
Tok
tok
tok.
Delmira memencet tombol pintu ruangan agar terbuka.
"Ruang rapat sudah siap Bu," lapor Dini, setelah masuk ruang ruangan, memilih berdiri di depan meja kerja Delmira.
"Ini materi rapat yang sudah saya ketik," sambungnya, menyerahkan map di meja.
"Terima kasih," sahut Delmira, tangannya membuka lembar demi lembar materi yang akan disampaikan. Walaupun format materi dari dirinya, tapi tetap saja karena itu diketik oleh Dini, Delmira harus mengecek kembali.
"Ya, sudah bagus. Kita langsung ke tempat rapat saja," ajak Delmira, pantatnya dia angkat lalu melangkah keluar ruangan setelah menyerahkan berkas itu pada dini untuk dibawa ke ruang rapat.
Poin rapat kali ini membahas pengganti Bu Hilda dan Pak Jagad. Sekaligus pembinaan untuk pegawai rumah sakit. Delmira tidak boleh asal pilih, yang terpilih harus benar-benar memiliki kualifikasi standar tepat agar kerja mereka dapat maksimal.
Usai sudah mengumumkan pengganti dua staf yang dia copot, Delmira gegas ke dealer motor AZM.
Tiga puluh menit kemudian, sampailah di tempat tujuan. Delmira langsung berjalan ke ruang kerja Zaidan.
Zaidan gegas membukakan pintu ruang kerja setelah mendapat telepon dari resepsionis.
"Assalamualaikum," sapa Delmira mencium takdhim suaminya.
"Waalaikum salam," jawab Zaidan memundurkan tubuhnya Nagar Delmira dapat masuk.
"Tumben, mau masuk ke ruang kerja kamu saja pakai lapor resepsionis?"
"Berjaga-jaga saja, barangkali ada tamu yang tidak diinginkan," sahut Zaidan yang memang baru memberlakukan hal tersebut satu minggu yang lalu. Dan dalam waktu itu, Delmira belum pernah berkunjung dealernya.
Tanpa dipersilahkan Delmira langsung mendudukkan pantatnya di sofa.
Zaidan menelisik wajah istrinya yang nampak muram, tidak ada senyum yang mengembang dari wajahnya.
"Ada masalah?" tanya Zaidan langsung ke topiknya.
Delmira menarik dua sudut bibir hanya sekilas, bahkan nampak tidak terlihat. Dia pun kemudian menceritakan apa yang tengah dialami rumah sakit. Bagaimana pun Zaidan sang suami adalah pemilik setengah saham rumah sakit tersebut. Jadi hal sekecil apapun Zaidan harus tahu, apalagi ini masalah besar.
"Itu memang sudah tertuang dalam perjanjian kerja sama dengan pihak asuransi kesehatan pemerintah," sahut Zaidan, sebagai jawaban laporan Delmira.
"Artinya, Papyang, memang sudah tahu sanksi ini akan diberikan oleh mereka?"
Zaidan mengangguk.
"Lalu, jalan keluarnya seperti apa Pap, agar kerugian rumah sakit tidak membesar?"
"Secepatnya kita buat pengumuman, untuk sementara tidak menerima pasien yang menggunakan asuransi kesehatan pemerintah," jawab Zaidan.
"Hari ini kita umumkan, tapi realisasi di rumah sakit mungkin tidak secara langsung Papyang."
"Betul, tidak dapat diberlakukan secara langsung tapi bertahap. Misal saja, mereka yang sudah terlanjur mendaftar sebagai pasien dengan biaya dari asuransi kesehatan pemerintah, itu tidak mungkin tiba-tiba kita tolak asuransi mereka lalu disuruh mengganti menggunakan biaya tunai, sungguh tidak mungkin. Otomatis kita tanggung biaya mereka padahal semua itu membutuhkan biaya yang tidak sedikit," terang Zaidan.
Delmira mengempaskan napas kasar, tangannya bergerak memegang kepalanya.
"Momyang sudah cek, dana yang harus kita keluarkan untuk pasien yang sudah terlanjur mendaftar dengan biaya asuransi kesehatan pemerintah padahal kita tidak bisa mengklaim asuransi tersebut," ujar Delmira.
