
Zaidan tahu, Delmira sangat lelah, tangan bergerak menyentuh kepala istrinya lalu dikecup sekilas.
"Jangan terlalu pusing, istirakhatkan dulu otaknya. Sudah malam Momyang. Ingat, jangan lalai karena perkara dunia. Nanti malam tidak mau tahajud?" ujar Zaidan diikuti tanya.
Delmira tersenyum kecil. Tubuhnya memang terasa sangat lelah. Mungkin karena otak yang terlalu berpikir keras menyebabkan tubuhnya selelah itu.
"Kamu lihat, sudah pukul sebelas malam." Dagu Zaidan menunjuk ke arah jam dinding.
"Wudu lah," titahnya, "biar Papyang yang rapikan semuanya," sambung Zaidan, tangannya bergerak mengambil laptop yang ada di pangkuan Delmira untuk dia matikan.
Delmira pun menurut, bangkit dari duduk lalu berjalan ke kamar mandi dalam kamar untuk mengambil air wudhu.
Dua sudut bibir Delmira ditarik, suasana hatinya sudah mulai adem setelah air wudu itu membasuh sebagian tubuhnya. Kakinya berjalan keluar dari kamar mandi, matanya kini tertuju pada Zaidan yang meletakkan berkas yang sudah rapi ke meja.
"Terima kasih Papyang," ucap Delmira, setelah Zaidan merebahkan tubuhnya di ranjang.
"Hmmm," jawab Zaidan.
'Kenapa dia hanya mendengung? Apa dia marah karena aku yang tidak bejus mengurus rumah sakit?' monolog batin Delmira, apalagi Zaidan langsung memejamkan matanya tanpa ada ritual cium pucuk kepala atau pun doa bersama.
"Papyang tidak berdoa dulu?" lontar Delmira hati-hati.
"Sudah," sahut Zaidan hanya sepatah kata tanpa membuka matanya.
Delmira mengerucutkan bibirnya, mendapat balasan dari Zaidan yang tidak sesuai apa yang diharapkan.
Bahkan, matanya sekarang malah terbuka lebar tidak dapat dipejamkan karena terlalu baper alias bawa perasaan dengan jawaban suaminya.
...****************...
"Momyang, jamaah subuh," panggil Zaidan menepuk ringan lengan Delmira.
"Momyang," panggilnya sekali lagi karena Delmira tidak juga bangun.
Zaidan memutuskan untuk keluar kamar dan mengetuk kamar si kembar.
Tok
tok
tok.
Kahfi membuka pintu, melebarkan senyum.
"Alhamdulillah, anak Papyang yang satu ini sudah bangun. Kaffah mana?" lontar Zaidan melihat Kahfi sudah bersih rapi mengenakan baju kok dan sarung, tubuhnya masuk ke dalam kamar.
"Astaghfirullah haladhim, masih tidur. Kaffah, Kaff...," panggil Zaidan menepuk pelan pipi anaknya. Namun apa reaksi Kaffah sungguh di luar dugaan.
"Emang karena kamu perempuan, aku tidak bisa melawan. Lihat saja... Ciaaaaat hap!" seru Kaffah tangan bergerak mendorong Zaidan, dirinya bangkit duduk bersila tapi matanya tetap terpejam.
"Aduh, Kaffah! Punggung Papyang jadi sakit nih?" keluh Zaidan yang tersungkur ke lantai.
__ADS_1
Kahfi terlihat menahan senyum, sambil membantu Zaidan bangkit.
"Kaffah!" teriak Zaidan.
Kaffah tersentak, membuka mata.
"Pappy," seru Kaffah langsung turun dari ranjang dan membantu Zaidan untuk duduk di tepi ranjang.
"Maaf, Pap," ucap Kaffah.
"Ya Allah, kamu mimpi apa sih, sampai kuat sekali dorong Papyang."
Kaffah hanya bisa nyengir, "Mau jamaah kan? retoris Kaffah mengalihkan pertanyaan yang terlontar dari mulut pappynya, "wudu dulu," pamitnya langsung lari masuk ke kamar mandi.
Setelah sepuluh menit, Kaffah sudah mengenakan pakaian rapi. Mereka pun pergi menuruni anak tangga dan keluar ke masjid komplek.
"Mommy nggak ikut Pap?" tanya Kahfi, kakinya menginjak pijakan tangga terakhir.
"Momyang sepertinya terlalu enak tidur. Dibangunin tetap saja tidak bangun," sahut Zaidan.
"Mommy sehat kan Pap?" lontar Kaffah.
"Alhamdulillah sehat, nanti kalian coba yang bangunin," jawab Zaidan.
Mereka sampai di masjid tidak lama setelah itu Iqamah.
