Dinikahi Berondong Saleh

Dinikahi Berondong Saleh
Bab 77


__ADS_3

Verel hanya menelan salivanya mendengar ucapan pertama yang dilontarkan Delmira.


Hatinya benar hancur, tapi apalah daya. Bukankah laki-laki itu memang yang selalu menduduki hati seorang Delmira. Jadi, sewajarnya jika pertama kali Delmira bangun dari koma, lelaki itu yang dia sebut.


Verel menatap Delmira dengan tatapan sendu. Mulut Delmira bergerak mengecap beberapa kali.


"Ingin minum?" lontar Verel.


Delmira membalas dengan mengejapkan mata pelan lalu membukanya kembali.


Verel gegas mengambil air, mengartikan isyarat Delmira.


"Biar Mbok saja yang meminumkan," pinta Sa'diyah ketika tangan Verel memasukkan sedotan ke botol air mineral dan akan meminumkan minuman itu pada Delmira.


Verel menyerahkan botolnya.


"Kamu panggil Dokter," pinta Sa'diyah.


"Oya, aku sampai lupa." Verel melangkah ke tombol alarm dekat ranjang untuk memanggil dokter.


Tidak lama setelah itu, dokter masuk ruangan.


"Masyaallah... Mbak Delmira sudah siuman?" ucap sang dokter melihat mata Delmira terbuka.


"Saya cek dulu ya,"


Dokter menempelkan stetoskop ke dada Delmira dan pergelangan tangan.


Matanya berpindah pada layar monitor pengecekan tekanan darah denyut jantung.


"Alhamdulillah mulai lebih baik dari pada hari kemarin."


"Maaf ya Mbak saya cek matanya dulu," pamit dokter.


Tangan dokter melambai naik turun depan wajah Delmira.


Lalu menjauhkan tangan itu dari pandangan Delmira, "Masih bisa dilihat?"


Delmira hanya diam, matanya tetap memandang tapi tatapannya masih kosong.


"Bisa mendengar suara saya?"


Delmira mengangguk pelan memberi respon. Akan tetapi, rasa sakit pada perut membuat tangannya bergerak menekannya. Ingatan Delmira tiba-tiba tertuju pada isi dalam perut.


"Bayi aku?" tanya Delmira.


"Bayi aku mana?" sambung Delmira dengan suara lemas tapi dengan rasa penasaran yang tinggi.


"Non Delmira yang kuat ya," ucap Sa'diyah mengelus bahu Delmira. "Yang terpenting, Non sehat, jangan memikirkan hal lain," lanjut Sa'diyah.


"Bayi saya mana?" ulang Delmira meraba perut.


Hati Verel sungguh merasa sakit melihat Delmira seperti itu. Dirinya sakit saat kehilangan sang anak, tapi mengapa sakitnya semakin bertambah melihat Delmira mencari keberadaan bayi yang sebenarnya telah tiada.

__ADS_1


Memori otak Delmira memutar pada kejadian sebelum dirinya ada di ranjang sekarang ini.


"Bayi saya dimana Mbok?" air mata Delmira akhirnya luruh, "Apa dia di ruang bayi?"


Baik Sa'diyah maupun Verel tidak mampu berkata kejadian sebenarnya.


"Nyonya yang sabar, tim dokter sudah berjuang semaksimal mungkin. Tapi, kondisi tubuh akibat kecelakaan yang menimpa Nyonya, membuat kami memutuskan untuk mengambil jalan terbaik dengan menyelamatkan Nyonya," terang dokter.


Delmira tidak dapat berkata apa-apa hanya linangan air mata yang mewakili bagaimana perasaan hatinya begitu sakit dan kecewa. Lama dia terdiam.


"Nyonya Delmira yang tegar, insyaallah... dia yang akan menggandeng Nyonya ke dalam surga Allah. Baik, kalau begitu saya permisi dulu. Kalau butuh apa-apa silahkan hubungi kami kembali."


"Ya Dok, terima kasih," balas Sa'diyah sebelum dokter itu melangkah pergi.


"Aku belum sempat menatap bayiku," lirih Delmira disertai dengan tangisan, matanya menatap kosong, "aku belum menggendong dia, aku belum memberi asi untuknya. Ya Allah... ."


Tangisan pilu itu terdengar begitu menyayat hati.


Ingin sekali Verel meraih tubuh lemah itu dalam pelukannya. Namun, sekali lagi, itu hal yang mustahil. Dia tetap menghormati syariat yang dijalankan Delmira.


Sa'diyah kini memeluk Delmira, mengelus pucuk kepala dan punggungnya.


