
Tubuh Kaffah bangkit, terkekeh karena tingkah adiknya.
"Ada apa nih?" selidik Kaffah, tangannya bergerak mengambil buku tersebut.
"Cuma buku biasa, tapi wajahnya mengapa jadi tidak biasa?" sambung Kaffah dengan meledek adiknya.
Kahfi menyerobot buku yang dipegang Kaffah, lalu dia letakkan di rak buku. Kemudian kakinya melenggang ke ranjang tidur, dan tubuhnya langsung direbahkan.
"Ada sesuatu di buku itu?" goda Kaffah, ikut merebahkan tubuhnya di ranjang.
"Hei, jangan pura-pura tidur!" sambung Kaffah karena masih penasaran.
"Tidurlah, nanti Mommy ngomel kalau subuh kamu sulit dibangunin," balas Kahfi.
"Aku tidak bisa tidur sebelum kamu jawab pertanyaanku."
Kahfi tidak bergeming. Tetap saja matanya dia pejamkan.
"Okelah main rahasia denganku, besok pasti rahasianya akan terbongkar olehku," seru Kaffah, diiringi sebuah senyum penuh percaya diri.
Sementara itu, Delmira dan Zaidan juga belum tertidur.
'Kenapa momyang tidak langsung kasih tahu hasil tes kehamilannya?' monolog batin Zaidan, matanya sesekali melirik ke arah Delmira yang sedang sibuk dengan laptop yang ada di atas meja.
'Apa mungkin..., momyang mau kasih surprise?' sambung batin Zaidan, kembali matanya melirik ke arah sang istri.
"Ada apa Papyang? Tidak usah lirik-lirik. Mending sini bantu Momyang selesaikan koreksi laporan ini!" seru Delmira tanpa menolehkan pandangannya.
"Siapa juga yang lirik-lirik," sangkal Zaidan, tangannya bergerak menyentuh ponsel pintarnya dan pandangannya hanya tertuju pada apa yang dia pegang.
Delmira tersenyum, "Papyang ke sini," pinta Delmira, dengan nada meminta.
"Ada apa?" lontar Zaidan karena penasaran, tubuhnya beringsut dari ranjang dan gegas menghampiri sang istri.
"Tolong bantu Momyang cek laporan yang sebanyak itu," ujar Delmira dengan wajah memelas, tangan menunjuk ke arah tumpukan berkas.
Zaidan tersenyum seringai, kebetulan ada hal yang harus dia tanyakan sejak sore tadi. Rasa penasaran yang tinggi membuatnya tak bisa fokus dengan beberapa email yang masuk. Juga membuat nafsu makannya tiba-tiba menurun seketika.
"Yang mana Momyang?"
Tubuh Delmira bangkit, mengambil berkas yang tidak dapat dijangkau kalau dirinya hanya duduk.
"Tolong cocokkan dengan laporan yang ini Papyang," pinta Delmira.
"Siap!" sahut Zaidan penuh semangat.
Setelah beberapa lembar dibaca, Zaidan melirik ke arah Delmira.
"Fokus baca Papyang," sindir Delmira yang tahu suaminya kembali curi pandang.
Tanpa menyahuti ucapan sang istri, Zaidan langsung fokus ke berkas.
Delmira tersenyum melihat reaksi suaminya.
"Sebenarnya ada apa Papyang? Ada yang ingin Papyang tanyakan?" tanya Delmira, paham gelagat suaminya.
"Emmm, Momyang tidak marah kalau aku tanya sesuatu?"
__ADS_1
Delmira diam, mata menatap ke arah suaminya, "Tanya apa dulu?"
"Momyang janji dulu tidak marah?"
Sebentar diam lalu bersuara, "Kalau tidak mau tanya ya sudah, lupakan saja," putus Delmira.
"Tuh kan belum apa-apa Momyang sudah marah," simpul Zaidan.
"Ini bukan sedang marah Papyang, tepatnya bodoh amit, Papyang mau menanyakan sesuatu atau tidak," ujar Delmira diiringi sebuah tawa.
Zaidan menggelengkan kepala sambil menyangga dagunya dengan satu tangan. Menatap seksama sang istri.
Tawa yang sempat terlihat di wajah Delmira langsung dia tarik, "Maaf deh maaf, Momyang cuma bercanda," ucapnya kemudian.
Zaidan sontak semangat, menarik kursi yang diduduki agar posisinya lebih dekat dengan Delmira.
"Emmm, Momyang tadi siang tes kehamilan?"
Seketika jemari Delmira berhenti mengetik sesuatu di atas keyboard, "Popyang penasaran soal kehamilanku?"
Zaidan mengangguk cepat.
"Papyang sangat berharap aku hamil?"
Zaidan kembali mengangguk dengan cepat tapi melihat ekspresi wajah Delmira anggukan itu spontan berubah menjadi gelengan kepala.
"Berharap tidak?!" cecar Delmira merasa bingung, dua opsi diperlihatkan Zaidan.
Zaidan nyeringis.
"Alhamdulillah garis satu," ucap Delmira, melebarkan senyum.
