Dinikahi Berondong Saleh

Dinikahi Berondong Saleh
Bab 15


__ADS_3

"Terpaksa!" ketus Delmira.


Zaidan tersenyum kembali.


"Ada yang lucu? Kenapa selau senyum begitu!?" kesal Delmira.


Zaidan menahan senyum mendengar lontaran Delmira.


"Den Zaidan memang banyak perubahan setelah menikah dengan Non Delmira. Dia banyak senyum, tidak kaku dan mulai banyak bicara."


"Aku protes ke dia, mengapa kamu yang jawab?!"


"Karena tidak mungkin den Zaidan jawab protes Non Delmira," ujar Fernando.


Delmira melipat dua tangannya di atas dada, mengempaskan napasnya dengan kasar, matanya melirik ke arah Zaidan sebelum pandangannya fokus di luar jendela.


Berbeda dengan Zaidan yang mengambil momen tepat untuk memandang Delmira secara puas.


'Apakah benar yang dikatakan Fernando?' tanya batin Zaidan.


Setelah melewati beberapa traffic light, tinkungan dan tanjakan, mobil itu masuk ke ruang parkir rumah sakit.


Delmira turun dari mobil sesudah Zaidan membukakan pintu untuknya.


Delmira dan Zaidan langsung berjalan masuk sedangkan Fernando diutus Zaidan untuk ke dealer.


"Kita sarapan dulu," ajak Zaidan.


"Kenapa tadi tidak di rumah saja?!" kesal Delmira.


"Aku lupa untuk mengajak kamu sarapan karena terlalu antusias saat kamu mengiyakan untuk ikut ke rumah sakit menjenguk abah."


Delmira mendengus kesal mendengar alasan Zaidan.


Mereka sampai di kantin, memesan menu sarapan. Tidak ada pembicaraan saat menu yang mereka pesan datang ataupun sela-sela saat mereka makan.


Diam


diam


hanya diam.


Mata Delmira melirik ke arah Zaidan yang masih mengunyah makanannya, 'ya begini, kalau aku tidak bersuara ya dia juga tidak akan mengeluarkan suara,' batin Delmira menatap sengit ke arah Zaidan.


'Lihat saja! Aku tidak akan memulai untuk mengeluarkan suara!' ancam Delmira tentunya ancaman itu hanya terlontar dalam hati.


Zaidan pun tetap fokus dengan makanannya. Setelah selesai, mata Zaidan berpindah tatap ke arah wanita yang duduk di hadapannya.

__ADS_1


"Apa menunya tidak sesuai selera kamu?" tanya Zaidan melihat isi piring Delmira masih ada setengah yang belum termakan.


"Yang membuat aku tidak berselera bukan makannya tapi orang yang menemani aku makan," jawab Delmira dengan ketus. Bukannya Zaidan marah dia malah tersenyum bahkan senyumnya kali ini menampilkan barisan giginya yang putih dan rapi.


"Jangan senyum terus! Kita ke ruang rawat!" protes dan titah Delmira.


"Apaan pakai senyum segala! Kamu sengaja menguji imanku?" gumam Delmira sambil berdiri dari tempat duduknya lalu melangkahkan kaki.


Samar Zaidan mendengar gumaman Delmira, dan senyum manis yang kata orang bisa melelehkan hati siapapun yang memandangnya tergambar kembali di wajah Zaidan.


Delmira dan Zaidan jalan beriringan tanpa bergandengan tangan, keromantisan mereka kalah jauh dengan kereta api, yang selalu bergandengan agar sampai tujuan.


"Assalamualaikum," sapa Zaidan, membuka pintu kamar yang tidak dikunci.


"Waalaikum salam," jawab Fatah.


Zaidan mencium punggung tangan Fatah dengan takdhim.


Delmira hanya berdiri mematung di samping Zaidan.


Mata Zaidan menatap Delmira, mengisyaratkan agar Delmira melakukan apa yang tadi dia lakukan ke abah Fatah.


"Kamu apa kabar Nak?" tanya Fatah mengarah pada Delmira.


"Seperti yang Pak tua lihat," jawab Delmira.


Zaidan mencubit tangan Delmira mengisyaratkan agar Delmira menjawab dengan sopan.


Fatah hanya tersenyum melihat menantu dan anaknya bertingkah seperti itu.


"Napas Abah sesak lagi?" retoris Zaidan melihat selang oksigen yang terpasang di hidung Fatah.


"Sudah mending, ini juga sebenarnya mau Abah lepas, eh kamu datang." jawab Fatah.


"Ummi ke ruang kerjanya Bah?"


"Ya, katanya ada apel pagi, bentar lagi paling ke sini."


