Dinikahi Berondong Saleh

Dinikahi Berondong Saleh
Bab 7


__ADS_3

Delmira mengangkat pantatnya tanpa sepatah kata dia melangkah pergi meninggalkan Zaidan.


Empasan kasar keluar dari mulut Zaidan. Ada kesal yang menggerogoti perasaannya.


"Dia!" Bisakah sedikit mengerti? Aku sangat mengkhawatirkan kondisi abah, kalau kasus ini tetap berlanjut bisa-bisa kesehatan abah menurun kembali," keluh Zaidan.


'Aku tahu berat sekali untuk memaafkan seseorang yang membuat keluarga kamu meninggal.' batin Zaidan, mengempaskan napas perlahan.


'Semoga Allah mengetuk pintu hati kamu untuk memaafkan Abah karena semua yang menimpa manusia adalah garis takdir dari Illahi Robbi,' lanjut batin Zaidan.


Kakinya akan melangkah keluar dari kantin namun langkah itu terhenti oleh pelayan kantin.


"Maaf Mas, bayar dulu," ucapnya.


"Dua minuman ini belum dibayar?"


"Iya," jawabnya.


"Aku kira dia sudah bayar," gumam Zaidan.


Zaidan merogoh saku celananya, "Ampun deh, aku lupa tidak ada uang cash," lirih Zaidan melihat dompetnya kosong hanya ada deretan kartu ATM ataupun kartu tanda pengenal.


"Pakai kartu debit bisa Mbak?"


"Duh maaf Pak, mesin pembayaran dengan kartu sedang rusak jadi kami hanya menerima cash."


"QR code?"


"Silahkan Pak," ucap pelayan menunjuk QR code yang di Pampang di depan kasir.


Zaidan merogoh saku celananya.


'Astaghfirullah haladhim, Aku lupa taruh ponselku di atas nakas. Lagian tadi sebelum ke kantin kenapa aku ke toilet dulu!' gerutu batin Zaidan.


"Mbak, aku ninggalin KTP dulu ya," pinta Zaidan menawarkan jaminan.


Pelayan itu menatap ujung rambut Zaidan hingga bawah.


"Jangan khawatir Mbak, aku bakal ambil KTP dan bayar bill ini," ucap Zaidan merasa telisik dari pelayan sebagai bentuk kecurigaan atas dirinya.


Pelayan itu kemudian tersenyum karena isi otaknya terbaca lelaki tampan di depannya.


Dia menganggukkan kepala.


Baru selangkah Zaidan akan meninggalkan kantin, dia bertemu dengan ummi Aisyah.


"Zaid? Kamu di sini? Abah dengan siapa?"


"Ummi, Abah sedang tidur jadi aku... aku tinggal makan dulu," ucap Zaidan menutup fakta.


"Ibu," sapa pelayan tadi.


"Mau pesan apa silahkan?" tawar pelayan itu.


"Aku sudah makan, hanya mau bertemu kepala kantin, dia tidak hadir di rapat padahal hari ini berangkat, apa dia baik-baik saja?"


"Maaf Bu, tadi Bu Amy sakit perut bolak-balik ke toilet."


"Oh... dia sudah ke periksa?"


"Sudah, Bu Amy sedang baring istirahat."


Aisyah mengangguk atas penjelasan itu.


"Ya sudah kalau Bu Amy sudah bangun suruh menghubungi saya."


"Baik Bu."


"Kenapa Zaid, sepertinya kamu mau mengatakan sesuatu?"


"Eh... itu ummi, aku pinjam uangnya untuk bayar ini," Zaidan menyerahkan bill yang dia pegang.

__ADS_1


Namun sontak dia tarik dari tangan umminya.


'Gawat! Ummi bisa tahu kalau tadi aku ketemuan dengan Delmira dan pasti menanyakan lebih lanjut, apakah Delmira mengunjungi Abah,' batin Zaidan.


"Berapa utang kamu?" tanya ummi Aisyah.


"Oh... itu_"


"Mbak, utang anak saya tadi berapa?" cekat Aisyah langsung menanyakan ke pelayan.


"Dua Jeruk hangat, jadi total Dua puluh ribu," jawab sang pelayan.


"Dua_"


"Tadi Zaidan sangat haus jadi 2 gelas itu aku minum sekaligus," cekat Zaidan sebelum umminya bertanya lebih lanjut dan Zaidan bingung harus berbohong seperti apalagi.


"Ayo Ummi, buruan ke ruangan, takutnya Abah sudah bangun," ajak Zaidan.


Zaidan menggandeng Aisyah hingga mereka masuk ke ruang rawat inap Abah Fatah.


"Assalamualaikum," sapa keduanya tangan Zaidan membuka pintu ruang.


"Loh... Abah kok tidak ada?" kaget Aisyah melihat ranjang pasien kosong.


Kakinya gegas ke toilet tapi yang dicari pun tidak ada, lalu mereka pindah ke luar ruangan, juga tidak ditemukan.


"Abah... Abah..., " panggil Aisyah dengan raut wajah yang khawatir.


"Zaidan mengambil gagang telepon dan menekan angka 1 Panggilan itu langsung terhubung pada perawat jaga.


"Assalamualaikum. Sus, ada yang lihat pasien atas nama Fatah Al Mubarok?"


"Oh, Bapak Fatah tadi minta diantar ke taman rumah sakit. Salah satu perawat jaga mengantar beliau," jawabnya.


"Ok, terima kasih informasinya. Wassalamu'alaikum."


"Bagaimana Nak?" penasaran Aisyah.


"Dengan perawat?"


Zaidan mengangguk.


