
"O... jadi ini yang membuat seorang Bagus Kahfi Kusuma Mukhtar mau tidur saja pakai senyam-senyum," ledek Kaffah bahunya menyenggol bahu Kahfi, agar mengarah pada Icha yang baru datang untuk mengikuti pemberian bantuan ke lokasi gempa, karena sebelumnya di grup panitia sudah geger kalau Icha tidak bisa mengikuti kegiatan.
Kahfi diam tanpa reaksi. Matanya sedari tadi fokus menatap Icha, tangannya kemudian gegas membantu Icha mengambil barang yang dia tenteng menggunakan tangan kanannya.
"Terima kasih," ujar Icha membiarkan Kahfi membawakan tasnya dibawa masuk ke dalam bagasi bus mikro.
"Anak-anak ayo masuk," titah seorang guru agar semuanya naik ke dalam bus.
Pemberian bantuan secara langsung dari SMA Merdeka Berbudi melibatkan perwakilan guru, TU, siswa, dan wakil kepala sekolah.
Perjalanan dari sekolah hingga titik lokasi membutuhkan waktu hingga 3 jam lebih 30 menit. Pemberangkatan yang di mulai pukul 5.30, sampai lokasi tepat pukul 08.00.
Mereka langsung ke titik lokasi pengungsian. Kegiatan di lokasi masih sibuk pembagian sarapan.
Salah satu koordinator penanggulangan bencana mengatakan, pembagian sarapan terlambat hingga satu jam karena kurangnya tim relawan yang ada di dapur, juga karena pasokan air yang belum maksimal hingga ke lokasi tersebut.
Bantuan yang dibawa oleh SMA Merdeka Berbudi dibagi setelah para pengungsi sarapan.
Pembagian tersebut berdasarkan data yang didapat dari RT setempat agar pembagian merata dan adil.
Setelah selesai di titik lokasi pertama, mereka pindah ke titik pengungsian yang lain.
Lokasi pengungsian yang kedua terbilang lebih parah dibanding lokasi sebelumnya.
Pengungsian tersebut berdiri secara mandiri dari warga desa setempat. Banyak balita juga lansia. Ada 4 tenda, untuk satu tenda rata-rata berisi 20 orang.
Tenda yang ada pun terlihat tenda seadanya.
Kembali SMA Merdeka Berbudi membagikan sumbangan kebutuhan vital juga pakaian layak pakai.
Stok air bersih di pengungsian ini juga terbilang kurang. Ada air yang mengalir tapi jaraknya lumayan jauh, mereka harus melewati jalanan yang lumayan licin. Dalam tiga hari ini, pihak penanggulangan bencana baru mengirim satu kali stok air bersih.
Berhubung waktu sudah siang, mereka dari SMA Merdeka Berbudi, ikut membantu menyiapkan makan siang untuk pengungsi.
"Biar kita ikut ambil air Pak," pinta Icha.
"Jangan Neng, tempatnya jauh. Licin dan agak curam," jawab seorang bapak-bapak yang akan mengambil air bersih.
"Kamu ikut iris-iris bahan makan saja, kita yang ikut Bapak untuk ambil air," sela Kaffah.
"Ayo, tapi hati-hati ya," ujar bapak itu menyetujui permintaan Kaffah.
Mereka pun berjalan, Kahfi juga ikut sang kakaknya.
Jalanan memang cukup licin, bahkan beberapa kali, baik Kaffah maupun Kahfi akan tergelincir. Untung saja mereka dapat menahan keseimbangan tubuh.
Icha menatap melas saat Kahfi datang membawa satu diregen air berisi sekitar 19 ml.
Napasnya terdengar ngos-ngosan, peluh pun membasahi wajah dan tubuh.
Icha gegas membuka tampungan air bersih, agar air itu dimasukkan ke dalam wadah tersebut.
"Awas, jangan dekat-dekat," pinta Kahfi.
"Maaf, tadi aku sudah wudu," imbuhnya.
"Oh, ya," balas Icha.
