
Tidak lama setelah Verel dan Raka pergi, Aisyah datang.
"Maaf, Ummi baru bisa datang. Kabar dari kamu sangat mendadak. Ummi ada rapat yang sangat penting dan tidak dapat ditunda lagi rapat itu," terang Aisyah setelah mereka saling bertegur salam.
"Yang penting Ummi selamat sampai sini," sahut Delmira.
"Cucunya mbok Sa'diyah dimana?"
"Dia sudah tidur Ummi."
"Pasti dia sangat terguncang, kasihan sekali."
"Diminum dulu Ummi," tawar Delmira ketika salah satu saudara mbok Sa'diyah membawa teh hangat dan camilan."
"Terima kasih Bu," ucap Aisyah pada wanita yang membawakan dia minum."
"Ya Bu, monggo diunjuk (silahkan diminum)," balasannya.
"Nggih Bu matur nuwun (Ya Bu, terima kasih)," sahut Aisyah.
Wanita itu pun berlalu.
"Ummi bisa basa Jawa?" terkejut Delmira.
"Sedikit."
Delmira tersenyum, "Aku yang sudah lama di Pekalongan belum bisa Ummi," keluh Delmira.
"Salahmu ora gelem Sinau," canda Aisyah.
Delmira tersenyum membalas candaan dari mertuanya.
"Tapi kalau ada orang bicara ya Delmira paham. Cuma, belum bisa kalau buat ngucapin."
"Tanya Zaidan, dia ahli tuh basa jawanya."
"Pantaslah, dia kan pernah tinggal di pondok Raudhatul Athfal."
"Kamu tahu, dia alumni pondok itu?"
Delmira mengangguk.
"Mungkin ini pepatah yang mengatakan, jodoh takkan kemana. Kebetulan tapi sebenarnya sudah dirancang Allah. Kalian dipertemukan kembali di tempat yang tak terduga."
"Dia sangat istimewa Del. Ummi sangat beruntung bisa mengasuhnya," ucap Aisyah menerawang menatap ke arah Zaidan yang sedang duduk ngobrol dengan saudara lelaki mbok Sa'diyah, mata Aisyah terlihat mengembun. Setiap berbicara masa lalu Zaidan, tanpa kontrol matanya selalu seperti itu.
"Aku juga sangat beruntung bisa dinikahi dia. Padahal, aku sangat jauh dari kata baik," balas Delmira.
Aisyah menggenggam tangan Delmira, "Dia sangat mencintaimu. Ummi tidak pernah melihat sekuat itu cintanya pada seorang wanita selain kamu. Bahkan sudah berapa kali Ummi memohon dan meminta agar dia mencari wanita lain. Tapi, tetap saja dia lebih memilih mencintaimu dalam diamnya. Namun, di balik diam dia, ternyata telah beraksi untuk menemukan kamu," terang Aisyah.
"Terima kasih Ummi,"
"Kenapa berterima kasih pada Ummi?"
"Karena Ummi mengasuhnya dengan cinta dan kasih sayang sehingga dia tumbuh jadi penyayang."
Aisyah tersenyum, "Cukup kamu balas dengan cinta dan kasih sayang pada Zaidan," sahut Aisyah.
"Sudah ah, kok malah bicara tentang kalian," imbuh Aisyah diiringi sebuah senyum.
__ADS_1
"Ummi akan menginap di sini saja kan?" Delmira memastikan sekaligus menawarkan.
"Di sini ada kamar kosong Ummi, nanti bisa ditempati Ummi," sambung Delmira melihat ummi Aisyah ragu.
"Sopir Ummi bisa tidur di kontrakan Zaidan."
Aisyah mengangguk menyetujui tawaran Delmira.
"Paginya insyaallah Ummi akan mampir ke pondok pesantren Raudhatul Athfal. Setelah itu, Ummi langsung meluncur ke Jakarta."
"Tidak menginap beberapa hari Ummi?"
Aisyah menggeleng, "Jadwal Ummi terlalu padat dan tidak bisa ditinggal. Kamu tahu sendiri, sebelumnya Ummi sudah ambil hari kerja untuk mengurus pernikahan kalian," jelas Aisyah.
Delmira mengangguk pelan membenarkan apa yang dikatakan Aisyah, " Ayo aku antar ke kamar, Ummi pasti capek setelah perjalanan jauh," ajak Delmira menggandeng Aisyah ke kamar yang akan mertuanya tempati.
...****************...
Tujuh hari telah berlalu.
Delmira dan Zaidan memutuskan untuk sementara akan tinggal bersama Safira.
Anak itu masih perlu bimbingan dan pendekatan karena psikologisnya belum juga stabil setelah ditinggal sang nenek.
Apakah bocah itu baik-baik saja?
Dia perlu didampingi terus menerus. Balas Delmira pada pesan yang dia terima dari Raka.
Apa seserius itu?
Delmira tersenyum membaca balasan dari Raka.
Zaidan langsung memposisikan diri untuk berdiri di belakang Delmira lalu dengan cepat memeluk tubuh istrinya, satu kecupan mendarat di tengkuk.
"Apa benar dia cinta dengan Safira? Apa mungkin ini yang dimaksud cinta buta? Raka mencintai gadis yang selalu dia sapa dengan bocah dan Safira mencintai lelaki yang usianya terpaut jauh dengannya? Lucu juga." gumam Delmira sambil menunjukkan pesan dari Raka pada Zaidan.