"Wah... kayaknya aku dipanggil kalian nih," sahut seorang wanita tua dengan kisaran umur 60 tahunan.


"Ummi," sebut Zaidan langsung mencium takdhim pada wanita itu.


"Hai Delmira anak Ummi," sapa Aisyah tangannya mengulur.


"Hai Ummi," balas Delmira, tangannya meraih tangan Aisyah.


Aisyah tersenyum dan langsung memeluk Delmira mencium pipi kanan dan kirinya kemudian memeluk kembali. Delmira terpaku dengan perlakuan mertua yang selama pernikahannya jarang bertatap muka untuk saling bicara karena dua hari pernikahannya Aisyah harus menjaga suami yang sakit.

__ADS_1


"Maaf, Ummi jarang ketemu kamu karena Ummi harus jaga Abah tapi Ummi sudah ingatkan Zaidan agar jaga kamu selama Ummi tidak bersama kamu di rumah," ucap Aisyah setelah melepas pelukannya.


Delmira mengangguk pelan. Entah kenapa dia merasa seharusnya yang mengucapkan kata maaf itu adalah dirinya yang menjadi menantu tapi tidak pernah mengunjungi mertua yang sedang terbaring sakit di ranjang rumah sakit.


'Tidak Del! Kamu tidak salah dalam hal ini! Jadi kamu tidak perlu merasa bersalah!' batin Delmira meronta.


"Zaidan sebenarnya ingin menginap di sini, tapi Ummi larang. Dia pengantin baru, istrinya juga perlu dijaga," ujar Aisyah.


Delmira hanya tersenyum mendengar ucapan Aisyah.


"Ummi itu, pengen cepet-cepet punya cucu Nak Del," sela Fatah mengarahkan ucapannya pada Delmira.


"Abah, jangan bahas itu lagi," sahut Zaidan.


"Padahal yang paling antusias ingin menggendong cucu itu Abah loh Zaid," balas Aisyah dengan senyum mengembang di wajahnya.


"Lihat senyum di wajahnya, itu benar-benar menggambarkan keinginannya," ledek Fatah.


"Ummi mau cucu kita yang pertama laki-laki," sambung Aisyah secara tidak langsung membenarkan ucapan sang suami, keinginan ingin menimang cucu.


"Abah inginnya cucu pertama itu perempuan, Ummi ikut sajalah," rengek Fatah.


"Abah, Ummi, apaan sih berebut jenis kelamin cucu malah menantunya dicuekin," protes Zaidan membuat keduanya tertawa dan Aisyah langsung merangkul Delmira.


'Ternyata kamu bisa berbicara banyak kalau dengan kedua orang tua kamu,' batin Delmira.


'Keluarga kalian terlihat sangat harmonis,' lanjut batin Delmira tanpa terasa cairan bening mengambang di pelupuk mata karena melihat tawa mereka seperti melihat tawa orang tuanya.


Tangan Delmira bergerak cepat mengusap genangan bening itu agar tidak mengalir ke pipi.


Posisi Zaidan yang berdiri di samping Delmira membuat dia melihat apa yang dilakukan Delmira.


Ada getar kuat yang ingin menarik tubuh Delmira masuk ke dalam pelukan, menyusupkan wajah wanita itu, mengelus rambutnya yang panjang hingga wanita itu merasa tenang.


"Nak Del, Abah titip Zaidan," ucap Fatah membaut suasana membisu karena nada bicara Fatah yang serius.


Delmira tercengang mendengar apa yang diucapkan Fatah. Mulutnya tidak dapat menjawab ucap itu.


"Dia anak yang saleh, penurut, mandiri, penyayang. Intinya anak dambaan semua orang tua dan dambaan wanita manapun. Dia katanya kaku kalau di hadapan orang lain tapi nyatanya dia anak yang periang dan cerewet kalau dengan kita."


"Abah, dimana-mana itu anak perempuan yang dititipkan bukan anak laki-laki yang dititipkan sama istrinya," sela Zaidan.


"Karena Abah tidak tahu umur Abah sampai kapan. Abah sudah tidak bisa mengawasi dan menjaga kamu. Jadi kalau kamu ada salah bertindak sudah ada yang memperingati kamu."


"Abah bahas apa sih. Abah harus yakin kalau Abah akan sehat kembali," kilah Zaidan.


Delmira terdiam menatap keduanya.

__ADS_1


"Abah juga titip Nak Delmira pada kalian," lanjut Fatah tentunya kalimat itu tertuju pada Zaidan dan Aisyah.


subuh menyapa 🤗, jangan lupa like komen hadiah vote rate 🙏 lope buat kalian 😍😘


__ADS_2