Dinikahi Berondong Saleh

Dinikahi Berondong Saleh
Bab 76


__ADS_3

Raka dan Safira gegas mengekor langkah dokter masuk ke ruang perawatan.


"Jemarinya tadi bergerak Dok," lapor Verel dengan wajah penuh harap kalau kabar itu baik untuk perkembangan Delmira.


"Coba saya cek terlebih dahulu Pak," balas sang dokter dan segera memeriksa keadaan Delmira.


"Alhamdulilah, kondisi jantung dan yang lainnya membaik. Terus ajak interaksi si pasien karena pasien koma tetap anggota tubuhnya masih berfungi, hanya fungsinya menurun. Misal saja, dia tidak melihat tapi bisa mendengar suara kita, mungkin saja suara kita tidak begitu jelas tapi yang terpenting suara itu masih dapat dicerna oleh si pasien. Baik seperti itu ya Pak, kabari kami kalau ada perkembangan lagi."


"Kapan dia bisa bangun Dok?" lontar Verel.


"Maaf, kita tidak dapat pastikan itu. Kondisi tubuh pasienlah yang sangat mempengaruhi, berapa lama dia akan bangun dari koma. Selain fisik, kondisi psikis pasien juga menjadi faktor penting. Jadi, semisalnya kondisi psikis pasien sebelum kecelakaan kok stres, dimungkinkan itu mempengaruhi tingkat kesadaran untuk bangun dari koma," terang dokter.


Verel terdiam, 'Selama ini kamu pasti stres menghadapi masalah dalam hidup kamu Del. Maafkan aku Del,' batin Verel.


"Baiklah, saya permisi dulu Bapak, Ibu," pamit sang dokter.


"Ya Dok, terima kasih," ucap Sa'diyah yang sedari tadi mengelus tangan Delmira sambil mendengarkan penjelasan dokter dan beberapa pertanyaan dari Verel.


"Assalamualaikum Simbah," sapa Safira setelah dokter itu hilang dari balik pintu ruangan, tubuhnya mendekat ke arah Sa'diyah, mencium takdhim wanita tua itu.


"Waalaikum salam, datang ke sini sendiri? Rumahnya dikunci?"


Safira mengangguk.


"Sudah makan belum?"


Safira menggelengkan kepala.


"Kenapa belum makan, waktu makan siang hampir lewat? Apa yang kamu lakukan di rumah, sampai jam segini belum maka siang?" omel Sa'diyah.


"Ya Allah Simbah, jangan kencang-kencang. Ingat ini di kamar pasien. Lihat mbak Del sedang sakit," protes Safira.


Sa'diyah mengempaskan napasnya kasar, tangannya bergerak mengelus dada.


"Simbah antar ke kantin," ajak Sa'diyah tangannya menggandeng Safira.


"Tidak usah Mbah," tolak Safira melepas tangan Sa'diyah.


"Aku akan ditemani om ganteng," ujar Safira.


"Issst! Kamu_"


Tangan Sa'diyah greget memukul kosong.


"Biar aku antar saja Mbah, Simbah tetap di ruangan menjaga non Delmira," sela Raka.


"Tidak apa-apa Nak Raka?" lontar Sa'diyah.

__ADS_1


Raka tersenyum mengangguk.


"Cepat Om," pinta Safira langsung melangkah keluar sebelum simbahnya menambah wejangan.


Mereka melewati lorong-lorong ruang sakit. Hingga berujung pada salah satu gedung kantin yang terpisah dari gedung lainnya.


"Mas aku pesan tumis kangkung, ikan sambal, tempe goreng. Minumnya... es teh manis," Safira menyebutkan sederet menu yang dipesan pada salah satu pelayan kantin.


"Sama ya Mas," ujar Raka.


"Mohon ditunggu ya Kak," balas pelayan itu setelah mencatat menu pemesanan.


Safira menatap aneh pada Raka.


"Om ganteng doyan dengan tumis kangkung?" lontar Safira.


Raka tersenyum mendengar pertanyaan Safira.


