Dinikahi Berondong Saleh

Dinikahi Berondong Saleh
Bab 121


__ADS_3

Sebuah senyum tercetak di wajah Zaidan, matanya menatap pintu toilet dalam ruangan tersembunyi yang ada di ruang kerja Delmira. Baru saja sang istri masuk ke toilet itu untuk bebersih diri.


Kaki Zaidan kini turun dari ranjang, melangkah mengitari setiap sudut ruangan.


Ada beberapa foto yang terpajang di dinding maupun di atas nakas.


Tangan Zaidan mengelus foto bergambar seorang wanita yang sedang tersenyum.


"Zaidan rindu ummi," lirih bibirnya berucap, matanya tiba-tiba berembun, dadanya terasa sesak.


Tatapannya kemudian berpindah pada foto lelaki yang berada di samping foto almarhum Aisyah. Lelaki yang telah mendidik dan membesarkannya.


"Zaidan juga sangat rindu pada abah," sambung Zaidan, lalu mulutnya mengucap lirih sebuah surah fatikha untuk ke dua orang tua angkatnya.


"Semoga Allah membalas setiap kebaikan dan memaafkan segala dosa yang kalian lakukan."


Tangan Zaidan bergerak mengusap cairan bening yang hampir menetes di dua pipinya.


"Aku bersaksi, mereka orang yang benar-benar baik. Semoga Allah menempatkan di surga," lirih Delmira yang tiba-tiba ada di dekat Zaidan.


Zaidan menoleh ke arah Delmira, tersenyum lalu memeluk tubuh wanitanya.


Tangan Delmira bergerak menepuk pelan punggung suaminya, dia tahu. Suaminya butuh tempat bersandar yang nyaman untuk berkeluh kesah.


"Sudah gantian Papyang yang mandi gih. Pegawai dealer pasti sudah menunggu Papyang," ujar Delmira, setelah dirasa suaminya lebih tenang.


Zaidan melepas pelukannya. Kaki Delmira jinjit agar sejajar dengan bahu Zaidan, tangannya bergerak menyeka sisa cairan bening yang sempat terbendung di pelupuk mata suaminya, kemudian turun menepuk pelan kedua pipi Zaidan.


"Temenin Papyang mandi," pinta Zaidan dengan wajah memelas, "Papyang merasa, tubuh Papyang sangat lemas," rengek Zaidan.


"Issst! Lupa apa! Tadi berhasil menggagahi Momyang dengan begitu gagahnya!" protes Delmira.


"Maka dari itu, energi Papyang rasanya terkuras habis," sahut Zaidan.


"Kalau tahu begitu, tadi tidak usah aku tawari yang lebih," ujar Delmira.


"Bener Momyang tega?"


"Tegalah!" balas Delmira, mengerucutkan bibirnya


Cup.


"Papyang!" teriak Delmira, matanya membulat karena tiba-tiba mendapat serangan mendadak.


"Begitu menggoda kalau dikerucutkan seperti itu," seloroh Zaidan dengan menampilkan sebuah senyum.


"Gombal!" seru Delmira.


Zaidan melihat jam tangan yang ada dipergelangan tangan.


"Sudah semakin siang kan," ujar Delmira melihat gelagat suaminya.


"Melihat jam tangan bukan berarti khawatir waktu yang semakin siang Momyang," sanggah Zaidan.

__ADS_1


"Lalu apa?!"


"Ini kode."


Delmira terdiam, "Kode?" tanyanya, bingung.


"Kode, jam tangan suami direktur rumah sakit modelnya sudah ketinggalan jaman," canda Zaidan.


"Zaid!" teriak Delmira kakinya langsung berlari mengejar Zaidan yang sudah lari terlebih dahulu menuju toilet kamar.


Namun apa yang dilakukan Zaidan, itu hanya perangkap. Setelah Delmira masuk, dengan cepat Zaidan mengunci toilet kamar.


"Zaid, apa yang kamu lakukan?!" tanya Delmira penuh dengan kekesalan.


"Tangan aku kenapa sulit aku gerakkan ke punggung ya?" kilah Zaidan tanpa menyahuti ucapan Delmira sebelumnya.


"Jangan banyak alasan, bilang saja punggungnya mau digosokki sabun!" ceplos Delmira.


"Nah, Momyang cerdas! Tahu gitu apa yang ada di otak Papyang," sahut Zaidan.


"Astaghfirullah haladhim, salah ucap deh!" rutuk Delmira pada diri sendiri, "cepatlah mandi!" sungut Delmira.


Zaidan tersenyum penuh kemenangan, tubuhnya langsung memeluk istrinya dari belakang dan menuntutnya ke bathtub yang sudah terisi air.


"Jangan minta macam-macam loh!" ancam Delmira.


Zaidan mengangguk, setelah melepas pakaian yang melekat tubuhnya, kini dirinya masuk ke dalam bathtub yang penuh dengan air.


"Papyang kayak bocah tahu, minta dimandiin!" oceh Delmira.


