Dinikahi Berondong Saleh

Dinikahi Berondong Saleh
Bab 90


__ADS_3

"Mbok, Apa aku pantas bersanding dengan Zaidan?" lontar Delmira saat duduk sendiri di teras rumah dan Sa'diyah duduk menghampirinya.


Sa'diyah tersenyum, "Apa yang membuat kamu ragu?" lontar Sa'diyah.


Delmira mengempaskan napasnya, matanya nanar memandang bintang di langit yang gelap. Angin malam berhembus semilir mengelus jilbab yang dikenakan Delmira.


"Dia sangat sempurna Mbok," jawab Delmira kemudian.


"Dan kamu?" pancing Sa'diyah.


"Jelaslah aku jauh dari kata sempurna."


"Siapa yang memberikan label sempurna tidak sempurnanya seorang? Bukankah kamu dengar sendiri di pengajian. Allah hanya melihat manusia dari sisi ketaqwaan manusia lalu kenapa kamu sendiri mendustakan apa yang sudah Allah firmankan?"


Delmira diam, lama dia terdiam mencerna ucapan Sa'diyah.


Sa'diyah pun ikut terhanyut dalam lamunan diri. Dia juga membiarkan Delmira merenung diri.


"Non, apa dulu sewaktu Non akan menikah tidak diliputi perasaan yang seperti ini?"


Delmira menggeleng.


"Sewaktu Non akan menikah dengan suami pertama Non, bagaimana rasanya?"


"Saat itu...," Delmira kembali menerawang, "yang aku rasakan hanya sebuah kebahagiaan. Ya bahagia karena kan menikah dengan orang yang sangat mencintaiku dan aku pun begitu mencintainya. Walaupun dalam kenyataannya, perjalanan rumah tangga kita ternyata tidak baik-baik saja." lanjut Delmira.


"Yang Non rasakan sekarang seperti yang dulu Mbok rasakan. Ada rasa khawatir tentang nasib pernikahan kita selanjutnya, ada rasa khawatir akan ketidaksempurnaan diri bahkan kesempurnaan pada pasangan. Ada rasa nervous, ada rasa takut melangkah. Parno dengan hal-hal yang belum tentu terjadi. Itu yang disebut dengan sindrom pra nikah Non."


"Apa ini wajar Mbok?"


"Sangat wajar. Asal tidak berlebihan. Ingat untuk selalu istighfar. Semua milik Allah dan akan kembali pada Allah. Kesempurnaan hanya milik Allah. Jangan menuntut suami yang sempurna, karena kita saja sebagai istri banyak ketidaksempurnaannya. Kekurangan bukan berarti cacat tapi bagaimana pasangan menerima semua yang Allah berikan dengan menggantinya sebuah rasa syukur."


Sa'diyah menghela napas.


"Dan... Mbok lihat, Zaidan memang sangat cocok dengan Non Delmira. Dia lelaki limited edition, tidak usah ragu dengan cinta seorang yang punya pegangan agama. Cintanya pada sang istri pasti sudah dikonsep atas dasar karena Allah. Percayalah, wanita yang kelak mendampingi lelaki seperti itu akan bahagia dunia akhirat," sambung Sa'diyah.


Delmira tersenyum mendengar pernyataan Sa'diyah.


"Mungkinkah aku wanita yang beruntung tersebut Mbok?"


"Insyaallah Non Delmira orangnya," jawab Sa'diyah.


"Amin ya Allah," sahut Delmira menengadahkan tangan lalu mengusap ke wajahnya.


"Jadi, apakah masih ragu?"


Delmira diam sejenak lalu kepalanya menggeleng cepat.


"Non harus tanamkan keyakinan. Non pantas untuk Zaidan. Zaidan juga pantas untuk Non."


Delmira kembali mengangguk.


"Terima kasih Mbok," ucap Delmira menyenderkan kepalanya di bahu Sa'diyah.


