Dinikahi Berondong Saleh

Dinikahi Berondong Saleh
Bab 68


__ADS_3

'Brengsek kamu Rel! Aku akan balas perlakuaanmu!' batin Meilin, tangannya mengepal.


"Tunggu Pak," pinta Meilin langkah kakinya dipercepat menyusul Antonio.


Antonio diam tidak menyahuti pinta Meilin dia terus melangkah Diman mobilnya terparkir.


"Tunggu Pak!" teriak Meilin karena mobil itu jalan meninggalkannya.


Napas Meilin tersengal-sengal, "Aku harus bagaimana?" teriak Meilin merasa frustasi.


Rambutannya dia acak tidak beraturan.


Tangannya segera merogoh ponsel yang ada di dalam tas, lalu memesan taksi on line.


Tidak selang berapa lama mobil pesanannya datang. Dia segera naik.


Sepanjang perjalanan Meilin merasa gelisah. Tidak tahu harus berbuat apa agar putusan pemecatan sepihak itu dibatalkan oleh Antonio.


"Apa pun yang terjadi, Antonio tidak boleh memecatku dengan cara seperti ini!" geram Meilin, giginya gemeretak menahan amarah.


Kaki Meilin turun dari mobil, dia segera melangkah ke gedung kantor dan menuju ke ruang Antonio.


"Dia tidak di ruangan?" gumam Meilin melihat pintu ruangan terkunci.


"Resta, Pak Antonio belum sampai kantor?'


"Bukannya tadi Mbak Mei ikut Pak Antonio? Kenapa malah bertanya padaku?" jawab Resta teman sekantor, merasa heran.


Meilin masuk ke ruangan, dirinya berharap cemas. Tangannya pun segera mengetik dan mengirim pesan ke Revan, asisten Antonio.


Kami di resto hotel XX.


Meilin membaca balasan pesan dari Revan.


Pantatnya kemudian duduk di kursi kerjanya.


Sore telah datang menyapa.


"Aku pulang dulu Mbak," pamit Resta dan diangguki Meilin.


Mata Meilin memutar pada teman satu tim marketing yang satu persatu mulai pulang. Pandangannya kini berhenti pada pintu ruang kerja Antonio. Sepuluh menit yang lalu, atasannya itu masuk ke ruang kerja.


"Aku harus menemuinya," gumam Meilin pantatnya dia angkat, kakinya melangkah masuk ke ruang Antonio.


"Ada apa?!" lontar Antonio melihat Meilin masuk paksa ke ruangan, walaupun Revan melarangnya masuk.


Antonio memberi isyarat agar Revan keluar ruangan.


Asisten itu pun melangkah keluar.


"Aku mohon jangan pecat saya Pak," pinta Meilin.


"Proyek itu tidak boleh gagal, tapi kenapa kamu malah menggagalkannya?!" teriak Antonio.


"Bapak lihat sendiri, dia yang tidak kooperatif, mencampuradukkan masalah pribadi dengan pekerjaan."


"Aku tidak peduli itu! Yang aku pedulikan kita gagal memenangkan proyek gara-gara kamu!" Jari Antonio menunjuk ke wajah Meilin.


"Pak, please mohon lebih bijak lagi." Meilin masih memohon pada Antonio.


"Pekerjaan ini sangat penting bagiku Pak, aku harus membiayai 2 adikku," ucap Meilin berusaha membujuk atasannya.


"Sayangnya aku tidak peduli itu. Keluar dari ruangan ini!" titah Antonio.


"Tunggu apalagi! Keluar!"


"Pak," mohon Meilin mendekat ke arah atasannya.


"Revan! Bawa sampah ini keluar!" teriak Antonio. Gegas asistennya masuk ruangan dan mengiring Meilin untuk keluar ruangan sekaligus keluar perusahaan.


"Lepas!" titah Meilin menatap sengit pada Revan, "payah kamu Van! Tidak bisa diandalkan!" cibir Meilin kemudian.


"Aku... aku_"


"Jangan pernah hubungi aku lagi!" kesal Meilin.


Revan pasrah, ketika Meilin memilih berjalan menjauh pergi dari hadapannya.

__ADS_1


Cinta yang dia punya tidak dapat mengalahkan kekuasaan yang dimiliki Antonio. Untuk sekarang, Revan harus relakan kepergian Meilin walaupun keluh karena cinta yang sudah mengakar pada hatinya untuk Meilin.


...****************...


"Perusahaan bapak Andra bisa diandalkan Tuan?" lontar Raka ketika kakinya naik ke ranjang hotel.


