Dinikahi Berondong Saleh

Dinikahi Berondong Saleh
Bab 150


__ADS_3

Delmira tersenyum lebar hingga barisan gigi putih terlihat, mata beralih tatap dari laptop ke arah sang suami yang sedang duduk di sofa.


"Papyang," panggil Delmira.


Lelaki yang juga tengah sibuk dengan laptop yang ada di pangkuan, menengadahkan wajah, beralih pandang pada sumber suara yang di pastikan suara istrinya.


"Ada apa Momyang?" lontarnya kemudian.


Delmira gegas berlari kecil menuju suaminya.


"Innalilahi wa innailaihi rojiun," jerit Delmira karena ujung kakinya membentur siku kaki meja.


"Ya Allah, nih meja kenapa tidak minggir! Kaki aku kan yang jadi korban!" umpat Delmira menahan sakit.


Zaidan hanya menggeleng pelan kepala, pemandangan seperti itu sudah menjadi hal yang biasa. Istrinya selalu ceroboh kalau jalan, dan entah kenapa kalau ada meja bawaannya ingin membentur itu meja pada kaki.


"Maaf, padahal Papyang sudah beritahu itu meja, kalau Momyang lewat tolong geser, eh tetep saja ngajagrog di situ," canda Zaidan saat Delmira mendekat dan duduk di sampingnya.


Terlihat mulut Delmira manyun, "Nggak lucu! Garing tuh becandanya!" sungutnya.


Zaidan menahan senyum melihat reaksi sang istri.


"Coba mana biar Popyang lihat kakinya," pinta Zaidan dan tanpa mendapat persetujuan Delmira terlebih dahulu, tangan Zaidan menarik kaki Delmira untuk dinaikkan ke atas.


"Issst! Popyang!" protes Delmira karena otomatis tubuh Delmira sedikit oleng, dan mau tidak mau dia harus beringsut memundurkan tubuh dan sedikit menyerong agar nyaman.


Kaki itu sekarang ada di atas pangkuan Zaidan menggantikan posisi laptop yang sebelumnya berada di situ.


Ada memar di ujung jempol kaki, bahkan mengeluarkan sedikit darah di ujung kuku.


Lagi Zaidan menggelengkan kepala pelan, "Wahai kaki yang Allah karuniakan pada sang pemiliknya, mohon jaga diri baik-baik. Jangan asal jalan, padahal kamu punya mata loh, maka disebut mata kaki, eh mengapa sering kamu terbentur siku meja?" canda Zaidan.


"Papyang! Momyang bilang, nggak asik becandanya!" gerutu Delmira memanyunkan bibirnya.


Zaidan terkekeh, "Ya, ya, maafin Papyang," ujarnya lalu menurunkan kaki itu dengan pelan hingga tubuh Delmira duduk dengan normal, posisi Delmira yang jauh dari tempatnya duduk membuat Zaidan beringsut mendekat.


"Mau kasih kabar apa Momyang sampai begitu antusiasnya?" lontar lembut Zaidan.


Delmira kembali melebarkan senyum yang sempat dia tarik, "Coba tebak kabar gembira apa?" pancing Delmira.


"Emmm, dapat undian berhadiah?"


Delmira menggelengkan kepala.


"Anak kita mau mengikuti qiraati Al Qur'an tingkat sekolah?"


Delmira menahan senyum mendengar jawab Zaidan, tentunya kepala menggeleng kembali.


"Oh...., kita dapat bonus dari Allah, adik untuk si kembar?" jawab Zaidan dengan antusias dan rona wajah yang terlihat bahagia.


Delmira membulatkan mata, "Issst! Apaan sih Papyang! Jawabannya makin ngelantur!" kesalnya mencubit paha sang suami.

__ADS_1


Zaidan kembali terkekeh melihat ekspresi wajah Delmira.


"Ya sudah, coba katakan saja," ujarnya kemudian.


Delmira menarik napas dalam-dalam lalu mengeluarkan perlahan, setelah merasa tenang dan tidak gugup mulutnya baru berucap.


"Asuransi kesehatan pemerintah kembali membuka kerjasama dengan rumah sakit Medika Internasional," terang Delmira.


Zaidan melebarkan senyum, "Benar begitu Momyang?" retoris Zaidan merasa kurang percaya apa yang sudah diucapkan istrinya.


Delmira mengangguk cepat.


"Subhanallah... atas kuasa Allah, dan ini juga berkat kerja keras Momyang yang terus memperbaiki keadaan rumah sakit juga terus berkomitmen memberikan pelayanan yang baik. Juga poin terpenting, Momyang selalu melobi pihak asuransi agar kembali menjalin kerjasama," puji Zaidan.


Delmira tersenyum simpul.


"Emmmm, kita rayakan yuk kesuksesan Momyang ini," tawar Zaidan.


"Alhamdulillah, akhirnya mereka akan kerja secara normal," lirih Delmira, matanya langsung berembun.


Zaidan meraih tubuh sang istri dalam pelukan.


Air mata Delmira jatuh membasahi dada Zaidan. Semakin keras suara tangisan, semakin erat Zaidan memeluk istrinya.


