
"Kata orang ya Bu, kalau sering gendong anak kecil, nanti bisa ketularan Bu, yang belum punya anak nanti segera punya anak, yang baru satu atau dua, nanti bisa nambah," ujar ibu panti diiringi sebuah senyum.
Delmira membalas senyum itu tapi dengan senyum kecut.
"Amin, semoga begitu," sahut Zaidan.
"Issst! Papyang! Usia Momyang itu 4 tahun lagi berkepala 5, masa iya punya bayi!" sungut Delmira.
"BU Delmira usianya sudah 46 tahun?" lontar ibu panti, merasa tidak percaya.
Delmira mengangguk, "Ya Bu," jawabnya.
"Subhanallah, tapi kok masih terlihat 10 tahun lebih muda?" sambung ibu panti.
"Istri saya memang awet muda Bu," sambung Zaidan.
"Maaf, Bu, si adek mungkin minta minum," ucap Delmira menyerahkan bayi yang sedari dia gendong. Padahal itu hanya alasan Delmira. Entah kenapa tiba-tiba saja merasa parno, kalau yang dikatakan ibu panti benar adanya, ketularan punya anak.
Zaidan menahan senyum melihat gelagat dan ekspresi Delmira.
"Kita pulang Papyang, barang kali Kaffah dan Kahfi belum sampai rumah," bisik Delmira.
Zaidan mengangguk, "Maaf Bu panti, kita sudahi dulu. Insyaallah lain waktu kita akan datang kembali. Titip anak-anak semua Bu."
"Ya Pak Zaidan, kami ucapkan terima kasih banyak atas bantuan yang tiap bulan Bapak dan ibu berikan. Semoga Allah membalas semua kebaikan dan kedermawanan Bapak Ibu dengan pahala surga," balas ibu panti.
"Amin ya Allah. Kami permisi Bu. Assalamualaikum."
"Waalaikum salam, hati-hati di jalan Bapak Ibu," ujar bu panti mengiring kepergian keduanya.
Mobil yang dikendarai Zaidan pun pergi meninggalkan pantai asuhan Raudhatul Athfal.
"Papyang, kalau di depan ada apotek, tolong nanti berhenti," pinta Delmira.
"Mau apa ke apotek?"
"Beli semen," jawab asal Delmira dan hal itu membuat barisan gigi Zaidan terlihat karena senyum yang terlempar.
"Sensitif sekali sih Momyang ku ini," ujar Zaidan.
"Makanya jangan senggol dengan omongan yang tidak perlu," sahut Delmira dengan cepat.
Kembali Zaidan tersenyum.
"Momyang mau beli obat? Obat apa?"
"Emangnya kalau ke apotek pasti beli obat? Beli madu juga ada, beli susu juga ada, beli pembalut juga ada, atau cuma sekedar timbang berat badan juga bisa!" jawab Delmira panjang lebar dengan wajah yang masih kesal.
"Ciri PMS nih," lirih Zaidan.
Setelah puluhan tahun hidup dengan wanita yang luar biasa, maka Zaidan pun harus jadi pria yang luar biasa pula.
Bahkan buku Memahami Wanita yang ketebalannya mencapai ribuan halaman, dengan jumlah edisi, dari edisi satu hingga edisi tidak terbatas harus Zaidan baca dengan seksama dan praktekkan secara benar.
Contoh saja mengenai PMS, (Premenstrual Syndrome), sebuah sindrom ketika wanita merasakan rasa sakit secara fisik maupun emosi menjelang menstruasi. Kondisi ini kerap dianggap berlebihan, tapi pada kenyataannya PMS adalah situasi yang memang nyata dialami wanita dan memang ada penjelasan secara medis.
"Semoga benar karena PMS," sahut Delmira dengan melebarkan senyum.
__ADS_1
Mata Zaidan sekilas menatap ke arah Delmira, dirinya merasa heran, kenapa wanitanya malah terlihat bahagia saat dirinya menyimpulkan kalau emosi istrinya karena sindrom menjelang menstruasi.
Zaidan menepikan mobilnya ke sebuah apotek yang berada setelah persimpangan jalan.
"Papyang tidak usah turun," ujar Delmira, tangannya gegas membuka pintu, dan kakinya turun dari mobil.
Delmira berdiri di belakang orang yang mengantri untuk dilayani pelayan apotek.
"Loh, Papyang kok turun? Momyang bilang kan tidak usah turun," protes Delmira.
Zaidan menampilkan senyum kaku, 'Duh, rumus kebalikan dari seorang wanita ketika PMS ternyata salah! Katanya kalau wanita jangan atau melarang, itu artinya wanita tersebut sebenarnya meminta pasangan untuk melakukan sesuatu untuknya. Tapi lihat, istriku malah terlihat kesal,' batin Zaidan penuh tanya.
"Udah, sana masuk ke mobil saja," sambung Delmira sedikit mendorong tubuh Zaidan.
"Ya, ya," pasrah Zaidan, kakinya memutar lalu berjalan masuk ke dalam mobil yang di parkir di halaman apotek.
Tidak lama kemudian, Delmira menyusul masuk ke dalam mobil.
"Sudah dapat yang kamu beli?"