__ADS_1
"Kisaran di angka berapa?"
"Lebih dari satu miliar," sahut Delmira, "belum lagi mereka yang tiba-tiba sudah sampai rumah sakit, kondisinya kritis dan harus segera ditangani, tapi yang mereka punya hanya asuransi tersebut. Maka, mau tidak mau, atas rasa kemanusiaan kita juga harus membantu mereka membiayai selama perawatan di rumah sakit," terang Delmira.
Zaidan meraup wajahnya, "Segera benahi staf keuangan dan pendataan pasien. Insyaallah dalam dua bulan jika ada perubahan yang lebih baik untuk pelaporan pendataan pasien yang dibiayai asuransi kesehatan pemerintah, maka mereka akan menjalin kembali kerja sama dengan kita," sahut Zaidan.
"Mata Momyang kenapa?" tanya Zaidan, tangannya menyentuh area bawah mata.
"Kenapa Papyang?" penasaran Delmira ikut memegangnya.
"Mungkin karena kamu tidak tersenyum dari awal masuk ruang ini. Coba kalau tersenyum pasti tidak mengantung seperti ini."
"Issst! Mana ada hubungannya senyum dengan kantung mata!" protes Delmira mengerucutkan bibirnya.
Zaidan terkekeh melihat reaksi istrinya.
"Makanya senyum dong Momyang," pinta Zaidan mengelus pipi istrinya.
Delmira pun tidak bisa menahan untuk tidak senyum.
Memang sangat ayu, saat dua sudut bibir itu dia tarik, barisan gigi putihnya terlihat sedikit, rona wajah yang memang sudah cantik bertambah memancarkan aura kecantikan.
"Gitu dong," ucap Zaidan melihat senyum yang sudah tercetak di wajah Delmira, "waktunya salat dan makan siang. Mau makan dulu atau salat?" imbuh Zaidan, melontarkan sebuah tanya.
"Emmm, makan dulu ya Papyang, aku sangat lapar, tadi tidak sempat ngemil apapun di rumah sakit."
Zaidan mengangguk, meraih tangan Delmira agar bangkit dari duduknya lalu mereka keluar dealer untuk makan siang.
"Fernando jarang ke dealer AZM Papyang?" tanya Delmira setelah mobil itu melaju setengah perjalanan.
"Terkadang," sahut Zaidan singkat.
"Ide yang bangus," jawab Zaidan.
Delmira tersenyum lebar, lalu mengelus pipi Zaidan sebagai ucapan terima kasih menyetujui permintaannya dengan cepat.
"Kamu cepat hubungi mereka, untuk menyusul di resto langganan kita," titah Zaidan.
"Siap Papyang!" semangat Delmira, tangannya segera bergerak menghubungi dua nomor sekaligus dalam satu panggilan.
Setelah terhubung, Delmira menyampaikan ajakannya. Sungguh sangat kebetulan, sebenarnya mereka juga akan mengajak Delmira dan Zaidan untuk makan siang bersama di resto langganan mereka. Bahkan mereka juga dalam perjalanan ke resto. Rencananya, baru akan menghubungi Delmira dan Zaidan setelah mereka sampai.
Zaidan ikut tersenyum melihat istrinya tersenyum riang setelah menutup sambungan telepon. Delmira sengaja mengeraskan suara telepon agar Zaidan dengar langsung pembicaraan dirinya dan juga dua sahabatnya itu.
"Sekalian pulangnya. mampir ke butik Yasmin ya Papyang," rayu Delmira dengan mengeringkan dua matanya.
"Mau apa?" tanya Zaidan pura-pura tidak mengerti niat terselubung Delmira yang biasanya kalau minta mampir ke butik Yasmin berarti harus beli baju di situ.
Delmira nyengir, "Yasmin kemarin ngepost status, banyak koleksi baru di butik," ujarnya dengan nada merayu tapi tidak langsung ke inti permintaan.
"Lalu?" sengaja Zaidan menanyakan pada Delmira, padahal jelas sangat tahu maksud dari ucapan Delmira mengarah pada hal apa.
Senyum yang sedari tadi di tampilkan Delmira tiba-tiba dia tarik, hilang dari wajahnya.
