
"Maaf, apa aku mengingatkan kamu pada hal yang pernah kamu alami?" tanya Zaidan dengan lembut dan sontak pertanyaan dari Zaidan membuat Delmira membelalakkan mata.
"Lupakanlah!" ujar Delmira, mengangkat pantatnya beranjak dari kursi duduk.
"Tunggu!" cekat Zaidan memegang tangan Delmira.
"Lepas!" seru Delmira tanpa menolehkan tubuhnya. Namun Zaidan tetap memegang erat tangan Delmira.
"Aku bilang lepas!" suara Delmira meninggi dan dengan kuat memcoba melepas tangan Zaidan. Bukannya lepas, Zaidan malah membalikkan tubuh Delmira hingga mereka saling bersitatap.
Delmira mendongakkan wajahnya, menahan geram dan kesal. Mata Zaidan tidak lepas dari netra wanita yang kini tepat di depannya. Hanya berapa sentimeter jarak keduanya hingga deru napas Delmira dapat Zaidan rasakan.
"Maaf," lirih Zaidan mengulang kata yang belum mendapat jawaban dari Delmira.
"Aku bilang lepas," nada suara Delmira menurun. Seakan lemas, pasrah, dan tak ingin berdebat lebih panjang lagi.
Zaidan bukan melepas genggaman tangannya. Tubuh kecil sang istri dia raih dalam pelukan.
"Aku bilang lepas!" teriak Delmira terdengar parau.
Zaidan tetap diam tanpa ada niatan untuk melepas pelukannya.
"Lepas! Lepas! Lepas!" pinta Delmira suaranya masih meninggi dan tangannya kini memukul dada Zaidan.
Lelaki itu tetap tidak bergeming. Delmira yang sudah terkuras emosinya kini menangis tersedu, luruh dalam tubuh yang sebenarnya tidak ingin dia dekati.
Perasaannya kini tercampur aduk. Rasa kesal, emosi yang hanya terpendam oleh dirinya saja kini terucap pada lelaki yang sama sekali tidak terbayangkan oleh Delmira. Ya, dalam tangisnya Delmira mengucapkan kekecewaan yang dia rasakan selama ini.
"Aku benci dia! Teganya dia! Ternyata selama itu dia mengkhianatiku!" lirih Delmira, suaranya bertambah parau. Air mata terus membanjiri pipi, dan tangannya bergerak tanpa tenaga memukul dada Zaidan.
Zaidan tetap diam. Membiarkan wanitanya melakukan apa yang bisa membuatnya merasa lega.
Ketika tangan Delmira sudah tidak bergerak memukul, Zaidan mengeratkan pelukannya. Delmira terlihat pasrah menyusup dalam tubuh Zaidan karena hal itu dianggap yang paling nyaman untuk keadaannya sekarang.
Bertubi-tubi Zaidan mendaratkan kecupan di pucuk kepala Delmira.
'Insyaallah aku tidak akan membuat kamu menangis seperti ini Mrs. Delmira,' batin Zaidan, sesekali mengusap rambut panjang milik wanitanya.
Delmira masih tersedu dengan tangisnya, barang sedikitpun dia belum beranjak dari tubuh tegap sang suami. Hingga suara pintu yang dibuka membuat keduanya saling melepas pelukan.
"Aku tidak jadi masuk," ucap Fernando refleks menutup kembali pintu ruangan.
Baik Zaidan maupun Delmira kini terlihat canggung.
"Aku ke kantor," ucap Delmira melongos akan keluar. Namun, tangan Zaidan kini menarik kerah belakang Delmira hingga tubuh Delmira terangkat bak jemuran baju yang tercantol.
"A...a...a..hh, lepas Zaid!" seru Delmira, nyeringis.
Tangan Zaidan mengarah pada kursi depan meja kerjanya lalu mendudukkan Delmira di kursi itu.
"Apa kamu akan ke kantor tanpa berkas?" tanya sekaligus ejek terlontar dari Zaidan karena Delmira begitu pikun dengan tujuannya ke kantor Zaidan untuk mengambil berkas perjanjian.
Delmira hanya nyeringis menundukkan pandangan. Zaidan berjalan, lalu duduk di singgasana, mengambil berkas yang ada di tumpukan berkas lainnya.
__ADS_1
Beberapa bubuh tanda tangan tertulis di berkas yang Zaidan pegang. Delmira tersenyum, menyaksikan akhirnya berkas itu ditandatangani.
"Kunci mobil kamu mana?" tanya Zaidan, tangannya menengadah.
"Kenapa? Kamu mau tarik kembali mobil yang sudah kamu berikan?"
"Iya," jawab singkat Zaidan meraih kunci yang ada di tangan Delmira dan kakinya melenggang keluar.
Otomatis Delmira mengikuti langkah Zaidan karena dirinya keluar tanpa menyerahkan berkas perjanjian.
Delmira terus mengekor dengan sedikit mengejar langkah panjang Zaidan hingga sampai di tempat parkir mobil.
"Masuk!" titah Zaidan setelah membuka pintu mobil sebelah kemudi.
Tanpa penolakan Delmira menurut masuk dan duduk di jok mobil. Zaidan ikut masuk dan duduk di kursi pengemudi.
"Seat belt-nya perlu aku pasangkan?" tanya Zaidan karena dirinya sudah siap meluncur tapi Delmira tetap mematung tanpa sabuk pengaman.
