
"Mom, kita berangkat sendiri!" tolak Kaffah ketika akan diantar ke sekolah.
"Tidak! Ini hari pertama kalian ke sekolah memakai seragam SMA, so tidak mungkin Momyang lewatkan momen ini!" kekeh Delmira, "buruan habiskan makanannya," sambungnya.
Sedangkan Kahfi, saudara kembar Kaffah, tanpa bergeming, hanya diam, melanjutkan mengunyah roti yang menjadi menu sarapan di pagi hari.
"Tiga hari kemarin, saat masa Penerimaan Peserta Didik Baru, Momy sudah mengantar kami!" protes Kaffah.
"Tiga hari kemarin kalian kan masih pakai biru putih, sekarang kan seragam SMA," sanggah Delmira.
Kaffah terlihat mendengus, "Brother, buruan pesan taksi on line!" titah Kaffah sebagai bentuk penolakan tawaran Delmira atau tepatnya paksaan dari Momyangnya yang akan mengantar ke sekolah.
Kahfi tetap diam tidak menyahuti percekcokan yang menjadi rutinitas tiap mereka bersama, antara Delmira dan Kaffah.
Masih dengan mode penolakan dan pemaksaan, mereka terus saja mengeluarkan argumennya masing-masing.
Kahfi, mengelap sudut bibir, lalu mengangkat pantatnya, dan beranjak dari kursi yang dia duduki.
"Tunggu anak Papyang," cekat Zaidan membuat langkah kaki Kahfi terhenti.
"Hei Kahfi, buru-buru amat! Aku belum selesai makan nih!" seloroh Kaffah, karena terlalu sibuk adu mulut dengan Delmira dia sampai tertinggal sarapan paginya.
"Aku tunggu di luar," jawab Kahfi.
"Papyang juga tunggu di luar!" pamit Zaidan yang ikut menyusul langkah anak bungsunya.
"Awas saja kalau sampai terlambat, itu semua gara-gara Mommy," sungut Kaffah.
"Kok Momyang yang disalahin, kamu sendiri yang tidak bisa gerak cepat."
"Terserah Mommy!" balas Kaffah memilih menghabiskan roti sambil jalan keluar.
"Kaffah! Kalau makan itu sambil duduk!" teriak Delmira.
Seakan takut dapat amukan Delmira, Kaffah sedikit berlari keluar.
Delmira yang ditinggal sendiri di meja makan, terpaksa menyelesaikan sarapan pagi dengan cepat.
Uhuk uhuk uhuk.
Delmira menepuk-nepuk dada, tangannya gegas mengambil gelas yang berisi air mineral.
"Gara-gara itu bocah, aku sampai tersedak! Kalau Momyang sampai mati karena tersedak roti, awas saja kalian! Tiap hari Momyang hantui!" gerutu Delmira.
Kakinya gegas melangkah keluar, menyusul anggota keluarganya yang sudah berada di parkiran mobil.
"Loh, loh, Kaffah sama Kahfi dimana Papyang?" lontar Delmira, ketika sampai di halaman rumah, terlihat hanya ada Zaidan berdiri di samping pintu mobil.
"Mereka sudah berangkat," jawab Zaidan.
"Naik taksi on line?" tanya Delmira.
Zaidan mengangguk.
"Astaghfirullah haladhim, Papyang kok bolehin mereka pergi! Kan Momyang sudah bilang akan mengantar mereka! Ini momen yang tidak boleh kita lewatkan karena tidak mungkin kita ulang hari bersejarah ini! Issst Papyang sungguh payah!" oceh Delmira.
Tanpa menyahuti ocehan istrinya, Zaidan membuka pintu mobil agar sang istri segera masuk ke dalam mobil..
"Papyang kenapa hanya diam saja!" sungut Delmira, tubuhnya masuk ke dalam mobil lalu mendudukkan pantatnya di kursi samping pengemudi.
Zaidan tersenyum melirik ke arah istrinya.
"Momyang, ambil napas dalam-dalam, keluarkan perlahan," pinta Zaidan dengan sungkan Delmira menurut apa yang disarankan suaminya.
"Lakukan lagi Momyang," ujar Zaidan setelah Delmira melakukan apa yang sudah dia arahkan.
