
"Kalau di Pekalongan urusan kalian sudah selesai, maukah kalian pindah ke Jakarta kembali?" lontar Aisyah karena benar-benar tidak kuat dengan perpisahan ini.
Zaidan melirik ke arah Delmira. Dia terlihat hanya diam. Sebelum mereka melangsungkan pernikahan, memang Delmira dan Zaidan tidak membahas masalah tinggal.
"Ummi, sebaiknya kita bicarakan itu nanti," jawab Zaidan mencoba menenangkan hati Aisyah.
Dua sudut Aisyah dia tarik membentuk sebuah senyum, "Maafkan Ummi yang terbawa perasaan," ucap Aisyah.
Delmira menatap iba pada wajah sendu Aisyah. Namun, untuk sekarang, memang dirinya tidak ada pikiran untuk kembali ke Jakarta.
"Nanti kita akan sering tengok Ummi," ujar Delmira meraih tangan Aisyah.
Aisyah mengangguk bak bocah yang di tinggalkan ibunya, mengharap agar si ibu tidaklah pergi.
"Ummi kalau mau main ke Pekalongan main saja ke sana," imbuhnya.
Sekali lagi Aisyah mengangguk.
"Kalian cepatlah masuk ke mobil, waktu sudah semakin sore," pinta Aisyah.
"Doakan kita Ummi, semoga menjadi keluarga yang samawa," ujar Zaidan.
"Ya, Ummi selalu berdoa untuk keluarga kalian. Ummi juga berdoa agar kalian cepat diberi momongan."
Baik Zaidan maupun Delmira tersenyum bahagia ketika Aisyah menyebut momongan.
"Nanti kita akan cetak bayi yang lucu-lucu buat Ummi," sahut Zaidan diiring senyum lebar dari Delmira juga Zaidan.
"Sudah cepat kalian masuk mobil," dorong Aisyah pada anak lelakinya dan sang menantu agar mereka berjalan masuk ke dalam mobil.
Mereka pun menurut.
Mobil itu melaju setelah mereka saling memberi salam.
Hampir 6 jam perjalanan mereka tempuh karena sempat berhenti di rest area untuk salat magrib, makan malam, dan salat isya.
Delmira masuk ke rumah sederhana yang sekarang di tempati Zaidan.
Sedangkan Fernando, dia memilih menginap di sebuah penginapan yang tidak jauh dari kabupaten. Dia sendiri tahu, tidak mungkin tetap tinggal bersama satu atap dengan bosnya.
Mata Delmira memutar penjuru ruangan.
"Ini rumah kontrakanku. Menurutku sih lumayan untuk kita tinggali bersama."
"Bagus kok rumahnya, tidak terlalu besar ataupun kecil jadi bersih-bersihnya gampang dan cepat," sahut Delmira.
"Ada sih rumah yang lebih besar dan tentunya lebih bagus dari ini. Tapi, lokasinya lumayan jauh dari rumah mbok Sa'diyah dan pondok pesantren."
Delmira langsung menatap aneh ke arah Zaidan, "Memang kenapa harus dekat rumah mbok Sa'diyah dan pondok pesantren."
"Dekat pondok pesantren karena ba'da Magrib aku mengikuti ngaji kitab kuning di pondok."
Delmira tersenyum, alasan itu ada benarnya. Karena beberapa kali sewaktu pulang ngaji dia berpapasan dengan Zaidan.
"Lalu, kenapa harus dekat dengan rumah mbok Sa'diyah?" cecar Delmira.
"Ya jelas itu karena kamu."
"Aku? Kenapa denganku?"
"Tulang rusukku hilang, dan itu ada pada kamu. Jadi, kalau aku tidak mau mati, aku harus ambil tulang rusukku itu."
Delmira tersenyum sipu.
"Kamu sudah mengambilnya?"
"Aku tidak jadi mengambil tapi aku serahkan jiwaku untuk melengkapi satu tulang rusuknya."
Delmira makin tersipu lalu kakinya mengekor masuk ke kamar milik Zaidan.
Deg.
Entah mengapa jantungnya berdegup kencang masuk kamar lelaki yang sudah sah menjadi suaminya itu.
Aroma sisa minyak wangi yang biasa dia pakai tercium hidung Delmira.
"Bajunya ditata besok saja. Kamu gegas cuci muka, kaki lalu istirahat."
Delmira mengiyakan titah sang suami.
Selesai bebersih Delmira naik ke atas ranjang, merebahkan tubuhnya.
Selang beberapa menit, mata Delmira dibuat terkejut dengan sosok Zaidan.
Ini bukan pertama kali Delmira melihat Zaidan hanya mengenakan celana pendek. Namun, jantungnya tetap terasa sar ser dibuatnya. Bagaimana jantungnya bisa berdebar dengan normal kalau sixpack body terpampang jelas di depan mata, dan sungguh sungguh melelehkan mata yang menatapnya.
