Dinikahi Berondong Saleh

Dinikahi Berondong Saleh
Bab 34


__ADS_3

Zaidan dan Fernando menatap terkejut melihat kedatangan orang yang ada di ambang pintu.


Fernando menatap ngeri melihat wajah Delmira. Dia memilih angkat kaki dari drama yang akan terjadi antara suami istri.


"Berhenti di situ!" titah Delmira, membuat langkah jinjit Fernando seketika terhenti.


Delmira tetap berjalan dan mendekat ke arah Zaidan.


"Tadi aku mendengar titah kamu pada Fernando, jelaskan semuanya padaku!"


Zaidan terdiam, berusaha setenang mungkin walaupun dirinya saat ini sangat kalut dengan kedatangan Delmira yang mendadak.


"Aku, aku hanya ingin menyelidiki kebenaran berita mengenai almarhum suami kamu," jawab Zaidan.


"Kebenaran apa yang ingin kamu ungkap?! Bahwa dia selingkuh?!" lontar Delmira dengan nyala api yang membara dan suara yang mulai parau karena menahan sesak dada yang teramat sakit.


Zaidan tercengang mendengar lontar dari Delmira. Pasalnya, dia tidak menyangka kalau Delmira tahu kabar perselingkuhan suaminya. Apa jangan-jangan bukan sekedar kabar melainkan fakta yang Delmira tahu.


"Kamu tahu suami kamu diduga selingkuh?" lontar balik Zaidan.


"Kalaupun aku tahu, apa harus menuntut orang yang sudah tiada hah?! Kalaupun aku tahu, apa harus katakan pada semua dunia hah?! Kalaupun aku tahu apa aku harus bercerita dengan kamu?!" suara Delmira meninggi. Cairan bening langsung membanjiri pelupuk mata.


"Kamu tidak punya hak untuk tahu semuanya!" lanjut Delmira.


"Kemungkinan bangkrutnya perusahaan ada kaitannya dengan skandal dari suami kamu," sahut Zaidan, sekaligus meminta agar Delmira menyetujui melakukan lebih dalam lagi penyelidikan.


"Aku tidak peduli itu!" teriak Delmira. Napasnya tersengal-sengal.


"Kalau kamu berani mengorek sedikit saja, aku pastikan kamu akan menyesali seumur hidup!" ancam Delmira, wajahnya masih terlihat memanas.


"Aku minta maaf."


Tanpa menyahuti ucapan Zaidan, Delmira melangkah keluar ruangan. Berjalan cepat hingga sedikit demi sedikit menjauh dari dealer.


Berjalan terus berjalan hingga mencapai sebuah taman kecil di salah satu sudut kota.


Sepasang mata tetap menatap dari jauh sosok Delmira. Memastikan wanita itu aman walaupun dalam keadaan tidak baik-baik saja. Mengharap wanita itu bersandar di dadanya, menenggelamkan segala kesedihan yang wanita itu rasa, dan berbagi dengan apa yang wanita itu pendam.


Lama Delmira berdiam diri hanya diam dan sesekali memandang layar ponselnya. Tidak ada air mata yang mengalir. Namun, Zaidan bisa melihat ada kesedihan yang mendalam.

__ADS_1


Setelah dua jam menatap dari jauh. Kini Zaidan berjalan mengekor langkah Delmira yang sudah berjalan pelan.


"Auw!" pekik Delmira ketika salah satu highnya berdiri tidak normal.


Zaidan sudah siap maju membantu tapi dia kemudian menahan diri, hanya memandang dari tempat dengan jarak aman.


"Kenapa pakai keseleo segala!" gerutu Delmira, melepas salah satu sepatu dan berjalan pincang.


Delmira lebih memilih berhenti lalu menyandar di salah satu tembok yang berada di tepi jalan, tangannya merogoh saku lalu mengeluarkan benda pipih nan canggih. Tidak lama setelah itu datang sebuah mobil dan memarkir di depan Delmira berdiri.


"Atas nama Kak Delmira?"


Delmira mengangguk ketika seorang bertanya padanya. Setelah memastikan laki-laki itu adalah driver ojek online yang dipesannya, Delmira masuk ke dalam mobil tersebut.


Zaidan hanya pasrah menatap kepergian Delmira. Namun, jemarinya yang sudah menempel di layar ponsel mengirim pesan pada orang kepercayaan untuk mengikuti mobil yang ditumpangi Delmira.


Dua puluh menit kemudian.


Ponsel Zaidan berdering, segera tangannya mengusap gambar telepon berwarna hijau hingga satu panggilan tersambung.


"Non Delmira kembali ke tempat kerja."


"Baik bos," jawabnya.


Zaidan memutus panggilan itu.