"Papyang, Momyang tidak bisa bernapas," protes Delmira menepuk dada Zaidan.


"Maaf Momyang," ujar Zaidan yang gegas melepas pelukannya.


Zaidan tersenyum mendengar gumaman atau tepatnya sebuah permintaan yang pasti dengan cepat akan dia lakukan. Tangan Zaidan melingkar, menarik bahu agar kepala sang istri bersandar dalam dadanya.


Beberapa kali kecupan mendarat di pucuk kepala Delmira. Wanita itu tersenyum merasa senang dengan perlakuan sang suami.


"Kita akan merayakan dengan apa Papyang" lontar Delmira.


"Emmmm, jalan-jalan yuk. Liburan kek, terserah kalian mau minta kemana."


"Ke luar negeri?"


"Boleh, sebentar lagi anak-anak akan memasuki semesteran pertama, itu artinya mereka kan akan libur," sahut Zaidan.


"Kita bertamu ke rumah Allah?" usul Delmira atau lebih tepatnya sebuah permintaan dari Delmira.


Zaidan melebarkan senyum, "Subhanallah, benar Momyang kita berkunjung ke rumah Allah," timpal Zaidan menyetujui permintaan sang istri.


"Kahfi dan Kaffah pasti senang kita kasih surprise seperti ini," gumam Delmira matanya menerawang, "Momyang sudah tidak sabar ingin mengabarkan berita ini pada mereka," imbuh Delmira.


Tok


tok


tok.

__ADS_1


Zaidan melepas rangkulannya, Delmira berjalan menatap layar monitor untuk melihat siapa yang datang ke ruangannya.


Baru tangannya memencet tombol agar pintu terbuka setelah tahu siapa di balik pintu itu.


"Maaf Bu, ada tamu yang ingin bertemu dengan Ibu," lapor Dini.


"Siapa Mbak? Bukankah hari ini saya tidak punya jadwal bertemu dengan siapapun?"


"Mereka tamu penting Bu, makanya kami suruh mereka menunggu di ruang tunggu."


"Ya, siapa?"


"Dari pihak asuransi kesehatan pemerintah Bu," jawab Dini


Delmira sontak membulatkan mata, "Beneran mereka Mbak?" ujar Delmira dengan antusias, tangannya sontak menggoyangkan tangan dini dengan kencang.


"I...iya Bu," perjelas Dini.


"Ya sudah, tunggu apalagi, cepat persilahkan mereka datang," pinta Delmira dengan senang.


Delmira gegas duduk di sofa single yang ada di depan suaminya.


"Tunggu apalagi Din, cepat temui mereka," titah Delmira karena Dini malah berdiri mematung.


"Ya Bu," sahut Dini. Kakinya melangkah keluar, tapi sebelum benar-benar melangkah dia melirik ke arah orang yang duduk di depan Delmira. Bahkan saat hendak menutup pintu, matanya kembali terarah ke situ.


Selang beberapa menit, sang tamu datang. Delmira dan Zaidan menyambut kedatangan mereka dengan suka cita.


Dini segera menyiapkan berkas yang diperlukan dalam perjanjian baru yang akan dijalin antara rumah saku dan asuransi kesehatan pemerintah.


Dari poin-poin yang diajukan oleh asuransi kesehatan pemerintah, ada beberapa yang memberatkan hingga perlu diganti secara langsung, Dini pun gegas memperbaikinya.


Delmira tersenyum lebar, menangkupkan dua tangan sejajar dada," Terim kasih Pak, mempercayai kinerja rumah sakit ini kembali. Inilah yang kami tunggu-tunggu, terjalinnya kembali kerjasama di antara perusahaan kita," ujar Delmira.


Direktur utama asuransi kesehatan pemerintah tersenyum dan membalas tangannya ditangkup sejajar dada.


"Kami juga sangat berterima kasih karena Bapak sampai rela ke rumah sakit ini, padahal seharusnya kamilah yang mendatangi perusahaan Bapak," ucap Delmira merendah.


"Tidak juga, kerja sama ini kan sama-sama dibutuhkan oleh perusahaan kita. Jadi, tidak ada salahnya kami datang," sahutnya.


Delmira, Zaidan, dan Dini mengantar mereka hingga parkir mobil setelah urusan kerja sama itu selesai.


Sebelumnya Delmira menawarkan pada mereka untuk makan sore bersama di salah satu resto. Namun mereka menolak dengan alasan ada kepentingan lain yang sedang menunggu untuk dikerjakan.


Mobil yang membawa mereka pun melesat dengan cepat keluar dari parkiran.


Delmira masih tersenyum menatap kepergian mobil tersebut begitu juga Zaidan yang melingkarkan tangannya di bahu sang istri, pun seksama melihat mobil itu keluar.


Sedangkan Dini, sesekali matanya melirik ke arah orang yang berdiri di samping Delmira. Pandangan itu langsung dia alihkan saat mereka membalikkan tubuh.


"Ayo Mbak Din masuk, kamu mau menunggu apa masih berdiri di situ?" ujar Delmira saat dirinya sudah melangkah lumayan jauh tapi Dini masih berdiri mematung.

__ADS_1


__ADS_2