Dinikahi Berondong Saleh

Dinikahi Berondong Saleh
Bab 92


__ADS_3

Verel langsung diam seketika mendengar lontar dari Delmira.


"Aku... ingin bertemu dia," sambung Delmira karena Verel tidak juga bersua.


"Lain waktu," sahut Verel.


"Sekali lagi selamat," ucap Verel wajahnya mengarah pandang pada Zaidan dan Delmira.


"Terima kasih," balas Zaidan.


Verel dan Raka pun berlalu.


Mata Zaidan dan Delmira mengarah pandang pada mereka hingga tubuh mereka keluar dari dalam ruangan.


'Seperti biasa, tanpa pamit denganku!' gerutu Safira menatap kepergian Raka.


'Dia harus menoleh! Harus menoleh! Awas kalau tidak menoleh aku akan... aku akan buat perhitungan pada kamu!' seru batin Safira berharap sebelum Raka benar-benar hilang dari balik ruangan dia menolehkan pandangan ke arahnya berdiri sekarang.


Seketika Safira tersenyum lebar bahkan tangannya bereaksi menekuk sedikit, tarik ke dalam dan mulutnya menyeru kata, "Yes!"


Raka sempat menolehkan pandangan ke arah Safira sebelum benar-benar dirinya pergi itu sebab yang membuat Safira kegirangan.


"Ingat di panggung Sap!" sindir Delmira melihat tingkah konyol Safira.


"Tidak mengapa, aku kan sedang bahagia," sahut Safira tanpa menolehkan pandangan pada Delmira, kemudian dia melangkah pergi.


Waktu pun sudah tepat menunjukkan pukul 14.00, Delmira dan Zaidan gegas ke salah satu kamar hotel yang sudah mereka pesan.


Delmira dibantu perias pengantin langsung melepas pernak-pernik pengantin dan menghapus make-upnya. Perias itu kemudian pamit keluar setelah selesai dengan pekerjaannya.


Seusai itu, Delmira gegas wudu menyusul Zaidan yang sudah wudu terlebih dahulu.


Ini untuk pertama kalinya mereka salat berjamaah.


Waktu terus berjalan.


Sore harinya, Setelah salat asar, Sa'diyah dan Safira lebih memilih pamit pulang. Tentunya empat orang keluarga dari Sa'diyah juga ikut pulang.


Aisyah juga lebih memilih pulang ke rumah karena lebih betah tinggal di rumah, atau tepatnya dia tidak ingin mengganggu pengantin baru.


Delmira dan Zaidan masuk ke kamar.


Delmira melepas jilbabnya karena tadi sewaktu keluar untuk berpamitan dengan Sa'diyah dirinya tidak sempat mengeringkan rambutnya yang basah.


"Biar aku bantu," tawar Zaidan tapi tangannya sudah mengambil alih hair dryer yang dipegang Delmira.


"Terima kasih," ucap Delmira.


Dengan lembut, Zaidan mengeringkan rambut Delmira yang hanya sebatas bahu.


Zaidan mematikan hair dryer setelah semuanya kering.


"Aku suka wangi rambut kamu," ucap Zaidan menghirup aroma mawar di rambut Delmira.


Delmira tersenyum mendengar pujian Zaidan.


"Kalau... wangi tubuh aku?" lontar Delmira yang sontak membuat jiwa seorang pengantin baru meronta.

__ADS_1


"Coba aku hirup," sahut Zaidan dengan tatapan lekat.


Dia semakin mendekat ke arah Delmira, dekat dan semakin dekat hingga tidak ada jarak yang menjadi batas hidung Zaidan dan tengkuk Delmira.


"Wangi Sayang," bisik Zaidan yang tentunya lanjut melancarkan aksi.


Bib*rnya dengan sengaja mengulang apa yang dilakukan hidungnya, menempel di tengkuk yang sempat dia hirup.


Delmira mulai merasa ada sengatan listrik bertegangan rendah pada tubuhnya. Tangannya meraih bahu Zaidan.


Merasa mendapat respon dari Delmira, Zaidan berlanjut melancarkan aksinya, kali ini bukan lagi tengkuk yang dipandang sangat indah itu, tapi ranum yang begitu manis dan menggiurkan segera Zaidan meraihnya. Pagu*Tan lembut dia lancarkan.


Delmira pun suka rela dan atas nama ibadah karena Allah dengan status sebagai seorang istri, membalas perlakuan Zaidan.


Lama mereka saling menjelajah, memanaskan suasana yang memang harus dipanaskan.


Aksi demi aksi berlanjut hingga sebuah doa terucap dari bibir keduanya.


"Bismillah, Allahumma jannibnaassyyaithana wa jannibi syaithoona maarazaqtanaa."


Semakin memanas.


Panas


panas


dan panas.


("Mel! aslinya kamu masih menyalakan kompor ya?!🤭)


Hingga sebuah klim*aks diantara keduanya terjadi dan kembali doa pun terucap,


Sebagi penutup, agar hawa panas yang mulai mendingin karena angin AC sudah mulai dirasa oleh kedua insan yang telah selesai bergelut dengan nikmat surgawi yang menjadi salah satu ibadah terindah dalam berumah tangga karena didasarkan suka dengan suka, ikhlas saling mengikhlaskan, mereka kembali melafalkan doa.


"Alhamdu lillaahi ladzii khalaqa minal maa i basyaraa. ( Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan air man*i ini menjadi manusia, keturunan).


Zaidan meraih tubuh Delmira agar mendekap dalam pelukannya.


Sambil menunggu waktu Magrib mereka tetap mengobrol santai dalam keadaan saling mendekap.