Apa yang dipinta Zaidan, kedua anaknya masuk ke kamar akan membangunkan Delmira.
Kahfi tersenyum menatap wajah Mommy nya dan sejuk mendengar suara ngaji mommy nya.
Mereka memilih duduk di sofa, sedangkan saat itu Delmira mengaji di atas ranjang.
"Sadaqallahul adhim."
Delmira mengalihkan pandangan yang sedari tadi buat dia penasaran.
"Subhanallah, anak Momyang," ucap Delmira merentangkan tangannya agar kedua anaknya mendekat dan membaur ke pelukan.
"Maaf, Momyang ketiduran, akhirnya tidak ikut kalian ke masjid," ucap Delmira, dua anaknya dalam pelukan.
"Aku kira Mommy sakit," ucap Kaffah, melepas pelukan.
Delmira tersenyum, "Alhamdulillah, Momyang sehat kok."
Tangan Delmira bergerak membenarkan Koko yang dipakai Kaffah dan Kahfi, "Bagaimana sekolah kalian? Sudah beberapa hari Momyang tidak menanyakan ini pada kalian."
"Alhamdulillah, seperti biasanya Mom, anak ganteng mommy ini tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Semua beres," jawab Kaffah penuh semangat.
"Alhamdulillah kalau begitu," sahut Delmira, "kamu Sayang?" tanya Delmira pindah ke Kahfi.
"Alhamdulillah, semua lancar Mom," jawab Kahfi.
__ADS_1
Delmira menarik dua sudut bibirnya membentuk sebuah senyum, lalu merentangkan tangannya kembali, kedua anaknya pun memeluk Delmira kembali.
"Papyang juga mau dong ikut dipeluk," sela Zaidan yang sedari tadi merasa dicueki, akhirnya ikut memeluk keduanya.
'Subhanallah, luar biasa nikmat kamu ya Allah. Titipan dua anak yang saleh seperti mereka itu sudah nikmat yang tidak tertandingi. Tetap jadikan mereka anak yang saleh. Berikan umur yang panjang, jadikan mereka anak yang cerdas,' monolog batin Delmira merangkai sebuah doa.
'Dan... semoga Papyang juga tidak marah padaku karena masalah rumah sakit. Walaupun ku akui, itu memang kelalaianku,' lanjut batin Delmira.
Tangan Delmira bergerak menyeka embun yang memenuhi pelupuk matanya.
"Mommy, kenapa menangis?" lontar Kaffah mendengar lirih isakan, tangannya ikut menyeka mata Delmira.
"Apa kami punya salah?" sambung Kaffah.
Hiks hiks...hiks... .
Tangisan Delmira semakin kencang.
"Nah, sudah deh tumpah semua," ledek Zaidan.
Kahfi dan Kaffah bangkit, memberi akses pada pappynya untuk mendekat ke mommy nya.
Tangan Zaidan menyeka air mata Delmira.
"Aku terharu dengan suasana seperti ini Papyang. Ya Allah, belum tentu besok kita akan menikmati hal ini. Umur kita semakin tua, mereka anak-anak kita semakin dewasa. Mommy tiba-tiba membayangkan..., membayangkan... dipanggil Allah terlebih dahulu," ujar Delmira panjang lebar diiringi tangis kembali.
"Ya Allah Momyang, kita semua masih di tempat yang sama. Oke bagus mengingat kematian itu memang perlu, agar kita selalu ingat Allah, bukan duniawi saja yang kita ingat. Tapi ingat, kita juga harus menikmati nikmat yang Allah kirimkan pada kita semua, selama masih di dunia," balas Zaidan.
"Semangat Mommy! Pagi-pagi jangan mewek," ledek Kaffah.
Delmira tersenyum mendengar ucapan anaknya.
"Nah gitu dong, senyum lebar. Mommy makin cantik loh kalau senyum begini," sambung Kaffah.
"Ya, ya Momyang akan selalu semangat," sahut Delmira.
"Karena mommy sudah tersenyum, kita keluar dulu ya," pamit Kaffah menarik tangan saudara kembarnya agar ikut keluar.
"Kita tidak olah raga bareng?" tawar Zaidan.
"Hari ini kita libur olah raga!" seru Kaffah sebelum pintu kamar orang tuanya dia tutup.
Sekarang di kamar hanya ada Delmira dan Zaidan.
Mata Delmira menatap lekat ke arah suaminya, "Papyang," panggil Delmira.
"Ada apa Momyang," sahut Zaidan lembut sambil mengelus pipi Delmira.
"Apa..., semalam, Papyang marah dengan Momyang?" lontar Delmira dengan suara terbata dan lirih.
Zaidan menahan senyum, "Kenapa Papyang marah dengan Momyang?"
__ADS_1