Tanpa menyahuti tanya suaminya, Delmira mengangkat plastik kresek yang dia tenteng dengan tangan kanan.
Delmira menaruh plastik itu di atas dasboard. Karena penasaran yang memuncak hingga ubun-ubun, Zaidan mengintip isi dalam plastik.
"Tidak usah intip-intip segala! Bintitan loh nantinya!" protes Delmira, sekalian membuka isi dalam plastik.
Zaidan mengambil satu benda yang Delmira keluarkan. Sebuah barang yang dibungkus kertas kardus mirip bungkusan kartu perdana provider.
"Alat tes kehamilan?" lontar Zaidan, memastikan.
"Hmmm," dengung Delmira sebagai jawaban.
Delmira menggelengkan kepala dengan cepat.
Senyum yang sempat menghias wajah Zaidan langsung sirna begitu saja.
"Maksudnya?"
"Cuma tes saja," sahut Delmira tanpa penjelasan yang lain.
"Sudah jalankan mobilnya, keburu Magrib," imbuhnya, karena waktu semakin sore.
Mobil itu pun bergulir memasuki jalanan kota, membelah jalanan yang padat akan kendaraan. Sesekali berhenti karena lampu di traffic light menyala merah, kemudian dijalankan setelah berubah hijau.
Zaidan menghentikan laju mobilnya ketika sudah terparkir sempurna di halaman rumah.
"Assalamualaikum," ujar Delmira dan Zaidan ketika memasuki rumah.
Asisten Rumah tangga yang kebetulan sedang membersihkan ruang tamu menjawab salam itu.
"Kaffah dan Kahfi sudah pulang Mbok?"
"Sudah Bu," jawabnya.
Zaidan dan Delmira segera menaiki anakan tangga.
"Mulai capek Papyang kalau naik tangga seperti ini," keluh Delmira setelah kakinya sampai di lantai dua.
__ADS_1
"Pasang lift?" tawar Zaidan.
"Jangan! Nanti anak kita malas, cuma naiki anakan tangga saja tidak mau," tolak Delmira.
"Lalu?" tanya Zaidan, berharap istrinya dapat mengatakan apa yang dia mau.
"Nanti kita pikirkan lain waktu," jawab Delmira.
Zaidan sontak terdiam dan menghentikan langkahnya.
"Kenapa Papyang?"
Zaidan menggeleng, "Papyang kira, Momyang akan menyebutkan apa mau dari Momyang," lirih Zaidan.
Delmira tersenyum kecil.
"Popyang cek mereka berdua, Momyang mau langsung mandi dulu," pinta Delmira kakinya melanjutkan jalan masuk ke kamar yang ada di sebelah kamar si kembar.
Sebenarnya bisa saja Delmira mengecek sebentar kedua anaknya. Hanya saja, kali ini ada hal yang sangat penting di atas kepentingan yang lain.
"Siap Momyang," jawab Zaidan.
Tok tok tok.
"Masuk!"
Seruan dari dalam membuat tangan Zaidan memutar gagang pintu agar terbuka.
Mata Zaidan mengedar ke penjuru ruangan, dan berhenti tatap pada si kembar yang sedang enak rebahan di atas ranjang.
"Astaghfirullah haladhim. Kok malah rebahan, belum mandi lagi," protes Zaidan saat melihat kedua anaknya bermain ponsel di kasur sambil merebahkan tubuh, "Cepetan mandi, bisa-bisa kamar kalian runtuh karena omelan Momyang," imbuh Zaidan.
"Masih capek Pap, bentar lagi," tolak Kaffah sedangkan Kahfi langsung bangkit duduk.
"Kahfi, kamu duluan gih yang mandi," pinta Zaidan dengan nada suara lembut.
Tanpa menyahuti titah Zaidan, Kahfi berjalan masuk ke dalam kamar mandi.
"Kamu juga siap-siap untuk mandi Kaffah," ujar Zaidan berpindah tatap pada saudara kembar Kahfi.
"Hmmm," sahut Kaffah dengan sungkan.
"Ok, Papyang ke kamar dulu. Ingat, sebentar lagi, Momyang akan mengecek kalian berdua. Siapkan mental," canda Zaidan.
"Tumben Momyang tidak langsung menghampiri kita Pap?"
Deg.
Apa yang dilontarkan Kaffah ada benarnya.
"Kenapa dari tadi tidak kepikiran itu?" gumam Zaidan.
"Papyang ke kamar dulu," seru Zaidan berjalan cepat keluar kamar dari si kembar.
"Ada apa dengan mereka berdua? Apakah orang dewasa semuanya sama, selalu bersikap aneh," monolog Kaffah, kepalanya menggeleng-geleng.
'Jangan-jangan Momyang langsung pakai itu tes kehamilan?' terka batin Zaidan seiring langkah kakinya masuk ke dalam kamar.
__ADS_1
Mata Zaidan mengedar pandangan seluruh penjuru kamar, matanya berhenti tatap pada pintu toilet yang masih tertutup.
"Jangan sampai ketinggalan dengar kabar bahagia!" seru Zaidan penuh semangat. Senyumnya mengembang, kakinya berjalan mondar-mandir di depan toilet kamar.