Setelah menaruh air. Kahfi dan Kaffah memilih untuk salat jamaah yang diadakan warga.
"Kamu tidak ikut salat?" ajak Kahfi.
"Aku sedang halangan," jawab Icha.
Tempat salat cukup sederhana, yaitu tenda yang juga dibuat warga.
Disela orang-orang yang tengah salat, ada juga yang sedang mempersiapkan makan siang. Termasuk Icha, sedang membungkus nasi dan lauk untuk makan siang.
Namun, mata Icha tidak bisa lepas begitu saja dari Kahfi yang sedang salat.
'Ya Tuhan, semoga jodohku orang yang bisa membimbing untuk selalu mengingat Engkau,' batin Icha bermonolog, dan dari lubuk hati terdalam jodoh yang dimaksud adalah sesosok Kahfi.
Bibir Icha terus saja tersenyum membayangkan apa yang dia pinta pada Sang Pencipta menjadi kenyataan.
'Tidak!' tolak Icha, dan sontak senyum itu dia tarik dari wajahnya.
'Apa sih yang kamu lamunin Cha! Ingat! Ingat! Fokus untuk belajar! Tidak ada kata pacaran atau kata cinta! Fokus belajar demi meraih cita-cita! Bahagiakan orang yang selama ini berjasa dalam hidupmu! Kebahagiaan mereka adalah tujuan hidup kamu Cha!' sambung batin Icha melawan apa yang ada dalam pikirannya sendiri.
Selesai salat mereka ikut makan siang di tempat pengungsian.
Hanya ada dua tempat pengungsian SMA Merdeka Berbudi yang didatangi. Hal itu karena faktor terbatasnya jumlah barang yang mereka sumbangkan.
__ADS_1
Tidak hanya memberi sumbangan. Di tempat pengungsian yang kedua ini, SMA Merdeka Berbudi juga ikut membantu masyarakat membersihkan sekitar lokasi pengungsian.
Icha menahan tawa menatap wajah Kahfi.
Kahfi merasa tawa itu diarahkan pada dirinya. Dia menaikkan dua alisnya, sebagi isyarat menanyakan apa yang ditertawakan dari dirinya.
Icha membalas dengan mengusap pipi kanannya, itu juga isyarat agar Kahfi melakukan hal yang sama.
"Mukanya sudah tidak bopeng lagi," ujar Icha, lalu Icha menyodorkan tisu.
"Terima kasih," sahut Kahfi.
"Haus?" tanya Icha tapi nyatanya tangan dia sudah menyodorkan botol berisi air mineral.
"Terima kasih," ucap lagi Kahfi.
"Sudah berapa kali kamu mengucapkan kata yang sama?" ledek Icha dan Kahfi hanya bisa menimpali dengan sebuah senyum.
'Oh my God, senyum kamu Kahfi. Tidak! Tidak! Jangan balas dengan senyuman. Cukup dua hari ini senyum kamu menghantui hari-hariku!' batin Icha bermonolog.
Kepala Icha bergidik sendiri menyangkal semua monolog batinnya.
"Hei, kenapa?" lontar Kahfi melambai-lambaikan tangan di depan wajah Icha.
Sontak Icha diam menyadari sikap bodohnya, menelan saliva dengan susah, bahkan napas pun seakan tersekat hanya di tenggorokan.
"Ck... ck...ck..., ye ile, dua orang yang sedang jatuh cinta..., seakan milik kalian berdua. Kita cuma numpang doang ya?" ledek Sasi yang sedari tadi merasa dicueki.
"Lihat tuh, semuanya bergerak cepat membersihkan lokasi lingkungan pengungsian ini. Mengapa kalian slow motion seperti reka adegan film romantis?" sambung Sasi.
"Mulai nglantur! Aku mau gabung dengan anak-anak yang sedang bermain" pamit Icha, padahal Icha hanya mengalihkan sindiran Sasi yang semakin memojokkan dirinya.
Mata Icha kini beralih tatap pada bocah kira-kira umur 7 tahun, dia duduk menyendiri tidak mau bergabung dengan temannya.
