Zaidan membalas sodoran tangan.
"Selamat Del," ucap Verel menangkupkan dua tangannya sendiri.
"Terima kasih Rel," balas Delmira.
"Assalamualaikum Pak Verel, ya Allah... kita jumpa di sini," sapa Andra yang sudah beberapa menit yang lalu datang ke pesta pernikahan itu.
"Tuan Andra," sebut Verel.
"Apa sebaiknya sambil nikmati hidangan maka siang dulu," tawar sekaligus ajakan agar Zaidan menuju ke stand yang berjejer di sana.
Andra dan Verel mengiyakan ajakan Zaidan.
Setelah mengambil makan mereka mengobrol di satu meja makan.
Delmira lebih memilih bergabung dengan sahabat-sahabatnya.
"Verel datang Del?" lontar Yasmin begitu Delmira duduk.
Delmira mengangguk.
"Suamimu tidak menyoalkan dia datang?" sambung Yasmin.
__ADS_1
"Dia menyetujui sewaktu aku bilang akan mengundang Verel, dia juga sebenarnya akan mengundang Verel," terang Delmira.
Sementara itu, Safira masih berdiri mematung menatap lelaki yang sejak awal dia cari.
Safira lebih memilih duduk dipojokkan menikmati es krim dan tentunya menikmati wajah lelaki yang dia rindukan.
"Dia sama sekali tidak ada rasa telepati! Setidaknya melirik ke arah sini kek!" gumam Safira berbicara seorang diri. Sampai-sampai penjaga stand makanan merinding melihat sikap konyol Safira.
Tangan kananku terus bergerak memasukkan es krim itu ke dalam mulut dan mata Safira masih saja tanpa alih tatap mengarah pada sosok Raka.
Tanpa terasa es krim itu akhirnya sudah habis melumer dalam mulut Safira.
Kakinya sekarang beranjak pergi mencari camilan yang bisa dia nikmati.
Siomay Bandung menjadi pilihan Safira. Dia kembali duduk di kursi yang tadi sempat dia duduki.
"Boleh gabung di sini?"
"Tidak!" ketus Safira tanpa menatap orang yang mengajaknya bicara. Namun, orang itu tetap saja duduk di samping Safira.
"Dimana om ganteng? Dia kok tidak ada?" gumam Safira menatap ke kursi yang tadi ditempati Raka.
Huft.
Safira mengempaskan napasnya kasar, pantatnya dia angkat, niatan mau pergi dari tempat duduknya sekarang. Namun, ketika mata Safira menatap pada lelaki yang tadi meminta izin duduk di sebelahnya, dia terkejut bukan kepalang. Lantas, yang duduk adalah lelaki yang sedang dia cari.
"Om ganteng," lirih Safira menyapa lelaki yang duduk di kursi sampingnya.
"Habiskan siomaynya," tutur Raka.
Safira menurut, niatan pergi, seketika dia urungkan, 'Mau apa pergi, toh yang aku cari ada di samping ku,' batin Safira, mulutnya melebarkan senyum tapi seketika senyum dia tarik. Wajahnya kini dia cemberut kan
"Sombong sekali tidak pernah kasih kabar! Pesan dariku ya cuma centang dua warna biru! Kalau ada niatan tidak mau balas, jangan dibikin centang dua!" gerutu Safira mengeluarkan unek-unek yang selam ini mengganjalnya.
Raka terlihat mengulas sebuah senyum.
"Cuma disenyumi doang! Aku tidak butuh senyum kamu!" protes Safira.
"Siomaynya enak juga," ucap Raka mengurai Omelan Safira yang sedari awal tidak juga berhenti.
"Ambil sendiri! Jangan main ambil punya orang!" greget Safira.
"Apa kamu mencariku hanya untuk mengomeli ku?"
"Ya jelaslah! Aku baru berhenti ngomel kalau wajah Om menampakkan penyesalan!"
Raka melempari senyum kembali.
"Aku menemui Tuan Verel terlebih dulu," pamit Raka bergerak cepat mengekor langkah Verel.
Verel, Andra, dan Zaidan naik ke atas pelaminan.
Mereka berfoto, tentunya sang mempelai perempuan juga diikut dalam sesi foto itu.
"Aku ikut foto!" sela Safira, melangkah cepat atau tepatnya lari agar bisa ikut foto bersama mereka, atau lebih tepat lagi agar bisa foto dengan Raka.
"Ya Allah, itu bocah!" greget Delmira menarik Safira agar foto disampingnya.
"Ingat bukan muhrim!" omel Delmira menasehati Safira yang sudah berdiri di samping Raka.
"Issst buat kenang-kenangan apa tidak boleh Mbak?" kesal Safira.
"Buat apa tiap malam ngaji, ilmu sewaktu ngaji dipakai," balas Delmira.
"Ya ustazah!" sungut Safira yang jiwa mudanya tiba-tiba meronta.
"Hei! Kalian akan tetap bertengkar atau mau foto bersama?" potong Zaidan.
Delmira dan Safira langsung membungkam mulutnya.
Sesi foto-foto itu pun berlanjut dan berakhir dengan sebuah adegan Safira yang ngeyel minta foto berdua dengan Raka.
Namun, Safira tetap mematuhi protokol keamanan dalam berfoto antara wanita dan lelaki yang bukan muhrim.
"Ingat Del, kalau lelaki ini macam-macam dan tidak bisa membahagiakan kamu. Aku dengan paksa akan mengambil kamu!" ucap Verel.
Delmira hanya bisa membalas dengan sebuah senyum.
"Aku pastikan, aku akan berusaha menjadi yang terbaik untuk istriku," jawab Zaidan, "Jadi, aku mohon wahai istriku, apabila aku salah jalan, tolong ingatkan," sambung Zaidan.
Verel tersenyum mendengar jawaban Zaidan.
"Istri kamu, tidak diajak Rel?" lontar Delmira yang sebenarnya juga penasaran dengan wajah istri Verel. Dulu memang pernah bertemu tapi itu dulu sekali.
Verel langsung diam seketika mendengar lontar dari Delmira.
malam menyapa 🤗 like komen hadiah ya.
sudah ngantuk kebangetan, aku sunting besok y🥱😴😴
__ADS_1