Dinikahi Berondong Saleh

Dinikahi Berondong Saleh
Bab 28


__ADS_3

Delmira hanya diam, jujur saja saat ini dia tidak berminat membicarakan masalah itu. Prosesi kematian sekarang, mengingatkan masa dimana dia dalam posisi kehilangan semua keluarganya.


"Kamu tidak lupa itu kan Del?" telisik Meilin karena Delmira sedari tadi tidak menyahut ucapannya.


Delmira mengangguk pelan.


Meilin merangkul Delmira untuk duduk di salah satu sudut ruang tengah.


"Aku tahu Del, wajah kamu terlihat sedih karena teringat akan keluarga kamu yang telah meninggal," ucap Meilin dengan nada sendu.


Delmira menarik sudut bibirnya, memperlihatkan kalau dia dalam keadaan baik-baik saja.


"Seberapa kuat kamu menyembunyikan kesedihan kamu, tetap saja mataku dapat melihat itu Del," lanjut Meilin.


"Apa itu terlihat Mei?"


Meilin mengangguk.


"Kenapa kamu juga tahu, aku sedih. Sedih karena teringat keluargaku yang sudah tiada. Aku bahkan lebih memilih diam diri di kamar dan baru keluar karena Marsya, Silvia, dan Yasmin datang. Suasana seperti ini mengingatkan aku pada masa itu Mei," ungkap Delmira.


Meilin mengelus bahu Delmira agar temannya kuat menghadapi semuanya.


"Itu kenapa aku tidak rela kalau kamu hanya berdiam diri tanpa membalas apa yang sudah pak tua itu lakukan ke kamu. Akibat kelalaiannya, dia menyebabkan kamu yatim piatu, menjadi janda, dan kehilangan anak lucu kamu," ujar Meilin. Delmira hanya terdiam mendengarkan apa yang diucapkan Meilin.


Tangannya kini bergerak menyapu air mata yang menggenang di pelupuk mata.


Ummi Aisyah yang akan menghampiri Delmira seketika menghentikan langkahnya menatap menantu dan sahabatnya terlihat sedang berbicara serius. Terlebih melihat Delmira dengan wajah yang begitu sendu hingga matanya jelas terlihat sembam karena cairan air mata.


'Kenapa kamu Nak? Kamu terlihat sangat sedih, padahal kamu tidak dekat dengan abah Fatah? Apa mungkin kamu teringat keluarga kamu yang telah tiada?' monolog batin Aisyah penuh tanya.


Tubuhnya dia balikkan dan berjalan menjauh dari Delmira dan Meilin.


"Sudah jangan terpuruk dalam kesedihan," ucap Meilin menenangkan Delmira.


"Kamu harus kuat! Keluarga kamu belum tenang di alam sana karena keluarga dari pak tua Fatah masih enak menikmati duniawi ini!"


"Aku rasa_"


"Pelan-pelan buat mereka merasakan siksa yang harus mereka terima!" cekat Meilin, "dan aku lihat, kamu sudah menjalankan peran itu dengan baik," lanjut Meilin.


"Maksud kamu?" tanya Delmira tidak paham.


"Melihat kedekatan antara kamu dengan suami kamu. Sepertinya semua berjalan lancar."


"Kedekatan apa yang kamu maksud?"


"Ya ampun Del, apa perlu aku perjelas satu persatu?!" kesal Meilin.


Delmira menarik sudut bibirnya membentuk senyum kecil.


'Dekat dengan Zaidan? Apa begitu? Apa aku dekat dengan dia?' batin Delmira tanya tanpa sebuah jawaban.


"Ingat Del! Jangan sampai baper. Kamu hanya perlu jalan agar dia mencintai kamu, setelah itu hempaskan dia sekuat mungkin?" ujar Meilin mengingatkan apa yang pernah dia katakan.


"Aku pergi dulu," pamit Meilin.


...****************...

__ADS_1


Satu pekan telah berlalu. Kesedihan mendalam tidak mungkin mudah saja hilang. Namun, tidak bagi Aisyah, dia harus tetap tegar untuk dirinya sendiri, anak dan menantunya. Tentunya, hal paling penting untuk suaminya yang telah tiada. Merelakan kepergian suami adalah hal yang harus dia lakukan, hanya doa yang harus selalu Aisyah kirim sebagi bentuk rasa cinta yang masih tertinggal di lain alam.


Aisyah menyeka air matanya, ketika nasi goreng yang dia buat sudah matang, tangannya bergerak memasukkan nasi itu ke wadah.


Bayangan almarhum suaminya, tiba-tiba melintas.


"Nasi goreng kesukaan kamu Bah," lirih Aisyah.


Surah fatikha dia lantunkan lirih sekali. Hanya itu yang bisa dilakukan Aisyah ketika mengingat almarhum suami.


"Ummi," panggil Zaidan membuat Aisyah terperanjat.


"Astaghfirullah haladhim, Zaidan kamu mengagetkan Ummi loh," ucap Aisyah.


"Maaf Ummi," balas Zaidan.


"Nasi goreng Mi?" retoris Zaidan. "Kelihatannya enak nih," seru Zaidan.


"Panggil istri kamu, ajak sarapan bersama," pinta Aisyah.


"Siap Ummi!" sahut Zaidan lalu gegas melangkah ke kamarnya.


"Kamu sudah cantik, dipanggil Ummi untuk sarapan bersama," ujar Zaidan melihat Delmira sudah rapi dengan pakaian kerja.


"Hmmm," dengung Delmira mengiyakan ucapan Zaidan.


Mata Delmira melirik ke arah Zaidan, "Kamu tidak ke kantor?"


"Aku tidak ke kantor tapi ke tempat lain karena ada janji dengan mitra kerja."