"Tidak Papyang, Momyang tidak jadi mampir ke butik," ujar Delmira.
Zaidan mematikan mesin mobil setelah terparkir sempurna di halaman resto. Tubuhnya sontak menghadap ke arah istrinya.
__ADS_1
"Mengapa tidak jadi beli baju di butik Yasmin?" tanyanya dengan wajah heran.
Delmira nyeringis, "Momyang baru ingat, kita kan harus irit, keuangan rumah sakit kritis dan butuh suntikan dana yang tidak sedikit," terangnya.
Zaidan terkekeh, "Ya Allah, Papyang kira kenapa."
"Papyang! Momyang serius! Kenapa malah ditertawakan!?" sungut Delmira.
"Uang Papyang masih lebih dari cukup untuk membeli baju di butik Yasmin, bahkan untuk membeli 10 butik sejenisnya juga masih bisa," sahut Zaidan dan memilih berbisik di telinga Delmira.
"Issst! Sombongnya!" balas Delmira, menepuk dada suaminya.
Zaidan semakin terkekeh, sedangkan Delmira memilih gegas keluar dari mobil, dengan menahan senyum mendengar lontaran suaminya.
...****************...
"Sakit kenapa tidak bilang?" lontar Kahfi saat masuk ke UKS, ada Icha yang sedang berbaring di ranjang.
"Cuma pusing, aku lupa tidak sarapan," jawab Icha.
Anggota dan pengurus PMR memang ditugaskan membantu dokter sekolah untuk ikut merawat siswa yang sakit di UKS. Kebetulan hari ini adalah jadwal tugas Kahfi, Pe'i dan dua orang siswi kelas 11.
Mata Kahfi menatap ke arah nakas di samping ranjang, "Kalau belum sarapan kenapa tidak kamu makan rotinya?" lontar Kahfi melihat ada sepotong roti dan segelas teh.
Icha hanya menimpali dengan senyum kecil.
"Sudah diminum teh nya?"
Icha mengangguk pelan.
"Hanya sedikit?"
Lagi Icha mengangguk.
"Katanya ingin jadi dokter, jaga kesehatan diri saja tidak mau, apalagi jaga kesehatan orang lain?" ledek Kahfi.
"Mungkin Icha pengen lu suapin Kahfi," sela Pe'i yang sedari tadi berdiri di samping Kahfi.
"Siapa juga yang minta disuapi, aku bisa kok makan sendiri," gumam Icha gegas mengambil roti yang ada di nakas, tubuhnya mencoba bangkit, lalu duduk. Saat tubuhnya sedikit beringsut dan tangannya akan mengambil roti dengan segera pula Kahfi mengambil roti itu dan menyodorkan tepat di depan Icha.
"Terima kasih," lirih Icha menerima roti itu.
"Bismillah dulu, jangan lupa habiskan," pesan Kahfi.
"Kagak lu suapin Kahfi? Kasihan Icha masih sakit," ledek Pe'i.
"Biarkan dia makan, jangan ganggu, kita keluar," ajak Zaidan memutar bahu Pei menghadap ke gorden pembatas yang dibuka lebar.
"Ye iye, nyok kite kaluar," pasrah Pe'i.
Kahfi lalu mendudukkan pantatnya di kursi depan ruang UKS, begitu juga Pe'i.
'Tumben Icha sampai tidak sarapan?' monolog batin Kahfi.
'Apa mungkin nafsu makannya sedang menurun? Atau dia punya masalah tapi tidak ingin cerita denganku. Selama ini setiap kita bertemu, tidak pernah sedikit pun menyinggung mengenai hal pribadi. Kami hanya berbicara mengenai kegiatan PMR dan buku-buku yang menarik,' lanjut batin Kahfi bermonolog.
'Lalu apa yang sedang menimpa kamu Icha?' imbuh batinnya.
__ADS_1
"Bengong mulu!" Dari pade lu bengong, mending temenin ntuh si Icha. Tunjukkan rasa peduli lu, dari pada entar cemburu ade nyang peduli ame die," ledek Pe'i, dagunya menunjuk pada sosok orang yang berjalan cepat ke arah UKS.