
Verel keluar dari pemakaman. Seikat bunga dan seuntai doa dia tinggalkan di makam bernisan kecil.
Setelah menyeka embun yang menggenang dalam pelupuk mata, Verel masuk ke dalam mobil.
"Kita langsung ke Jakarta Tuan?" lontar Raka.
Verel sempat terdiam sebelum akhirnya dia buka suara dan menitahkan Raka agar mampir ke rumah mbok Sa'diyah.
Waktu hampir pukul 8 malam. Tadi siang setelah bertemu dengan kontraktor Andra, Verel langsung tancap gas ke Pekalongan. Butuh sekitar 5 jam-an untuk sampai ke lokasi, sesampai di Pekalongan, mereka singgah di sebuah hotel. Istirahat, mandi, makan malam lalu berkunjung ke makam.
Pemakaman yang posisinya ada di sekitar pemukiman warga, membuat keadaannya tidak terlalu gelap seperti makam pada umumnya di sebuah kota kecil. Apalagi, Verel telah menyumbangkan uang untuk pembangunan, penataan, penerangan, dan pemeliharaan pemakaman tersebut.
Mata Verel menatap ke pintu rumah yang tertutup.
Verel ragu untuk turun dari mobil, dia hanya menatap dari jendela. Raka tidak berani menanyakan pada tuannya. Dia tahu, kalau mood tuannya terkadang naik turun.
Kaki Verel akhirnya turun, mendaki undakan tangga menuju teras rumah mbok Sa'diyah.
"Assalamualaikum," ucap Verel, tangannya bergerak mengetuk pintu.
"Waalaikum salam," jawab suara dari dalam rumah dan terbukalah pintu.
"Eh, Om Verel," cicit Safira tapi matanya seketika tertuju pada sosok lelaki di belakang Verel, "Om ganteng," sapa Safira, menebar senyum semanis mungkin.
"Cari aku Om?" lontar Safira super pede.
Raka hanya tersenyum, dagunya menunjuk ke arah tubuh lelaki di depannya.
Safira nyeringis, dia paham isyarat yang dimaksud Raka, dia datang bukan untuk menemuinya melainkan mengantar Verel.
Safira mengerucutkan bibirnya, "Mbak Del, baru saja masuk kamar. Om Verel duduk dulu, aku panggil Mbak Del," ujar Safira gegas memutar kakinya, masuk memanggil Delmira.
Tidak lama kemudian Delmira keluar.
"Assalamualaikum Rel," sapa Delmira.
Verel mengembangkan senyum. Hatinya berbunga-bunga menatap senyum sapa dari Delmira, "Waalaikum salam," jawab Verel.
Pantat Delmira dia dudukkan di kursi.
"Tumben datang malam hari," ucap Delmira mengawali bicara."
Lagi, Verel membalas dengan sebuah senyum.
Safira datang membawa teh hangat dan cemilan.
"Minum Om," tawar Safira setelah meletakkan minuman dan cemilan.
"Duduk di sini saja Sap," pinta Delmira. Dirinya tidak ingin ada fitnah yang semakin tidak karuan mengenai kedekatan dirinya dengan Verel. Padahal setiap Verel menemuinya, dia tidak pernah hanya berdua, kalau tidak ada Raka pasti ditambah mbok Sa'diyah ataupun Safira.
Safira mengiyakan pinta Delmira dia duduk di kursi kosong. Mereka duduk di teras rumah.
"Bagaimana kabar kamu?" lontar Verel.
"Alhamdulillah, seperti yang kamu lihat," sahut Delmira.
Verel menatap lekat ke arah Delmira.
Delmira merasa risih mendapat tatapan telisik dari Verel, wajahnya dia tundukkan.
"Operasilah, luka bekas kecelakaan kamu sangat jelas terlihat," cicit Verel.
Tangan Delmira bergerak mengelus pipinya yang masih ada bekas luka jahitan.
__ADS_1
"Tapi tidak mengurangi kecantikanku kan," canda Delmira mencoba mengurangi kecanggungan.
Verel tersenyum kembali, matanya belum beralih tatap, 'Di mataku, mau bagaimanapun fisik kamu, tetaplah kamu Delmira yang aku cintai. Cantik dan selalu memesona," sahut Verel yang hanya mampu terlontar dalam batin.
"Ya, tetap cantik," sahut Verel.
"Aku juga cantik kan Om ganteng?" sela Safira.
Raka mengangkat dua bahunya sebagai jawaban.
"Issst! Nggak asik deh Om ganteng!" gerutu Safira.
Delmira terkekeh melihat reaksi Safira.
"Besok aku ke Maurice."
Delmira langsung terdiam mendengar ucapan Verel.
"Berapa lama?" tanggap Delmira.
Verel menggelengkan kepala pelan, "Mungkin... aku lama tidak akan ke sini," ucapnya kemudian.
Delmira mengempaskan napasnya pelan, "Jaga kesehatan, jaga diri baik-baik," pesan Delmira.
Verel hanya membalas dengan sebuah senyum dan anggukkan kecil.
"Jika malam ini adalah pertemuan kita yang terakhir, apa kamu mau mengenangku sebagai sahabat terbaikmu?" lontar Verel.
"Kamu ngomong apa sih Rel, berdoa itu yang baik-baik kenapa? Berdoalah semoga lain waktu kita masih bisa bertemu kembali."
Verel kembali tersenyum sebagai balasan, "Kamu harus bahagia Del, temukan cinta kamu yang sempat hilang."
Delmira menarik senyumnya, ucapan Verel seolah mengisyaratkan agar dia mencari cintanya kembali.
"Aku sudah menikah."
Sontak jawaban Verel membuat Delmira diam seketika karena terlalu terkejut.