"Eh Sayang, kamu sudah cantik pakai banget," sapa Aisyah ketika Delmira muncul.


Delmira hanya tersenyum menanggapinya.


"Sarapan bareng, Ummi buat nasi goreng spesial," seru Aisyah dengan begitu antusias.


"Nasi goreng?" tanya Delmira dengan muka wajah yang langsung berbeda.


Raut wajah Aisyah yang sedari tadi penuh dengan senyum dan antusias kini langsung berubah masam melihat reaksi Delmira.


"Oh, kamu tidak suka nasi goreng?" lontar balik Aisyah.


"Sa...sangat suka Ummi," jawab Delmira terbata.


"Ya Allah Sayang, Ummi kira kamu kenapa," sahut Aisyah dengan lega.


"Duduklah," pinta Aisyah.


"Ya Allah Nak Zaidan juga duduk, itu sebelah istri kamu," omel Aisyah melihat Zaidan hanya berdiri sekali.


"Aku kira Ummi lupa kalau di sini ada juga anak gantengnya Ummi," ujar Zaidan sekaligus bentuk protes pada sang Ummi karena seperti melupakan anaknya karena ada sang menantu.


"Ih, kamu cemburu Ummi lebih perhatian dengan Delmira," sahut Aisyah.


"Jelaslah aku cemburu," jawab Zaidan dengan melempar senyum dan Aisyah pun membalas senyum itu dengan tawa kebahagiaan.


Zaidan memang terbilang orang yang dingin, cuek tapi kalau sudah dengan ummi Aisyah dan Abah Fatah predikat itu seakan lepas seketika.

__ADS_1


"Gara-gara kamu nih, anak perempuan Ummi jadi lupa Ummi ambilkan nasi gorengnya," canda Aisyah lalu mengambilkan nasi goreng ke piring Delmira.


"Ummi, biar aku sendiri saja," protes Delmira.


"Hari ini Ummi ingin ambilkan nasi goreng buat anak-anak Ummi," balas Aisyah.


"Sudah cukup segini?" tanya Aisyah setelah satu setengah centong sudah ada di piring Delmira.


"Cukup Ummi," jawab Delmira.


"Aku yang banyak Ummi," ucap Zaidan ketika tangan Aisyah sudah mengambilkan nasi untuknya.


"Awas kalau tidak dihabiskan," ujar Aisyah setelah mengisi piring milik Zaidan.


"Insyaallah habis Ummi," jawab Zaidan, meletakkan piring yang Aisyah sodorkan.


"Berdoa dulu," protes Zaidan dan Aisyah bersama ketika Delmira akan masukkan nasi goreng ke mulut.


Sontak Delmira menurunkan sendok yang terisi Masi goreng ke piring.


Zaidan memimpin doa, setelah itu mereka makan dengan lahap nasi goreng itu hingga habis. Namun, yang tidak habis pikir, Delmira menambah beberapa kali nasi goreng yang ada di piring besar hingga piring itu tidak ada lagi nasi gorengnya.


Sela-sela pembicaraan ketika sarapan berubah jadi rasa aneh, melihat Delmira memakan sisa nasi goreng yang ada di piring besar dengan tidak wajar.


"Nasi goreng sangat enakkan? Sayang saja kalau tidak sampai habis," ucap Delmira melihat Aisyah dan Zaidan menatapnya dengan tatapan aneh.


"Aku berangkat dulu Ummi," pamit Delmira setelah bersih memakan nasi goreng.


"Hati-hati Sayang," balas Aisyah.


"Assalamualaikum," ucap Aisyah, sebagai bentuk mengingatkan pada Delmira setiap akan pergi harus memberi salam terlebih dahulu.


Delmira diam tidak merespon salam dari Aisyah, kakinya melangkah cepat.


Aisyah menatap ke arah Zaidan memberi isyarat agar Zaidan menyusul langkah Delmira karena dari mimiknya ada yang tidak beres dari sikap Delmira.


"Aku antar," ucap Zaidan menuntut Delmira pindah pintu ke pintu penumpang.


Delmira hanya menurut, dia kemudian duduk di kursi pengemudi. Entah kenapa dirinya tidak bertenaga untuk menolak permintaan sepihak dari Zaidan.


Setengah perjalanan, Zaidan yang sedari tadi sesekali melirik ke arah Delmira yang hanya diam saja memandang keluar jendela kini memberanikan diri untuk membuka suara.


"Berbagilah kalau itu bisa membuat kamu tenang," ujar Zaidan.


"Nasi goreng itu enak kan Zaid?"


"Ya, itu salah satu makanan favorit ku."


"Itu juga salah satu makanan favorit suami aku," ucap Delmira dengan nada suara bergetar dan mulai parau.


"Oh... jadi apa hal tadi mengingatkan kamu pada suami kamu?"


Delmira terdiam, dia tidak mungkin menceritakan ada tragedi sarapan nasi goreng dengan sang suaminya.


Raffat sangat suka dengan nasi goreng. Kebetulan sudah lama Delmira tidak memasaknya. Pagi hari Delmira memasak makanan itu. Namun, apa reaksi Raffat? Bukan senang malah marah melihat nasi goreng yang ada di meja makan, dia sampai melempar nasi itu ke lantai karena begitu kesalnya. Hal aneh juga terjadi pada Raffat dia langsung muntah karena mencium aroma nasi goreng.


Kejadian lalu itu baru disadari Delmira setelah menghubungkan dengan pesan yang masuk ke ponsel suaminya. Selingkuhan Raffat meminta di antar ke dokter kandungan. Delmira baru dapat menyimpulkan kalau saat itu Raffat mengalami sindrom couvade. Dimana lelaki mengalami mual seperti orang hamil karena wanitanya saat itu sedang hamil trimester awal.

__ADS_1


__ADS_2