"Sama-sama Non," balas Sa'diyah mengelus kepala Delmira yang berbalut jilbab.


"Sudah yakin? tidak ada keraguan?" Sa'diyah memastikan.


"Ya Mbok."


"Alhamdulillah," ucap syukur Sa'diyah. "Istirakhatlah, besok kita akan ke Jakarta," ucapnya kemudian.


"Siap Mbok," jawab Delmira melangkah masuk ke dalam rumah.


"Mbok juga istirakhat," ajak Delmira sebelum tubuhnya benar-benar masuk ke dalam.


"Sebentar lagi," tolak Sa'diyah dengan nada halus, "Kamu Masuklah dulu," sambungnya.


Delmira masuk mengiyakan titah Sa'diyah.


Lama Sa'diyah duduk sendiri di teras rumah.


Malam yang syahdu membuatnya pantatnya enggan beranjak dari kursi jati yang ada di teras itu.


Matanya masih tetap layang ke langit yang bertabur bintang.


'Semoga pernikahannya berjalan lancar. Simbok merasa tenang kalau non Delmira sudah ada yang menjaganya,' batin Sa'diyah.


Kini matanya berpindah tatap pada gadis yang melingkarkan tangan ke lengannya.


"Kenapa Simbah masih di luar? Dingin tahu Mbah," celetuk Safira.


Sa'diyah tersenyum lalu menepuk tangan cucu satu-satunya itu.


"Kamu juga kenapa ikut keluar?"

__ADS_1


"Nyusul Mbok lah... masa nyusul pangeran berkuda putih," jawab Safira dengan jawaban nylenehnya.


Sa'diyah tersenyum kembali lalu mengusap puncak kepala Safira yang tertutup jilbab.


"Kamu sudah mulai dewasa Saf, belajarlah bersikap dewasa. Biasakan hidup mandiri karena Simbah tidak mungkin selalu menemani kamu."


"Issst! Dari kemarin Simbah itu suka banget sih ngelantur," sungut Safira merasa jawaban Sa'diyah seperti sebuah perpisahan.


"Simbah harus menemani Safira sampai Safira menikah dan Simbah harus menggendong cicit Simbah."


Lagi dan lagi Sa'diyah tersenyum, "Tidak usah buru-buru nikah. Simbah kan sudah bilang, kamu harus melanjutkan sekolah."


"Simbah jangan memikirkan tentang sekolahku. Aku bisa sekolah hingga SMA saja sudah beruntung. Aku tidak akan memikirkan hal lain."


"Simbah kan sudah pernah bilang sama kamu. Insyaallah untuk biaya kuliah, Simbah sudah sisihkan uang."


"Aku mau nikah saja," cekat Safira.


Plak.


"Auw! Sakit Simbah," sungut Safira mengelus kepalanya yang baru saja dijadikan tempat mendarat tangan Sa'diyah.


"Ngawur? Siapa yang mau nikah sama kamu!"


Deretan gigi putih Safira terlihat, "Safira kan masih tahap pendekatan dengan om Raka. Ya... siapa tahu dia bakal balas cinta Safira dan bakal ngelamar Safira.


"Jangan mimpi terlalu tinggi. Kalau jatuh sakit," sahut Sa'diyah.


"Semua itu berawal dari mimpi Mbah," sanggah Safira.


Sa'diyah menatap lekat ke cucunya, "Fokuslah sekolah."


"Bolehkan Mbah, sambil berenang minum air."


"Tapi kalau minumnya terlalu banyak nanti kamu malah tidak bisa berenang," cekat Sa'diyah.


"Simbah!" gerutu Safira merasa terpojok.


Sa'diyah sekali lagi mengelus pujuk kepala Safira, "Dia orang kaya, orang berada. Kita beda kalangan dengannya. Beda derajat."


"Apa Simbah lupa? Baru saja menasehati Mbak Del, derajat manusia satu dengan manusia lain itu yang membedakan ketaqwaannya?" protes Safira.


