
Hanya semalam saja di rumah sakit, tapi benar-benar membuat Delmira tidak betah.
"Alhamdulillah sampai rumah," ucap Delmira menghambur masuk ke kamar yang sudah disiapkan untuk dua bayi kembarnya.
Seharusnya setelah enam jam persalinan, Delmira diizinkan pulang karena kondisi dirinya maupun dua bayinya dalam keadaan sehat. Namun, 6 jam setelah persalinan itu waktunya baru lepas sepertiga malam. Maka Zaidan memutuskan untuk pulang di pagi hari. Walaupun saat itu Delmira ngotot untuk segera minta pulang.
Delmira masih menatap desain kamar yang masih bernuansa feminim dan maskulin karena dari hasil USG diperkirakan anak Zaidan dan Delmira perempuan dan laki-laki.
Zaidan dan Delmira sengaja USG 3D. Bagi mereka sudah tahu kondisi anak baik-baik saja itu sudah cukup dari pada mengetahui jenis kelamin keduanya. Dari awal kehamilan Delmira juga yakin kondisi tubuhnya sehat. Jadi tidak perlu memakai USG 4D.
Dua pengasuh yang semalam memang langsung didatangkan dari agen baby sitter, menaruh dua bayi yang pulas itu ke box bayi.
"Lucu sekali ponakan Tante Safira," seru Safira yang pagi itu sudah di rumah Delmira.
"Jadi pengen Mbak," lirih Safira menyenggol bahu Delmira dan dengan wajah memanja.
"Kelarin dulu kuliahnya Sap," sahut Delmira menyubit bahu Safira dengan gemas.
Safira memanyunkan bibirnya, "Menikah di waktu kuliah juga tidak apa-apakan," sungutnya.
Delmira melototkan matanya, "Boleh! Cepat calonnya suruh datang menghadap Mbak Del!" seru Delmira greget.
Safira nyeringis, menggaruk tengkuk kepalanya yang berbalut hijab walaupun tidak gatal.
"Hari ini kalau bisa!" tantang Delmira.
"Issst! Mbak Del sukanya gitu deh," balas Safira, bibirnya manyun. Merasa sadar diri lelaki yang diidamkan tak kunjung membuka hati.
Sebuah senyum tertahan di wajah Delmira. Akhirnya berhasil menggertak Safira yang tak henti bilang lebih menginginkan menikah dibandingkan melanjutkan studinya.
Dia tahu, Safira tidak mungkin mendatangkan Raka yang belum juga membuka hati untuknya.
"Momyang, jangan ngerjain Safira gitu, kasihan dia," bela Zaidan.
"Papyang, aku tidak ngerjain si Sapi. Cuma gedek saja denger dia ngebet nikah," jawab Delmira.
Safira terdiam melongo, bukan karena perdebatan suami istri di depannya melainkan sapaan untuk Zaidan yang diberikan Delmira dan sebaliknya.
"Papyang? Momyang?" ucap Safira mengulang sapaan itu sebagai isyarat dia meminta penjelasan.
"Papa sayang, kami singkat papyang. Itu sapaan untuk suami tercinta," jawab Delmira diiringi sebuah senyum dan mata yang sengaja dikedip-kedipkan, "dan momyang itu_"
"Singkatan dari momy sayang!" cekat Safira dengan raut besungut membuat Delmira terkekeh karena itu.
"Sok manis," sambung Safira memilih memutar badan untuk melangkah keluar dari kamar twins baby.
"Hei! Mau kemana?" ledek Delmira.
"Keluar! Kalian malah menggoda imanku untuk cepat menikah!" jawab Safira sambil berlalu.
__ADS_1
Delmira semakin terkekeh.
"Astaghfirullah haladhim, dua orang ini kalau bertemu kayak kucing dan tikus," keluh Zaidan, kepalanya menggeleng-geleng.
"Dia yang mulai Papyang," bela Delmira.
"Dua-duanya tidak jauh beda. Tidak mau ada yang disalahkan dan tidak ada yang mau mengalah."
"Papyang, nggak asik deh! Kenapa tidak membela istrinya sih," sungut Delmira.
Zaidan dibuat melebarkan senyum dengan tingkah sang istri.
"Sus, tolong jaga mereka, aku mau mandi," izin Delmira.
"Baik Non," sahut dua suster itu bersamaan.
"Aku antar," seru Zaidan mengekor langkah Delmira.
Seketika Delmira menghentikan langkah kakinya, menoleh ke arah Zaidan yang juga terpaksa kakinya berhenti.
"Mau apa ngantar?"
"Ya... tidak apa-apa, cuma... cuma mau ikut ke kamar," jawab Zaidan terbata karena wajah serius yang ditunjukkan Delmira.
