Dinikahi Berondong Saleh

Dinikahi Berondong Saleh
Bab 103


__ADS_3

Bukan tanpa sebab dulu sebelum melahirkan, Delmira menerima tawaran Zaidan untuk mempekerjakan dua baby sitter.


Zaidan memberikan alasan yang logis saat itu. Agar sang istri tidak stres mengurus twins baby sedangkan dirinya tidak bisa 24 jam untuk menemani Delmira mengasuh dua bayi itu.


Alasan kedua Delmira menerima tawaran Zaidan walaupun dirinya ingin mengurus sendiri dua bayinya, adalah tidak menginginkan kejadian dulu terulang kembali. Ya, kejadian di saat dirinya berjuang untuk anak dan suami, melayani dua orang kesayangan, sang almarhum suami malah berselingkuh di belakangnya.


Walaupun Delmira meyakinkan diri, Zaidan tidak mungkin berbuat sebejat almarhum suaminya dahulu.


"Tidak ngantuk Papyang?" tanya Delmira saat duduk bersama di kursi makan untuk sarapan pagi.


Pasalnya, semalam suntuk Zaidan menggantikan dirinya untuk menjaga si kembar.


Zaidan dan Delmira memang sepakat, ketika malam hari, urusan mengurus bayi ya ditangani mereka. Terkecuali mereka sangat kuwalahan baru akan memanggil baby sitter.


"Tidak apa, kalau pun aku ngantuk tinggal tidur," jawab Zaidan tapi nyatanya mulutnya menguap.


Delmira tersenyum menatap tanpa kedip lelaki di depannya.


'Masya Allah, beruntung sekali aku memiliki suami seperti kamu papyang,' monolog batin Delmira dan wajahnya masih memperlihatkan sebuah senyum.


"Makan dulu Momyang, jangan terus menatap wajah suamimu yang ganteng ini," ledek Zaidan.


Delmira semakin melebarkan senyum.


"Setelah bergelar Papyang entah kenapa wajah Papyang semakin terlihat ganteng purna deh," ujar Delmira yang akhir-akhir ini suka menggombali suaminya.


"Itu jelas sih," tegas Zaidan penuh percaya diri sambil melebarkan senyum, "tapi yang perlu Momyang perhatian itu wajah Momyang," sambung Zaidan menaikkan dua alisnya.


"Wajah Momyang? Kenapa dengan wajah Momyang?" Delmira terlihat panik menempelkan dua tangannya ke pipi.


Wanita manapun pasti akan merasa kurang percaya diri kalau membicarakan wajah dan tubuh pasca melahirkan bayi.


"Pasti tambah jelek ya Papyang?" Delmira menjawab tanya sendiri.


Zaidan memperlihatkan senyum di wajahnya, "Aku lihat..., " sengaja Zaidan menjeda kalimatnya sambil menelisik wajah sang istri dan tanpa sejengkal pun luput dari telisiknya, "sepertinya... Momyang kesurupan," sambungnya kemudian.


Mata Delmira membulat penuh, "Kesurupan? Papyang ngarang nih!" wajah Delmira semakin panik.


"Kesurupan bidadari surga," imbuh Zaidan diiringi sebuah senyum yang mengembang dari dua sudut bibirnya.


Delmira tersenyum singkat, menahan malu mendengar pujian yang dilontarkan suaminya. Tangannya bergerak menggaruk tengkuk.


"Bisa aja ngegombalnya," lirih Delmira.


Untuk menghilangkan rasa nervous bak seorang ABG yang baru mendengar pernyataan cinta dari kekasihnya, Delmira gegas memasukkan nasi dan lauk ke dalam mulutnya.


...****************...


Delmira menguap, matanya dibuka lebar tapi tetap saja rasa kantuk yang mendera tidak mampu membuat matanya terbuka penuh.


"Astaghfirullah haladhim, begini nih, kalau kerjaan hanya duduk menunggu bayi yang tidur pulas, baru jam 9 sudah ngantuk," keluh Delmira.


