Dinikahi Berondong Saleh

Dinikahi Berondong Saleh
Bab 70


__ADS_3

Hampir satu bulan ini Zaidan chek up kaki kanannya. Luka di mata kakinya membuat dia kesulitan berjalan. Bahkan di awal dia pulang dari rumah sakit, kondisinya juga masih belum begitu membaik. Hanya saja saat itu Zaidan tetap ngotot meminta pulang.


Kaki Zaidan menginjak anakan tangga yang paling bawah.


"Mau kemana Zaid?" tanya Aisyah karena satu bulan ini pula Zaidan tidak pernah menginjakkan kaki di lantai atas.


"Kaki kamu belum sembuh benar, jangan naik ke lantai atas dulu," sambung Aisyah.


Zaidan hanya membalas dengan senyum kecil, lalu kakinya memutar, mengurungkan niat untuk menginjak anakan tangga itu.


"Aku ke taman dulu Ummi," izin Zaidan.


"Biar Ummi temani," tawar Aisyah.


"Tidak usah Ummi, aku bisa sendiri."


"Den, ada tamu," sela mbok Muna yang datang dari ruang depan.


"Siapa Mbok?" penasaran Aisyah.


"Neng Halwah," jawab Muna.


"Oh, terima kasih Mbok," ucap Zaidan lalu jalan melangkah ke arah ruang tamu.


Gadis itu tersenyum manis ketika Zaidan muncul dari balik ruang,


"Assalamualaikum Zaid," tangannya dia tangkupkan sejajar dada.


"Waalaikum salam," jawab Zaidan dan Aisyah serentak.


Halwah gegas salam takdhim pada Aisyah.


"Dari rumah Wa?"


"Habis kondangan Ummi, ini pulangnya sekalian mampir." jawab Halwah.


"Duduk Nak, silahkan kalau ada perlu dengan Zaidan. Ummi masuk dulu," pamit Aisyah, kakinya melangkah masuk.


"Terima kasih Ummi," sahut Halwah sebelum Aisyah pergi.


"Maaf, aku mengganggu istirahat kamu," ucap Halwah setelah Aisyah masuk ke dalam.


Zaidan tersenyum membalas, "Tidak kok, lagian aku juga sedang tidak ngapa-ngapain."


"Kakinya sudah mendingan?"


"Alhamdulillah sudah."

__ADS_1


"Syukur Alhamdulillah, aku merasa khawatir dengan keadaan kamu. Eh ternyata benerkan, kamu belum sehat tapi memaksa untuk datang ke peresmian cabang dealer AZM yang baru," ujar Halwah.


"Insyallah sudah baik kok," sahut Zaidan.


Mana mungkin Zaidan membatalkan untuk meresmikan dealer barunya. Semuanya sudah dirancang jauh hari. Karena besok adalah ulang tahun Delmira. Zaidan ingin mengabadikan momen peresmian dengan momen bersejarah, dimana wanita yang pernah satu atap rumah tangga lahir ke dunia.


"Dokter membolehkan kamu pergi?" lontar Halwah dan diangguki Zaidan.


"Aku lihat kaki kamu masih bengkak," ujar Halwah matanya menatap ke arah kaki Zaidan, "ingat kata dokter, kamu tidak boleh terlalu banyak gerak. Tumit kamu belum benar-benar sembuh. Luka di tumit itu memang lama sembuhnya, kamu harus sabar!" ocehnya.


"Kenapa malah tersenyum, apa ada yang lucu? Aku menyampaikan apa yang pernah dokter katakan," protes Halwah melihat Zaidan malah tersenyum mendengar sarannya.


"Kamu kayak emak-emak ngomeli anaknya," sahut Zaidan masih dengan senyum.


"Orang sakit itu memang harus banyak diingatkan. Apalagi soal minum obat, dia tahunya kondisi tubuh sudah sehat, padahal belum sembuh total. Ingat, penyembuhan itu tidak boleh setengah-setengah," ucap Halwah, "tapi aku senang Zaid, melihat kamu tersenyum," jujurnya kemudian.


