Dinikahi Berondong Saleh

Dinikahi Berondong Saleh
Bab 61


__ADS_3

"Aku minta, pergilah sekarang juga," sambung Delmira.


"Aku tidak akan pergi sebelum kamu jawab pertanyaanku!"


Lagi, Delmira mendengus, "Apa perlu aku teriak agar warga datang ke sini?!" ancamnya


Wajah Raka mulai terlihat panik dengan ancaman Delmira, "sebaiknya kita pergi Tuan," ajak Raka karena merasa waktunya belum tepat untuk dia tahu semua.


Raka juga merasa lontar tanya yang terucap dari bibir tuannya terlalu kaku, tanpa basa-basi terlebih dahulu.


"Tuan," ajak Raka sekali lagi dan kali ini sambil sedikit mengangkat bahu Verel.


Verel menipis tangan Raka, dia bangkit dan melayangkan tatapan tajam pada Delmira, "Kamu benar, apa hubungannya denganku? Hidupmu ya hidup kamu, sedikitpun tidak ada hubungannya denganku! Untuk apa aku repot-repot mencari kamu?" dengus Verel, dia merasa dirinya terlalu bodoh karena otaknya akhir-akhir ini dipenuhi Delmira, Delmira, dan Delmira.


"Aku pergi!" sambung Verel lalu melangkah pergi dari hadapan Delmira.


"Siapkan penerbangan ke Maurice!" titah Verel dalam perjalanan pulang.


Seharusnya sudah beberapa hari sebelumnya dia terbang ke Maurice, tempat dimana perusahaannya berada. Sebuah perusahaan yang bergerak di bidang kapal pencari ikan tuna. Perusahaan yang terbilang besar ini hasil kerja sama dengan investor Perancis.


Ikan yang didapat tidak dari satu kapal, ada 5 kapal besar yang setiap bulannya bisa mendapat hasil maksimal 5.000 ton tuna yang siap dikelola di pabrik sendiri maupun diambil oleh pabrik mitra kerja.


"Siap Tuan," jawab Raka.


"Siapkan beberapa orang kepercayaan kita untuk mengawasi Delmira."


Raka sempat bingung akan menjawab apa, dia mengira Verel benar-benar marah dan akan melupakan semuanya.


"Tuan masih peduli dengan Delmira?"


"Kamu lakukan saja apa yang ku titahkan!" cekat Verel, matanya dia pejamkan. Rasa kantuk yang menyerang lamat-lamat membuatnya terlelap.


...****************...


Zaidan duduk di antara anak-anak panti asuhan.


Acara selamet yang sudah dirancang 5 bulan terpaksa harus diganti tujuannya. Dulu, Zaidan merancang sebagai acara anniversary pernikahannya dengan Delmira. Namun, lima bulan ke depan siapa yang dapat tahu. Ternyata, pernikahannya hanya bertahan 8 bulan.


'Sedang apa kamu di sana Mrs. Delmira? Apakah aku masih pantas mengingat kamu? Astaghfirullah haladhim... ya Allah... ikhlaskanlah hati hamba untuk menerima semua takdir yang Engkau tuliskan,' monolog batin Zaidan.


"Silahkan Pak," ujar Bu pengurus panti mempersilahkan Zaidan untuk memberi sambutan acara selamatan pembukaan cabang dealer AZM. Jadi, Zaidan terpaksa mengganti acara itu dengan selamatan pembukaan cabang dealer AZM.


Zaidan terbangun dari lamunan, dia mengangguk sebagai jawaban.


"Aden silahkan maju ke panggung untuk memberi sambutan," ulang Fernando karena ternyata bosnya hanya mengangguk tapi tidak paham apa yang diminta Bu pengurus panti.


"Oh...," sahut Zaidan, gegas maju ke panggung acara.


'Apakah den Zaidan masih memikirkan non Delmira?' monolog batin Fernando menerka apa yang yang menjadi pemikirannya.


Empat bulan setelah hakim mengetuk palu perceraian. Zaidan menjadi sosok yang sangat berbeda dari sebelumnya. Dia kembali menjadi sesosok yang pendiam, dingin tidak banyak bicara. Apalagi tawa dan senyum, hanya bisa dilihat dalam hal tertentu saja.


Rangkaian acara demi acara terlewati, acara berikutnya makan-makan dan hiburan wayang golek.


"Porsinya ditambah Tuan," pinta Fernando mengambilkan lauk lebih pada piring yang dibawa Zaidan.

__ADS_1


Zaidan hanya diam menerima itu.


"Mereka sangat senang Den dengan acara ini," tutur Fernando melihat anak-anak tertawa renyah ketika wayang mempertontonkan hal lucu.


Zaidan tersenyum menanggapinya. Matanya beralih pada bocah yang dulu sering digendong Delmira. Anak itu diam di sudut ruangan. Dia tidak bergabung dengan teman yang lain.


Kaki Zaidan melangkah, mendekati anak tersebut.


"Hai, kenapa tidak gabung dengan teman-teman?" tanya Zaidan.