__ADS_1
'Allahu Robbi, itu orang kenapa malah berjalan ke arah ku?' batin Delmira dan dirinya tidak bisa menahan untuk tidak menelan saliva.
"Aku tadi pakai shampo kamu," ucap Zaidan, tangannya bergerak mengelap rambutnya yang basah dengan handuk kecil.
'Ya Allah, dia kenapa semakin **** saat rambutnya basah?' monolog batin Delmira.
"Sayang," sebut Zaidan karena Delmira tidak menyahuti ucapannya malah menatap ke arahnya secara tidak berkedip.
Zaidan tersenyum melihat ekspresi Delmira. Wajahnya dia dekatkan pada wajah Delmira.
"Terpesona dengan ketampanan suami kamu?" ledek Zaidan mencoba membuyarkan lamunan Delmira.
Delmira tersentak. Tidak ingin terlihat malu, dia langsung mengalihkan pandangan.
Zaidan menarik dagu Delmira agar menatap ke arahnya, "pandang saja wajah suamimu ini sepuas kamu," imbuhnya.
"Siapa juga yang lihatin kamu!" kilah Delmira, bibirnya mengerucut.
Cup.
Delmira membulatkan mata, bibirnya mendapat serangan mendadak.
"Zaid!" sungut Delmira tangannya memukul dada bidang Zaidan, tapi dalam hatinya benar-benar senang mendapat perlakuan seperti itu.
Zaidan terkekeh karena perlawanan Delmira, dia membiarkan istrinya terus memukul pelan dadanya.
"Sudah ah, kamu sana pakai baju," titah Delmira, wajahnya ditutup dengan dua tangan agar tidak melihat Zaidan yang masih bertelanjang dada. Namun, tetap saja jemarinya tidak tertutup rapat agar dapat melihat wajah suaminya dibalik sela jari itu.
"Kenapa malu, kamu bahkan boleh memegangnya," ucap Zaidan tidak ingin beranjak sejengkal pun dari Delmira. Tangan sang istri diraih dan ditempelkan di dadanya.
Zaidan juga tidak ambil diam, netranya mengunci netra Delmira. Lalu tangannya bergerak menelusup di dua rahang istrinya.
Cup.
Sekilas Zaidan kembali me*magut bibir ranum Delmira, "kamu juga boleh melakukan hal ini Sayang," lirih Zaidan di telinga Delmira, yang dimaksud boleh menci*umnya.
Delmira menarik dua sudah bibir, senyumnya semakin melebar.Wajahnya mendekat dan gegas membalas perlakuan Zaidan.
Keduanya semakin masuk dalam kegiatan yang ada dalam kamus pengantin baru. Semakin lama semakin memanas dan meleburkan dua insan yang dimadu kasih.
"Boleh Sayang?" tanya Zaidan.
Delmira mengangguk.
Delmira menggeleng.
Zaidan tersenyum mendapat jawaban dari istrinya. Tanpa panjang lebar dia kembali beraksi agar suasana memanas. Setelah benar-benar panas dia melafalkan doa agar apa yang sudah mereka panaskan membuahkan hasil dengan benih yang baik.
Zaidan mengecup puncak kepala sang istri, "Terima kasih Sayang," ucap Zaidan masuk dalam satu selimut dengan sang istri.
"Kamu sangat luar biasa memesona," bisik Zaidan.
Delmira tersipu mendengar pujian yang terlontar dari mulut suaminya.
"Tidurlah, sebelum subuh kita melakukan remidial," sambung Delmira.
Wajah Zaidan langsung berbinar.
"Aku langsung tidur Sayang," seru Zaidan begitu semangat.
Delmira tersenyum, tubuhnya semakin masuk kedalam dekapan Zaidan.
(Duh...paling susah kalau adegan panas memanas🤣🤣🤣takut jariku jadi laknat 🤭 tolong ingatkan kalau sampai kepleset ya🙏)
...****************...
Pagi hari, setelah sarapan pagi. Delmira dan Zaidan gegas ke rumah mbok Sa'diyah.
Tadi malam karena sampai di kontrakan jam sepuluh malam, mereka tidak mungkin langsung mampir ke rumah mbok Sa'diyah.
"Mbak Del, baru ke Pekalongan ya" tanya Halimah, tetangga mbok Sa'diyah.
"Ya Bu," jawab Delmira membalas sodoran tangan wanita itu.
"Assalamualaikum Mas," sapa wanita itu mengalihkan pandangan pada Zaidan.
"Waalaikum salam Bu," balas Zaidan menangkupkan dua tangan.
"Mau ke rumah mbok Sa'diyah?" lontarnya kemudian.
"Ya, sampai di Pekalongan terlalu malam. Jadi tidak mungkin langsung ke rumah mbok Sa'diyah.
Wanita itu menampilkan ekspresi berbeda, "Loh, Mbak Del belum tahu ya?"