Pantatnya dia angkat dan segera keluar kamar twins baby-nya. Tapi sebelum itu, Delmira sempatkan untuk melihat wajah teduh dua jagoan yang masih tertidur pulas di masing-masing box.


"Aku ke dapur Sus, jaga mereka," pamit Delmira.


"Ya Non," jawab suster Fina.


"Mbok, kok buahnya tidak taruh di luar kulkas?" tanya Delmira.


Setiap pagi, Mbok Muna memang diminta Delmira untuk mengeluarkan buah yang akan ia makan menjelang siang. Bahkan jadwal buah yang akan dimakan pun sudah tertera di pintu kulkas.


"Astaghfirullah haladhim, maaf Non, Mbok bener-bener lupa," jawab Muna.

__ADS_1


"Issst Mbok, padahal aku pingin makan buah," keluh Delmira dan terpaksa mengambil buah yang ada di kulkas lalu merendam buah itu dengan air agar efek dinginnya cepat hilang.


Delmira memang sangat menjaga asupan makanan yang dia makan. Mengapa tidak memakan makanan yang masih dingin? Karena jelas itu akan mengganggu metabolisme tubuh. Kerja lambung akan terganggu karena suhu pada makanan tersebut, dan tentunya hal ini akan berakibat pula pada bentuk perut wanita setelah melahirkan. Kondisi perut yang masih sangat elastis akan semakin tidak berbentuk karena terganggunya sistem kerja lambung.


Makanan lain yang juga dihindari Delmira yaitu makanan pedas. Walaupun dirinya sangat suka makanan pedas, tapi urusan setelah melahirkan tidak boleh sembarang makan dia pilih. Makanan pedas memang meningkatkan selera makannya, tapi makanan pedas bisa berdampak pada usus, dan lebih parah kalau konsumsi pedas terlalu banyak dapat mengakibatkan iritasi lambung. Bisa juga menimbulkan diare.


Poin penting setelah melahirkan, tidak boleh ada yang namanya penyakit diare, karena penyakit ini jelas akan memengaruhi alat pembuangan akhir. Jangan sampai setelah melahirkan malah terkena penyakit wasir, itu yang tidak diinginkan Delmira.


Delmira menatap layar ponsel yang menyala dan bergetar, senyumnya mengembang tatkala membaca nama kontak yang tertera di ponsel.


"Assalamualaikum Papyang," sapa Delmira.


"Ini mau makan buah dan di meja makan, mbok Muna sudah sediakan jagung manis," jawab Delmira setelah Zaidan membalas salam dan menanyakan dirinya sudah makan camilan atau belum.


"Kaffah Kahfi masih tidur?"


"Ya, pulas sekali."


"Kalau malam suka bergadang, siangnya malah tidur," sahut Zaidan.


Delmira terkekeh, "Papyang protes nih," ledeknya.


Zaidan mengembangkan senyum, "Bukan protes, tapi menikmati masa seperti ini, karena ke depannya tidak mungkin mengulang kembali."


Delmira tersenyum, selalu dirinya merasa beruntung memiliki suami yang selalu siaga, perhatian, dan saleh seperti dia.


"Cepat pulang Papyang."


"Mau kasih apa kalau aku pulang cepat?" goda Zaidan.


"Cukup kecupan saja ya Papyang."


"Kecupan itu sudah biasa," lagi Zaidan menggoda.


Zaidan terkekeh mendengar tawaran Delmira. Dia teringat bagaimana gagahnya sang istri ketika menyerang tawanan penjambret kala itu.


"Love Momyang, aku mau lanjutkan kerja. Assalamualaikum," pamit Zaidan.


"Eh_"


Tut.


"Waalaikum salam!" sahut Delmira, bibirnya manyun, "issst! Nyebelin! Main putus sambungan!" protesnya kemudian.


Zaidan yang diseberang sana terlihat tersenyum, bersiul, bahkan bersenandung menampilkan ekspresi wajah penuh kebahagiaan.


...****************...