(maklum pengantin baru, masih lengket kayak perangko🤸🏃 yuk tinggalin jangan ganggu mereka)


Waktu terus berjalan meninggalkan masa tadi dan berganti masa sekarang. Sore, malam, tengah malam, silih berganti tidak pernah berhenti sedetik pun.


Delmira tersenyum menatap lelaki yang sedang tertidur pulas di ranjang. Mereka telah melewati malam indah, mereguk surga duniawi. Menyambung kegiatan sore hari yang perlu melakukan remidial agar nilai yang didapat maksimal atau minimal sesuai standar kriteria ketuntasan pengantin baru.


Sebuah kecupan mendarat di dahi Zaidan, lalu... karena sangat tidak tega membiarkan ranum bi*bir sang suami diabaikan, Delmira pun menyentuh lembut dengan bib*rnya.


Zaidan tetap tidak bergeming, mungkin terlalu capek hingga tidurnya sangat pulas.


Waktu menunjukkan pukul 3 pagi, Delmira beranjak dari ranjang menuju kamar mandi untuk mandi besar.


Perlahan Delmira membuka pintu kamar mandi setelah ritual mandi besar selesai. Matanya kini tertuju pada Zaidan yang masih saja terlelap tidur.


Delmira yang sudah mengenakan pakaian gegas mengeringkan rambutnya.


Bising dari hair dryer pun tak membuat tubuh Zaidan bergeming.

__ADS_1


"Suamiku begitu lelah," gumam Delmira, dua sudut bibirnya ditarik membentuk sebuah senyum.


Setelah rambutnya kering, Delmira mengambil mukena yang ditaruh di dalam nakas, kemudian langsung dia kenakan. Menggelar sajadah lalu memilih salat tahajud.


Selesai melakukan beberapa salat sunnah, Delmira menengadahkan tangan memanjatkan doa. Dia mengisi waktu dengan membaca Al Qur'an sebelum subuh datang.


Sayup suara Delmira terdengar oleh telinga Zaidan. Perlahan matanya dia buka, sebuah senyum tercetak di wajah Zaidan tatkala melihat sang istri mengenakan mukena sambil membaca Alquran. Sungguh pemandangan yang sangat menyejukkan.


'Subhanallha, beruntungnya aku menjadi suami kamu Mrs. Delmira,' batin Zaidan berucap, tubuhnya kini beringsut turun dari ranjang dan kakinya melangkah ke kamar mandi.


...****************...


Dua hari setelah berganti status menjadi nyonya Alfian Zaidan Mukhtar, Delmira dan Zaidan memutuskan untuk kembali ke Pekalongan.


Ada raut kesedihan di wajah Aisyah. Namun, dia harus menerima semuanya. Anak hanya sebuah titipan. Suatu ketika, saat anak sudah memutuskan untuk menikah maka di pundaknya ada sebuah tanggung jawab baru.


Aisyah memeluk Delmira dan Zaidan bergantian.


Aisyah kini memegang tangan Zaidan dan Delmira lalu menyatukan tangan itu.


"Kalau senggang, mainlah ke sini," ucap Aisyah.


Delmira mengangguk pelan begitu juga Zaidan.


Mulut Aisyah kini bungkam, entah kenapa sulit untuk berkata-kata dan hanya matanya yang mampu menggambarkan kalau dirinya teramat sedih karena ditinggal sang anak dan menantunya.


Gegas Aisyah menyeka bendungan yang tertampung di pelupuk mata.


Tangan Delmira yang satu berpindah posisi memegang tangan Aisyah. Dia mencoba menguatkan hati wanita tua itu.


"Kalau, di Pekalongan urusan kalian sudah selesai, maukah kalian pindah ke Jakarta kembali?" lontar Aisyah karena benar-benar tidak kuat dengan perpisahan ini.


Kak Mel sudah launching karya baru sih...kalian kenapa tidak mampir? Masukkan dulu gih ke rak favorit 🙏 sekuel dari Dinikahi Berondong Saleh. kisah Verel, istri Verel, Raka dan Safira. judul: Terjerat Dendam Pria Dingin


ini cuplikannya ya...


Tiara tersentak tatkala bangun dari tidur. Tangannya meraih selimut yang hanya sebatas menutup dada. Dia tarik agar semakin ke atas.


"Siapa kamu?!" lontarnya dengan rasa yang tidak karuan.


Lelaki di samping Tiara tersenyum mengejek.


"Aku dimana?!" tatapan tajam Tiara mengarah pada lelaki yang masih menampilkan senyum kecut.


"Kamu di rumahku Sayang," sahutnya. Kaki dia kini turun dari ranjang.


Tiara langsung menundukkan pandangannya karena lelaki itu hanya memakai celana pendek yang sangat ketat.


"Apa yang terjadi denganku!" teriak Tiara mencoba mengingat kejadian yang menimpa dirinya, pelupuk matanya sudah penuh dengan cairan bening.


Lelaki itu mengambil kimono, lalu memakainya. Pantatnya kemudian dia duduk di sofa dan tangannya bergerak memantik korek api setelah itu dia sulut sebatang rokok yang sudah diselipkan di antara jemarinya.


Kepulan asap membumbung tinggi memenuhi ruangan setelah beberapa kali dia membuang hasil pembakaran rokok yang masuk ke mulutnya.


"Apa yang terjadi denganku?! Kamu apakan aku!?" cecar Tiara sekali lagi dengan suara parau dan lelaki itu masih saja bungkam. Bulir alir mata mulai terlihat di dua pipi Tiara.


"Tadi malam kita menikmati malam yang indah Sayang. Baru semalam mengapa kamu lupakan semuanya?" jawabnya dengan santai dan kepulan asap terus saja keluar dari mulut bahkan hidungnya.

__ADS_1


yuk mari dikepoin🏃🙏


subuh menyapa 🤗 like komen hadiah vote rate 🙏


__ADS_2