"Bagus Momyang!" seru Zaidan setelah istrinya tetap mau melakukan apa yang dia pinta, "ingat! Otot, urat, saraf, semua perlu dilemaskan, jangan sampai menegang terus nanti bisa-bisa putus tuh_"
"Sudah jalankan saja mobilnya!" potong Delmira.
__ADS_1
"Ok cantik," sahut Zaidan.
Delmira tersenyum mendengar sapaan cantik yang terlontar dari mulut Zaidan.
"Mengapa dari tadi Momyang senyam-senyum?" lontar Zaidan, dipertengahan jalan.
"Siapa juga yang tersenyum!" elak Delmira.
"Padahal kalau senyum, cantiknya... subhanallah, artis Korea tidak sebanding dengan cantiknya Momyang," sahut Zaidan.
"Gombal!"
"Serius Momyang. Entah kenapa, Momyang selalu memancarkan rona cantik yang luar biasa saat tersenyum," imbuh Zaidan.
Delmira mengembangkan senyum yang sedari tadi dia tahan.
"Tapi Momyang semakin menua loh Papyang."
"Momyang masih terlihat cantik dan awet muda, lagian semua manusia pasti akan memasuki fase menua Momyang. Lihat saja, anak kita sudah dewasa semua," balas Zaidan.
Delmira mengangguk, wajahnya menoleh ke arah suaminya, lalu tangannya bergerak mengelus pipi Zaidan.
Zaidan sedikit menolehkan kepala agar bibirnya dapat menjangkau tangan Delmira, untuk dia kecup.
Delmira tersenyum mendapat perlakuan suaminya, selang beberapa waktu lalu menarik tangannya dari pipi Zaidan
"Nanti siang Papyang jemput untuk makan siang," tawar Zaidan.
Delmira mengangguk, "Makan siang spesial?" tanya Delmira.
Zaidan melempar senyum, "Bagi Papyang, setiap hari menjadi spesial karena hadirnya Momyang dan si kembar."
"Terima kasih Papyang," balas Delmira.
Mobil itu mengurangi kecepatan lajunya, memasuki parkiran rumah sakit, dan berhenti setelah terparkir sempurna.
Cup.
Zaidan tersenyum.
Sedangkan Delmira langsung beranjak keluar tanpa menunggu pintunya dibukakan sang suami.
"Momyang masuk dulu, assalamualaikum," pamit Delmira.
"Waalaikum salam," jawab Zaidan.
Tut Tut.
terdengar mobil dikunci Zaidan.
"Loh, Papyang kok tidak masuk mobil?" bingung Delmira karena biasanya Zaidan hanya sebatas membukakan pintu mobil lalu pergi ke dealer.
"Kali ini Papyang antar Momyang sampai ke ruang kerja," jawab Zaidan melenggang jalan terlebih dahulu.
"Mau apa? Ada hal penting Papyang? Atau ada yang mengkhawatirkan dari kinerja rumah sakit?" cecar Delmira mengekor langkah Zaidan.
"Papyang," panggil Delmira karena Zaidan hanya diam tidak sepatah katapun terlontar membalas sederet pertanyaan dari Delmira.
Oya, sampai lupa nih memberitahu kalian readersku yang baik hati dan tidak sombong.
Delmira mulai bekerja kembali di rumah sakit setelah Kaffah dan Kahfi di sapih, dan keadaan Delmira saat itu sudah sehat dari proses menyapih.
Zaidan memutuskan menyetujui tawaran Aisyah agar istrinya bekerja kembali di rumah sakit.
Tentunya Zaidan meminta pendapat Delmira terlebih dahulu, apakah dia menerima tawaran Aisyah atau tidak. Ternyata Delmira menyetujuinya.
Zaidan menyetujui permintaan Aisyah karena beberapa sebab. Pertama, dia takut Delmira terlalu jenuh kalau hanya mengurus dua anaknya. Alasan yang kedua, karena rumah sakit itu milik ummi Aisyah, setidaknya dia bisa kerja tidak terlalu keras karena posisi yang ditawarkan ke Delmira saat itu adalah wakil direktur yang sekaligus diberi fasilitas seorang aspri.