"Semua sudah suratan Allah taala. Kita manusia hanya menjalankan dengan kepasrahan dan ketabahan. Allah maha tahu apa yang terbaik buat umatnya," Sa'diyah masih membujuk Delmira agar sabar dan ikhlas menjalankan sebuah takdir yang sudah digariskan Sang Pencipta.


...****************...


Verel keluar dari kepolisian setelah menjadi saksi atas kecelakaan yang menimpanya 1 minggu yang lalu.


Verel baru memberikan kesaksian dengan alasan kurang enak badan dan sibuk mengurus Delmira yang saat itu sedang koma.


"Ini hanya formalitas saja, formalitas untuk menutup perkara karena kematian dari tersangka."


"Kamu sudah menyelidiki ponsel yang kalian temukan di samping mobil penabrak itu?" lontar Verel.


"Sudah Tuan, kami masih mencari tim IT yang dapat membongkar informasi yang ada di ponsel."


"Sudah satu minggu, kamu lamban sekali hah!?" lontar Verel tangannya mengepal.


"Tim IT yang biasa kita pakai masih sakit parah Tuan. Jadi kita mencari yang baru."


"Itu bukan alasan! Cepat kamu selesaikan!" titah Verel.


"Baik Tuan," jawab Raka lalu kakinya menginjak pedal, hingga mobil itu bergulir membelah jalanan kota.


Verel lebih memilih menetap di salah satu hotel yang dekat dengan rumah sakit.


Setelah terparkir sempurna, Verel gegas menuju kamarnya.


Drt


drt


drt.

__ADS_1


Ponsel Raka bergetar, terlihat layar ponsel menampilkan inisial seseorang, tangannya kini gegas menyambungkan panggilan itu, "Bagus! Kamu tetap awasi rumahnya!" titah Raka pada lawan bicara melalui sambungan telepon.


Lalu panggilan itu dia putus.


"Ada perkembangan baru Tuan. Benar apa kata Tuan, ada pelaku di balik kecelakaan itu," lapor Raka.


Verel mengepalkan tangan, "Jangan sampai dia lolos! Beri balasan yang setimpal!" geram Verel.


Kakinya kemudian melangkah masuk ke kamar mandi. Dia akan bebersih diri.


Verel kini berdiri di kursi balkon. Matanya menerawang langit malam. Sedikit mendung membuat langit Jakarta tidak berhias bintang.


Kepulan asap rokok membumbung tinggi. Sudah beberapa puntung rokok dia buang dalam asbak tapi tetap saja mulutnya tidak berhenti mengisap batangan tembakau itu.


"Kamu berani mengusik kehidupanku! Aku akan buat kamu menderita seumur hidupmu!" monolog Verel, mengingat sewaktu sore Raka memberitahu siapa pelakunya.


Tangan kiri Verel kini menatap layar ponsel. Mulutnya kini tersenyum menatap wallpaper ponsel. Ada gambar dua manusia yang sangat dia cintai, almarhum anaknya dan wanita yang pernah mengandung almarhum anaknya.


Tapi, kini senyum itu berubah jadi tatapan murka. Dia teringat si pelaku kejahatan yang menyebabkan anaknya meninggal dunia dan Delmira harus dirawat di rumah sakit.


Verel mengempaskan asap rokok ke udara. Dia gegas mematikan rokok itu lalu dengan lantang memanggil Raka, sang asisten.


"Kamu sudah melakukan apa yang aku suruh?"


"Besok Tuan akan mendapat kabar bagus dari apa yang Tuan perintahkan," sahut Raka.


"Bagus! Besok kita ke Jakarta," ujar Verel.


"Siap Tuan."


"Sekarang kita ke rumah sakit!" ajak Verel dan kakinya sudah melangkah terlebih dahulu.


Sesampai di rumah sakit, Verel berjalan ke kamar perawatan, dimana Delmira dirawat.


Tok


tok


tok.


"Masuk."


"Oh, Nak Verel," sebut Sa'diyah dibalas senyum oleh Verel.


Verel mendekat ranjang pasien, "Bagaimana keadaan kamu?"


Delmira tersenyum, "Alhamdulillah, sudah mending," jawabnya.


"Besok aku mau ke Jakarta, ada urusan penting," pamit Verel.


"Oh... kamu yang hati-hati," pesan Delmira.


"Kalau urusanku sudah selesai, boleh... aku menemui kamu lagi?" lontar Verel, entah kenapa matanya kini penuh cairan bening membayangkan malam ini pertemuan terakhir dengan Delmira.

__ADS_1


jangan lupa, kasih dukungan ya biar kak Mel semangat 💪


__ADS_2