"Kita susul saja," ajak Aisyah karena tidak sabar Aisyah berjalan terlebih dahulu dengan langkah cepat.


Sedangkan langkah Zaidan terhenti manakala kakinya menginjak barang yang tergeletak di lantai.


"Anting?" gumam Zaidan setelah memungut barang yang tidak sengaja diinjak.


'Seperti tidak asing?' Zaidan memutar otak dan berhenti tatkala teringat wanita yang tidak lama dia temui di kantin rumah sakit.


"Delmira. Ya, tidak salah lagi ini milik Delmira," ucap Zaidan mengingat gambaran jelas ketika Delmira menyibak rambut dan terlihat anting panjangnya.


Zaidan memasukkan anting itu ke saku celana dan gegas mengejar langkah ummi Aisyah.


Sesampai di taman, terlihat Aisyah sudah duduk di samping Fatah. Mereka sedang terlibat obrolan ringan dan sesekali tawa menyertainya.


Zaidan membiarkan momen itu terlihat lebih lama olehnya. Langkah cepatnya kini dia pelankan.


Aisyah melihat sosok Zaidan muncul dari balik lorong yang menghubungkan ke taman. Tangannya melambai isyarat agar Zaidan cepat bergabung dengannya.


"Lama sekali," celetuk Aisyah begitu Zaidan mendekat.


"Oh..., tadi... tadi..."


"Tadi apa?"


"Ke toilet," jawab cepat Zaidan.


"Sejak kapan nih anak Ummi jadi pembohong Bah?"


"Maksud Ummi?" sela Zaidan.

__ADS_1


"Perlu Ummi perjelas atau kamu yang bicara sendiri?" pancing Aisyah.


Zaidan terlihat gugup.


"Dua Jeruk hangat itu loh," lanjut Ummi.


"Oh... yang Zaidan minum?" tanya balik Zaidan masih terlihat gugup. Entah kenapa kalau di depan orang lain Zaidan bisa membunyikan kegugupan, bersikap setenang mungkin. Namun, ketika di depan ummi Aisyah semuanya bisa berbalik 180°.


Aisyah memicingkan mata, isyarat agar Zaidan melanjutkan kalimatnya tentunya dengan jujur.


"Dengan Delmira," akui Zaidan sambil menundukkan pandangannya. Merasa percuma berbohong di depan umminya, pada akhirnya akan terungkap. Bahkan kejujuran itu terungkap dari mulutnya sendiri.


"Ummi sudah tahu dari Abah," ujar Aisyah.


"Abah?!" sontak Zaidan mengangkat wajahnya, kaget karena Delmira menolak untuk mengunjungi abah Fatah. Bagaimana Abah Fatah bisa tahu kalau dirinya menemui Delmira di kantin.


"Dia datang saat Abah hendak bangun dari tidur. Sampai dia berbicara sendiri karena mengira Abah masih tidur," sela Fatah.


"Dia bicara apa Bah?" penasaran Zaidan.


"Tanyakan sama istri kamu," jawab Fatah.


Zaidan tersenyum kecut. Dirinya tahu, abahnya orang yang penuh teka-teki. Tidak mudah berkata blak-blakan.


"Ummi, rapat hari ini berjalan lancar?" tanya Fatah mengalihkan pembicaraan.


"Alhamdulillah Bah, semua lancar," jawab Aisyah.


"Kamu juga harus bantu ummi untuk mengelola rumah sakit ini Zaid," pinta Fatah.


"Insyaallah Bah."


"Siapa lagi kalau bukan kamu yang mengelola?" retoris Fatah.


Zaidan mengangguk.


"Ummi tolong dorong kursinya, aku mau masuk ke ruangan," pinta Fatah.


"Biar Zaidan Ummi," tawar Zaidan.


"Biar Ummi saja. Abah mau bernostalgia dengan Ummi. Mengulang masa dulu, ya kan Sayang."


"Ya Sayang," jawab Aisyah tangannya mengelus lembut pundak Fatah.


"Terima kasih Sayang." Fatah menarik tangan yang masih betah mengelus pundaknya, lalu mengecupnya dengan lembut.


"Abah, apaan sih. Malu tahu sama anak kita. Kaya pengantin baru saja."


"Malu kenapa? Bukankah kita selalu romantis seperti pengantin baru?"


"Tapi tidak di depan Zaidan juga Bah," jawab Aisyah melirik ke anaknya.


"Supaya dia tahu, romantis itu seperti apa."


Deg.


'Sudah kuduga, mereka hanya menyindir aku. Mempertontonkan kemesraan di depan aku dengan menyebut kata pengantin baru,' gerutu batin Zaidan.


"Abah, jangan seperti itu. Zaidan dan Delmira kan baru kenal. Jadi, walaupun mereka sudah menikah mereka masih terlihat malu-malu."


"Padahal sudah pengen menimang cucu," sahut Fatah.


"Sindir teros," ucap Zaidan melangkah meninggalkan dua orang tuanya yang sedang terkekeh. Bahkan Zaidan melihat keduanya tos karena berhasil menyindir Zaidan.


Zaidan tersenyum kecil melihat tawa mereka.


'Semoga kalian diberi umur panjang yang penuh berkah,' batin Zaidan. Pandangannya kembali lurus untuk meneruskan langkah kakinya.


Pikiran Zaidan kembali terlempar pada perkataan Abah, kalau Delmira menemuinya.


'Delmira bicara apa ya?' penasaran batin Zaidan.

__ADS_1


pagi menyapa🤗 terus pantengin ya... jangan lupa like, komen, hadiah, vote, rate biar Kak Mel makin semangat 🙏


__ADS_2