"Emang sebelumnya Papyang minta?" lontar Delmira otaknya berpikir keras mengingat apa yang dikatakan Zaidan sebelum dirinya mandi.


"Ya," jawab Zaidan.


"Papyang bohong!" selidik Delmira


Zaidan tersenyum, "Papyang barusan minta, cantik," kekeh Zaidan lalu mengelus pipi Delmira.


"Papyang, jangan sentuh-sentuh," protes Delmira.


"Papyang gemes. Kamu juga boleh sentuh pipi Papyang kok," sahut Zaidan, menarik tangan Delmira untuk menyentuh pipinya.


"Papyang! Bajunya jadi basah tahu!" protes Delmira, tubuhnya yang membungkuk mendekat Zaidan karena tarikan tangan Zaidan, membuat ujung bajunya basah.


Zaidan terkekeh, "Papyang lihat lemari kamu ada baju ganti," bisik Zaidan.


Tapi, apa yang dilakukan Zaidan, setelah berbisik di telinga Delmira, wajahnya tidak langsung ditarik dari hadapan Delmira, malah lebih dekatkan pada wajah yang tadinya berjarak dua sentimeter hingga tak berjarak.


Cup.


"Pipi Momyang sangat menggoda," kembali Zaidan berbisik.


Delmira menelan salivanya dengan susah, apa yang dilakukan Zaidan sungguh membuat gejolak yang sempat sudah bergejolak, jadi bergejolak kembali.

__ADS_1


"Papyang, aku sudah mandi besar, jangan bikin aku basah kembali," lirih Delmira.


Zaidan tersenyum lebar, mulutnya tidak menyahuti keluhan Delmira malah bertindak menyerang benda kenyal yang tepat berada di depannya.


Dengan lembut Zaidan melakukan pergerakan demi pergerakan, hingga Delmira yang sempat ogah-ogahan menjadi mau-mau kan.


Pertempuran kedua pun berlanjut.


Siapa yang memenangkan pertempuran itu? Keduanya menang, hingga wajah mereka berbinar-binar karena sama-sama mencapai puncak.


Setelah pergulatan panas nan panjang itu, akhirnya Zaidan dan Delmira mandi bersama.


Zaidan pamit dari ruang kerja Delmira setelah memakai baju rapi.


Bumi terus berputar pada porosnya, hingga matahari terlihat seperti bergeser ke arah Barat. Semakin meninggi, meninggi hingga mencapai puncak kepala dan bayang kita sejajar dengan tubuh.


Delmira bersiap-siap untuk menjalankan salat jamaah Zuhur. Tangan Delmira mengambil mukena yang ada di dalam nakas.


Sebelum keluar ruangan, Delmira merogoh ponsel yang ada di saku roknya.


Terima kasih Momyang, besok-besok lagi, Papyang antar Momyang sampai ke ruang kerja.


"Dasar pria mesum!" umpat Delmira membaca pesan yang dikirim Zaidan tapi bibirnya tersenyum.


"Kita sudah tua papyang, tapi mengapa masih sama-sama doyan ya?" monolog Delmira masih dengan sebuah senyum.


Tangan Delmira mengelus perut ratanya. Dia teringat apa yang diminta Zaidan.


"Maaf Papyang, Momyang rasa, Kaffah dan Kahfi sudah cukup untuk melengkapi keluarga kita. Semoga ini bukan celah dosaku. Tujuan Momyang, agar kita dapat mendidik mereka dengan maksimal," gumam Delmira.


Kakinya kemudian melangkah keluar ruangan.


...****************...


Sementara itu, si kembar yang sedang istirahat, masih duduk di kantin sekedar minum.


"Ya Tuhan, kasih aku satu saja dari mereka," ucap salah satu siswi yang ada di deretan kursi kantin.


Pandangan mereka berlima tertuju pada Kaffah dan Kahfi.


"Aku juga mau," sela siswi satunya.


"Selain mereka tampan paripurna, denger-denger nih, mereka juga anak tajir guys," seru di antara mereka.


"Oh oh oh... pantesan mereka jadi idola di masa Penerimaan Peserta Didik Baru," seloroh satunya.


"Kamu pilih siapa? Kaffah atau Kahfi?" tawar siswi yang terlihat paling cerewet di antara yang lain.


Mereka pikir si kembar itu apa, pakai diobral segala untuk dipilih. Wkwkwkwk. Kalau ada model kek mereka, readers mau pilih mana?Eh, eh, kak Mel malah nawari. Wkwkwkwk.


"Dua-duanya boleh?" jawab siswi yang terlihat centil.


"Tidak ada yang boleh memiliki mereka!" ucap salah satu siswi dari gerombolan siswi yang baru masuk ke kantin, wajahnya menatap sengit ke arah siswi-siswi yang sedang membicarakan Kahfi dan Kaffah.

__ADS_1


"Mereka milik kita!" sambung siswi berambut panjang ikal.


__ADS_2