"Momyang belum yakin karena baru tes satu kali. Menurut ilmu medis, tes kehamilan itu sebaiknya dilakukan setelah bangun tidur, karena jumlah HCG atau hormon kehamilan yang ada di urine itu lebih tinggi dibanding siang, sore atau malam. Jadi, rencananya Momyang akan sampaikan hasil itu pada Papyang pagi hari," terang Delmira.
Zaidan mengangguk pelan mengisyaratkan dia paham apa yang disampaikan istrinya.
"Kalau begitu kita tidur saja," ajak Zaidan menutup berkas yang dipegang.
"Papyang!" teriak Delmira melihat suaminya benar-benar pergi dari kursi yang dia duduki.
...****************...
Kahfi memilih tetap di dalam setelah pelajaran bahasa Indonesia yang diadakan di perpustakaan itu usai.
"Lu gag keluar bro?" lontar teman Kahfi.
"Aku mau cari buku."
"Oh, ye udeh, aye keluar dulu Bro," pamitnya.
Kahfi mengangguk dan membalas tos dari Pe'i, sahabatnya.
Kahfi berjalan menelusuri rak-rak buku yang tertata rapi tersebut.
Kakinya berhenti langkah tepat di rak buku non-fiksi, dia lebih suka memilih buku sains.
Mata Kahfi berbinar tatkala dirinya akan duduk dan di belakang kursi yang tadi duduki ada seorang gadis yang semalam mengganggu tidurnya.
__ADS_1
"Hei, kita jumpa lagi," sapa siswi itu, "duduk di sini saja," tawar siswi itu agar Kahfi duduk di depan meja bacanya.
"Oh, ya terima kasih," sahut Kahfi menerima tawaran siswi itu.
"Kenalkan, aku Icha. Kamu?" ucapnya menyodorkan tangan.
"Kahfi," jawab singkat.
Icha tersenyum, "Seperti tidak asing dengan nama kamu," ucapnya kemudian.
Lalu keduanya sama-sama terhanyut dalam buku yang dibaca.
Sementara Kaffah terlihat kecewa karena sewaktu ke kelas adiknya, dia tidak menjumpainya.
"Tidak ada yang lihat Kahfi," gumam Kaffah karena tadi sempat bertanya pada teman satu kelas tapi tidak melihat Kahfi.
"Apa... dia ke perpustakaan?" kembali Kaffah bergumam.
"Ye saudara kembar lu ade ntuh di perpustakaan," ujar seorang siswi tiba-tiba ada di samping Kaffah.
Kaffah menoleh, "Kamu teman satu meja Kahfi kan?" tanya Kaffah, memastikan.
"Ye, gue Pe'i temen satu bangku Kahfi," ucapnya menyodorkan tangan.
"Aku Kaffah." Tangannya membalas sodoran Pe'i.
"Di sini aja lu, paling bentar lagi die datang," ucap Pe'i.
Dan benar apa yang dikatakan siswa itu, dari balik tembok, Kahfi sedang berjalan menuju kelasnya.
"Kamu di sini Kaffah," retoris Kahfi.
Kaffah tersenyum lebar, "Tumbennya kamu tanya sesuatu yang tidak cerdas. Sudah lihat aku di sini masih tanya," ujar Kaffah.
"Tunggu sebentar, kamu memang suka baca. Tapi... aku masih penasaran dengan buku semalam," sambung Kaffah matanya penuh selidik.
Kahfi hanya membalas sebuah senyum, lalu memilih jongkok karena mau meminum air mineral yang ada di tangan.
Kaffah menatap ke arah Kahfi, "Lihat Pe'i," pinta Kaffah agar teman satu meja Kahfi menoleh ke arah wajah Kahfi, "ada gambar hati di balik wajah Kahfi," sambung Kaffah.
Kahfi lagi, hanya membalas dengan senyum.
"Bagi minum," pinta Kaffah, mengambil botol air mineral yang dipegang saudaranya.
Setelah diteguk habis, botol itu dikembalikan ke Kahfi.
Kahfi hanya menggelengkan kepala dengan perlakuan saudaranya. Kakinya kemudian melangkah ke tempat sampah yang tidak jauh dari mereka berdiri. Namun, tiba-tiba saja...
Bugh.
Suara dada menabrak bahu begitu keras hingga siswa siswi yang melihat, mengalihkan pandangan pada dua laki-laki yang tadi bertabrakan.
"Hati-hati bocah! Kamu baru masuk sekolah Mandiri Berbudi, jangan sampai dikeluarkan karena berurusan dengan ku!" bisik dia yang jelas sebuah ancaman.
"Hei! Jangan mentang-mentang senior, kamu bertindak seenaknya!" ujar Kaffah dengan lantang dan nada menantang, mata menatap tajam.
"Ini urusan kita, tidak ada sangkut pautnya dengan kamu!" jawab lelaki yang terlibat adu tabrak dengan Kahfi.
__ADS_1
Kaffah tersenyum menyungging, "Apapun yang berhubungan dengan saudara kembar ku. Jelas itu berhubungan pula dengan ku!" ucapnya kemudian dengan berani.
Bugh.