Delmira menaikkan dua alisnya, "Belum tahu apa Bu?"
__ADS_1
"Mbok Sa'diyah kan masuk rumah sakit."
"Innalilahi, masuk ke rumah sakit sejak kapan Bu?" cecar Delmira yang penasaran akan berita itu . Pasalnya, setiap Delmira telepon Safira, dia selalu mengatakan kalau mbok Sa'diyah sehat.
"Sudah dua hari ini Mbak," jawab Halimah.
"Ya sudah, aku langsung pergi ke sana Bu," ucap Delmira, "terima kasih infonya," lanjutnya.
Zaidan gegas menghubungi Fernando, dan kebetulan Fernando memang sedang dalam perjalanan ke kontrakannya.
Tujuh menit Fernando sudah datang. Mereka pun gegas pergi ke rumah sakit.
"Assalamualaikum," sapa Delmira ketika sampai di rumah sakit dan langsung menuju ke kamar rawat Sa'diyah setelah menanyakan pada petugas, nomor kamar rawat Sa'diyah.
"Waalaikum salam," jawab Safira.
Gadis itu tercengang melihat kedatangan Delmira. Dia beranjak dari duduk dan langsung memeluk Delmira.
"Bagaimana keadaan simbok?" tanya Delmira, wajahnya terlihat cemas.
"Kata dokter sudah mendingan," jawab Safira.
"Simbok sesak napas?" tanya Delmira melihat Sa'diyah memakai masker oksigen.
Safira mengangguk.
Tangan Delmira mengelus bahu Sa'diyah lalu mencium punggung tangan yang sudah mulai terlihat keriput.
"Maaf Mbok, aku baru datang," lirih Delmira.
Mata milik Sa'diyah sedikit terbuka, tangannya yang dipegang Delmira bergerak.
"Simbok!" seru Delmira.
Sa'diyah tersenyum.
"Sakit kok tidak kabari Delmira Mbok?" ujar Delmira.
Sa'diyah kembali tersenyum. Tangannya kini bergerak membuka masker oksigen.
Matanya terlihat sayu, wajah masih pucat, mulutnya bergerak untuk menjawab tanya Delmira, "Simbok tidak sakit, Simbok hanya disuruh istirahat sebentar," sahut Sa'diyah dengan suar lirih dan pelan.
Delmira menyeka pelupuk matanya yang sudah penuh cairan bening. Dia begitu cemas dan khawatir dengan keadaan Sa'diyah.
"Kapan kamu datang?" lontarnya kemudian.
"Tadi malam."
Mata Sa'diyah berpindah tatap pada Zaidan yang berdiri di samping Delmira. Sebuah senyum dilayangkan Sa'diyah pada Zaidan.
"Assalamualaikum Mbok," sapa Zaidan lalu mencium takdhim pada tangan Sa'diyah.
"Waalaikum salam," jawab pelan Sa'diyah.
Karena kondisi yang begitu lemas, Sa'diyah kembali tidur setelah bercakap dengan Delmira dan Zaidan..
"Kenapa tidak kasih kabar kalau simbok sakit?" tanya Delmira pada Safira, setelah Sa'diyah benar-benar tidur.
"Simbah yang melarangku kasih kabar ke Mbak Del," jawab Safira.
Delmira membuang napas.
"Tapi ini kan keadaan genting Sap, harusnya kamu kasih kabar," protes Delmira.
"Maaf," lirih Safira mengakui kesalahannya.
Delmira kembali membuang napas. Matanya layang menatap netra Safira, "Maaf, Mbak emosi, harusnya Mbak tidak menyalahkan kamu seperti ini," sesal Delmira memeluk tubuh Safira.
Safira mengangguk membalas pelukan Delmira.
Waktu terus berjalan, hingga jam dinding sudah menunjukkan pukul 1 siang.
Delmira masuk ke kamar perawatan Sa'diyah setelah dirinya dan Zaidan makan siang dan salat Zuhur.
Delmira melebarkan senyum melihat Sa'diyah sedang melaksanakan salat Zuhur dalam posisi duduk.
'Subhanallah... semoga ketika aku tua dan ketika dalam keadaan sakit, aku pun sama seperti mbok Sa'diyah. Masih mengingat nama-Mu ya Allah,' batin Delmira berucap.
Delmira dan Zaidan lebih memilih duduk di sofa sambil menunggu Sa'diyah selesai salat. Safira juga ikut duduk di sofa.
Zaidan menatap aneh ketika Sa'diyah tidak kunjung selesai salat. Dia mendekat kearah Sa'diyah. Memeriksa denyut nadi dan napasnya.
"Innalilahi wa innailaihi rojiun," ucap Zaidan.
malam menyapa 🥺 maaf kak Mel hadir membawa berita duka. Jangan lupa kasih like komen hadiah vote rate 🙏
__ADS_1