Begitu juga dengan Safira dan Raka. Keduanya terkejut, Safira karena memang tidak tahu menahu soal pernikahan Verel sedangkan Raka terkejut karena pengakuan dari tuannya secara tiba-tiba pada Delmira.
Raka mengira, Verel akan menyembunyikan pernikahan terpaksa yang sudah dijalankan oleh tuannya pada Delmira. Namun, kenyataannya, Verel mengakui itu semua.
"Jangan bercanda Rel," sahut Delmira.
"Aku menikah dengan adiknya Meilin," sambung Verel.
Delmira semakin membulatkan matanya.
"Kamu jangan aneh-aneh Rel," ucap Delmira yang tiba-tiba berpikiran yang bukan-bukan atas apa yang dilakukan Verel. Delmira sedikit kenal dengan adik Meilin yang sedang menjalani studi di luar negeri.
"Bukankah dia sedang kuliah di luar negeri? Kapan kamu kenal dia? Bagaimana kamu bisa menikah dengannya?" cecar Delmira.
Verel tersenyum, "Kamu juga harus menikah Del, kalau tidak juga menikah, nanti aku akan paksa kamu untuk menjadi istri kedua," ucap Verel disertai sebuah senyuman dan tanpa menjawab cecaran Delmira.
"Aku serius Rel!" sungut Delmira, "Bagiamana kamu bisa menikahinya?"
'Untuk membalas apa yang sudah Meilin lakukan padamu Del. Dia tega menjebak kamu hingga hamil denganku. Tidak cukup sampai di situ. Setelah kamu hamil, dia tega merencanakan pembunuhan kamu dan juga janin kamu!' batin Verel begitu geram.
"Rel," rengek Delmira melihat Verel diam saja.
"Ada kejadian yang terpaksa membuat kita menikah," sahut Verel dengan senyum kecut.
"Kamu tidak berbuat aneh-aneh kan Rel?" lontar Delmira, rasa penasaran dan khawatir bercampur jadi satu.
__ADS_1
Verel kembali melebarkan senyum, "Kalaupun aku berbuat aneh tapi aku menikahinya kan?"
"Astaghfirullah haladhim Rel, aku serius Rel," keluh Delmira.
"Aku juga serius Del."
Delmira membulatkan mata, "Jadi_"
"Maksud kamu berbuat aneh misal apa?" cekat Verel dengan nada serius.
"Ya... ya... misal, kamu... kamu_" gagu Delmira.
"Aku menidurinya?" kembali Verel memotong ucapan Delmira.
Delmira mengangguk pelan atas apa yang Verel lontarkan.
Verel terkekeh, "Sudah semakin malam, kamu istirahatlah," sambung Verel kemudian.
"Rel aku serius tanya," sahut Delmira merasa jawaban Verel masih terasa ambigu.
"Dia wanita baik Rel. Dia taat agama. Dia sangat berbeda dengan Meilin. Aku bersyukur kalau kamu menikah dengan dia karena saling cinta_"
"Bagaimana aku cinta dengan dia. Hati aku sudah terpatri untuk seseorang," potong Verel dengan mata yang tiba-tiba berkaca.
Delmira terdiam, dia paham apa maksud Verel, dan tahu siapa yang dimaksud Verel.
"Lupakan aku Rel, pandang masa depan kamu, jalani hidup kamu dengan kebahagiaan."
"Itu juga yang sering aku katakan pada kamu Del! Lupakan dia, jalani hidup kamu dengan kebahagiaan! Tapi, tetap saja hati kamu tidak bisa berpindah ke lain hati kan? Maka jangan paksa aku untuk melakukan hal yang sama! Melupakan kamu dan berpindah ke lain hati!" tukas Verel.
"Stop Rel! Aku tidak meminta kamu melakukan hal di luar batas! Aku hanya meminta kamu untuk bahagia, bukan dengan cara seperti itu!" Bulir air mata kini mengalir di kedua pipi Delmira.
"Bahagiaku dengan caraku sendiri Del."
"Jangan membuat aku semakin bersalah atas cinta yang kau rasa," sambung Delmira tangannya menyeka bulir-bulir air mata yang belum juga berhenti.
"Hanya itu yang bisa kulakukan untukmu Del."
"Bukan seperti itu caranya Rel," ulang Delmira.
"Maafkan aku," sahut Verel akhirnya.
"Semuanya sudah terjadi. Dia wanita baik. Apapun alasan kamu menikahinya. Cintailah dia sepenuh hati kamu. Aku yakin, itu akan menjadi jalan kebahagiaan kamu."
"Kamu juga harus bahagia. Dia sama-sama masih mencintai kamu," sahut Verel.
"Maksud kamu?" bingung Delmira.
"Dia pasti datang menemui kamu. Aku berjanji akan hidup bahagia kalau kamu juga hidup bahagia," tukas Verel, pantatnya dia angkat, "assalamualaikum," sambungnya melangkah pergi.
"Rel!" panggil Delmira yang mengejar langkah Verel dengan langkah tertatih. Kaki kirinya masih saja sakit untuk dia pijakan hingga langkah Delmira masih pincang.
"Verel!" teriak Delmira karena mobil yang ditumpangi Verel melaju pergi.
"Mbak Del, kita masuk," ajak Safira memapah Delmira untuk berdiri dan masuk ke dalam rumah.
Delmira menyeka air matanya kembali. 'Maafkan aku Rel,' batinnya berkata.
Ayo... yang nunggu Zaidan lewat siapa π€malam menyapa π€ maaf baru bisa update π
hati-hati di jalan Verel π₯Ί
jangan lupa like komen hadiah vote rate π
__ADS_1