
"Ok! Terpaksa aku harus menyentuh aset kamu!" ancam Zaidan.
Namun, ancaman Zaidan tetap tidak membuat Delmira bergerak.
Zaidan tersenyum kecil, menatap lekat wanita yang benar-benar tidur pulas. Tangan Zaidan bergerak menarik selimut hingga dada Delmira.
Kakinya melangkah ke arah ranjang mengambil beberapa bantal untuk dia tata di dekat sofa. Mata Zaidan melihat jam dinding yang terpasang di dinding kamar. Waktu menunjukkan pukul 03.00. Kakinya kini bergerak ke toilet kamar untuk mengambil air wudhu.
Beberapa salat sunnah dia kerjakan sebelum salat sunnah tahajud. Zaidan rutin melakukan itu semua.
Doa yang dia panjatkan tidak hanya untuk dirinya dan kedua orang tua yang sudah meninggal maupun untuk orang tua angkatnya. Sekarang, dia selipkan doa untuk wanita tak terduga yang telah masuk dalam hidupnya.
"Del..., Mrs. Delmira....," panggil Zaidan.
"Hmmm," sahut Delmira tanpa membuka mata hanya menggeliatkan tubuhnya agar lebih nyaman untuk tidur.
"Sudah masuk subuh, salat berjamaah," ajak Zaidan.
"Kamu saja yang salat," jawab Delmira makin mengeratkan guling dalam pelukannya.
Zaidan mengempaskan napasnya perlahan, pasrah tidak mungkin memaksa karena Delmira bukanlah anak kecil.
...****************...
Dua hari setelah pernikahan anaknya, Abah Fatah kembali rawat di rumah sakit. Penyakit jantungnya kambuh.
Zaidan terlihat duduk menatap abahnya yang tertidur di ranjang pasien.
"Abah harus sembuh," lirih Zaidan sambil memijit tangan Fatah.
"Tidak usah khawatirkan Abah," sahut Fatah membuat Zaidan terkejut karena mengira abahnya sedang tidur.
"Maaf mengganggu tidur Abah."
"Abah sudah terbangun dari tadi, hanya Abah merasa enak kalau mata Abah dibiarkan terpejam seperti ini," sahut Fatah.
"Harusnya hari ini Abah datang ke pengadilan," ucap Fatah.
"Abah tidak usah memikirkan hal itu, yang terpenting kesehatan Abah."
"Abah selalu mengedepankan kesehatan Abah, kamu jangan khawatir," ujar Fatah.
"Aku sudah meminta Delmira untuk mencabut tuntutannya," sambung Zaidan.
"Siapa yang menyuruh untuk mencabut tuntutan itu?" sahut Fatah.
"Bukankah Abah memintaku untuk menikahi Delmira agar dia mau mencabut tuntutannya?"
Fatah tersenyum kecil, dia lamat membuka mata walau terasa berat dan berusaha untuk bangkit dari tidur.
"Abah tetap tidur biar aku naikkan posisi ranjang atasnya," pinta Zaidan menahan tubuh Fatah.
Fatah diam menurut.
__ADS_1
"Apakah Abah pernah meminta itu pada kamu?" tanya balik Fatah pada anaknya.
"Tidak," jawab Zaidan.
Fatah kembali menampakkan senyum. "Abah hanya meminta kamu untuk menikahi Delmira, bukankah seperti itu?"
Zaidan mengangguk.
"Sekarang Abah berpesan pada kamu. Lakukan kewajiban kamu sebagai seorang suami. Ikuti sunnatullah agar berkah keluarga kamu nantinya."
Zaidan diam mendengarkan titah sang Abah.
"Abah yakin kamu tahu semuanya. Pesan Abah, yang penting kamu menjalankan dengan ikhlas dan sabar."
"Dia tidak menjalankan salat fardhu Bah?"
"Hidayah itu datang pada siapapun, tadi yang Abah katakan, ikhlas dan sabar kuncinya," ucap Fatah menepuk pelan lengan Zaidan.
"Abah tidak menginginkan menantu yang solekha?"
"Maksud kamu? Ingin cari istri lagi yang berlabel solekha?"
"Tidaklah Bah, satu saja belum dicoba," sahut Zaidan dengan cepat.
Fatah terkekeh mendengar jawaban Zaidan.
"Maksud Zaidan, coba Abah nilai Delmira... masuk kategori solekha/ tidak," lanjut Zaidan.
"Itu PR buat kamu," sahut Fatah kembali memejamkan matanya.
"Masih sakit Abah sempatnya membahas itu," lirih Zaidan tangannya bergerak membenarkan selimut yang tersibak. Dia tahu maksud perkataan Fatah mengenai surga duniawi itu.