Zaidan menarik senyumnya, merasa tidak nyaman dengan kondisi sekarang.


"Wa, Aku_"


"Ya, aku tahu. Jangan terlalu berharap lebih pada hubungan ini. kita hanya mitra kerja, tidak lebih," cekat Halwah menirukan apa yang pernah Zaidan katakan pada dirinya.


Zaidan menampilkan senyum kecil. Halwah memang dia anggap sebatas teman kerja, bahkan kedekatannya dulu sewaktu dirinya belum menikah dengan Delmira, Zaidan juga hanya menafsirkan sebatas mitra kerja.


"Maaf Zaid, dari zaman kamu belum menikah sampai sekarang sudah berpisah dengan istri kamu, rasa cintaku tetap sama seperti dulu. Aku mohon jangan paksa aku untuk melupakan rasa cintaku. Biarkan dia hilang sendiri ditelan waktu. Aku juga minta, kamu juga bersikap biasa saja. Jangan pedulikan rasa yang kumiliki, kita tetaplah mitra kerja yang saling menguntungkan," terang Halwah walaupun jujur dari lubuk hatinya yang terdalam ingin cintanya terbalas dan dapat saling memiliki satu sama lain.


"Kamu lanjutkan istirakhat, aku pulang dulu," pamit Halwah, pantatnya dia angkat, "tidak usah diantar hingga depan, kamu langsung masuk saja," cekat Delmira melihat Zaidan beranjak dari duduk.


"Assalamualaikum," pamit Halwah, "oh ya, salam buat Ummi, maaf tidak sempat pamit," sambung Halwah.


"Waalaikum salam, ya insyaallah nanti kusampaikan."


Mata Zaidan menatap Halwah hingga dia tidak terlihat karena tertutup dinding ruang tamu.


Zaidan pun kini melangkah masuk ke dalam. Matanya kembali menatap anakan tangga dan kini beralih tatap, layang ke lantai atas, dimana kamarnya berada.


"Bismillahirrahmanirrahim," lirih Zaidan kaki kanannya menapak anakan tangga paling bawah. Satu persatu, dengan susah payah, pijak demi pijak kaki Zaidan akhirnya menapak hingga anakan tangga teratas. Langkah kakinya dia teruskan hingga tangannya memegang gagang pintu kamar.


Ada getar aneh menyelimuti degup jantungnya. "Bismillahirrahmanirrahim," ucap Zaidan membuka pintu kamar. Mata Zaidan menyapu tiap sudut ruang. Kakinya kini berjalan pelan, menyisir setiap sudut.


Mata Zaidan berhenti pandang pada sofa yang dulu biasa didudukki Delmira, ada bayang wajah wanita itu. Dia tersenyum dan melambai pada Zaidan.


"Astaghfirullah haladhim," gumam Zaidan menyadari semua hanya hayalan saja.


Kakinya terus bergerak, dan berhenti di satu nakas yang ada di samping ranjang tidur. Tangan Zaidan bergerak meraba nakas. Dulu nakas itu milik Delmira, tangannya kemudian membuka laci nakas. Ada beberapa barang Delmira yang masih tersimpan di dalam nakas.


Zaidan tidak membuang semuanya. Dia biarkan barang itu tetap tersimpan rapi di tempatnya. Bahkan beberapa baju juga masih tersimpan rapi di lemari. Zaidan sering mengambil baju itu lalu dia peluk erat ketika dirinya merasakan rindu pada Delmira.

__ADS_1


Mata Zaidan berhenti tatap pada ikat rambut yang biasa dipakai Delmira, matanya kini menerobos waktu, memutar pada memori dahulu. Dimana Delmira sering mengikat asal rambutnya, dia ikat tinggi-tinggi hingga tengkuknya terlihat.


Zaidan senyum sendiri menatap bayang semu yang ada di depannya.


