
Bus melaju pulang menuju metropolitan. Sempat berhenti di salah satu tempat makan untuk makan malam dan menunaikan salat magrib.
Selepas itu, mereka kembali masuk ke dalam bus.
Alunan musik akustik, menambah suasana dalam bis semakin nyaman untuk mereka memejamkan mata. Selain itu, faktor lelah, juga lampu temaram dalam bis juga sangat mendukung faktor untuk mereka cepat menjemput sang mimpi.
Kecuali bagi Icha. Sedikitpun matanya tidak dapat dipejamkan walaupun raganya sudah terlalu lelah. Pandangan mata keluar, menembus kaca bus.
Bayangan seorang wanita yang sedang terjaga di balik remang lampu dalam bus dapat dilihat oleh Kaffah yang duduk tepat berseberangan dengan barisan kursi Icha.
'Tingkahnya menjadi aneh setelah berbincang dengan bocah dan ibu yang ada di pengungsian!' gumam batin Kaffah melihat Icha duduk bersandar, mata terbuka mengarah ke luar.
Perubahan sikap itu dapat dilihat secara jelas oleh Kaffah saat mereka menikmati makan malam.
Mata Kaffah kemudian berpindah tatap pada saudara kembarnya. "Ceweknya terlihat galau seperti itu, malah enakan tidur!" protes Kaffah menyenggol bahu Kahfi agar bangun.
Namun, tubuh itu tetap saja tidak bergeming.
Lamat Lamat, Kaffah pun ikut tertidur. Hingga tanpa disadari bus berhenti tepat di halaman sekolah setelah menempuh jarak lebih dari 100 km.
Satu persatu penumpang turun dan satu persatu pula orang tua siswa menjemput mereka.
Tibalah Kaffah dan Kahfi mendapat jemputan dari Zaidan dan Delmira.
"Waalaikum salam. Ya Allah, anak Momyang. Sehari tidak jumpa kalian rasanya bagai satu tahun," ujar Delmira setelah anaknya menguluk salam dan mencium takdhim tangannya.
"Jangan lebay Mom," sahut Kaffah yang langsung masuk ke dalam mobil disusul Kahfi.
"Issst, anak Momyang yang satu ini loh, Momyang nya benar-benar kangen kenapa malah di bilang lebay?" protes Delmira.
Zaidan melajukan mobilnya. Memasuki jalanan kota yang terlihat terang oleh cahaya lampu. Barisan gedung tinggi dengan lampu menghiasi setiap sudut ruang membuat takjub oleh mereka yang menyaksikan.
Baik Kaffah dan Kahfi kini diam, menatap keluar jendela.
"Kalian tidak ingin bercerita sesuatu pada Momyang mengenai kegiatan yang sudah kalian lakukan di pengungsian?" lontar Delmira, posisi tubuhnya sedikit serong dengan kepala menjulur ke kursi penumpang.
"Tidak!" sahut Kaffah dengan cepat.
"Issst! Kaffah nggak asik!" sungut Delmira.
"Mereka masih capek Momyang, biarkan saja mereka istirahat," sela Zaidan yang sedari tadi memilih diam.
"Betul apa Pappy kata," sahut Kaffah dengan antusias merasa mendapat dukungan dari Zaidan.
Kaffah dan Kahfi gegas turun dari mobil membawa tas ransel masing-masing.
"Momyang mau ngapain?" protes Kaffah saat Delmira akan ikut dirinya masuk ke dalam kamar.
Delmira celingukan, "Momyang nggak boleh ikut masuk?"
"Nggak lah, mau ngapain?!"
"Momyang mau bantu kalian membereskan barang bawaan kalian yang kotor," jawab Delmira.
"Tidak usah terima kasih." ucap Kaffa, masuk ke dalam kamar dan gegas menutup kamar itu sebelum Delmira membuntutinya masuk.
"Woe! Pelit amat! Momyang kan pengen dengar cerita kalian?" teriak Delmira menggedor pintu tersebut.
"Ya Allah Momyang, masih saja kekeh untuk mendengarkan cerita dari mereka. Sudah mendingan kita tidur, Papyang juga capek nih, seharian nemenin Momyang," ujar Zaidan yang akan masuk ke kamar dan melihat Delmira manyun di depan kamar anaknya sambil teriak.
Delmira langsung melototkan mata menatap ke arah Zaidan, "Jadi seharian nemenin Momyang itu nggak ikhlas?!" selidik Delmira, napasnya naik turun tidak teratur.
"Bu... bukan begitu Momyang, Papyang hanya_"
__ADS_1
"Ah, terserah Papyang!" sungut Delmira menyekat ucapan Zaidan, kakinya ngeloyor pergi dari hadapan suaminya untuk masuk ke kamar.
Zaidan terlihat mengekor langkah Delmira.
...****************...
Pagi sekitar pukul 05.30 datang menyapa.
Setelah salat subuh, Kaffah memilih untuk tidur lagi karena badannya masih terasa lelah.
Sedangkan Kahfi, dia sudah ada di taman rumah untuk lari pagi.
"Kaffah tidak ikut Sayang?" tanya Delmira.
"Masih tidur, mungkin capek," jawab Kahfi.
"Hai," sapa Kaffah yang tiba-tiba datang, mulutnya terlihat menguap karena kantuk sebenarnya masih mendera.
"Aku kira masih tidur," sahut Kahfi tetap lari, Kaffah dan Delmira mengekor di belakang.
"Pappy tidak ikut olah raga Mom?"
"Katanya mau menyelesaikan pekerjaan kantor," sahut Delmira.
"Oya, Mom, aku mau bicara sesuatu sama Mommy," ujar Kaffah dengan nada bicara serius.
