
"Betul, jangan sampai itu jadi boomerang buat kamu. Tidak mau kan kalau kamu dengar desas desus dari teman, duit untuk disumbangkan ke korban bencana gempa malah dipakai oleh panitia," sambung lain.
Icha mengempaskan napasnya kasar. Dia memang ditunjuk sebagai bendahara, tapi sampai di titik pengumpulan uang karena urusan belanja, Icha serahkan pada guru pendamping.
Icha pun menjawab tanya dari salah satu anggota dengan jawaban yang seadanya.
"Ingat Mbak Icha, jangan malah mengalihkan tanggung jawab pada orang lain, apalagi malah lempar tanggung jawab itu pada guru," protes seorang anggota.
"Benar itu, kami butuh tanggung jawab kamu!"
"Sudah tenang, kita bisa diskusikan ini dengan kepala dingin, apalagi di sini sudah ada guru-guru kita selaku pembimbing," sela Kahfi, entah kenapa meras tidak rela Icha disudutkan.
"Dari data yang kita lihat, terkumpul sejumlah uang 70. 250.000, rupiah setelah itu, mengenai pemakaian kan sudah kita bahas sebelumnya, lalu semuanya diserahkan pada guru pembimbing," sambung Kahfi.
"Maaf, saudara ketua. Sekali lagi, kami butuh penjelasan dari bendahara secara langsung."
Icha meminta mikrofon yang dipegang Kahfi.
"Menurut saya, pemaparan yang sudah saya sampaikan sudah sangat jelas. Apalagi, semua anggota memegang laporan pertanggungjawaban kegiatan. Di situ sudah tercantum jelas bukan? Tapi kalau kalian menginginkan lebih detail lagi, saya atau ibu Prita bisa jelaskan," terang Icha panjang lebar.
Akan tetapi, tanggapan dari teman tetap saja sama.
"Mau kalian apa? Menguliti kekurangan kita sebagai pengurus inti?" sela Kaffah yang akhirnya angkat bicara karena ikut greget.
Icha sudah naik turun napasnya.
"Ini juga bukan suara kami, karena kami hanya mewakili suara dari teman-teman yang di luar sana," sahut yang lain.
Mereka saling sahut menyahut beradu argumen dan tidak ada yang mau mengalah. Namun, yang membuat heran, guru pendamping seperti tidak ada beban, membiarkan kami melakukan itu semua.
Icha terlihat tegar walau emosi diri sebenarnya sudah memuncak.
"Ok, kalau laporan yang dilaporkan bendahara tidak bisa kalian terima. Terpaksa kami _"
Ucapan Kahfi tercekat sampai di situ, karena tiba-tiba ada beberapa siswa dan siswi masuk auditorium bersorak menyanyikan lagu selamat ulang tahun.
Mereka membawa kue ke arah kursi depan, dimana pengurus inti dan juga guru duduk di sana.
Semua pun berdiri bertepuk tangan mengarah ke Icha.
"Surprise...!" seru salah satu guru setelah nyanyian selamat ulang tahun berhenti.
Icha sangat terharu sampai pelupuk matanya penuh dengan cairan bening.
Kahfi terlihat mengempaskan napas, merasa ikut dikerjain sama teman-temannya. Sedangkan Kaffah, dia sangat antusias menyanyikan lagu, merasa senang karena berhasil menyusun acara dengan teman-teman yang lain untuk mengerjai Icha.
Ya, semua hanya rekayasa, membuat kejutan yang tidak biasa untuk seorang Icha.
Mereka melanjutkan dengan acara makan kue dan berbagai jajanan yang sudah disiapkan.
"Padahal baru diisi nih perut, belum ada dua jam diisi lagi," gumam Kaffah, memasukkan kue ulang tahun ke mulutnya.
Surprise tak berhenti berhenti sampai di situ, saru persatu teman-teman memberikan setangkai mawar merah.