"Oh, ini aku pakai," sahut Delmira seperti orang linglung dan dengan gerak cepat menarik pita sabuk.
Zaidan menarik dua sudut bibirnya, menahan senyum.
Dua puluh menit, mereka akhirnya sampai di rumah sakit.
Zaidan menyodorkan berkas perjanjian sebelum dirinya maupun Delmira turun dari mobil.
"Aku salat dulu, selesai salat aku langsung ke lantai 2 jemput kamu untuk mengunjungi Abah Fatah. Kalau kamu menolak ajakanku nanti kirim pesan saja," ucap Zaidan panjang lebar.
Zaidan tersenyum mengantar ke pergian Delmira, dirinya sengaja menyaksikan tubuh Delmira melangkah pergi dari dalam mobil. Netra Zaidan menatap lekat hingga tubuh wanitanya tidak terlihat karena tertutup sisi tembok.
Kaki Zaidan turun dari dalam mobil, segera gegas jalan menuju tempat ibadah.
Seusai menjalankan ibadah salat segera Zaidan ke lantai 2 dimana Delmira bekerja. Zaidan memilih duduk di kursi yang ada di salah satu sudut lantai.
Beberapa menit Zaidan duduk, matanya menatap pintu lorong tempat sekelompok orang keluar dari ruang-ruang kerja mereka.
Deg.
Jantung Zaidan tiba-tiba terpompa lebih cepat. Irama jantungnya benar-benar dalam keadaan tidak normal setelah melihat sosok yang dia tunggu datang dengan menampilkan senyum merekah.
Refleks Zaidan memegang dadanya, mulutnya melongo dan tanpa disadari Delmira sudah ada di depannya.
"Apa kamu masih betah mematung seperti ini?!" sindir Delmira hingga membangunkan lamunan Zaidan.
Ingin tidak terlihat gugup Zaidan melempar sebuah senyum.
"Kita jalan," ujar Zaidan jalan terlebih dahulu.
Tanpa mereka sadari setelah kepergian Zaidan dan Delmira, ada sosok orang yang menatap pilu kebersamaannya.
Delmira terlihat ragu untuk masuk setelah tubuh Zaidan di bang pintu masuk ruang kamar perawatan dimana pria tua itu dirawat.
Zaidan mengangkat dua alisnya mengisyaratkan sebuah tanya apakah Delmira jadi masuk.
__ADS_1
Delmira mengangguk bpelan sebagai jawaban isyarat itu.
"Assalamualaikum Abah," sapa Zaidan.
"Waalaikum salam," jawab Fatah dengan semangat dan lemparan senyumnya semakin lebar tatkala melihat di belakang Zaidan ada sosok Delmira.
Zaidan segera mencium punggung tangan Fatah dengan takdhim. Delmira masih dengan ragu mengikuti apa yang Zaidan lakukan.
"Bagaimana kabar kamu Nak?" tanya Fatah setelah Delmira melepas salamannya.
"Oh, kabar baik." jawab Delmira singkat lalu pandangannya dia alihkan ke sembarang arah.
"Assalamualaikum."
Semuanya menoleh ke sumber suara dan menjawab salam.
"Anak-anak Ummi," ujar Aisyah langsung mencium pipi kanan kiri Delmira kemudian memeluk tubuh Delmira lalu berganti ke Zaidan.
Delmira hanya menelan salivanya dengan susah. Pasalnya, dia menatap dua karakter berbeda pada sosok Ummi Aisyah. Tidak lama, sebelum Delmira berada di ruang rawat atau tepatnya ketika dirinya menghadap pada atasannya untuk melaporkan penandatanganan perpanjangan kontrak dengan CV dealer AZM, Delmira sempat mendapat teguran dari sosok wanita yang kini menyapanya dengan begitu hangat.
"Maaf, tadi Ummi sedikit kasar dengan kamu," ucap Aisyah mengerti pandangan Delmira yang penuh keheranan.
"Oh, tidak apa-apa Ummi. Lagian Delmira perlu diberi teguran," jawab Delmira.
"Teguran kenapa Ummi?" sela Fatah.
"Delmira telat memberikan laporan perjanjian perpanjangan kontrak dengan CV dealer AZM Bah," jawab Aisyah.
"Loh bukannya CV itu punya Zaidan?" bingung Fatah.
Zaidan mengangguk.
"Kalau begitu salahkan Zaidan saja Ummi yang tidak memberi tanda tangan dengan cepat," tukas Fatah.
Delmira tersenyum menang melirik ke arah Zaidan merasa dibela abah Fatah.
"Kenapa aku yang disalahkan Bah? Memang pantas Delmira ditegur. Seenaknya saja minta tanda tangan hal penting tanpa membuat janji pertemuan," protes Zaidan dengan argumennya.
"Kalian berdua! Tidak bisa apa memberikan hak prerogatif pada Delmira."
"Tidak!" jawab kompak Zaidan dan Aisyah.
"Hak prerogatif! Berasa presiden saja!" gerutu Zaidan.
Fatah tersenyum menyaksikan perdebatan yang secara tersirat menunjukkan keakraban dia antara mereka bertiga.
"Abah bisa tenang kalau pergi seperti ini," lirih Fatah.
"Abah, ngelantur apa sih," kesal Aisyah langung duduk di tepi ranjang dan mengusap punggung tangan suaminya.
Sekali lagi Fatah tersenyum.
malam menyapa 🥱🥱🤭 jangan lupa like komen hadiah vote rate 🙏
__ADS_1