Mereka baru saja sampai di hotel yang ada di pusat kota Pekalongan. Besok pagi, sesuai jadwal, Verel akan mengantar Delmira cek kehamilan.


"Aku rasa bisa, dia termasuk orang yang gigih bekerja," sahut Verel masih dengan posisi nyaman, tubuh bersandar pada kepala. ranjang.


"Padahal prospek lebih bagus kalau Tuan mau menyerahkan proyek pada bapak Antonio."


"Kamu sudah dengar alasanku bukan? Kenapa kamu ungkit lagi?"


"Tapi Tuan, biasanya Tuan mengesampingkan masalah pribadi kalau sudah berhubungan dengan pekerjaan?"


"Kali ini tidak bisa!"


"Karena berhubungan dengan Delmira?"


Verel terdiam.


"Benarkah begitu Tuan?"


"Mungkin ini jalan keadilan untuk Delmira."


Raka mengempaskan napasnya, "Aku salut ketelatenan Tuan untuk mendapatkan cinta non Delmira."


"Aku tidak berharap balasan cinta darinya, yang kuharapkan dia hidup bahagia."


"Rasanya mustahil Tuan. Cinta memang membutuhkan pengorbanan, tapi kalau pengorbanannya merelakan orang yang kita cintai hidup dengan orang lain, itu sangat tidak mungkin."


"Apakah aku bilang kalau aku merelakan Delmira hidup dengan lelaki lain? Aku hanya mengatakan yang penting dia bahagia!" terang Verel.


Raka tersenyum mengejek, "Tuan memang tidak mengatakan itu secara tersurat tapi jelas sekali kalau kalimat yang Tuan lontarkan dapat diartikan seperti apa yang tadi aku ucapkan," protes Verel.


"Terserah kamu. Lebih baik kamu diam kalau kamu tidak pernah merasakan apa itu cinta!"


"Tuan mengejek aku?" sanggah Raka.


Verel melirik ke arah Raka, sang asisten, "Atau jangan-jangan kamu sekarang sedang jatuh cinta?" telisik Verel.


"Kamu benar-benar jatuh cinta dengan bocah SMA itu?"


"Maksud Tuan apa? Aku tidak paham," sahut Raka.


Verel terkekeh melihat ekspresi wajah Raka.


"Tapi tidak apalah, dia memang cantik dan berbakti pada simbah Sa'diyah. Tapi, kamu perlu hati-hati, sepertinya dia akan menjadi wanita yang dominan. Lihat saja, tampang dan nada bicaranya? Bener-bener kayak preman kampung."


"Mengapa malah membahas itu," protes Raka yang lebih memilih merebahkan tubuhnya bersiap-siap menjemur mimpi.


"Tidurlah Tuan, sudah hampir larut masih saja kerja," pinta sekaligus sindiran dari Raka karena dia tahu Verel masih mengecek email dari bawahannya yang ada di Maurice.


"Hmmm," dengung Verel sebagai jawaban.


Verel berpindah tatap pada layar ponselnya. Dia membuka video USG satu bulan yang lalu, "Ayah penasaran perkembangan kamu bulan ini Nak," ucapnya sambil mengelus layar ponsel.


"Selamat tidur sayang," sambungnya sambil mencium layar ponsel.


Raka yang belum tertidur penuh, dia mendengar semua apa yang Verel ucapkan. Sungguh dalam lubuk hati terdalam, ikut terenyuh apa yang barusan dilakukan Verel.


'Semoga Tuhan menakdirkan kalian untuk bersama,' batin Raka mengucap sebuah doa.


...****************...


"Kalau malam kan enak Del, lebih adem." tawar Verel ketika mereka sampai di klinik ternyata istri dokter Gunawan kecelakaan dan terpaksa, semua pemeriksaan yang terjadwal di klinik itu dibatalkan.


" Kamu tahu sendiri Rel, kalau malam aku ngaji," jawab Delmira.


"Libur satu hari apa tidak bisa?"


"Kalau sudah libur sekali, nanti jadi ketagihan Rel," sahut Delmira dengan lembut.


Verel tersenyum mendengar alasan Delmira, tapi hatinya juga merasa kecut, insecure karena Delmira yang semakin taat pada Tuhan sedangkan dirinya sangatlah jauh dari Tuhan.


"Ikut aku ke hotel saja?"

__ADS_1


"Mau apa?"


"Di sana ada pijat refleksi, barangkali tubuh kamu merasa tidak enak?" tawar Verel melihat Delmira sudah mulai susah jalan sambil pegang punggungnya.