"Aku kira mau macam-macam!" sungut Delmira, tubuhnya berbalik dan melanjutkan langkah kakinya untuk keluar menuju kamarnya.
...****************...
Tamu undangan, tetangga, teman, mitra kerja, satu persatu pulang setelah menghadiri acara walimatul aqiqah.
Delmira duduk di antara tamu yang belum pulang.
"Boleh melihatnya?"
Delmira langsung menolehkan pandangan ke sumber suara. Suara yang sangat tidak asing baginya.
"Verel," ucap Delmira menyebut lelaki yang sekarang berdiri di hadapannya, matanya lalu berpindah ke lelaki di samping Verel yang tidak lain adalah Zaidan.
"Boleh membopong dia?" pinta Verel.
"Biar aku bantu," sela Zaidan mengambil abayinya dari tangan Delmira lalu dipindahkan ke tangan Verel yang sudah menengadah.
"Kamu pintar gendong Rel," puji Zaidan merasa kalah lihai dengan Verel saat menggendong bayi.
Verel hanya tersenyum membalas ucapan Zaidan.
'Dulu aku akan punya anak. Jadi semuanya sudah aku persiapkan untuk menyambut kelahirannya. Namun, Tuhan lebih sayang pada anak itu,' batin Verel berkata, hatinya tiba-tiba merasa teramat sedih.
"Ayo buat yang lucu seperti itu," ujar Delmira membuka diamnya semua orang.
__ADS_1
Lagi, Verel hanya tersenyum sebagai balasan. Matanya kini beralih pada bayi yang dia gendong. 'Kamu mirip sekali dengan almarhum kakakmu,' batin Verel, dan jujur kalimat itu semakin menyayat hati, matanya menatap bayi yang digendong dirinya dan berpindah tatap pada bayi yang digendong suster.
"Semoga anak kalian tumbuh menjadi anak yang saleh-saleh," ucap Verel kemudian tangannya bergerak menyerahkan bayi itu pada Zaidan setelah itu Delmira meraih bayinya dari tangan sang suami.
"Amin," seru Delmira dan Zaidan hampir bersamaan.
"Aku tidak tahu mau memberi apa pada twins baby kalian," ujar Verel saat Raka datang membawa bungkusan besar masuk ke ruang tengah.
"Kenapa repot-repot Tuan Verel," sahut Zaidan.
"Tidak merepotkan, hanya sebuah hadiah ungkapan kebahagiaan untuk kehadiran mereka," balas Verel.
"Terima kasih Rel," ucap Delmira.
Sebuah anggukan dan senyum diperlihatkan Verel sebagai respon ucapan Delmira.
Delmira menyerahkan bayinya pada suster satunya.
"Kalau begitu, aku pamit dulu. Sekali lagi, selamat untuk kalian telah menyandang gelar baru," lontar Verel menyodorkan tangan pada Zaidan. Setelah itu pandangannya beralih pada Delmira sebagai isyarat ucapan yang sama juga ditujukan pada Delmira.
"Om ganteng," sebut Safira dengan suara lirih saat masuk ke ruang tengah dan melihat lelaki pujaan hatinya. Kakinya berjalan mendekat ke arah dimana Delmira dan yang lainnya berkumpul.
Raka menganggukkan kepala menyambut kedatangan Safira.
"Kapan datang?" lontar Safira.
"Loh, mau kemana?" Safira merasa bingung karena bukan menjawab pertanyaan darinya melainkan malah melangkah pergi meninggalkannya.
"Kamu telat! Dari tadi ngapain di belakang!" seru Delmira.
Mata Safira tetap menatap tubuh Raka yang semakin menjauh dari tempatnya berdiri. Mulutnya masih mengerucut, sedangkan Raka sudah mulai tidak terlihat dari jangkauan matanya.
"Kasih telepati kek biar aku cepat datang ke sini!" sungut Safira kini tatapannya berpindah ke arah Delmira.
"Astaghfirullah haladhim, tiap hari juga bertemu dengan Raka," protes Delmira.
"Tetap saja rasanya berbeda!" sahut Safira, "yuk Sus bawa Kaffa sama Kahfi ke kamar," sambung Safira, menggandeng dua suster yang masih menggendong dua bayi lucu itu.
Dua suster itu menatap ke arah Delmira sebagai isyarat meminta persetujuan.
Setelah Delmira mengangguk menjawab isyarat suster, mereka baru melangkahkan kaki meninggalkan Zaidan dan Delmira.
"Pusing kalau urusan sama dia," keluh Delmira dan Zaidan hanya menimpali dengan sebuah senyum.
"Aku lebih pusing walau status hanya penonton," balas Zaidan.
"Issst! Nyebelin!" sungut Delmira berlalu pergi.
sore menyapa 🤗 jangan lupa like komen hadiah vote rate 🙏
__ADS_1