"Kenapa tidak ikut main dengan teman?" tanya Icha mendekat.
Anak itu diam tidak menyahuti tanya icah, dia malah menundukkan kepala.
"Kakak punya permen loh, mau tidak?" tawarnya menyodorkan beberapa permen.
Anak itu masih diam tidak bereaksi.
"Loh, kaki adik kenapa?"
"Dia terkena runtuhan rumah Dek," sela seorang ibu setengah baya.
"Ya Tuhan, kasihan sekali. Coba Kakak lihat ya," pamit Icha tanpa persetujuan dari bocah itu tangannya menyentuh pergelangan kaki sang bocah.
"Kakak ganti perbannya ya," ujar Icha, bergerak cepat membuka perban yang sudah kotor. Tanpa merasa jijik, Icha membersihkan luka menganga di pergelangan kaki, tepatnya di bawah mata kaki.
"Ibu orang tuanya?"
Ibu paruh baya itu menggeleng pelan, matanya tiba-tiba berkaca mendengar lontar Icha.
"Kedua orang tuanya meninggal dunia menjadi korban bencana gempa. Hanya dia seorang yang selamat dalam satu keluarga," terangnya, cairan yang sempat singgah di pelupuk mata jatuh membasahi dua pipi, bahkan suaranya terdengar parau.
Begitu juga dengan Icha, mata Icha langsung mengeluarkan embun, tangannya terlihat menyeka embun itu. Sesekali Icha menengadahkan wajahnya menahan cairan bening agar tidak jatuh membasahi pipi.
Namun percuma, tetap saja bendungan itu jebol membanjiri dua pipi.
Suara isak pun terdengar. Icha memang terharu mendengar cerita wanita paruh baya tersebut. Namun, yang membuat dia lebih terisak karena dirinya juga bernasib sama seperti bocah itu.
Ditinggal kedua orang tuanya di usia yang terhitung masih kecil bahkan masih balita. Hal yang lebih menyesakkan, kedua orang tua Icha bukan meninggalkannya karena dipanggil sang Illahi, melainkan sengaja meninggalkan Icha di panti asuhan. Entah alasan apa, yang jelas umur 4 tahun Icha sudah ada di panti asuhan, ditemukan tepat di pintu samping panti asuhan.
Bedanya, di umurnya yang ke-7 tahun, dirinya di asuh oleh orang baik.
Kahfi menatap dari jauh apa yang dilakukan Icha. Kakinya perlahan mendekat ke arah Icha. Merasa tidak tega, jelas sangat tidak tega juga merasa penasaran hal apa yang membuat dia menangis sesenggukan. Namun, kakinya berhenti di belakang posisi Icha.
"Sudah selesai Dek," ujar Icha setelah perban itu lekat menutup luka.
Icha menunjukkan obat yang tadi dia oleskan ke kaki bocah itu. "Besok pakai lagi salepnya. Jangan lupa, ganti perban juga bersihkan dengan cairan ini," ejanya satu persatu.
Dia tahu mungkin bocah kecil itu tidak menangkap semua yang disarankan Icha, tapi sebenarnya Icha ingin melatih bocah itu untuk mulai mandiri.
Bocah itu diam tanpa reaksi.
"Adek paham?" pancing Icha.
"Apa Adek tidak ingin berteman dengan Kakak?" rayu icha agar bocah itu merespon dirinya.
"Setelah tragedi, dia tidak pernah berbicara sepatah katapun," sela wanita yang sedari tadi menceritakan kisah bocah itu.
__ADS_1
"Astaghfirullah haladhim." Elu hati Icha terasa tersayat, sakit yang teramat sakit.
Icha menekuk kakinya, duduk jongkok agar wajahnya sejajar dengan bocah itu.
Tangan Icha menengadahkan wajah bocah itu dengan menangkup dua rahangnya.
"Kakak, boleh peluk kamu?" tanya Icha, lagi tanpa persetujuan sang bocah, Icha langsung memeluknya dengan erat. Namun, apa reaksi dari sang bocah dia membalas pelukan Icha sambil menangis sesenggukan.