"Tidaklah, tidak apa-apa, aku sehat kok," jawab Delmira.


"Atau aku pijat biar enakan?"


"Rel...," mata Delmira membelalak.


Verel terkekeh, "Aku hanya bercanda."


Delmira duduk di kursi penumpang.


"Boleh aku duduk di samping kamu?" pinta Verel setelah Delmira duduk nyaman di dalam mobil.


"Jangan macam-macam Rel," sahut Delmira dengan muka masam


Lagi Verel hanya bisa terkekeh melihat ekspresi Delmira. Walaupun dari lubuk hati terdalam, dia sangat ingin duduk di samping Delmira, lalu tangannya mengelus perut yang membuncit itu.


...****************...


Satu hari yang lalu Delmira sudah periksa kehamilannya. Verel semakin tidak sabar ingin melihat anaknya lahir ke dunia dan menimang bayi itu. Berdasarkan hasil USG bayi itu berjenis kelamin laki-laki.


Hari ini, mereka belanja keperluan bayi. Mulai dari popok hingga kereta dorong sudah mereka pilih.


"HPL nya masih jauh Rel,?" sebelum pergi belanja Delmira sebenarnya sudah protes seperti itu. Dirinya juga menyarankan agar membeli on line saja, tapi Verel tetap kekeh ingin membeli secara langsung.


"Aku sudah tidak sabar ingin beli keperluan bayi kita Del," sahut Verel saat itu.


Benar saja, saat masuk ke toko perlengkapan bayi yang ada di salah satu mall kota, Verellah yang sangat antusias memilih barang-barang keperluan bayi..


"Tidak ikut non Delmira memilih baju bayi?" lontar Raka pada Safira yang juga ikut ke mall.


"Buat apa ikut? Mbak Del sudah ditemenin Om Verel," jawab Safira sambil memakan seblak yang dia pesan disalah satu anchor jajanan yang terletak satu lantai dengan perlengkapan bayi.


Safira menatap ke arah Raka yang berdiri di depannya.


"Om mau?" tawar Safira melihat Raka menatap tanpa kedip ke arahnya.


Raka hanya tersenyum kecil membalas tawaran Safira.


"Mau tidak?" tawar Safira sekali lagi melihat reaksi Raka yang hanya tersenyum singkat.


Raka pun duduk di kursi berhadapan dengan Safira, hanya meja kecil yang menjadi pembatas mereka.


"Nih, Om mau?" Safira menyendok seblak dan diarahkan ke mulut Raka. Namun ketika kepala Raka ditundukkan dan mulutnya dia buka untuk menerima suapan dari Safira, apa yang dilakukan Safira sungguh di luar dugaan.


"Enak saja, beli sendiri," ujar Safira malah memasukkan seblak di sendok ke mulutnya sendiri.


Safira terkekeh berhasil mengerjai Raka.


"Bocah ini," greget Raka.


Raka merasa kalah telak apa yang dilakukan Safira, si bocah ingusan.


"Awas loh, jangan marah. Nanti ganteng nya ilang," celetuk Safira.


Raka mendengus kesal dengan tingkah Safira, "Cepat habiskan, kita ke anchor perlengkapan bayi, barangkali mereka sudah selesai belanja."


"Iya, ini juga sudah," sahut Safira.


Safira gegas berdiri setelah seblaknya habis. Dia mengekor langkah Raka.


"Om ganteng, kenapa jalannya cepet banget sih!" protes Safira, dirinya tertinggal jauh dari Raka, sampai Safira pun harus lari kecil untuk mengejar langkah panjang Raka.


"Jalan kamu terlalu kemayu," ejek Raka.


"Issst! Om ganteng, tidak punya kerjaan lain apa selain ngejek Safira!" sungut Safira.


"Mengejek kamu adalah pekerjaan yang paling menyenangkan."


"Oh ya? Kalau begitu ejek terus Safira, biar Om ganteng selalu senang," jawab Safira.


"Kamu!" Raka semakin greget pada bocah yang dikatakan ingusan itu dan tangannya refleks akan menarik dua pipi Safira.


Safira tersenyum, "Sabar ya Om ganteng, nyentuh pipinya Safira nanti kalau sudah halal," lirih Safira diikuti sebuah tawa renyah. Kakinya melangkah terlebih dahulu untuk masuk ke anchor perlengkapan bayi.

__ADS_1


"Bocah ingusan itu!" geram Raka, tangannya memang sangat gemas ingin menarik dua pipi Safira yang terlihat berisi.


sore menyapa 🤗 jangan lupa like komen hadiah vote rate 🙏


__ADS_2