Sebab ketiga, Zaidan merasa kasihan melihat Ummi Aisyah yang sudah tua tapi masih mengurus rumah sakit itu sendirian. Padahal ada hal yang begitu rumit yang harus dihadapi ummi Aisyah. Tidak hanya faktor eksternal rumah sakit, faktor internal juga menambah kerumitan yang dijalani ummi Aisyah sendiri.
__ADS_1
"Momyang penasaran?" retoris Zaidan, tangannya bergerak memencet tombol di dinding lift yang dia masukki.
"Jelas penasaran!" sahut Delmira.
Zaidan tersenyum sebagai balasan.
"Kenapa Papyang, jangan malah senyum!" sungut Delmira.
"Nanti Momyang tahu kalau sudah sampai di ruang kerja," jawab Zaidan, melangkah keluar dari lift, kakinya berjalan menuju ruang kerja Delmira.
"Assalamualaikum Bu, Pak," sapa seorang pegawai yang kebetulan berpapasan dengan mereka.
"Waalaikum salam," jawab Zaidan dan Delmira serentak.
Zaidan berjalan semakin cepat, dan langsung menarik Delmira masuk, tangannya bergerak cepat mengunci ruangan.
"Assalamualaikum Bu, Pak," sapa Dini, asisten Delmira begitu mereka telah masuk di ruangan.
Deg.
Zaidan yang tadi sempat menarik Delmira agar cepat masuk ruangan menjadi risih.
Bahkan ruangan yang sempat dikunci, dia buka kembali.
"Waalaikum salam Din," sahut Delmira.
Zaidan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Sedangkan Delmira tersenyum melihat reaksi Zaidan.
"Emmm, tolong kamu cek bagian humas, mereka sudah buat laporan minggu ini belum, ada yang perlu aku lihat," titah Delmira.
"Baik Bu," jawab Dini, kakinya akan melangkah keluar.
"Oya, setelah itu, kirim undangan meeting dengan klinik kecantikan Amora," pinta Delmira, kakinya melangkah mendekat ke arah asistennya.
Dini menghentikan langkah kaki, sedikit memutar tubuh menghadap Delmira yang sudah berada di depannya, "Lewat email Bu?" lontar Dini, karena seingatnya kemarin Delmira meminta dibuatkan undangan untuk klinik tersebut dan mengatakan akan mengirim sepulang kerja.
"Datang langsung ke klinik," ucap Delmira, mengeluarkan sebuah amplop, dan jelas amplop itu yang kemarin Dini serahkan ke Delmira, "Sepulang dari rumah sakit, aku lupa mampir ke klinik kecantikan Amora," sambungnya.
"Baik Bu."
Dini pun pamit, sedikit membungkukkan tubuh melewati Delmira untuk berjalan ke luar.
Zaidan tersenyum, kakinya melangkah ke arah istrinya.
Mendekat, semakin mendekat dan sangat dekat. Tubuh Delmira sampai terdorong hingga terpentok pintu ruangan.
Tangan Zaidan mengungkung tubuh kecil istrinya.
"Rupanya Momyang tahu sesuatu," ucap Zaidan.
"Tahu apa?" sahut Delmira, bingung Delmira. Namun matanya tidak berani membalas tatapan Zaidan.
"Tahu bagaimana mengalihkan asisten Momyang agar tidak di ruangan," jawab Zaidan, masih belum berpindah tatap dari netra istrinya.
"Kalau pun dia tetap di ruangan kenapa, ap_?"
Cup.
Kecupan dari Zaidan, seketika membungkam mulut Delmira.
"Bagaimana Papyang akan mengambil kecupan yang sempat Momyang curi kalau dia tetap di ruangan?" bisik Zaidan setelah melepas pagutannya.
Delmira tersenyum, "Hanya mencuri kecupan?" goda Delmira
"Maksud Momyang, menginginkan yang lebih?" lontar Zaidan membulatkan mata.
Delmira menahan senyum, tangannya bergerak cepat menarik tengkuk Zaidan agar semakin mendekat ke wajahnya.
Dan...
__ADS_1
Sebuah pagutan Delmira lancarkan, semakin dalam dan semakin saling menuntut.