Dinikahi Berondong Saleh

Dinikahi Berondong Saleh
Bab 79


__ADS_3

Bugh


bugh.


Beberapa bogeman kembali diterima Putra. Dia hanya nyeringis menahan sakit.


Verel melangkah keluar.


"Brengsek kamu Meilin! Aku salah membiarkan kamu tetap berkeliaran menghirup udara dengan bebas." Satu tinjuan mengarah ke dinding, "aku pastikan, kali ini kamu akan melewati harimu dengan tangisan!" sambung Verel dengan geram.


...****************...


Empat bulan telah berlalu.


Aisyah dan Zaidan duduk menikmati makan malam bersama.


"Nak, sudah saatnya kamu menata hidup kamu. Membuka lembar baru tanpa bayang-bayang masa lalu. Ingat Zaid, Ummi semakin tua. Ummi tidak tahu, esok masih bisa melihat kamu apa tidak," ujar Aisyah di sela-sela makan.


Zaidan terdiam. Kenyataannya, dia memang belum sepenuhnya melupakan Delmira. Berbagai cara dan usaha sudah Zaidan lakukan. Tapi, bayang wajah Delmira selalu saja menari dalam benaknya.


"Ummi jangan begitu, tetaplah sehat agar Zaid bisa melihat senyum Ummi tiap hari," ucap Zaidan kemudian.


"Ummi akan merasa lega Nak, jika kamu sudah berumah tangga lagi. Maaf, bukan Ummi memaksa kamu. Hanya..., Ummi merasa tidak tega melihat kamu tersiksa karena bayangan Delmira."


"Teruskan makannya. Ummi mau ke kamar dulu," pamit Aisyah.


Mata Zaidan menatap piring Aisyah, "Makanannya belum habis Ummi," ucapnya kemudian.


"Perut Ummi terasa begah. Padahal porsinya sudah Ummi kurangi tapi tetap saja tidak bisa Ummi habiskan, takutnya nanti malah muntah."


"Ummi sakit?"


Aisyah menggeleng.


"Ummi perlu istirahat saja. Nanti juga baikkan."


"Apa perlu aku panggil dokter?" tawar Zaidan.


"Tidak perlu," sahut Aisyah kakinya melangkah pergi.


Zaidan gegas menghabiskan makanannya. Akan segera menyusul Aisyah.


"Kamu tidak perlu ke kamar, Ummi langsung mau istirahat," ucap Aisyah sebelum benar-benar hilang di balik pintu kamar.


"Iya Ummi," jawab Zaidan.


Waktu terus berjalan, hingga pagi lalu siang menyapa kembali.


Zaidan dan Fernando sudah berada di sebuah perusahaan kontraktor ternama. Dia sedang menjalankan kerja sama untuk pembangunan cabang dealer motor AZM.


Namun, langkah kaki Zaidan kini terhenti tatkala mendengar percakapan dua orang yang ada di sudut parkir gedung. Zaidan masih ingat betul wajah orang itu.


Fernando pun menghentikan langkah kakinya karena juga terkejut melihat Verel ada di kantor perusahaan milik Andra.


"Dia pulang ke rumah Meilin Tuan."


"Biarkan saja. Dia pasti akan berbicara bagaimana aku memperlakukannya," jawab Verel, mulutnya menghisap dan mengeluarkan asap rokok.


"Maksud Tuan? Tuan sengaja membiarkan istri Tuan berbicara semua pada Meilin?" lontar lelaki yang dipastikan asisten lelaki tersebut.

__ADS_1


Deg.


'Ternyata Verel sudah menikahi delmira.' batin Fernando dan Zaidan mengucapkan hal yang sama.


"Ini permulaan dari semuanya. Adik Meilin adalah alat aku untuk membuat Meilin sengsara!" ucap Verel.


Seketika apa yang terlontar dalam batin Fernando dan Zaidan terjawab.


'Bukan Delmira yang diperbincangkan mereka tapi apakah maksud dari istri itu... adik Meilin, ada apa ini? Lalu, dimanakah Delmira?' batin Zaidan penuh tanya. Demikian juga dengan Fernando, dia juga sangat kaget mendengar pernyataan selanjutnya seorang Verel.


'Aku kira lelaki itu akan menikahi non Delmira, ternyata selama ini... Apa non Delmira menanggung semuanya sendiri?' monolog batin Fernando.


Zaidan gegas melangkah ke arah Raka dan Verel.


"Hai, kita berjumpa lagi," sapa Verel menyambut kedatangan Zaidan yang tiba-tiba.


"Maaf, tadi saya tidak sengaja dengar semua yang anda katakan dengan rekan anda. Benarkah anda sudah menikah?"


Verel menarik satu sudut bibirnya, terdengar sebuah dengusan, "Apa yang kamu tanyakan? Datang tiba-tiba malah menanyakan menikah."


"Aku tanya sekali lagi, mohon cukup jawab ya atau tidak. Benar anda sudah menikah?"


"Ya."


"Bukan dengan Delmira?" cecar Zaidan.


Lagi Verel mendengus.


"Bukan dengan Delmira?" ulang Zaidan melihat Verel tidak berniat untuk membuka suara.


"Bukan," jawab Verel lalu kakinya melangkah akan pergi.


"Lalu, sekarang dimana Delmira?" lontar Zaidan penuh harap karena sekarang dirinya begitu mengkhawatirkan keadaan sang mantan istri.


"Kamu tanya Delmira padaku?"