"Ya Tuhan, kalian baik banget, ini surprise yang tidak mungkin baku lupakan dalam seumur hidup," ucap Icha.
"Alhamdulillah, acara pembubaran panitia Penggalangan Dana Korban Gempa Di Daerah XX berjalan lancar, sekaligus surprise ulang tahun kamu," ujar Kahfi di sela-sela dia membersihkan tempat auditorium.
"Akting kalian sungguh luar biasa," ujar Icha.
__ADS_1
"Idenya Sasi tuh sama Pe'i," sahut Kaffah.
"Bahkan aku yang kalian anggap ketua acara tidak dilibatkan dalam surprise ini. Berasa kau juga ikut diprank," ucap Kahfi.
"Kite sengaje ntuh nguji kepedulian lu ame Icha," sela Pe'i.
Kahfi hanya tersenyum menanggapi ucapan Pe'i.
Satu persatu sudah pamit akan masuk kelas, Kahfi sebagai ketua, merasa tidak enak kalau main pergi. Dia menemani mereka yang masih membenahi sisa-sisa makanan ataupun sampah yang ada di laboratorium.
"Kamu suka bunga mawar?" lontar Kahfi melihat Icha tersenyum menatap satu tangkai mawar.
Icha mengangguk cepat sambil melempar senyum.
"Tapi, sebenarnya aku masih hobi koleksi kaktus," balas Icha.
"Apa indahnya kaktus," sangkal Kahfi.
"Kaktus memiliki filosofi yang bagus, dia dapat bertahan hidup di daerah yang sangat panas, tanaman yang tangguh, kuat, juga mandiri, walaupun tidak dapat perhatian khusus dia tetap bertahan demi keberlangsungan hidup," ujar Icha matanya menerawang.
"Aku harus bertransformasi menjadi kaktus nih agar ada yang menyukai ku," canda Kahfi membuat Icha tertawa.
"Ternyata kamu bisa ngelucu juga," ucap Icha.
Setelah selesai mereka kembali masuk kelas untuk mengikuti pembelajaran yang sudah berjalan.
Sudah pulang?
Satu pesan Kahfi kirim pada Icha.
Icha langsung menghubungi Kahfi melalui sambungan telepon.
"Oh, aku kira langsung pulang," balas Kahfi.
"Apa ada suatu hal penting?" tanya Icha penasaran dan entah kenapa merasa kecewa dengan jawaban Kahfi sebelumnya.
"Tidak ada apa-apa sih. Kira-kira berapa lama?"
"Mungkin satu jam atau lebih," jawab Icha.
"Acaranya di rumah atau di sekolah?"
"Sekolah, kalau mau gabung ya silahkan," tawar Icha.
"Tidaklah, insyaallah aku temui kamu setelah selesai acara saja. Aku tutup ya, assalamualaikum," pamit Kahfi.
Lagi, perasaan Icha begitu kecewa, Entah kenapa dia berharap Kahfi mau menerima tawarannya dan bergabung dalam acara sederhana selametan makan bakso untuk teman satu kelas, "Ya waalaikum salam," sahutnya memutus panggilan lalu memasukkan telepon ke dalam saku.
"Aku salat asar dulu, lalu temui Pe'i," seru Kahfi pergi ke musala untuk menjalankan kewajiban sebagai seorang muslim.
Sepuluh menit kemudian dia pergi mencari temannya yang sedang mengikuti kegiatan latihan futsal.
Kahfi tersenyum saat sosok yang dia cari ternyata langsung dia temui di persimpangan jalan dekat lapangan futsal.
"Mau kemane lu?" lontar Pe'i.
"Mau cari kamu," sahut Kahfi.
"Kebetulan banget. Ade perlu ape?"
__ADS_1
"Pinjam motor dong," pinta Kahfi.
"Lu bise naek motor?" lontar Pe'i.
"Bisalah."
Secara diam-diam Kaffah dan Kahfi biasanya belajar motor milik mbak Darsih salah satu asisten rumah tangga. Baik Delmira maupun Zaidan memang melarang dua anaknya untuk mengendarai motor sebelum usia mereka 17 tahun. Bukan soal mengekang tapi demi keselamatan.