"Auw! Sakit Mbah!" keluh Safira mengelus lengannya.


"Ngeyel kalau diomongi orang tua!"


"Simbah merestui kan?" bujuk Safira.


"Tidak!"


"Mbah, please dong bilang iya. Apa susahnya coba bilang iya," rengek Safira memegang erat siku Sa'diyah.


"Fokus lanjut sekolah," kekeh Sa'diyah.


"Yah! Simbah payah!" sungut sang cucu.


Sa'diyah kembali tersenyum karena Safira kali ini memanyunkan bibirnya.


"Awas nanti bibirnya jontor terus seperti itu," ledek Sa'diyah.


Safira masih memanyunkan bibirnya. Namun, seketika dua sudut bibirnya dia tarik, "Tapi setelah masuk ke perguruan tinggi, Safira boleh nikah ya Mbah?"


Sa'diyah hanya bisa menggelengkan kepala, "Bicara sama kamu makin lama bikin kepala Simbah retak," sahut Sa'diyah memilih masuk ke dalam rumah.


"Simbah, ayo dong Mbah, restui langkah kita," rayu Safira setelah mengunci pintu tamu dia gegas mengekor Sa'diyah.


"Bocah edan, restui kamu sama siapa? Pacar juga tidak punya main restui saja."


"Pokoknya restui saja Mbah," cekat Safira.


"Ya, ya, Simbah restui jalan yang kamu tempuh. Semoga apa yang kamu pilih menjadi pilihan terbaik dalam hidup kamu," ujar Sa'diyah memilih mengalah mengiyakan pinta Safira. Ingat, hanya mengalah dalam waktu itu karena sang nenek tidak kuat lagi harus bantah membantah dengan cucu yang super ngeyel macam Safira.


Cup.


"Terima kasih Mbah!" seru Safira. Dia langsung lari ke kamar setelah mengecup pipi kanan Sa'diyah.


Kepala Sa'diyah menggeleng pelan melihat tingkah sang cucu, sebuah senyum tercetak di wajahnya, 'Keputusan apapun yang nantinya kamu ambil, Simbah hanya bisa berdoa yang terbaik untuk kamu Saf. Semoga Allah selalu melindungi kamu, tetap jadi anak yang solekha, taat pada Allah,' monolog batin Sa'diyah dan tanpa terasa dua pipinya basah oleh air mata.


...****************...


"Zaid, boleh tidak aku undang Verel?" lontar Delmira berharap Zaidan menyetujui permintaannya.


Zaidan sejenak menatap Delmira, lalu kepalanya mengangguk. "Aku juga akan mengundangnya," ucap Zaidan kemudian.


"Kamu kenal dia?"

__ADS_1


Dua sudut bibir Zaidan dia tarik membentuk sebuah senyum, "Lumayan kenal. Hanya saja calon istriku sepertinya begitu kenal dia dan sangat menghargainya. Itu kenapa aku harus lebih kenal dia dibanding calon istriku," terang Zaidan.


Delmira tersenyum sipu.


"Kenapa?" bingung Zaidan melihat reaksi Delmira.


"Kayaknya ada yang cemburu," lirih Delmira.


Zaidan mendecih, "Jelas aku cemburu lah," jujurnya.


Delmira semakin melebarkan senyum mendengar jawaban Zaidan.


"Apa begitu besar cinta kamu padaku?" telisik Delmira.


Zaidan menggeleng, "Aku takut kalau mencintai kamu lebih dari apapun. Karena cinta manusia itu tidak ada yang abadi. Aku hanya berharap. Cinta yang kita pupuk semakin hari semakin tumbuh. Tumbuh karena cinta yang nantinya akan kita bina adalah bentuk ibadah pada Allah ta'ala."


"Kenapa nikahnya tidak hari ini saja," sahut Delmira.


"Ada apa dengan hari ini?" bingung Zaidan.