Zaidan mengangguk cepat, "Karena terakhir kali aku melihat Delmira, dia pergi dengan kamu. Delmira bilang, dia akan menikah dengan kekasihnya karena dia sedang hamil anaknya," terang Zaidan.


Deg.


'Delmira melepas Zaidan walaupun dirinya masih cinta. Apakah ini salah satu pengorbanan cinta, melepas seseorang yang dicintai agar orang itu mendapat pasangan yang sempurna? Apa aku juga harus melakukan hal yang sama? melepas Delmira dan mempertemukan Delmira pada yang lebih layak untuknya?' monolog batin Verel.


Verel terlihat menyunggingkan senyum. "Lelaki bodoh! Pantas saja kamu tidak bisa mempertahankan wanita seperti dia!"


"Aku mohon, katakanlah Delmira sekarang dimana? Bagaimana keadaannya sekarang?" tanya Zaidan, perasaannya sungguh tidak karuan.


"Aku harap dia baik-baik saja. Seperti apa yang kita harapkan," jawab Verel lalu melangkah masuk ke mobil.


"Den...," panggil Fernando melihat Zaidan masih tercengang walaupun mobil Verel telah berlalu dari hadapannya.


"Den Zaidan, apa Aden baik-baik saja?"


Zaidan mengangguk pelan lalu melangkah ke mobil.


Fernando terlihat gelisah, sesekali menatap ke arah kaca mobil dalam, dilihatlah Zaidan sedang diam menatap luar jendela.


Mereka sampai di dealer motor AZM.


Zaidan dan Fernando gegas mengambil wudhu untuk salat Zuhur. Sesuai salat Zaidan memilih duduk di sofa ruang kerja.

__ADS_1


"Aden, makan siangnya sudah datang," ucap Fernando memberikan sebungkus nasi Padang yang dipesan lewat aplikasi on line.


"Ya terima kasih," sahut Zaidan langsung membuka nasi itu, setelah membaca doa Zaidan gegas memakannya hingga habis.


Fernando heran melihat Zaidan makan dengan begitu semangat.


"Aden begitu semangat makan," ujar Fernando.


"Aku harus sehat karena aku akan mencari Delmira," sahut Zaidan.


Fernando semakin merasa bersalah mendengar jawaban Zaidan, bersalah karena selama ini telah menyembunyikan sebuah rahasia besar.


"Den, ada hal penting yang ingin aku sampaikan pada Aden," ucap Fernando yang sudah bertekad akan mengatakan sesuatu yang selama ini dia simpan rapat-rapat.


"Katakanlah," jawab Zaidan.


"Aku... aku menyimpan rahasia besar tentang non Delmira."


Zaidan yang sedang menatap layar ponsel langsung menengadahkan pandangan ke arah Fernando.


"Rahasia apa?" penasaran Zaidan.


"Rahasia... rahasia kalau non Delmira hamil karena dijebak oleh Meilin."


"Maksud kamu_"


"Verel bukanlah kekasih non Delmira, dia casanova yang biasa meniduri wanita pesanan."


"Lalu Meilin memberikan Delmira pada Verel?" tebak Zaidan.


Fernando mengangguk.


"Astaghfirullah," Zaidan menyeka cairan bening yang tiba-tiba mengisi pelupuk matanya. Dia merasa semakin mengkhawatirkan keadaan Delmira dan salah besar kenapa dulu langsung percaya apa yang disampaikan Fernando sewaktu dirinya menitahkan untuk menyelidiki mengenai kekasih Delmira.


"Hal sepenting ini kenapa kamu rahasiakan Fer?!" geram Zaidan namun amarahnya dia tahan.


"Aku tidak rela kalau Aden bersama wanita yang hamil dengan lelaki lain."


"Tapi ini hidupku Fer. Aku yang menjalaninya, mau bagaimanapun wanita yang hidup denganku, itu tidak ada urusannya dengan kamu!" sanggah Zaidan.


"Aku sudah mendapat amanat dari abah Fatah untuk menjaga Aden. Jadi, aku akan berusaha melayani dan menghalau hal yang sekiranya akan membuat Aden hidup dalam kesengsaraan."


"Delmira tidak memberikan aku kesengsaraan Fer," sahut Zaidan dengan cepat, tangannya bergerak meraup wajah dan dibiarkan tangan itu melekat di wajahnya lama-lama.


"Kamu keluar dulu dari ruangan ini," titah Zaidan.


Fernando terlihat ragu, karena baru pertama kali ini, Zaidan menampakkan wajah yang berbeda, terlihat menahan amarah yang memuncak bahkan sampai memerintahkan dirinya keluar ruang kerja.


Namun apa daya, Fernando hanya bisa menurut apa yang menjadi perintah atasannya.


Setelah Fernando keluar, Zaidan meraih ponselnya.


Mengirim foto Delmira dan segera menitahkan Gombloh mencari keberadaan Delmira. Lelaki yang Zaidan kenal sewaktu ada insiden pengejaran gangster. Saat itu Zaidan menyelamatkan Gombloh, di situlah Gombloh berjanji akan melakukan apapun untuk membalas budi apa yang sudah Zaidan lakukan.


Tidak lupa Zaidan juga menceriterakan soal Verel. Zaidan merasa kunci keberadaan Delmira ada di tangan Verel.


Senin menyapa πŸ€— sedekah vote dongπŸ™


Verel menikahi adik Meilin πŸ€” nanti ada flashback bagaimana itu terjadi πŸ₯Ί

__ADS_1


__ADS_2