Dia menggelengkan kepala.


"Kita gabung dengan teman-teman yuk?"


Dia menggelengkan kepalanya kembali.


"Kenapa, wayangnya lucu loh," rayu Zaidan.


"Kenapa Om tidak datang dengan ante cantik?"


Zaidan terdiam, dia tahu maksud dari ante cantik yang diucapkan bocah 5 tahun itu adalah Delmira, si tante cantik.


"Oh... tante cantik sedang sibuk. Tapi tante pesan pada Om, Ariana harus jadi anak yang semangat dan ceria," balas Zaidan.


"Benarkah begitu Om?" lontar bocah itu dengan antusias.


Zaidan mengangguk cepat.


"Kalau begitu, gendong aku dan temani buat nonton pertunjukan wayangnya," pinta sang bocah.


Di sela-sela mereka menikmati pertunjukan, ibu pengurus panti mendekat ke Zaidan. Dia menawarkan brownies coklat pada Zaidan.


Merasa tidak enak menolak, Zaidan mengambil satu potong brownies itu.


"Bagaimana rasanya?"


"Enak," jawab Zaidan. Namun, pikirannya langsung tertuju pada Delmira. Dulu dia suka sekali dengan makanan berat semacam ini.


"Aku sisihkan satu bungkus untuk Pak Zaidan."


"Tidak usah repot-repot Bu."


"Bukan merepotkan, ini juga pemberian dari salah satu donatur."


"Tapi dia memberikan ini untuk anak-anak Bu."


"Anggap saja bapak ini masih anak-anak," canda bu pengurus panti membuat deretan gigi Zaidan terlihat.


'Aku tidak tahu apa yang terjadi pada kalian berdua, tapi mengapa aku tidak rela kalian berpisah?' monolog batin ibu pengurus panti, matanya penuh telisik pada raut wajah Zaidan.


"Boleh aku ambil fotonya Pak?"


"Foto?"


"Iya, foto Bapak sedang memakan brownies dan memangku Ariana."

__ADS_1


"Oh... boleh," jawab Zaidan.


Bu pengurus panti tersenyum dan beberapa pose dia ambil untuk mengisi file di ponselnya.


"Terima kasih Pak," ucapannya kemudian.


Zaidan mengangguk.


"Saya permisi ke belakang dulu Pak," izinnya.


"Ya, silahkan Bu," jawab Zaidan.


Bu panti memilih masuk ke ruang kerja. Duduk di kursi kerjanya. Tangannya mengusap ponsel lalu membuka foto Zaidan dan Ariana.


Beberapa foto dia kirim ke nomor dengan nama kontak Bu Delmira.


Terima kasih Bu Delmira, browniesnya sangat enak, anak-anak lahap memakannya.


Note itu juga dia kirim ke Delmira.


Bu pengurus panti kembali ke tempat acara, dia membaur dengan anak-anak panti asuhan.


Acara sudah selesai, Zaidan pun berpamitan.


"Terima kasih Pak, sudah buat acara seperti ini."


"Sama-sama Ibu panti, saya juga senang kalau anak-anak merasa senang."


Sementara itu, di tempat lain di sebuah kota kecil. Delmira sedang sibuk dengan pembeli yang membeli makanan untuk makan siang.


Pekerjaan Delmira setiap hari membantu mbok Sa'diyah jualan makanan di sebuah kedai kecil. Dua bulan terakhir ini kedai makan itu lumayan ramai. Bahkan setiap minggunya ada saja yang order untuk sebuah acara.


"Alhamdulillah, ada yang mborong belum sampai sore sudah habis makanannya," ucap Sa'diyah.


"Ya, Alhamdulillah Mbok," sahut Delmira. Tangannya bergerak mencuri perabot yang kotor.


"Yang lainnya biar Mbok bersihkan, kamu istirahat saja, makan minum dulu. Kasihan bayi kamu juga butuh istirahat."


Delmira meletakkan perabot terakhir yang sudah dia cuci, lalu memilih duduk di kursi yang ada di kedai itu.


"Aku bisa ambil sendiri Mbok," ucap Delmira saat Mbok Sa'diyah meletakkan segelas teh hangat di samping kursi yang diduduki Delmira.


"Tidak apa-apa, Mbok hanya mengambilkan minuman kok," sahut Sa'diyah.


"Diminum, jangan lupa bismillah dulu ya," sambung Sa'diyah tersenyum mengingatkan hal-hal kecil untuk Delmira.


Delmira pun membalas senyum itu.


Tangan Delmira merogoh ponsel yang ada di saku celananya.


Delmira terdiam tapi hatinya berdebar kencang melihat beberapa foto yang dikirim ibu panti.


'Masya Allah Zaidan,' batin Delmira menyebut nama lelaki yang ada di dalam foto itu. Tangannya tanpa sadar mengelus wajah lelaki yang terpampang di layar ponselnya.


pagi menyapa 🤗 jangan lupa like komen hadiah vote rate 🙏

__ADS_1


__ADS_2