"Tidak biasanya jam segini papyang belum pulang. Tidak kasih kabar lagi," gumam Delmira seraya menatap jam dinding kamar yang sudah menunjukkan pukul 20.00.


Mata Delmira berpindah tatap pada dua jagoannya yang sudah tertidur pulas. Kakinya bergerak mendekat ke box bayi yang masih dikenakan dua bocah berumur satu setengah tahun itu.


Tangan Delmira mengelus rambut keduanya.


"Semoga kalian tumbuh jadi anak yang saleh," lirih Delmira.


Mulut Delmira mulai menguap.


"Assalamualaikum, boleh Ummi masuk?" izin Aisyah, kepalanya menjulur dari ambang pintu.


"Masuk saja Ummi," sahut Delmira.


Aisyah berjalan mendekat ke arah dimana Delmira berdiri.

__ADS_1


"Jagoan-jagoan Eyang putri lelap sekali tidurnya," ujar Aisyah, mengelus pipi keduanya.


"Zaidan belum pulang Del?" lontar Aisyah berpindah tatap pada Delmira.


"Belum Ummi."


"Tidak biasanya dia pulang sampai malam," gumam Aisyah, "dia tidak kasih kabar?" tanyanya kemudian.


Delmira menggelengkan kepala.


Terlihat Aisyah mengernyitkan dahinya, "Coba hubungi Fernando," usulnya.


"Astaghfirullah haladhim, mengapa dari tadi tidak kepikiran sampai ke sana Ummi," seru Delmira tangannya gegas merogoh saku celana lalu mengambil benda pipih nan canggih itu.


Setelah menyentuh aplikasi hijau, dia mencari kontak atas nama Fernando.


"Sama saja tidak terhubung," ucap Delmira melihat ponselnya tidak ada tanda-tanda panggilannya terhubung dengan nomor yang dia hubungi.


"Coba pakai ponselnya Ummi." Aisyah membuka ponsel lalu menghubungi Zaidan maupun Fernando. Namun, tetap saja keduanya tidak dapat dihubungi.


"Pagi tadi Zaidan tidak bilang apa-apa Del?"


Delmira menggeleng kembali.


Aisyah diam, nampak berpikir keras mengira-ngira keberadaan Zaidan.


"Apa mereka ke luar kota dan tidak ada sinyal?" terka Aisyah, "tapi kalau keluar kota, Ummi rasa Zaidan pasti akan izin," ujar Aisyah menjawab tanya sendiri.


hik hik hik...


Kaffah menggeliatkan tubuh sambil menangis.


"Kaffah Momyang, kok bangun?" lontar Delmira lalu membopong anaknya tersebut.


Segera Delmira memberikan ASI.


"Tumbennya dia bangun jam segini? Biasanya jam 8 masih pules-pulesnya dia tidur."


"Mungkin tadi kurang kenyang Ummi."


"Asi kamu keluar sedikit?"


Delmira mengangguk pelan.


"Ya Allah, kasihan sekali mereka. Tapi tadi sore Kaffah dan Kahfi makannya banyak kan?"


Kembali Delmira menggeleng.


Aisyah menempelkan punggung tangan ke dahi Kaffah, "Tidak panas."


"Kamu sudah makan kan Del?"


Lagi dan lagi Delmira mengangguk.


"Minum susu? Asupan nutrisi tepat semua kan?"


Delmira terdiam, entah kenapa kalau disinggung masalah ASI Delmira sangat sensitif. Terlebih, dulu ummi Aisyah pernah mengusulkan agar Kaffah dan Kahfi ASI nya disambung dengan susu formula karena takut produk ASI Delmira tidak mencukupi untuk dua anaknya. Namun, Delmira bersikekeh selama dua tahun, susu yang diminum dua jagoannya hanya ASI.


"Apa kamu terlalu stres?" lontar Aisyah dengan nada suara berbeda.


Delmira mengangkat wajahnya menatap Aisyah karena terlalu kaget dengan tanya itu.


pagi menyapa 🤗 like komen hadiah vote rate 🙏

__ADS_1


__ADS_2