Icha membiarkan sepuasnya peluh membasahi baju yang dia kenakan, asal sang bocah merasa lega setelah mengeluarkan tangis.
Bocah itu pun melepas pelukannya. Icha menampilkan sebuah senyum kecil.
"Adek tidak sendiri di sini, ada Kakak, ada bibi, ada teman-teman. Tuhan telah menempatkan ayah ibu di tempat terindah. Mereka memandang dari jauh, dan mereka hanya meminta kami menjadi anak yang salehah," teenage Icha, kembali tangannya bergerak menyapu dua pipi.
Icha mengempaskan napasnya, berharap sesak di dada juga ikut terempas.
"Aku Kak Icha, kamu?"
Bocah itu terlihat diam, antara ragu dan sungkan untuk membuka mulutnya.
Icha memanyunkan bibirnya, pura-pura marah karena tidak mendapat balasan dari bocah itu, " Adek nggak asik, nggak mau temenan sama Kakak?"
"Amel," lirihnya bahkan nyaris tak terdengar.
"Siapa?" pancing Icha, rona wajahnya berbinar mendapat sahutan bocah itu.
"Amel," ulangnya dengan nada suara naik satu oktaf.
Icha melebarkan senyum, "Hai Amel, mau berteman dengan Kakak?" tawar Icha mengulurkan tangan.
Amel membalas uluran tangan itu, dan membalas senyum Icha.
Kembali Icha memeluk sang bocah karena sangat bahagia.
"Kalau kita sudah berteman, ayok kita main bersama," ajak Icha dengan antusias tangannya menggandeng Amel.
Amel mengangguk juga melempar sebuah senyum.
Icha gegas bergabung dengan anak yang lain untuk bermain.
'Melihat kamu sesedih itu, aku pun sedih. Melihat kamu tertawa bahagia aku pun merasa lega. Ya Allah, rasa macam apa ini? Mohon bimbingan-Mu agar aku tetap di jalan yang Engkau ridhoi,' batin Kahfi berucap.
"Dia pantas kamu kejar. Wanita satu di antara seribu, sangat langka tentunya banyak yang menginginkan," ucap seseorang yang juga ternyata ada di belakang Kahfi.
Tanpa menolehkan pandangan, Kahfi tahu siapa si pemilik suara. Bagaimana tidak kenal, bahkan dalam kandungan sudah bersama.
"Kamu disuruh kasih kabar ke mommy," teriak Kaffah karena Kahfi berjalan menjauh dari tempat Kaffah berdiri.
Kaffah berpindah tatap pada wanita baya yang tadi sempat berbicara dengan Icha.
"Maaf Bu, ibu apanya bocah itu?"
"Saya?" retorisnya.
Kaffah mengangguk sebagai balasan retoris itu.
"Saya budenya."
Kaffah merogoh tas lalu mengambil beberapa lembar uang.
"Titip Amel," pinta Kaffah, menyodorkan uang.
"Ini_"
"Maaf aku tidak bisa memberi banyak. Simpanlah," ujar Kaffah lalu memberikan sebuah kartu nama.
"Mohon hubungi nomor itu, demi Amel. Insyaallah, aku akan minta orang tua ku untuk membantu Amel agar tetap sekolah," terang Kaffah.
"Terima kasih Dek, semoga Allah membalas kebaikan Adek."
Kaffah tersenyum, mengangguk pelan.
"Aku permisi dulu Bu," pamit Kaffah berlalu.
Mata Icha menatap punggung Kaffah yang baru berlalu dari hadapan wanita itu. Icha merasa penasaran apa yang dibicarakan dengannya.
Icha melihat bocah itu sudah mulai membaur Deny teman-teman. Kaki Icha kini melangkah mendekat ke arah wanita paruh baya.
"Boleh bertanya Bu?"
Wanita itu mengangguk, "Tanyalah," ucapnya kemudian.
__ADS_1
"Apa yang tadi Ibu bicarakan pada siswa itu?"