"Semoga Allah, menjaga kamu Del," lirih Zaidan berucap doa.


Matanya kini berpindah tatap pada nakas miliknya, dia kaget ada barang yang hilang di atas nakas itu. Kaki Zaidan kini bergerak cepat menghampiri nakas miliknya.


"Dimana foto itu?" gumam Zaidan gegas membuka laci nakas, mengobrak-abrik isi dalam laci. Namun, bingkai dengan foto pernikahannya tidak juga ditemukan.


"Cari foto pernikahan kamu?"


Sontak lontaran itu membuat tangan Zaidan berhenti. Tubuhnya kini dia balik menghadap ke sumber suara.


"Ummi," sebut Zaidan merasa kaget karena tiba-tiba ada Aisyah.


"Ummi buang foto itu!" tegas Aisyah.


"Buang kemana Ummi, biar Zaid pungut."


"Nak, stop! Lupakan Delmira. Biarkan dia hidup bahagia dengan kekasihnya. Kamu lanjutkan hidup kamu Nak," pinta Aisyah.


Zaidan diam, selang berapa menit dia berucap, "Ummi, maafkan aku. Semakin aku mencoba untuk melupakan Delmira, maka rasa cintaku padanya semakin besar."


"Istighfar Nak. Cintailah sesuatu dengan sederhana, agar kelak kamu ditinggalkan sesuatu yang hanya titipan Allah itu, kamu ikhlas menerimanya. Di dunia ini tidak ada yang kekal. Kamu harus terima, perceraian kamu adalah takdir Allah yang sudah tertulis dalam lauhul mahfuz. Delmira hanya menumpang singgah dalam hidup kamu, dia bukan jodoh sebenarnya kamu," terang Aisyah.


Zaidan terdiam kembali. Dirinya memang selalu ingat tentang takdir. Namun, hatinya merasa butuh proses untuk dapat melupakan semua dan entah, lama proses itu akan berakhir sampai kapan.


Zaidan mengempaskan napasnya, berharap sesak dalam dadanya ikut juga terempas, "Astaghfirullah haladhim," lirih Zaidan.


Aisyah menatap sendu pada anaknya, "Kita turun," ajak Aisyah.


"Aku akan salat di kamar ini dulu Ummi," jawab Zaidan.


"Nak_"


"Zaidan butuh ketenangan Ummi, tolong pahami aku," pinta Zaidan.


'Ummi sudah jauh memahami kamu, bahkan terlalu tolerannya begitu tinggi, mungkin ini penyebabnya kamu masih saja ingat Delmira. Ummi tidak ingin kamu terpuruk dalam kesedihan,' ucap Aisyah yang hanya mampu dia lontarkan dalam hati.


"Ummi tunggu kamu di sini," ucap Aisyah kemudian.


"Ummi turun dulu saja," pinta Zaidan tanpa mengurangi rasa hormat dia tertatih berjalan ke pintu dan membukakan pintu itu untuk Aisyah.


Aisyah pun melangkah keluar, 'Kalau kamu terus seperti ini Zaid, ummi akan ambil langkah lebih agar kamu tidak semakin terpuruk dalam jurang kesedihan. Kamu anak titipan dari almarhum sahabat ummi. Ummi harus menjaga amanah itu,' batin Aisyah berucap.


Menghadirkan Khanza, mantan kekasih Zaidan ke dalam hidup Zaidan sudah Aisyah lakukan. Berbagai cara untuk mendekatkan mereka berdua tapi tetap saja gagal. Langkah selanjutnya mendekatkan Zaidan pada mitra kerjanya yang memang dari dulu sudah cinta dengan Zaidan. Namun, kelihatannya juga gagal. Aisyah meras frustasi, "Langkah apalagi yang harus aku tempuh?" ucap Aisyah di tengah menuruni anak tangga.

__ADS_1


pagi menyapa 🤗 like komen hadiah vote, rate jangan lupa ya biar muncul 5 bintang🙏.


__ADS_2