Fatah tersenyum mendengar gumaman anaknya, 'Semoga Allah selalu menjaga kalian, keluarga kalian sakinah mawadah warahmah, tahan dengan ujian yang datang.'
"Abah jangan senyum-senyum sendiri, istirahatlah," ucap Zaidan bukan membuat Fatah tidur dia makin melebarkan senyum.
"Cetak cucu yang lucu untuk Abah dan ummi."
Zaidan membalas dengan senyum dan menggelengkan kepalanya pelan.
"Jangan hanya geleng kepala, buktikan saja."
"Ada apa dengan orang-orang? Kenapa dalam pejam mata pun tahu apa yang aku perbuat," sahut Zaidan yang teringat akan malam pertama yang hanya menatap punggung Delmira dan kala itu Delmira menyentil dengan kata agar tidak memandang punggungnya.
"Istirakhatlah Bah. Mengenai tuntutan itu, nanti akan aku coba bicarakan pada Delmira."
"Abah tidak bicara mengenai tuntutan tapi cucu yang Abah inginkan."
Zaidan memijit lengan Fatah tanpa menyahuti ucapan abahnya karena kalau lanjut menyahut abahnya tidak akan istirakhat.
'Aku akan lebih lega kalau tuntutan dari Delmira dikabulkan. Aku memang salah dalam tragedi itu, jadi pantas aku mendapat hukuman,' batin Fatah sebelum dia benar-benar terlelap dalam tidurnya.
Tanpa Zaidan dan Fatah tahu, ada wanita yang mengurungkan niat untuk masuk ke ruang. Dia mendengar semua pembicaraan mereka.
__ADS_1
Dia menutup kembali pintu yang sedikit terbuka setelah Zaidan dan Fatah mengakhiri percakapannya.
Kakinya melangkah ke kantin rumah sakit. Setelah duduk di antara kursi yang ada di kantin, dia menghubungi nomor telepon dengan nama kontak Mr.Z.
"Aku ada di kantin rumah sakit, buruan kamu ke sini!"
Tidak selang lama, sesosok Mr. Z yang dihubungi lewat telepon berjalan ke arah Delmira.
"Sudah lama di sini?" tanya Zaidan duduk di depan Delmira.
"Lumayan," jawab singkat Delmira.
"Terima kasih Mbak," ucap Zaidan ketika seorang pelayan kantin meletakkan satu gelas minuman di depan Zaidan.
"Jeruk hangat bagus untuk menambah imun," ucap Delmira.
Zaidan tersenyum tipis, "terima kasih atas perhatian kamu."
"Bukan perhatian, hanya tidak ingin nantinya aku susah gara-gara ngurus kamu sakit," sahut Delmira.
Lagi Zaidan tersenyum melihat sikap ketus dari Delmira. Dia tahu, wanita itu sebenarnya memberikan perhatian tapi dengan bentuk yang berbeda.
'Kamu seperti Abah, penuh dengan teka-teki,' batin Zaidan.
"Mengenai tuntutan itu_"
"Aku tidak akan mencabutnya!" cekat Delmira.
Satu hari yang lalu Zaidan sudah meminta Delmira untuk mencabut tuntutan pada abah Fatah. Dia menolak permintaan Zaidan dan tetap kukuh untuk melanjutkan ke persidangan.
"Aku sudah bicarakan dengan Abah, dia ternyata tidak meminta tuntutan itu dicabut," lanjut Zaidan.
"Baguslah kalau dia tahu, hukum tetap berjalan tidak pandang bulu, suku, sepupu, ataupun mertua menantu"
"Apakah Abah sepenuhnya bersalah atas insiden itu?"
Mata Delmira menatap tajam ke arah Zaidan dia tidak percaya Zaidan mengucapkan itu dengan mudahnya.
"Kepolisian yang akan mengungkap semuanya!" jawab Delmira sengit.
"Suatu saat kamu tahu bagaimana rasanya ditinggal orang yang kamu cintai," lanjut Delmira masih dengan tatapannya.
"Maafkan aku, tidak memahami perasaan kamu," jawab Zaidan.
"Aku akan menemui temanku," pamit Delmira.
"Kamu tidak mengunjungi Abah dulu?"
Delmira diam sejenak menatap sekilas Zaidan yang sepertinya berat berkata ya dan malah menyuruh untuk mengunjungi orang tuanya.
"Ya, mana kamu mau," selorah Zaidan menyahuti ucapnya sendiri karena diamnya Delmira.
Delmira mengangkat pantatnya tanpa sepatah kata dia melangkah pergi meninggalkan Zaidan.
__ADS_1
malam menyapa🤗jangan lupa like komen hadiah vote rate 🙏