"Kenapa malah senyum?" gerutu Safira bukan mendapatkan jawaban hanya lemparan senyum yang dia dapat.


"Kamu mau tahu?"


"Banget Om."


Raka sengaja mengulur jawabannya, entah kenapa dia merasa senang melihat ekspresi wajah Safira kalau sedang kesal. Terlihat manja tapi tidak berlebihan.


"Issst! Sudah ditunggu jawabannya malah bengong lihat aku. CK ck ck... aku memang cantik kan Om," ucap Safira membanggakan diri, senyum selebar mungkin dan tangannya bergerak membenarkan kerudung.


"Maaf Kak, ini menu makanannya," sela seorang pelayan menaruh pesanan di atas meja.


"Terima kasih Mas."


Safira dan Raka gegas makan, tapi sebelum makanan itu masuk ke mulut Safira melantunkan doa, tidak lupa dia juga mengingatkan Raka agar melakukan apa yang dia lakukan pula.


"Kamu kelas berapa?" tanya Raka di sela-sela makan.


"Kenapa Om tanya itu?"


"Hanya ingin tahu saja, karena tidak mungkin aku menanyakan pada kamu, sekarang sibuk apa?"


"Issst!" kesal Safira memanyunkan bibirnya.


Safira terkekeh melihat Raka terlihat kesal.


"Om mau tahu?" nyolot Safira.


"Kalau boleh ya kasih tahu," sahut Raka.

__ADS_1


"Kasih tahu nggak ya?"


"Kasih tahu dong," balas Raka ala-ala anak jaman sekarang.


Bukan menjawab Safira malah terkekeh hingga dia tersedak oleh sesuap nasi yang baru masuk di mulutnya.


"Hati-hati," Raka memperingatkan dan menyodorkan gelas minumannya.


Melihat isi gelasnya sudah kosong, Safira menurut saja menyeruput teh manis milik Raka.


"Kenapa pakai sedotan kamu?" protes Raka melihat Safira menyeruput teh manis miliknya tapi memakai sedotan milik Safira.


"Issst Om ganteng, kalau apa-apa Safira sudah berbagi ini itu dengan om ganteng, nanti kalau kita menikah sudah tidak ada hal istimewa lagi yang kita punya," sahut Safira.


Raka terkejut dan dirinya tidak dapat menahan tawa mendengar ucapan Safira.


"Siapa juga yang mau nikah dengan kamu Sapi?" elak Raka.


"Issst! Nanti om ganteng bakal nyesel kalau tidak menikahi aku!" ujar Safira mengerucutkan bibirnya.


"Udah ah, udah kenyang. Aku mau ke ruang perawatan mbak Del," sambung Safira bangkit dari duduk dan melangkah terlebih dahulu.


Raka terlihat mendengus, Jelas sudah, makanannya memang sudah habis," ujar Raka melihat isi piring dan gelas telah habis tandas.


...****************...


Sudah hari ketiga Delmira hanya diam di ranjang pasien.


Mata Verel tetap menatap pada Delmira, sesekali dia mengajak Delmira bicara tapi wanita itu tetap saja diam.


Verel terkejut tatkala tidak hanya jari Delmira yang bergerak, tapi mata Delmira perlahan juga terbuka,


"Delmira, Del... kamu bangun?" Verel berkata gagu, rona wajahnya terlihat bahagia.


Mbok Sa'diyah segera bangkit dari duduk dan mendekat ke Delmira.


"Non Delmira, Subhanallah... Non akhirnya bangun," ucap Sa'diyah matanya langsung mengeluarkan cairan bening.


Verel masih menatap tidak percaya, tangannya bergerak mengusap wajah.


Verel mendekat wajahnya ke wajah Delmira karena sepertinya dia ingin berkata sesuatu.


"Apa Del? Coba katakan?"


"Za.. Zaid...," lirih Delmira.


Glek.

__ADS_1


Verel hanya menelan salivanya mendengar ucapan pertama yang dilontarkan Delmira.


malam menyapa 🤗 komen 🙏


__ADS_2