Waktu terus berjalan seiring berputarnya bumi pada porosnya dan seiring dengan bumi yang mengitari sang matahari. Zaidan susah duduk si sofa kamar. Jam dinding menunjukkan pukul 17.30 WIB. Sesekali mata Zaidan berpindah tatap pada pintu rumah yang tak kunjung terbuka.


Berdasarkan laporan dari orang suruhannya, Delmira sudah masuk dalam rumah tapi yang membuat Zaidan heran, kenapa belum masuk kamar? Untuk melepas rasa penasaran Zaidan memilih keluar kamar. Berjalan menuruni anak tangga dan mencari keberadaan istrinya.


"Biar aku bantu," tawar Zaidan melihat Delmira ternyata sedang mengompres kakinya dengan air.


Delmira tidak sepatah katapun menjawab, hanya tangannya yang bergerak menampik tangan Zaidan agar jangan menyentuhnya.


Zaidan terdiam. Kemudian duduk di samping kursi yang Delmira duduki.


"Mbok..., Mbok Muna...," panggil Delmira.


"Ya Non,"

__ADS_1


"Aku sudah, kemasi airnya," pinta Delmira lalu pantatnya dia angkat untuk berdiri dan melangkah ke anakan tangga menuju kamar.


Sebenarnya sejak kepulangannya, Delmira sudah akan naik tangga tapi kakinya begitu sakit untuk menaiki setiap anakan tangga. Akhirnya, dia pun memilih ke dapur untuk mengompres kakinya terlebih dahulu.


Zaidan memilih berjalan mengekor langkah Delmira, walaupun sebenarnya dia tidak tahan ingin sekali membantu memapah istrinya ataupun menggendong sekalian sang istri menuju kamar.


Pelan-pelan sekali Delmira melangkah, sesekali berhenti dan tetap tangannya berpegangan sandaran tangga.


Diam, diam, dan diam. Suasana dalam kamar seperti tempat pemakaman yang mencekam.


"Aku ada obat luka memar, aku oleskan?" tawar Zaidan bermaksud mengobati luka di kaki Delmira.


Bukan menanggapi tawaran Zaidan, Delmira memilih diam, menarik selimut dan membaringkan tubuhnya yang sedari tadi menyandar di kepala ranjang.


Zaidan terlihat pasrah dengan diamnya Delmira. Bukankah itu memang salahnya. Niat awalnya dia hanya ingin mengetahui kebenaran berita yang dia terima agar lebih mengenal Delmira bahkan tentang masa lalunya. Namun, ketika menemukan hal ganjal, Zaidan ingin lebih tahu dan memecahkan masalah yang sepertinya Delmira sendiri belum tahu persis kebenarannya atau bahkan Delmira memilih menyembunyikan semuanya dan tidak ingin ada seorangpun tahu. Terbukti teman akrabnya pun tidak ada yang tahu tentang perselingkuhan suaminya.


Zaidan masih terdiam bersandar pada kepala ranjang, matanya lekat menatap istrinya yang sudah tidur dengan posisi membelakanginya. Terdengar napas beraturan dari istrinya.


Zaidan mengambil salep yang tadi dia tawarkan pada Delmira. Tangannya membuka pelan selimut yang menutupi kaki istrinya. Dengan pelan dia mengoles tumit yang ada luka lecet dan dengan pelan pula melabur minyak pereda nyeri.


Tidak ada sedikitpun gerakan dari tubuh Delmira.


Zaidan menaruh kembali obat ke dalam nakas, tangannya bergerak mematikan lampu terang dan menggantinya dengan lampu temaram. Kemudian tubuhnya beringsut rebah dan memposisikan diri menghadap pada wanitanya.


'Kamu baru diamkan aku berapa jam Del tapi mengapa dunia ini seakan sepi sekali tanpa suara kamu?' batin Zaidan.


...****************...


Satu minggu telah berlalu.


Delmira masih diam tanpa sepatah katapun. Lontar tanya atau sekedar sapa dari Zaidan tidak pernah Delmira tanggapi.


Sebagai orang tua, ummi Aisyah tidak dapat membiarkan keadaan itu. Bukan dia menutup mata atas apa yang menimpa anak dan menantunya. Namun, berusaha untuk tidak campur masalah rumah tangga anaknya.


"Kita makan ke kantin," tawar Aisyah sampai rela masuk ke ruang kerja Delmira di waktu istirahat siang.


'Apa dia akan intervensi urusan rumah tanggaku?' batin Delmira penuh curiga dengan ajakan dari mertua.


pagi menyapa 🤗 jangan lupa like komen hadiah vote rate 🙏

__ADS_1


lope lope buat kalian 🥰😍😘


__ADS_2