"Mau buat ape sih?"
"Tidak boleh?" tanya Kahfi tanpa menjawab tanya Pe'i sebelumnya.
"Lu udeh ijin ame Kaffah belom?"
"Dia masih ada kegiatan bela diri. Minggu depan katanya akan ada lomba," jawab Kahfi.
"Oh...," sahut Pe'i hanya dengan satu kata.
"Cepetan nih, mau pinjemin tidak?"
Pe'i tersenyum kecil, "Awas loh, ati-ati lu bawa si putih, kagak boleh ade nyang lecet dikit pun!"
Pe'i merogoh saku celana lalu menyerahkan kunci motornya.
"Thanks," jawab Kahfi kakinya memutar melangkah pergi.
"Ingat jangan sampe lecet!" seru Pe'i mengingatkan kembali, sedangkan Kahfi sudah jauh dari posisinya berdiri.
Tanpa membalikkan tubuh, Kahfi mengangkat tangan dan menunjukkan dua jempol sebagai isyarat mengiyakan pinta Pe'i.
Mata Kahfi memutar mencari sosok si putih, motor kesayangan Pe'i yang selalu menemaninya untuk ke sekolah. Sebenarnya sekolah juga membatasi siswa bermotor ke sekolah. Pe'i selalu diam-diam saat ada razia motor sekolah. Peraturan sekolah memang hanya membolehkan siswa ber-SIM, yang diperbolehkan membawa motor atau kendaraan roda empat masuk ke parkiran sekolah.
Kahfi keluar dengan motor, tidak lupa dia mengenakan helm demi keselamatan berkendara.
Tujuan Kahfi keluar adalah mencari toko tanaman hias.
Dia ingat, toko tanaman hias itu sering dia lewati saat pergi ke sekolah.
Lumayan jauh dari sekolah, butuh waktu 20 menit untuk sampai di lokasi. Kahfi langsung melihat-lihat koleksi tanaman hias yang dijual di situ.
"Pak, kaktusnya ada?" lontar Kahfi karena sedari tadi tidak melihat tanaman tersebut.
"Maaf Dek, kaktusnya kebetulan masih kosong, dari kemarin banyak yang nyari itu tanaman dan dari supplier belum kirim barang tersebut," jawab penjual tanaman.
"Oh, kalau boleh tahu, selain di sini, ada tempat lain yang jualan kaktus Pak?"
"Waduh, saya kurang paham Dek," balasnya.
"Kalau begitu, saya permisi Pak, saya coba cari di tempat lain," pamit Kahfi.
Motor bebek itu kembali melaju memasuki jalanan. Kali ini Kahfi memilih jalan yang agak lengang. Dia sedikit lupa ingat, di sekitar tempat yang akan dia datangi, ada yang jualan tanaman hias.
Namun, saat memasuki ruas jalan tersebut, tiba-tiba ada segerombolan motor yang datang dengan suara yang sangat bising dan jalan yang ugal-ugalan. disusul lagi segerombolan motor dengan jumlah yang lebih banyak, mereka tidak hanya bawa motor mereka juga membawa benda-benda tajam dan berbahaya, kelihatannya mereka sedang tawuran.
Kahfi mencari jalan aman, melipir di tepi jalan untuk menghindari mereka. Namun, apa yang terjadi, tiba-tiba gerombolan itu malah menyerang Kahfi dengan bringas, cepat, dan kilat. Seketika itu tubuh Kahfi oleng karena mendapat sabetan modifikasi gir yang mengenai perutnya.
Darah bercucuran di aspal. Tubuh Kahfi tergeletak lemah. Tangannya terus memegang perutnya.
Lamat pandangan matanya mulai semu, dan mata itu mulai terpejam seiring darah yang tidak berhenti mengalir dari perut Kahfi.
__ADS_1