Zaidan tersenyum lalu mencubit pipi sang istri dengan gemas.
"Auw... sakit Zaid," sungut Delmira, bibirnya terlihat manyun.
Zaidan pindah posisi, sekarang tepat di depan sang istri.
Delmira seketika tersenyum, "Apa mungkin... laki-laki di depanku juga terserang virus cinta buta? Dia lebih memilih janda yang usianya lebih tua darinya?" Senyum Delmira masih mengembang menatap reaksi suaminya.
"Virusnya sangat ganas, sampai aku tidak bisa berpikir mana yang logika dan tak berlogika."
Delmira terkekeh menang, "Kamu menyesal?" telisik Delmira.
"Menyesal sekali, kenapa sebelumnya aku biarkan kamu pergi jauh?" sahut Zaidan menarik tubuh Delmira agar mendekat ke tubuhnya.
"Zaid," protes Delmira sambil mendorong tubuh suaminya walau sebenarnya, dia suka diperlakukan seperti sekarang.
Zaidan tidak membiarkan tubuh itu semakin jauh darinya.
"Boleh buka puasa?" bisik Zaidan di telinga Delmira.
Delmira mengangguk pelan. Satu minggu ini, memang mereka lebih memilih puasa. Walau tanpa perjanjian untuk puasa satu sama lainnya tapi keadaan yang tidak memungkinkan.
Apalagi Delmira juga harus full menemani Safira yang memang psikologis nya masih saja belum stabil.
__ADS_1
Zaidan juga tidak memaksakan keadaan. Kalau pun nantinya dipaksakan bukankah akan berbeda rasa?
Delmira mendongakkan kepala, netranya kini beradu tatap pada sang suami. Dua tangan Delmira tidak ambil diam, menelusup ke rahang keras suaminya. Kakinya kemudian berjinjit agar dapat meraih biBir sang suami.
Cup.
Satu ciuman mendarat dengan pelan dan sengaja Zaidan hanya pasrah menerima kecupan itu. Namun, saat Delmira melepas kecupan singkatnya, dengan cepat Zaidan membalas kecupan itu.
Saling berbagi dan saling menerima, satu dengan lainnya. Hingga tercurah kasih dan sayang lewat bahasa kata, kalbu, dan tubuh.
Aksi itu semakin lama semakin memanas, mendebarkan, dan tentunya menyenangkan.
Panas kamar yang hanya memakai kipas angin, semakin membuat panas tubuh mereka. Apalagi suara putaran kipas angin itu seakan menirukan alunan gerak mereka.
Hingga sebuah doa terucap lewat bibir keduanya saat mereka sampai pada puncak yang mereka inginkan.
"Terima kasih Sayang," ucap Zaidan mengecup pucuk kepala Delmira. Tubuh kecil sang istri diraih dalam pelukannya.
"Terima kasih juga Sayang," balas Delmira.
Mereka turun dari ranjang untuk bebersih diri. Setelah dirasa bersih mereka memilih ngobrol ringan bersandar kepala ranjang.
"Tidak bosan menatapku seperti ini?" ledek Delmira.
Zaidan tersenyum, "Tidak ada yang aku bosankan dari kamu," sahut Zaidan.
"Oya Sayang, kalau ... suatu saat aku ajak kamu tinggal di Jakarta, bagaimana?"
Delmira diam seketika mendengar pertanyaan Zaidan.
"Tapi kalau kamu tidak mau, kita bisa selamanya di Pekalongan," sambung Zaidan sebelum Delmira menjawab tanyanya karena raut wajah Delmira terlihat berbeda.
"Apa bisa kita bicarakan nanti saja?" sahut Delmira.
Zaidan mengangguk.
Jujur Delmira masih memikirkan nasib Safira kalau dia pindah ke Jakarta. Sedangkan sebelum meninggal, mbok Sa'diyah meminta dirinya menjaga Safira.
Sedangkan Zaidan, tiba-tiba saja terpikir ummi Aisyah yang hidup sendiri di Jakarta. Apalagi, sepeninggal mbok Sa'diyah, pikiran Zaidan mulai berpikir yang tidak, pada wanita yang sejak kecil telah mengasuhnya.
Delmira memeluk tubuh sang suami, "Sebaiknya kita jalani yang ada dulu. Aku tahu, kamu pasti memikirkan ummi Aisyah yang sendirian di Jakarta," ujar Delmira.
"Kamu tahu apa yang aku pikirkan?"
"Jelas tahu Sayang," sahut Delmira dengan rasa percaya diri yang tinggi.
"Nanti, kalau kamu menyetujui pindah ke Jakarta, ajaklah Safira untuk tinggal di sana pula."
"Kamu tahu aku memikirkan Sapi-ra?
"Jelas aku tahu Sayang, hati kita kan sudah terhubung lewat telepati," seloroh Zaidan diiringi sebuah senyum bangga.
"Issst! Sejak kapan kamu jadi suka ngegombal gini," gumam Delmira.
Zaidan terkekeh menanggapi.
Tiba-tiba tangan Zaidan mengelus perut Delmira, "Semoga Allah segera menitipkan amanah di perut kamu," ucap Zaidan dengan senyum merekah.
Delmira sedikit terkejut mendengar doa Zaidan, "Amiin," timpal Delmira. Bukan antusias mengamiini apa yang diucapkan suaminya tapi wajahnya terlihat menampilkan ekspresi yang berbeda.
__ADS_1
sore menyapa 🤗 jangan lupa like komen hadiah vote rate 🙏