Delmira membalas dengan sebuah senyum, 'Hatiku sudah bener-bener meleleh karena kamu Zaid, dan kamu tahu? Ingin sekali aku Nyubit hidup panjang kamu karena begitu gemas,' ucap batin Delmira yang tentunya tidak mungkin dia lontarkan langsung pada Zaidan.


Hoaaaammm.


Safira yang sejak awal duduk di sebelah Delmira sengaja menguap panjang dan melebar.


"Pantesan aku tumbuh cepat dewasa, tiap hari makanannya begini?" ledek Safira.


Delmira terkekeh.


"Maaf Sap, kita lupa ada kamu," sahut Delmira.


"Anggap saja aku nyamuk Mbak, kalau dekat dan bersuara tampol saja," celetuk Safira.


Plak.


"Auw! Kenapa Mbak Del beneran naplok aku!" gerutu Safira mengelus pipinya.


Delmira nyeringis, "Maaf, ada nyamuk," ujar Delmira menunjukkan nyamuk yang berhasil dia tamplok.


"Issst! Tidak Mbak Del, tidak Simbah suka sekali ngerjain aku!" sungut Safira kakinya memutar melangkah pergi.


"Eh, mau kemana?" cegat Delmira.


"Ke kamar!" jawab Safira yang sudah semakin jauh.


"A... aku juga akan ke kamar, assalamualaikum," pamit Delmira izin menyusul ke kamar hotel.


"Waalaikum salam," jawab Zaidan.


Delmira, Safira, dan Mbok Sa'diyah menginap di hotel satu hari yang lalu karena besok akan ada gelaran pernikahan dan resepsi pernikahan di hotel yang Delmira tempati sekarang.


Zaidan datang menemui Delmira karena mengantarkan obat koyo pada Mbok Sa'diyah.


...****************...


"Sah!"


Setelah kata sakral itu terucap dua insan menurut agama dan negara sah menjadi sepasang suami istri.


Lantunan doa dipanjatkan penghulu nikah.


Zaidan tersenyum dan merasa lega. Hal yang dinantikan akhirnya telah final di mimbar pelaminan.


Kaki Zaidan melangkah, menghampiri Delmira yang sengaja duduk terpisah darinya. Zaidan menyerahkan mas kawin yang tersebut dalam prosesi ijab kabul.


Tangan Delmira menerima mas kawin itu lalu dia titipkan pada Safira sebagai pengiring pengantin.


Zaidan gegas mencium ubun-ubun Delmira sambil mengucap sebuah doa. Selesai memanjatkan doa, Zaidan menyodorkan tangannya, Delmira menerima tangan itu lalu mencium takdhim lelaki yang sudah berplakat sebagai suami.


"Tidak ada bonus cium pipi kanan kiri?" ledek Zaidan yang teringat masa dulu sewaktu menikah dengan Delmira.


Delmira terkekeh sontak juga teringat masa itu. Delmira tidak melakukan apa yang dipinta sang suami, tapi tubuhnya secara reflek memeluk Zaidan.


Zaidan membalas pelukan itu, lalu mengecup pucuk kepala Delmira yang hanya setinggi bahunya.


Tidak lama mereka melepas pelukan masing-masing. Mereka juga menyadari, tidak baik berpelukan di depan umum, apalagi di belakang Delmira ada seorang jomblo yang ngebet nikah.


(Sabar ya Safira... nanti ada sesinya kamu bakal kayak mereka🤭)


"Riasan kamu nanti luntur," lirih Zaidan menyeka pelan air mata yang jatuh di pipi Delmira.


"Aku begitu terharu Zaid," sahut Delmira.


sore menyapa 🤗

__ADS_1


Ada yang nyari Kak Mel gag ya? Aku di pojokan nih, makan nasi rames😁


"Hotel Mel! Hotel! Masa iya kamu kebagiannya nasi rames? malu-maluin mempelai pengantin!"


__ADS_2