"Bicara mengenai apa?" Delmira langsung penasaran.
"Ini soal korban bencana gempa di daerah yang kemarin kita kunjungi."
"Ya, kenapa dengan korban bencana tersebut?"
Kaffah pun menceritakan mengenai Amel, bocah yatim piatu di usianya yang terbilang masih kecil.
Kaffah menuntut Delmira untuk duduk di kursi taman, sementara Kahfi juga ikut mendudukkan pantatnya di sebelah Delmira.
Suara empasan cairan bening yang dikeluarkan dari hidung Delmira menandakan dia sudah sangat terharu mendengar cerita Kaffah.
"Ibu itu sudah menghubungi kamu?"
"Belum Mom. Mungkin jaringan di sana kurang bagus," sahut Kaffah.
"Atau mungkin tidak punya uang untuk membeli kuota?"
"Insyaallah kalau uang mereka ada Mom," ujar Kaffah.
"Apa mereka diberi uang tunai oleh donatur?"
"Mungkin."
Plek!
"Auw? Sakit Mom," seru Kaffah mengelus bahu kiri.
"Mungkin kok buat acuan!" greget Delmira setelah mendaratkan tangan di bahu Kahfi.
"Berarti sinyal di sana masih belum stabil," koreksi Kaffah.
Padahal apa susahnya Kaff jawab yang sesungguhnya. 'Ibu itu aku kasih uang, hanya untuk beli kuota pasti ada, bahkan lebih dari cukup.' Nggak bakal kena gampar mommy kamu kalau jawab begitu, he he he. Tapi mungkin juga Kaffah mengamalkan sebuah tuntunan, tangan kanan memberi tangan kiri jangan sampai tahu. Mungkin begitu.
Delmira baru sedikit menerima dengan alasan tersebut.
Kahfi menahan senyum melihat dua orang di depannya. Ada-ada saja bahan percekcokan kalau mereka sedang berdiskusi mengenai sesuatu.
__ADS_1
"Kalau ibu itu sudah menghubungi kamu, cepat kabari Momyang," seloroh Delmira, pantatnya dia angkat lalu kembali lari pagi.
...****************...
"Kamu tidak ingin bertanya pada cewek pujaan hatimu, kenapa dia nangis sesenggukan saat di lokasi pengungsian kedua," ucap Kaffah saat mereka duduk bersama menikmati makan siang di jam istirahat ke dua.
"Tadi pagi lihat mommy menangis?"
Kaffah mengangguk.
"Kurang lebihnya sama seperti saat mommy mendengar cerita mengenai bocah yatim piatu, dia menangisi sampai sesenggukan. Begitu juga dengan Icha saat itu," sahut Kahfi, mengartikan kejadian yang menimpa Icha satu hari yang lalu.
"Mungkin juga," ucap Kaffah membenarkan pendapat Kahfi tapi dari lubuk hati terdalam entah mengapa mengatakan hal lain, 'Tapi mengapa tangisan Icha sangat menyayat hati?'
"Oya, jangan lupa, besok ada rapat pembubaran panitia penggalangan dana untuk korban gempa di daerah XX," ujar Kahfi mengingatkan.
"Ya aku ingat," sahut Kaffah, mulutnya kemudian mengunyah makannya.
"Kematian memang misteri, aku dengar bocah itu baru saja main dengan kedua orang tuanya, ternyata beberapa detik kemudian tragedi itu menimpa mereka hingga membuat dia kehilangan kedua orang tua," ujar Kahfi matanya menerawang.
"Membayangkan pun aku tidak sanggup kalau kehilangan mommy pappy," sambung Kaffah.
Kaffah menarik napas dalam-dalam lalu mengempaskan perlahan.
"Semoga mereka diberi umur panjang," ujar Kahfi.
"Amin ya Allah, semoga Allah juga memberikan umur panjang pada kamu," ucap Kaffah.
Kahfi tersenyum, sebagai balasan, "Jaga mommy pappy kalau Allah memanggilku terlebih dahulu," sahut Kahfi bukan malah berdoa hal yang baik.
Plek.
"Aku tidak mau menjaga mereka sendirian!" seloroh Kaffah setelah menggampar lengan saudara kembarnya.
Kahfi terkekeh, "Ya aku pasti akan menjaga mereka hingga sisa usia ku atau mereka," jawab Kahfi.
"Bicara kamu sungguh tidak mengasikan! Masih bicara cinta, eh nyeleh sampai pada kematian!" seloroh Kaffah dan memilih bangkit dari duduk setelah makanannya selesai dia makan.
Kahfi hanya tersenyum menimpali.
"Aku mau ke kelas!" seru Kaffah meninggalkan Kahfi yang masih duduk di kursi tersebut.
Tanpa menyahuti pamitan Kaffah, Kahfi melanjutkan makannya.
"Boleh gabung di sini?" lontar gadis yang sedari tadi masuk dalam topik pembicaraan antara dirinya dengan Kaffah.
Ugh ugh ugh.
Karena terlalu terkejut, Kahfi sampai batuk sehingga makanan yang ada di mulut menyembur begitu saja.
Icha terlihat nyeringis, merasa bersalah karena sudah mengagetkan Kahfi.
"Apa aku datang di waktu yang salah?" lontar Icha setelah menyodorkan air mineral dan tisu pada Kahfi.
Lelaki itu langsung menggeleng cepat.
"Ada apa?" tanya Kahfi kemudian.
Deg.
'Iya, ada apa aku menyapa dan meminta gabung duduk bersama dia?' batin Icha bertanya.
Icha kembali nyeringis.
__ADS_1
'Issst pasti aku terlihat sangat memalukan!' batin Icha mengutuk diri.